Di tengah malam yang sunyi, di sebuah kamar megah yang dikelilingi oleh dinding-dinding tinggi yang tampak seperti tembok penjara bagi Sera, suasana mencekam menyelimuti.
Cahaya redup dari lampu gantung mewah di langit-langit memancarkan bayangan kelabu, menambah kesan misterius yang sudah sejak awal menguar dari ruangan tersebut.
Dante, pria yang berdiri di hadapan Sera dengan senyum penuh rahasia, adalah sumber dari semua kengerian yang kini merasuki jiwa wanita itu.
“Apa maumu?” tanya Sera, suaranya bergetar meski ia mencoba menutupinya dengan nada tegas. Matanya menatap langsung ke wajah Dante, berusaha mencari jawaban di balik senyum licik yang menghiasi bibir pria itu.
Namun, Dante hanya membalasnya dengan tatapan yang lebih dalam, seolah menyelami ketakutan yang berusaha disembunyikan oleh Sera.
Sera menggigit bibirnya, merasa panik namun berusaha keras untuk tidak menunjukkan kelemahannya. Kamar ini, meskipun luas dan dipenuhi perabotan mewah, terasa seperti perangkap yang tak berujung, mengurungnya dalam ketidakpastian dan ketakutan.
Tangannya menggenggam erat ujung gaunnya, mencoba menahan gemetar yang mulai merambat dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya. Namun, ia tetap berdiri tegak, menolak untuk menunjukkan bahwa Dante telah berhasil merasuki pikirannya dengan rasa takut.
Dante, dengan tenang, melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar bagaikan suara jarum jam yang memecah keheningan malam.
Ia berhenti tepat di hadapan Sera, memandangnya dengan tatapan yang begitu dalam, seolah ingin mengungkapkan rahasia gelap yang tersembunyi di balik mata dinginnya.
"Apa yang akan kau katakan pada paman dan bibimu setelah tahu siapa aku?" tanya Dante dengan nada yang begitu dingin, hingga membuat darah di tubuh Sera terasa beku.
Sera menggeleng cepat, napasnya tercekat. "Aku tidak akan memberi tahu siapa pun terkait rencana atau apa pun itu. Aku hanya ingin dibebaskan dari sini," jawabnya, suaranya terdengar memohon namun masih menyisakan sedikit kekuatan untuk tidak sepenuhnya menyerah pada pria di hadapannya.
Dante tertawa pelan, namun tawa itu dipenuhi dengan kebengisan. Suara tawanya menggema di ruangan, memantul dari dinding ke dinding, seolah menertawakan harapan terakhir Sera.
"Jangan mimpi!" balas Dante dengan nada yang begitu menusuk, membuat Sera terperangkap dalam kebingungan dan ketakutan yang semakin dalam.
Sera mengepalkan tangannya lebih erat, berusaha menahan gemetar yang semakin hebat. "Apa lagi yang kau inginkan dariku? Bukankah sudah cukup kau menghancurkan hidupku dengan rencana gilamu ini?" katanya, mencoba melawan ketakutan yang menguasai dirinya. Namun, suaranya terdengar semakin kecil di antara kekuasaan yang dimiliki Dante atas dirinya.
Dante hanya tersenyum, senyum yang begitu jahat dan dingin, seolah-olah dia adalah seorang pemburu yang baru saja melihat mangsanya terperangkap dalam jebakan. Dengan langkah tenang, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sera, hingga ia bisa merasakan hembusan napas pria itu di wajahnya.
"Kau pikir ini hanya tentang hidupmu, Sera? Ini lebih besar dari itu. Ini tentang balas dendam, tentang membayar apa yang James lakukan kepada ayahku. Dan kau, kau hanya bagian kecil dari rencana ini," ucap Dante dengan nada yang begitu tenang namun penuh dengan kebencian.
Mata Sera melebar, ia terkejut dan tak bisa berkata-kata. Kata-kata Dante seolah menampar wajahnya, menyadarkannya bahwa dirinya hanyalah pion kecil dalam permainan besar yang dipenuhi dendam dan kebencian.
Sera menelan ludah, berusaha menenangkan dirinya meskipun hatinya telah hancur berkeping-keping mendengar penjelasan Dante.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih lemah, seolah menyerah pada nasib yang tak bisa dihindarinya.
Dante mengangkat alisnya, seolah terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun, senyum miring kembali menghiasi wajahnya.
"Aku selalu menyukai pertanyaan yang keluar dari mulutmu ini, Sera. Seolah kau tengah menantangku,” ucapnya dengan nada yang begitu dingin dan mematikan.
Tatapannya yang tajam menelusuri wajah Sera, mencari celah yang bisa ia gunakan untuk menakut-nakuti wanita di hadapannya.
Sera merasa ada yang bergetar dalam dirinya, entah itu keberanian atau ketakutan yang semakin merasuk ke dalam dirinya.
Wajah Dante yang tampan namun begitu menakutkan itu membuatnya bergidik. Pikiran-pikiran liar mulai menguasai pikirannya, mencoba memahami pria yang berdiri di hadapannya, pria yang memegang kendali penuh atas nasibnya.
“Sudah malam, sebaiknya kau istirahat. Besok, aku akan memberi tahu apa yang harus kau lakukan untukku,” kata Dante akhirnya, dengan nada yang seolah memberi perintah, bukan permintaan.
Ia beranjak dari duduknya dan dengan gerakan cepat, menaruh pistolnya di belakang celananya, sebuah peringatan yang begitu jelas untuk Sera agar tidak mencoba melakukan hal bodoh.
Sera menatap pistol itu dengan mata terbelalak, rasa takut yang selama ini berusaha ia tahan kini muncul ke permukaan. Namun, ia tetap berusaha untuk tidak memperlihatkannya kepada Dante, meskipun dalam hatinya, ia tahu bahwa pria itu bisa merasakan ketakutannya.
Dante menoleh sejenak sebelum meninggalkan ruangan, tatapannya tajam seolah mengiris langsung ke dalam hati Sera. "Jangan pernah coba-coba kabur lagi dariku jika masih sayang pada nyawamu sendiri," ucapnya dengan nada mengancam sebelum menutup pintu dengan keras, membuat Sera tersentak kaget.
Setelah Dante pergi, Sera menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya dari ketakutan yang baru saja ia alami.
Kamar yang besar dan megah itu kini terasa lebih sempit, menyesakkan, seolah-olah dinding-dindingnya bergerak semakin dekat, mengurungnya dalam ketidakpastian.
“Ayah, Ibu. Kenapa nasibku seperti ini? Sepertinya aku akan terkurung di sini selamanya,” lirih Sera, suaranya hampir tak terdengar di antara kesunyian malam.
Ia memeluk kedua lututnya, mencoba mencari kenyamanan di tengah ketakutan yang menguasai dirinya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir, membasahi pipinya yang pucat.
“Kenapa aku harus bertemu dengan pria jahat sepertinya? Paman James telah membunuh ayahnya Dante? Tapi, kenapa? Kenapa Paman James membunuhnya?” tanyanya pada dirinya sendiri, suaranya penuh dengan kebingungan dan keputusasaan.
Namun, tidak ada jawaban yang datang, hanya keheningan yang menjadi teman setianya dalam kegelapan malam.
Sera hanya bisa berbicara pada udara, karena ia tahu, tidak ada yang mendengarnya di tempat itu kecuali dirinya sendiri. Perasaan kesepian dan ketakutan bercampur aduk, menenggelamkan dirinya dalam lautan emosi yang tak berujung.
Ia sadar bahwa Dante menculiknya bukan karena cinta atau keinginan, tapi karena ketakutan bahwa rahasianya akan terbongkar oleh James, yang mengira Sera akan mengadukan semuanya kepada pria itu.
Namun, dalam hati kecilnya, Sera tahu bahwa Dante salah paham. Padahal, ia tahu bahwa meskipun ia berbicara, James tidak akan pernah mendengarkan atau mempercayainya.
Ia hanyalah seorang wanita lugu yang terjebak dalam permainan yang tidak ia pahami. James tidak akan pernah percaya pada seseorang seperti dirinya.
Sera mengembungkan pipinya, merasa marah pada situasi yang begitu tidak adil baginya. Namun, rasa kantuk yang semakin mendesak akhirnya membuatnya menyerah.
Dengan berat hati, ia menutup mata, berharap bahwa tidur bisa menghilangkan sejenak kekacauan yang terjadi di sekelilingnya.