Lebih Nyaman Tinggal Bersamamu

891 Words
Ruangan itu hening, seakan terbungkus dalam selimut sunyi yang tebal. Dinding-dindingnya yang megah terasa sempit, seolah menyimpan rahasia di balik ornamen klasik dan perabot mewah. Sera duduk di kursi meja makan, tangannya terlipat rapi di pangkuannya. Matanya menunduk, menghindari tatapan tajam yang terpancang padanya. Dante, dengan mata coklat gelap yang selalu mengintai, menunggu dengan sabar. Sera tahu apa yang ditunggu oleh Dante. Pertanyaan yang tadi terlempar bagai panah tajam tepat mengenai jantung pikirannya. Ia terdiam, berusaha mengatur napas agar tetap stabil. Dante tidak pernah memberinya ruang untuk bernapas dengan tenang. Ia selalu hadir dengan aura yang mendominasi, membuatnya merasa seperti burung kecil yang terperangkap di dalam sangkar emas. Akhirnya, Sera mengangguk pelan. "Ya, kau benar," suaranya lirih, namun tegas, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang dipaksakan, senyum yang lebih mirip perisai daripada ekspresi kebahagiaan. Dante menatapnya, senyumnya yang biasanya sinis kini berubah menjadi lebih lembut, namun tetap menyimpan bara di baliknya. "Ah, aku ingat sesuatu," ujarnya tiba-tiba, suaranya tenang namun mengandung makna tersembunyi. Sera, yang semula menunduk, perlahan mengangkat kepalanya. "Apa?" tanyanya dengan nada nyaris berbisik, takut mendengar jawaban yang mungkin akan semakin menghantam hatinya. Dante mendekatkan dirinya ke arah Sera, mempersempit jarak di antara mereka. "Saat kau menaburkan makanan di bajuku," ucapnya, menaikkan kedua alisnya dengan gerakan yang hampir main-main. "Kau membawakan makanan itu untuk pamanmu, kan?" Sera mengangguk pelan. "Ya. Meski tidak setiap hari, tapi aku sering diminta oleh bibiku untuk membawakan makan siang untuk pamanku." Ia menelan ludah, merasa kalimatnya begitu berat keluar dari bibirnya. Dante mengangguk, seakan mendapatkan jawaban yang diinginkannya. "Itu artinya, kau menjadi jongos dalam keluargamu sendiri? Kau diperkerjakan sebagai pelayan rumah itu, kan?" Sera kembali mengangguk, tapi kali ini ia merasakan kepedihan yang mendalam. Rasa sedih menjalar di hatinya seperti racun yang perlahan merasuk. Selama ini, ia telah mengabdi dengan sepenuh hati kepada paman dan bibinya. Namun, rupanya mereka tidak pernah benar-benar peduli padanya. Ia hanyalah bayangan di rumah itu, tidak pernah menjadi bagian yang diakui. Dante tersenyum lagi, senyumnya tipis namun berbahaya. "Tidak heran jika James hanya mementingkan reputasinya saja," ujarnya dengan nada dingin. "Siapa adik dari ayahmu? Paman atau bibimu?" "Bibiku," jawab Sera singkat, suaranya semakin kecil, seperti bara api yang mulai padam. "Begitu rupanya," Dante merenung sejenak. "Apakah setelah mereka menikah, James memang seorang pengusaha besar?" Sera menggelengkan kepala, lalu mengangguk sedikit. "Aku tidak yakin, tapi sepertinya iya. Bibiku memiliki gaya hidup yang cukup glamor, padahal ayahku sering menegurnya untuk bersikap biasa saja." "Dan tidak didengar?" tebak Dante, alisnya sedikit terangkat seolah sudah mengetahui jawabannya. Sera mengangguk lagi. "Tentu saja. Paman dan bibiku menikah lima tahun setelah ayah dan ibuku meninggal." Dante mengamati Sera dengan tatapan yang tidak beralih, menelusuri setiap detail wajahnya. Wanita di hadapannya ini memang terlihat sangat tenang di permukaan. Namun, Dante tahu jika sebenarnya Sera menyimpan ketakutan yang mendalam. Mata indahnya yang biasanya tenang, kali ini tampak dipenuhi kebingungan dan kegelisahan. "Dan sekarang," kata Dante, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menghantui. "Aku ingin bertanya padamu." Sera menatapnya dengan penuh tanda tanya. Dante jarang mengajukan pertanyaan, apalagi kepadanya. Biasanya, pria itu lebih suka berbicara dan memerintah. "Kenapa kau bekerja di bawah perintah pamanku? Kurasa kau tidak membutuhkan gaji yang diberikan pamanku padamu, Dante." Dante tertawa kecil, suaranya seperti gemuruh yang datang dari kedalaman bumi. "Tentu saja. Uangku lebih banyak darinya," jawabnya dengan nada santai, nyaris meremehkan. Sera mengerutkan kening. "Lantas?" tanyanya, suaranya bergetar. "Kenapa kau membencinya? Kau … pernah bilang, jika bukan pamannya yang mati, keponakannya pun akan kau bunuh. Jadi, Paman James telah membunuh ayahmu?" Dante hanya terdiam, matanya tajam menatap Sera. Ia harus berhati-hati dengan apa yang akan diucapkannya, terutama dengan wanita ini. Pikirnya, ternyata butuh waktu lama untuk Sera mengerti dengan apa yang dia katakan tiga hari yang lalu. Wanita ini adalah keponakan James, pria yang ingin dihabisinya dengan tangan sendiri. Sebuah langkah keliru bisa menggagalkan rencana yang telah disusun dengan matang. Dante mengambil gelas wine di meja, meneguk isinya dengan tenang. Matanya melirik Sera yang tampak semakin penasaran. Wanita ini memang cerdas, pikirnya, namun ia tidak akan membiarkan Sera tahu lebih dari yang seharusnya. "Dante?" panggil Sera, nada suaranya menuntut. "Kenapa diam? Kau berpikir aku akan memberi tahu pamanku? Tentu saja tidak. Aku tidak akan memberi tahu dia apa pun rencana yang ingin kau lakukan padanya." Dante tersenyum miring. "Lalu, aku harus percaya padamu?" tanyanya meremehkan Sera, kemudian membuang muka tak ingin menatap Sera lagi. Rencana yang telah ia susuh tidak boleh gagal begitu saja. Sebagai anak yang menyayangi ayahnya, Dante harus menuntaskan misi ini meski harus berjalan dengan lambat. Sera menelan salivanya, menatap Dante dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tahu akan sulit bagimu untuk percaya padaku. Tapi, kau sudah tahu jika aku tidak diperlakukan dengan baik oleh mereka. Untuk apa aku memberi tahu mereka?" Dante kembali diam, hanya menatap Sera dengan pandangan penuh teka-teki. Wanita ini telah membuatnya berada di posisi yang tidak nyaman, sebuah posisi di mana ia harus mempertimbangkan kepercayaan. Sera melanjutkan, suaranya lebih pelan namun penuh ketegasan. "Dan jujur saja … hidupku lebih nyaman di sini daripada tinggal dengan paman dan bibiku." Ia menundukkan kepalanya setelah mengatakan itu, seolah merasa malu mengakui kebenaran yang selama ini disembunyikannya. Dante terkekeh, suaranya dalam dan seram, membuat Sera menelan ludahnya berkali-kali. "Ya! Dia telah membunuh ayahku! Maka aku juga harus membunuhnya!" ucapnya dengan nada penuh kebencian, mata tajamnya menyala seakan menghunus pedang tak terlihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD