Ingin Mengucapkan Selamat Tinggal?

1332 Words
Ramos, pria paruh baya dengan wajah yang keras, duduk diam di kursi yang dingin dan kaku, tangannya terikat kuat di belakang punggung. Tatapan matanya datar, seolah-olah kematian bukanlah hal yang menakutkan baginya, melainkan sekadar perhentian lain dalam hidup yang penuh kesedihan ini. Di hadapannya, Dante berdiri dengan sikap tenang, menyeringai kecil saat melihat keteguhan pria itu. “Bunuh saja aku,” ucap Ramos dengan nada sinis, memecah kesunyian yang menggantung di antara mereka. “Untuk apa banyak tanya?” Dante hanya tersenyum miring, tatapannya tajam menelusuri setiap lekuk wajah Ramos yang penuh guratan usia dan pengalaman pahit. “Aku memang tidak peduli pada hidup dan mati orang asing, apalagi kau,” jawabnya, nada suaranya terdengar dingin dan penuh perhitungan. “Yang baru kulihat hari ini.” Ramos tidak terpengaruh, sedikit pun tidak ada ketakutan yang tergambar di wajahnya. “Tentu saja,” balasnya santai. “Kau anak buah barunya James. Tentu baru melihat wajahku di sini.” Dante menaikkan alisnya, sedikit terkejut dengan ketenangan Ramos. Pria ini bukan sekadar tawanan biasa, dia sudah lama berurusan dengan James, dan Dante bisa merasakannya dari cara Ramos berbicara. Tangan Dante yang kokoh memegang pistol, senjata itu diangkat dan disandarkan di atas pundaknya, sementara tatapannya tetap tertuju pada Ramos. “Ada masalah apa antara dirimu dengan James?” tanya Dante ingin tahu. “Sampai membuat pria itu ingin menghabisi nyawamu?” Ramos menarik napas panjang, menghela udara yang terasa berat di paru-parunya. Ia tahu bahwa apa pun yang dikatakannya tidak akan mengubah nasibnya, tetapi ada sesuatu dalam diri Dante yang membuatnya ingin berbicara. “Kau tahu kan, pekerjaan James itu apa? Illegal!” ucap Ramos dengan mata yang menyala penuh kebencian. Dante mengangguk pelan, tetap tenang mendengar pengakuan itu. “Tentu saja aku tahu,” jawabnya, nada suaranya tak berubah. “Lalu, kau berurusan dengannya? Kemudian mengkhianatinya? Begitu?” Ramos terkekeh, sebuah suara kering yang penuh dengan keputusasaan. “Tentu saja tidak,” ucapnya, suara tawanya hilang seketika, digantikan oleh nada serius. “Awalnya aku hampir menjadi korban tipu dayanya. Dia memiliki jaringan dalam bisnis yang tidak banyak diketahui orang. Hanya saja, aku segera sadar jika James hanya ingin menjebakku.” Dante mengangguk lagi, tanda bahwa ia masih mendengarkan dengan penuh perhatian. Setiap kata yang diucapkan Ramos menjadi potongan puzzle dalam gambaran besar tentang siapa James sebenarnya. “Aku ingin membatalkan kerja sama itu dan melaporkan semua tindakannya,” lanjut Ramos, suaranya sedikit bergetar oleh emosi yang mulai memuncak. “Ternyata dia mafia kelas kakap yang memiliki banyak relasi. Aku ditangkap, juga uangku raib diambil olehnya!” Dante bisa merasakan kemarahan dan keputusasaan yang terpancar dari Ramos. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba memahami situasi yang dihadapi pria itu. “Begitu rupanya,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Ya!” pekik Ramos, suaranya penuh dengan kemarahan yang tertahan. “Aku ingin melaporkan dia ke polisi karena sudah merugikan banyak orang. Tapi, semuanya terlambat. Dia lebih dulu menangkapku!” Rasa frustrasi yang lama terpendam di dalam diri Ramos akhirnya meledak, dan Dante hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya, menyalakannya dengan gerakan santai, lalu menghembuskan asap yang perlahan menyelimuti udara di sekitar mereka. Mata Dante tetap tertuju pada Ramos, yang terlihat begitu emosi hingga tubuhnya bergetar. “Hati-hati jika berurusan dengan manusia licik sepertinya,” bisik Dante, suaranya terdengar hampir simpatik. Ia mendekatkan pistolnya ke kepala Ramos, ujung dingin senjata itu menempel pada pelipis pria malang tersebut. “Kau terlalu berani mengambil tindakan seperti itu. Jika memang merasa tidak baik, sebaiknya langsung tinggalkan saja. Bukan hanya berani, tapi juga ceroboh. Dan kecerobohanmu membawamu kemari.” Ramos menatap Dante, matanya penuh dengan penyesalan dan keputusasaan yang mendalam. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Dante menyunggingkan senyum tipis yang penuh ironi. “Selamat tinggal,” ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Dor! Sebuah peluru melesat cepat dari laras pistol, menembus kepala Ramos, membuatnya terhuyung sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Tubuhnya yang tak bernyawa terkapar di sana, darah perlahan mengalir dan membentuk genangan di sekitarnya. Dante menatap mayat itu dengan ekspresi datar, tidak ada penyesalan, hanya sebuah kehampaan yang biasa mengiringi setiap pembunuhan. “Dia bukan orang yang layak diselamatkan,” gumam Dante pelan pada dirinya sendiri. Meskipun demikian, ada seberkas rasa bersalah yang menggelitik di hatinya. Dia tahu, meskipun Ramos telah melakukan kesalahan, pria itu hanyalah korban lain dari James, seseorang yang terjebak dalam jaring laba-laba yang kejam. Dante kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut, langkahnya mantap meskipun pikirannya bergemuruh dengan berbagai perasaan yang saling bertabrakan. Ia tahu bahwa tak lama lagi para pekerja akan datang dan membuang mayat Ramos ke dalam penangkaran buaya di belakang markas itu. Tempat di mana tidak ada lagi yang tersisa, hanya tulang belulang yang hancur. “James benar-benar pembunuh berdarah dingin,” gumam Dante sambil menggigit ujung rokoknya. “Bahkan korbannya pun dia jadikan sebagai pakan hewan.” Dante menggelengkan kepala, rasa jijik terhadap James semakin dalam. Dia tahu bahwa dia harus lebih berhati-hati dari sebelumnya. James bukan hanya berbahaya—dia adalah ancaman yang bisa menghancurkan siapa pun yang berani menentangnya. Tapi, Dante bertekad untuk tetap berada di jalurnya, untuk menggulingkan James dari tahta kegelapan yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Keluar dari markas itu, Dante menatap langit yang mulai gelap. Sebuah badai tampaknya akan segera datang, bukan hanya di langit, tetapi juga di dunia bawah tanah yang dipenuhi oleh kekejaman dan pengkhianatan. Dan di tengah badai itu, Dante akan tetap berdiri, siap untuk menghadapi apapun yang datang menghampirinya. ** Waktu sudah menunjuk angka sembilan malam, ketika deru baling-baling helikopter memecah keheningan malam di atas mansion mewah itu. Suara mesin yang berputar kencang menandai kedatangan seseorang yang ditunggu-tunggu dengan penuh waspada. Sera, yang duduk di sudut kamarnya yang luas namun sunyi, mendengar suara itu dan segera membuka tirai jendela. Matanya menyipit, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sedikit memudar saat malam semakin larut. Di luar sana, dalam bayang-bayang malam yang semakin pekat, Dante keluar dari helikopter. Sosoknya yang tinggi dan tegap dibalut dalam jas hitam yang berkilau di bawah sorotan lampu helipad. Gagah dan mengancam, itulah kesan pertama yang muncul dalam benak Sera saat melihatnya. Satu tangannya menjinjing koper hitam, sedangkan tangan lainnya dengan santai berada di samping tubuhnya, seolah-olah ia baru saja kembali dari sebuah pertempuran, bukan perjalanan bisnis biasa. "Pria itu sudah kembali," gumam Sera pelan pada dirinya sendiri. Namun, meski rasa penasaran mengusik hatinya, ia tetap tak bergerak dari tempatnya. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, kenapa ia harus menyambut kedatangan pria itu? Apa arti kehadirannya baginya? Sera menghela napas panjang, lalu kembali duduk di tepian tempat tidur yang empuk dan berlapis kain sutra. Tatapannya kosong, pikirannya melayang-layang di antara ketakutan dan kebencian yang samar terhadap Dante. Setiap langkah pria itu menuju mansion terasa seperti bayangan yang semakin mendekat, mengancam dan menyelimuti segala yang ada di dalamnya. Tidak lama kemudian, suara pintu kamar yang terbuka dengan pelan namun tegas mengalihkan perhatian Sera. Tubuhnya menegang saat ia menoleh. Di ambang pintu, Dante berdiri, sosoknya semakin mendekat dengan langkah yang mantap dan berwibawa. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, hanya ketegasan yang membangkitkan rasa takut dalam diri siapa pun yang melihatnya. "Apa yang sedang kau lakukan, gadis bodoh?" tanya Dante dengan suara rendah yang penuh otoritas. Tangan kanannya yang besar dan kuat terulur, meraih dagu Sera dengan cengkeraman yang tegas namun tidak kasar. Sera tidak segera menjawab, matanya malah tertuju pada telapak tangan Dante yang menyentuh kulitnya. Ada sesuatu yang berbeda. Bekas darah! Matanya membelalak, keterkejutan dan ketakutan merasuk ke dalam pikirannya. Dengan gerakan tiba-tiba, ia melepaskan tangan Dante dari dagunya, tatapannya tidak bisa berpaling dari noda merah yang ada di tangan pria itu. “Kau … kau telah berhasil membunuh pamanku?” tanyanya, suaranya bergetar, penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan. Matanya yang membelalak penuh dengan ketakutan, seolah-olah ia baru saja melihat iblis dalam wujud manusia. Dante hanya tersenyum miring, senyum yang penuh dengan keangkuhan dan sedikit kebencian yang tersembunyi. Dengan santai, ia mulai melepaskan kancing di lengan jasnya, memperlihatkan pergelangan tangannya yang kuat dan penuh otot. "Kalau iya, kenapa?" jawabnya dengan nada yang hampir seperti ejekan. "Ingin mengucapkan selamat tinggal padanya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD