Dante tersenyum tipis mendengar pernyataan Sera, bibirnya melengkung dengan ironi yang tak tersamar. “Baiklah. Istirahatlah, sudah malam,” ucapnya pelan, suara baritonnya berbaur dengan keheningan malam, menimbulkan getaran yang hampir menyakitkan bagi telinga Sera. Namun, meskipun kata-katanya terdengar lembut, ada jarak yang tak kasat mata, seakan Dante menyelubungi dirinya dengan tembok yang sulit ditembus. Sera, yang masih duduk di ujung tempat tidur, memandang Dante dengan kerutan samar di dahinya. “Apakah besok ada pekerjaan lagi untukku?” tanyanya dengan sedikit harap. Meski kelelahan, ada semacam ketegangan dalam dirinya, seperti seorang prajurit yang selalu siap menerima perintah, bahkan jika itu berarti harus melibatkan dirinya dalam bahaya. Dante terkekeh mendengar antus

