Dena berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahnya, seperti singa yang terkurung dalam kandang. Pikirannya kalut, penuh dengan kekesalan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Sesekali ia melirik ke arah jam dinding yang seakan berdetak lebih lambat dari biasanya. Kekesalan semakin membuncah di dalam dirinya, hingga ia hampir saja menghentakkan kakinya ke lantai.
Suara pintu depan yang terbuka membuat Dena berhenti sejenak. James, suaminya, masuk dengan langkah tenang dan penuh keyakinan seperti biasanya.
Tatapannya langsung tertuju pada wajah istrinya yang muram dan terlihat jengkel. James mengerutkan kening, menyadari ada sesuatu yang mengganggu pikiran Dena.
"Kenapa raut wajahmu seperti itu?" tanya James dengan nada datar namun penuh perhatian. Ia menghampiri istrinya, mencoba mencari tahu penyebab kekesalan yang jelas tergambar di wajahnya.
Dena segera menghampiri suaminya, seolah menumpahkan segala kekesalannya dalam satu tarikan napas. "Kau tahu? Sudah tiga hari ini Sera tidak pulang. Entah pergi ke mana, dia tidak memberi tahu aku, James."
James mengangkat alisnya mendengar pengakuan Dena. Ia terkejut, meski tidak terlalu menunjukkan kekhawatiran yang sama dengan istrinya. "Ke mana anak itu? Tumben sekali hilang begitu saja."
“Entahlah. Membuatku kesal saja!” Dena melipat tangannya di depan d**a, ekspresi wajahnya semakin menunjukkan kekesalan yang membara. Ia tak pernah menyangka bahwa ketidakhadiran Sera bisa membuatnya sekesal ini.
James, sambil melepaskan kancing kemejanya, memandang istrinya dengan tatapan yang tenang namun penuh perhitungan.
"Kenapa kau terlihat kesal seperti ini? Kau mengkhawatirkan keponakanmu itu, huh?" tanyanya, mencoba menggali lebih dalam perasaan istrinya yang sebenarnya.
Dena menghela napas kasar, seolah ingin mengusir semua kekesalan yang menumpuk di dalam dadanya. "Tentu saja tidak. Aku hanya heran saja. Meskipun ingin pergi, harusnya dia bicara padaku. Bukan malah menghilang seperti ini. Ck! Ke mana sebenarnya anak itu?"
James hanya mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh, seolah masalah Sera adalah hal yang tidak layak untuk dipikirkan. Bagi James, kepergian Sera yang tiba-tiba adalah sebuah berkah terselubung. Ia tak pernah benar-benar menyukai kehadiran keponakannya itu di rumah mereka. Sera, dalam pandangannya, hanyalah beban yang tidak berguna.
"Tak usah dipikirkan ke mana dia pergi, Dena. Lagi pula, anak itu hanya beban saja," kata James dengan nada yang sangat santai, seolah-olah ia berbicara tentang sesuatu yang sepele.
Dena terdiam sejenak. Apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar adanya. Meski ia juga tidak terlalu peduli ke mana Sera pergi, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perginya Sera begitu tiba-tiba, seolah menghilang tanpa jejak, membuatnya merasa ada sesuatu yang aneh dan tak biasa.
“Baiklah. Kau benar, Sayang. Biarkan saja dia pergi,” kata Dena akhirnya, menyerah pada logika yang dingin dan masuk akal yang disampaikan oleh suaminya. Ia kemudian duduk di samping James, mencoba mengalihkan pikirannya dari kekhawatiran yang tidak seharusnya ia rasakan.
Namun, perhatian Dena segera beralih pada wajah James yang tampak kusut dan sedikit muram. Ada sesuatu yang mengganggu suaminya, dan itu terlihat jelas di raut wajahnya yang biasanya tenang dan penuh percaya diri.
"Ada apa dengan wajahmu? Sepertinya kau sedang merasa kesal," kata Dena sambil menatap James dengan tatapan ingin tahu.
James mendesah pelan, seolah mengeluarkan beban yang selama ini ia tahan. "Yeah! Aku sedang muak pada seseorang," jawabnya singkat, namun cukup untuk membuat Dena semakin penasaran.
"Muak? Pada siapa? Siapa yang membuatmu kesal seperti ini?" tanya Dena, matanya memandang suaminya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia tidak biasa melihat James dalam kondisi seperti ini, dan ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bodyguard yang baru kau rekrut itu?" Dena menebak, mencoba mencari tahu penyebab kegelisahan suaminya.
James menggeleng, menepis dugaan istrinya dengan tegas. "Bukan. Justru dia sangat kompeten, dan aku suka dengan kinerjanya," ucapnya, kali ini ada nada bangga yang samar dalam suaranya. Dante, bodyguard barunya, memang telah membuktikan diri sebagai orang yang sangat berguna dan bisa diandalkan.
"Tapi, pria itu banyak yang menginginkan. Setiap kali aku bertemu dengan klienku, mereka bertanya, dari mana kau mendapatkan bodyguard sesempurna dia?"
Dena tersenyum tipis, matanya masih tertuju pada wajah suaminya. "Lalu? Apa tanggapanmu?" tanyanya, semakin ingin tahu bagaimana James merespons pujian yang tak terduga dari orang-orang di sekitarnya.
James menarik napas dalam-dalam, seolah-olah ia sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting. Tatapannya kemudian beralih ke mata Dena, memperlihatkan rasa bangga yang mendalam.
"Aku sangat bangga pada diriku karena bisa mendapatkan bodyguard yang sangat hebat seperti Dante, Dena. Tentu saja aku tidak akan memberikannya pada siapa pun."
Dena tersenyum mendengar jawaban suaminya. Ia bisa melihat betapa James menghargai orang-orang yang bekerja untuknya, terutama ketika mereka bisa membuktikan diri sebagai aset yang berharga.
Namun, di balik senyuman itu, Dena juga merasa ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang dipikirkan oleh suaminya.
"Jadi, siapa yang membuatmu kesal kalau bukan Dante?" tanya Dena lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut namun tetap penuh rasa ingin tahu.
James terdiam sejenak, tatapannya kembali kosong seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
“Musuh bebuyutanku belum berhasil aku temukan,” ucapnya sembari mengepalkan tangannya. Ia masih tidak terima karena musuh bebuyutannya itu belum juga ia temukan di mana kini mereka tinggal.
Itu cukup sulit dicari. Apalagi James masih menyimpan dendam padanya. Dan James ingin membunuhnya dengan tangannya sendiri.
**
Waktu sudah menunjuk angka delapan malam. Di dalam ruang makan yang megah dengan lampu kristal menggantung di atas meja, Sera duduk berhadapan dengan Dante.
Suasana makan malam itu terasa sunyi, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sera merasa gelisah, hatinya diliputi oleh rasa bersalah yang begitu dalam.
Beberapa jam sebelumnya, ia dengan gegabah menuduh Dante telah membunuh pamannya—tuduhan yang akhirnya terbukti salah.
Dengan perasaan berat, Sera menatap Dante yang tampak tenang menikmati makan malamnya. Ia merasakan dorongan yang kuat untuk mengungkapkan permintaan maafnya sekali lagi, meskipun Dante telah memaafkannya sejak pertama kali ia meminta maaf.
“Sekali lagi, maafkan aku,” ucap Sera dengan suara pelan, hampir berbisik. Rasa bersalah itu terus menghantuinya, terutama saat ia mengingat betapa seriusnya tuduhan yang ia lontarkan kepada Dante.
Dante menghentikan kunyahannya. Ia menatap Sera dengan tatapan yang tajam namun lembut, seolah-olah mencoba menenangkan hati gadis yang kini duduk di hadapannya.
Sejenak, suasana di antara mereka menjadi hening. Dante menghela napas panjang, mencoba meredakan ketegangan yang ia rasakan dari Sera.
“Kau tahu,” Dante memulai dengan suara yang dalam dan tenang, “selama tiga hari kau berada di sini, baik paman maupun bibimu tidak pernah mencarimu.”
Pernyataan itu seketika membuat Sera terdiam. Ia mengangkat kepalanya, menatap Dante dengan mata yang dipenuhi kebingungan dan kesedihan.
“Sepertinya begitu,” ucapnya pelan, hampir tidak terdengar. Namun, ada ketidakpercayaan yang jelas terpancar dari matanya. Bagaimana mungkin keluarganya, orang-orang yang seharusnya peduli padanya, tidak pernah mencarinya?
Dante mengangguk pelan, menguatkan apa yang baru saja ia katakan. “Ya, memang seperti itu kenyataannya. Aku menyimpan satu mata-mata di rumah paman dan bibimu. Jadi, aku tahu apa saja yang mereka bicarakan. Termasuk membahasmu.”
Sera merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Pengakuan Dante tentang adanya mata-mata di rumah pamannya membuatnya semakin cemas. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba meredakan kegelisahan yang mulai merayap di hatinya.
“Jadi … mereka benar-benar tidak mencariku?” tanyanya dengan suara bergetar, seolah berharap Dante akan memberikan jawaban yang berbeda.
Dante menatap Sera dengan tatapan yang penuh rasa iba. “Ya,” jawabnya singkat namun penuh makna. “Itu artinya, kau tidak berharga bagi mereka, kan?”