“Cewek m***m!” “Aww!” Aku memegang keningku yang tiba-tiba di tepuk sama Daffin. Tidak tanggung-tanggung. Keras banget. Udah gitu dia balik jalan lagi ninggalin aku tanpa minta maaf. Malu sebenarnya, bisa-bisanya langsung merem hanya karena Daffin mendekatkan wajahnya. Bisa saja ‘kan, dia mau niup nyamuk yang nggak sengaja nemplok di wajahku. ‘Ckckck, Ni. Kapan sih kamu nggak mempermalukan diri sendiri.’ “Jahat banget sih, Daf. Sakit tau!” Aku mengusap kepalaku sambil mengejar langkah kakinya yang lebar. Tapi dia tidak menanggapi omonganku. “Daf, tanggepin kek omongan aku. Jangan diem aja.” “Nggak penting.” Hilih. Bilang nggak penting tapi tadi ngaku suami. Situ sadar nggak habis buat baper anak orang terus di hempaskan. Apa semua mulut laki-laki seperti itu. Ckckck, keterlaluan sek

