Dante melangkah dengan cepat dan tegas menuju ruang interogasi di markasnya. Pintu besar dari besi itu berderit pelan saat ia mendorongnya terbuka, menampakkan ruangan sempit yang hanya diterangi oleh satu lampu neon yang berayun pelan di tengah langit-langit. Di dalam, dua pria duduk dengan tangan terikat di kursi, wajah mereka dipenuhi keringat dan ketakutan, namun ada tatapan memberontak yang masih tersisa di mata mereka. Dante menatap mereka dengan dingin, sebuah senyuman tipis menghiasi bibirnya. "Siapa yang menyuruh kalian masuk ke wilayahku?" tanyanya dengan nada rendah, namun ada kekuatan yang tak terbantahkan dalam suaranya. Pria-pria itu hanya saling berpandangan, lalu salah satunya terkekeh pelan, diikuti oleh yang lain. Tawa mereka menggema di dalam ruangan, menambah keteg

