“Apa kau bercanda, Dante?” suaranya bergetar, sangat pelan hingga nyaris tenggelam dalam keheningan di sekitarnya. Bibirnya bergetar halus, matanya menyiratkan keterkejutan yang dalam. Tidak, ini tidak mungkin kenyataan. Pria yang selalu terlihat dingin, tanpa celah emosi, tiba-tiba saja mengaku mencintainya? Itu hampir tidak masuk akal bagi Sera. Dante, tanpa sepatah kata, melangkah mendekat, dengan langkah yang tenang namun penuh makna. Setiap langkah seolah menambah beban di pundak Sera, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Hingga akhirnya, jarak di antara mereka hilang, dan wajah Dante hanya beberapa inci dari wajah Sera, membuat wanita itu semakin gugup. Napasnya tertahan, dadanya terasa sesak. “Aku tak pernah bercanda jika itu tentang perasaanku,” suara Dante terdengar dala

