Daffin masih saja duduk di sampingku, kali ini dia lagi ngupasin apel, padahal dari tadi udah aku usir suruh pulang. Wajahnya yang kadang memandangku keliatan enek, tapi nagih jika dipandang, apalagi kalau ditambahi senyumnya itu, kan jadi manis. Eh? "Pulang aja kenapa sih, Daf. Ngapain masih di sini!" Aku berkata judes, sengaja emang. "Aku di sini kan jagain istri aku. Nanti siapa yang jagain kamu kalau aku pulang." Iki di sini kin jigiin istri iki. Hilih preet! Jagain aja Raisa sana, nggak butuh aku! Katakan saja aku plin-plan, karena sekarang menyuruhnya pergi dari hadapanku, padahal dulu sangat menantikan kehadirannya di sisiku. Tapi melihat dia yang terlihat akrab, mesra sama si Raisa bikin aku tambah sakit hati aja. "Aku nggak butuh. Sana pergi! Aku mau cari suami baru." "Oh ya

