Hanyari ini adalah hari sidangnya suami dan sahabatku. Udah dari semalem Sandra terus neror aku, dari hanya sekedar chat, telepon sampai video call, pokoknya ada aja acaranya. Bahkan Sandra sampai mau nyewa dukun pelet segala biar para pengujinya nggak tanya aneh-aneh dan dia bisa lulus dengan nilai sempurna, padahal setahuku Sandra tuh pinter, tapi kenapa sampai seheboh itu coba. Berbanding terbalik dengan Daffin, suamiku itu tenang-tenang aja dari semalem, kayak nggak ada beban pikiran sama sekali, deg-degkan atau apa gitu besok mau sidang. Dia tetep santuy. Setokcer itukah otak dia? ‘Orang hemat nggak maruk nilai mungkin ya,’ batinku ngawur. “Daf, kamu nggak merasa deg-degan atau apa gitu?” Aku menghampiri Daffin yang sedang bersiap dengan baju tai cicaknya. Hitam putih maksudnya. “

