Pagi itu, matahari sudah tinggi, sinarnya menembus celah-celah tirai yang tebal dan berat, memberikan sedikit kehangatan di ruangan yang terasa dingin dan sunyi. Jam di dinding menunjuk pukul tujuh pagi.
Sera membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah-olah menolak untuk meninggalkan dunia mimpi. Namun, begitu kesadaran mulai kembali, hatinya langsung tenggelam dalam kekecewaan.
“Aku pikir semuanya hanya mimpi. Ternyata bukan,” gumam Sera, suara kecilnya hampir tenggelam dalam keheningan.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, menarik napas dalam-dalam, berharap bahwa perubahan ini akan membawa ketenangan, namun yang ada hanyalah rasa mencekam yang semakin kuat.
Tempat ini, meskipun terlihat mewah dan megah, sama sekali tidak memberikan rasa nyaman. Dinding-dindingnya yang tinggi dan kokoh seakan menjadi pengingat bahwa Sera terjebak di sini, di tempat yang begitu asing, begitu jauh dari segala sesuatu yang ia kenal.
Rumah ini tidak jauh berbeda dengan rumah bibinya—tempat di mana ia sering merasa terkurung dalam cengkeraman ketidakberdayaan.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah keheningan.
Tok tok tok!
Sera langsung menoleh, matanya membulat penuh kewaspadaan. Siapa yang datang? Hatinya berdebar keras, rasa was-was menyelimuti dirinya.
Pintu kemudian terbuka perlahan, dan muncul sosok perempuan paruh baya dengan nampan di tangannya. Wanita itu mengenakan seragam pelayan, wajahnya dipenuhi dengan ekspresi netral namun penuh pengabdian.
“Selamat pagi, Nona. Saya Amy yang akan melayani semua keperluan Nona selama di sini,” katanya dengan suara lembut namun penuh kepastian.
Sera menatap Amy dengan alis terangkat sebelah, kebingungan dan kecurigaan bercampur aduk dalam pikirannya. “Apakah itu artinya aku akan tinggal di sini selamanya?” tanyanya, suaranya terdengar datar namun sarat dengan kegelisahan.
Amy hanya tersenyum tipis, senyuman yang tidak banyak memberikan jawaban. “Kalau itu saya tidak tahu, Nona. Hanya Tuan Dante yang berhak menentukan. Saya hanya diperintahkan olehnya untuk melayani Anda saja,” jawab Amy dengan sopan, namun jelas bahwa wanita itu tidak akan memberikan informasi lebih.
Sera menghela napas panjang, dadanya terasa sesak dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. “Ke mana pria itu?” tanyanya lagi, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Dante, pria yang telah mengurungnya di tempat ini.
“Tuan Dante sudah pergi sejak tadi pagi, Nona. Silakan sarapan terlebih dahulu. Saya akan menyiapkan air hangat untuk mandi Anda,” jawab Amy, suaranya terdengar ramah namun tetap saja tidak bisa menenangkan kekhawatiran Sera.
Sera kemudian mengalihkan pandangannya ke meja di hadapannya. Di sana sudah tersaji sarapan yang tampak sangat lezat—segelas s**u hangat, roti bakar yang garing di luar namun lembut di dalam, dan omelette yang terlihat menggugah selera.
Namun, meskipun perutnya bergejolak karena rasa lapar, ada ketakutan yang lebih besar yang membuatnya ragu untuk menyentuh makanan itu.
Sera menelan ludah, kebimbangannya semakin menjadi. “Biasanya aku yang menyiapkan makanan, tapi sekarang aku yang disiapkan,” gumamnya pelan, memandang makanan itu dengan hati yang bimbang.
Apakah aman untuk dimakan? Bagaimana jika ada sesuatu yang dicampurkan di sana? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepalanya, menambah ketegangan yang sudah begitu menyesakkan.
Namun, rasa lapar yang semakin kuat akhirnya mengalahkan rasa takutnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sera mengambil sepotong roti bakar dan mencicipinya. Rasanya sangat enak, seperti buatan seorang koki yang ahli.
Perlahan, ia mulai mengenyahkan pikiran negatifnya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa makanan itu aman untuk dikonsumsi.
Setelah beberapa suapan, Amy kembali ke dalam kamar, kali ini dengan senyum yang lebih ramah karena melihat bahwa Sera telah memakan sarapannya. “Amy. Apakah pria itu akan pulang malam?” tanya Sera tiba-tiba, mencoba menyembunyikan rasa ingin tahunya yang besar.
“Ya, Nona. Ada apa?” jawab Amy dengan nada yang tenang, meskipun Sera bisa merasakan sedikit rasa penasaran dari wanita itu.
“Hanya ingin tahu saja,” balas Sera singkat, berusaha terdengar acuh tak acuh, meskipun dalam hatinya, ia sangat ingin tahu lebih banyak tentang Dante—pria yang telah mengubah hidupnya dalam sekejap.
Amy mengulas senyum yang lebih lebar, namun kali ini senyum itu terasa lebih dingin. “Jangan coba-coba melarikan diri seperti kemarin, Nona. Itu hanya akan membuatmu semakin tersiksa. Tuan Dante tidak akan memaafkan orang yang kabur dari jeratannya,” ucap Amy dengan nada yang begitu serius, membuat Sera merasakan kembali ketakutan yang sempat ia coba lupakan.
Sera terdiam sejenak, merenungi kata-kata Amy. Ia tidak bisa memahami bagaimana seorang pria bisa memiliki kekuasaan sebesar itu, kekuasaan yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya tunduk tanpa banyak bicara.
“Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia memiliki banyak pelayan, anak buah dan rumah yang mewah seperti ini? Tapi, dia malah bekerja di kantor pamanku,” tanyanya, kali ini dengan nada yang penuh kebingungan.
Amy hanya mengangkat bahunya, seolah pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab olehnya. “Tanyakan saja pada Tuan Dante, Nona. Saya hanya ditugaskan untuk menjadi pelayan di sini. Tapi, setahu saya, Tuan Dante tidak pernah menyandera seorang wanita. Ini kali pertama dia melakukannya,” jawab Amy, sebelum akhirnya pamit dan meninggalkan kamar.
Sera menatap punggung Amy yang perlahan menghilang di balik pintu, perasaannya masih campur aduk dengan berbagai pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Ia merasa seolah terperangkap dalam sebuah permainan yang tidak ia pahami aturannya.
“Bagaimana mungkin aku kabur sementara tempat ini sudah menjadi kawasan Dante? Apa yang sebenarnya dia inginkan dari pamanku? Membunuhnya? Yang benar saja,” gumam Sera, mencoba memahami situasi yang begitu rumit dan penuh dengan teka-teki.
Setelah beberapa saat merenung, Sera menghela napas panjang, merasa sedikit lebih tenang setelah sarapan tadi. Perutnya sudah kenyang, namun pikirannya masih dipenuhi dengan kekhawatiran. Ia kemudian berjalan menuju jendela, membuka tirai yang tebal dan berat itu untuk melihat apa yang ada di luar.
Pemandangan yang terbentang di hadapannya begitu indah, hampir seperti mimpi. Hamparan hijau yang luas dengan pepohonan yang rindang, serta langit biru yang cerah tanpa awan. Sera terpesona sejenak, melupakan sejenak segala ketakutannya.
“Menakjubkan,” bisiknya, membiarkan keindahan alam itu mengisi hatinya dengan sedikit ketenangan.
Namun, di balik keindahan itu, Sera tahu bahwa dirinya masih terperangkap dalam situasi yang tidak menentu. Meskipun pemandangan di luar begitu indah, dinding-dinding di sekelilingnya tetap saja menjadi pengingat bahwa ia tidak bebas.
Dengan pikiran yang masih kacau, Sera kembali menutup tirai, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi yang membingungkan ini, atau setidaknya, menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya.
**
Di tempat lain yang penuh dengan bayang-bayang gelap, Dante mengikuti langkah James dengan tatapan penuh perhitungan. James membawanya ke sebuah markas rahasia yang tersembunyi di balik hutan lebat, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Langit di luar semakin mendung, seolah alam ikut menyesuaikan diri dengan keheningan yang mencekam di dalam markas tersebut.
Dante mengitari tempat yang baru ia pijaki itu dengan seksama. Matanya yang tajam memperhatikan setiap sudut, setiap detail kecil yang mungkin luput dari perhatian orang lain.
‘Rupanya si rubah gila ini memiliki markas rahasia juga,’ ucapnya dalam hati, senyumnya tipis namun penuh makna.
Ada rasa muak yang ia tekan dalam-dalam, menyadari bahwa tempat ini adalah lokasi di mana berbagai rencana jahat James dijalankan.
Sambil berjalan, Dante tidak lupa mencatat setiap tempat yang didatangi oleh James. Ia harus tahu ke mana saja pria itu mengajaknya, apa saja yang tersembunyi di balik tembok-tembok tebal ini.
Baginya, ini bukan hanya soal mengikuti perintah atau menuruti kemauan James, tapi lebih dari itu—ini adalah upaya untuk mengungkap kebenaran yang selama ini tertutup oleh kebohongan dan darah.
“Well, Dante,” James membuka suara, suaranya penuh dengan kebanggaan yang terselubung oleh keangkuhan. “Ini adalah tempat rahasia yang hanya aku saja yang tahu. Tempat aku melenyapkan orang-orang yang telah berkhianat.”
Dante menaikkan alisnya sedikit, berpura-pura terkesan dengan apa yang baru saja didengarnya. ‘Jadi, ini tempat di mana ayahku dibunuh,’ pikirnya sambil mengepalkan tangannya erat-erat.
Ada api kebencian yang membara di dalam dirinya, namun ia harus menahan diri, harus menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.
“Oh, begitu rupanya,” jawab Dante, suaranya dibuat terdengar penuh kekaguman. “Anda memang sangat hebat, Tuan.” Ucapan itu terasa pahit di lidahnya, namun ia tahu bahwa memuji orang gila seperti James adalah bagian dari rencananya untuk menggali lebih dalam rahasia yang tersembunyi di tempat ini.
James tersenyum puas, merasa dirinya berada di puncak kekuasaan. “Yeah. Siapa pun akan takluk padaku,” katanya dengan nada sombong, seolah dunia ini adalah miliknya seorang.
Dante menyunggingkan senyum yang sama sekali tidak mencerminkan isi hatinya. ‘Dan sebentar lagi kau akan mati di tanganku,’ ucapnya dalam hati, tekadnya semakin kuat untuk menuntaskan dendamnya. Semua penderitaan yang ia rasakan sejak kecil, kehilangan ayahnya yang begitu ia cintai, semuanya akan terbalaskan.
Setelah beberapa saat, James membawa Dante ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh aura gelap. Di tengah ruangan itu, seorang pria terikat di kursi, tubuhnya babak belur dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Matanya setengah terbuka, menatap kosong ke depan seolah telah kehilangan harapan. James menatap pria itu dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun belas kasihan.
“Bunuh orang itu!” titah James dengan suara yang penuh kebencian, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa melihat ke belakang.
Ia tidak peduli pada kehidupan yang akan segera direnggut dari pria tersebut, baginya itu hanyalah satu nama lagi yang harus dicoret dari daftar musuhnya.
Dante menaikkan alisnya, merasa sedikit terkejut dengan perintah yang tiba-tiba itu, namun ia segera menguasai diri.
Setelah memastikan bahwa James benar-benar telah pergi, Dante mendekati pria yang terikat itu, langkahnya pelan namun penuh dengan rasa ingin tahu.
Pria yang babak belur itu menatap Dante dengan mata yang setengah sadar. Wajahnya dipenuhi luka, rambutnya acak-acakan, dan darah mengalir deras dari pelipisnya. Dante sedikit membungkuk, menatap pria itu dengan tajam.
“Apa yang telah kau perbuat hingga bisa masuk ke dalam daftar orang yang ingin James habisi?” tanyanya, suaranya rendah namun penuh tekanan.