Pagi itu, sinar matahari lembut menerobos masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan bayangan halus yang menari di dinding. Waktu sudah menunjukkan angka tujuh pagi, tetapi suasana di dalam kamar tetap hening dan hangat. Sera perlahan membuka matanya, merasakan tubuhnya yang nyaman dan hangat oleh sesuatu yang sangat familiar—sentuhan yang begitu dikenalnya. Ada kehangatan yang menguar dari tubuh di sampingnya, kehangatan yang tidak asing lagi baginya. Ia menoleh, dan matanya bertemu dengan sosok Dante yang terbaring di sampingnya, wajahnya masih setengah terlelap. “Dante? Sejak kapan kau ada di kamarku?” Sera bertanya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Matanya masih sedikit kabur saat ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi langkahnya seketika tertahan

