Aku Memang Kesepian

1517 Words

Brak! Suara dentuman keras terdengar memenuhi ruangan ketika Rose menggebrak meja dengan penuh kemarahan. Tatapan matanya tajam, seperti bilah pisau yang siap menusuk apa pun di depannya. Di hadapannya, Roberto, yang masih terlihat setengah mengantuk akibat permainan semalam, hanya bisa menunduk. Kegugupannya jelas terpampang di wajahnya yang pucat. Ia tidak pernah menyangka akan dipanggil pagi-pagi buta seperti ini, apalagi untuk menghadapi kemarahan Rose yang begitu mengerikan. “Kau benar-benar membuatku marah, Roberto!” pekik Rose, suaranya nyaring melengking, memenuhi ruangan yang sepi. Tangannya yang lentik, namun kokoh, meremas erat batang rokok yang belum lama ini ia nyalakan. Kepulan asap tipis melayang-layang di udara, tetapi tidak mampu meredakan bara api di matanya. Roberto m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD