"Kamu siap, jika harus ditolak oleh anak saya?"
***
"Pak, mohon maaf sebelumnya. Saya ada niat..."
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Suara adzan dari masjid lain sudah terdengar. Waktunya Abdhi mengumandangkan Adzan Isya. Mau tak mau niatnya ia urungkan dulu.
"Maaf, Pak. Saya izin adzan dulu."
Abinya Aisyah hanya mengangguk sambil menatap kagum lelaki muda bernama Abdhi itu.
Setelah solat Isya dan witir berjamaah, Abinya Aisyah masih menunggu Abdhi untuk melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti adzan Isya tadi. Awalnya Abdhi merasa tak enak, karena baginya ini terlalu mendadak. Dia belum terlalu menyiapkan diri untuk mengungkapkan niat baiknya ini.
"Maaf, Pak. Takutnya saya mengganggu waktu istirahat Bapak, kan besok harus kembali bekerja ke rumah sakit."
"Tidak apa-apa, santai saja, Nak."
Abdhi mengumpulkan seluruh energi untuk mengatakan maksudnya. Ini benar-benar di luar rencana dan dugaannya. Ini terlalu cepat dan tanpa persiapan sama sekali. Saat itu ia hanya bermodal niat karena Allah dan keberanian yang ia anggap itu nekat.
Di sudut masjid belakang, Abdhi melihat Faqih yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dapat dipastikan, bahwa Faqih tertidur setelah sholat witir tadi. Faqih mengusap wajahnya dan menghampiri Abinya Aisyah untuk mencium tangannya dengan khidmat, berharap Abinya tertarik pada Faqih untuk dijadikan menantu. Begitulah pikir Faqih dalam hati.
Setelah Faqih pulang dan masjid dipastikan tak ada satu orangpun lagi di dalamnya, Abdhi segera menyampaikan niatnya. "Begini, Pak. Seperti yang Bapak ketahui, nama saya Abdhi. Muhammad Abdhi Abdillah. Saya bukan orang berada seperti Bapak. Saya hanya pemuda yang lahir dan hidup dengan sederhana dan segala keterbatasan. Di komplek ini, saya tinggal bersama Kakak saya, namanya Ustadzah Shaliha." Sampai ceritanya yang ini, Abinya Aisyah mendengarkan dengan serius.
"Karena kebetulan rumah kakak saya ini lebih dekat jaraknya dengan kampus dan masjid tempat saya memulai kumpulan remaja untuk menyatukan rasa ukhuwah islamiyah dengan sama-sama berjalan di dalam ketaatan pada Allah. Kadang-kadang Ayah saya dan Ibu tiri saya berkunjung ke rumah Kakak saya. Atau kadang-kadang dua hari sekali saya yang mengunjungi beliau.
Begini, Pak. Pada intinya, saya punya niat baik untuk melamar salah satu Putri Bapak. Sebenarnya saya tidak berencana menyatakannya hari ini, tapi In Syaa Allah ini waktu yang telah Allah takdirkan."
Andi, Abinya Aisyah menganggukkan kepalanya. "Dengan senang hati saya terima niat baik kamu, Nak. Tapi, apa yang sudah kamu persiapkan jika nanti menikah dengan anak saya?"
"Saya berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memperbaiki dan memantaskan diri untuk Putri Bapak yang indah akhlaknya. Juga berusaha menambah-nambah ilmu dari manapun saya bisa dapatkan. Saya memang masih kuliah semester enam tapi Alhamdulillah 'alaa kulli haal, bulan lalu saya diterima di Pesantren Al-Islamiyah untuk mengajar di sana. Kuliah sambil ngajar, Alhamdulillah."
"Kamu siap, jika harus ditolak oleh anak saya?" Tanya Andi.
Semua ini terjadi tanpa persiapan sama sekali. Tapi dengan kemantapan hati, Abdhi siap menerima apapun. Ia menghembuskan nafasnya. "In Syaa Allah, saya siap. Itu hak Putri Bapak untuk menerima dan menolak. Karena saya menyerahkan seluruhnya kepada Allah. Dan senjata saya menghadapinya hanya dengan berdoa dan meminta yang terbaik."
"Baik. Apa alasan utama kamu memilih anak saya?"
"Kecantikan akhlak dan agamanya. Juga kesantunan dan rasa penyayangnya."
"Jika memang itu benar adanya. Dari mana kamu tahu itu?"
"Saya lihat dari sikapnya yang mencerminkan pengamalan dari ilmunya. Saya lihat, dia selalu mengutamakan ibadah atau urusan akhirat dibanding urusan duniawi."
"Baik, Nak Abdhi. Ini sudah malam dan waktunya istirahat. Apalagi kamu tadi abis kumpulan. Saya pribadi sangat senang mendengar niat baik kamu. Tapi keputusan terbesar ada di tangan anak saya. Kapan kamu berkunjung, akan saya tunggu."
"Mohon maaf, Pak. Apa Bapak tidak mempermasalahkan umur kami yang hanya berbeda satu tahun dan masih terbilang muda ini?"
"Saya yakin pemikiran kamu sudah dewasa. Semua kembali pada seberapa bertanggung jawabnya kalian kelak terhadap hak dan kewajiban masing-masih setelah menikah. Allah Maha Mengetahui, saya harap kamu selalu merasa diawasi olehNya."
Abdhi mengangguk paham. Ia menghembuskan nafasnya perlahan selama percakapan itu berlangsung telapak tangan dan kakinya memang berkeringat dingin. Namun ia selalu berusaha untuk percaya diri. Masalah diterima atau tidak, ia masih tetap dengan pilihannya untuk menyerahkan kepada Allah. Allah tahu mana yang terbaik untuknya. Ia hanya bisa berdoa dan berikhtiar.
***
Dengan kesal, Faqih menendang botol kosong dan benda apapun yang menghalangi langkahnya menuju rumah. Amarahnya bergejolak, tangannya mengepal kuat, siap-siap sebuah pohon depan rumahnya ia hantam.
"Adaww, sakiiiit." Ia meringis kesakitan setelah menonjok batang pohon yang tebal dan kuat itu. Ia meniup-niup tangannya yang memerah. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Meski sempat melemah, tangannya masih bisa ia kepalkan sekuat tenaga.
Ia memang sengaja mendengarkan semua percakapan Abdhi dan Abinya Aisyah karena penasaran. Sebelumnya ia tak pernah merasa sesakit ini. Terdengar alay memang. Tapi bagaimana rasanya kita ketika orang lain melamar gadis yang kita cinta? Apalagi orang itu lebih baik daripada kita.
"Gue tau dia emang lebih baik daripada gue. Tapi Aisyah itu ya cocoknya cuma sama gue! Titik! Gak pake koma!" Faqih terus menggerutu tidak jelas di kamarnya sambil sesekali meniup tangannya yang masih terasa sakit.
Ia meraih ponselnya dan segera memanggil Rendy untuk menceritakan kekesalan hatinya.
"Assalamualaikum, Rendi!" Ucap Faqih pada Rendy di sebrang sana.
"Apaan sih? Malem-malem gini ganggu aja. Lagi maen PS nih!"
"Jawab salam itu wajib!"
"Iya, iya. Waalaikumussaam. Ada apa, Qih?"
"Aisyah mau dilamar orang lain, Bro!"
"Hah? Seriusan?"
"Ya iya lah serius. Kapan gue pernah bercanda emang?"
"Ah dasar, Elo! Biasanya juga gak pernah serius."
"Iya, beneran dia mau dilamar sama Ka Abdhi. Padahal kan, Lo tau sendiri. Yang cocok buat Aisyah itu ya cuma gue, ya, kan?"
"Idiih, kepedean, Lo. Kan dulu gue pernah nyaranin buat pacaran sama Aisyah. Biar lo booking dia dulu. Nah, kalo udah waktunya, baru lo lamar dia!"
"Alahh, gue emang salah milih temen curhat, ahh!"
"Maksud lo apa?"
"Dengerin gue Rendy! Gue cinta sama Aisyah. Caranya dengan ngejaga dan saling ngejaga. Bukannya malah ngajak maksiat pake jalan pacaran. NO WAYY!! Taubat lah Lo, Rendy. Gue gak suka denger saran lo yang selalu nuruh gue pacaran!
Setidaknya jangan nyuruh maksiat kalo belum bisa nasehatin yang baik-baik ke gue."
"Ah, elo gak asik, Qih! Tenang aja kali. Kita masih muda. Masih banyak waktu buat taubat."
"Iya kalo umurnya panjang, Bro. Kalo jatahnya cuma sampe hari ini, ya besok dikubur-dikubur juga dalem tanah!"
"Ih, serem ah! Lo kok jadi ngenasehatin gue sih? Kan ini ceritanya lo lagi curhat ke gue. ya harusnya gue yang nasehatin lo."
"Abis, lo nyuruh gue pacaran mulu sih! Jelas-jelas itu gak boleh. Cuma buang-buang waktu, tau gak?"
"Hehe, iya deh, iya. Sorry, Bro."
Faqih mengakhiri panggilan setelah salamnya dijawab oleh Rendy. Berharap mendapat penguatan dari Rendy, malah ia yang menasehati sahabat seperjuangannya itu. tapi itu bukan masalah baginya. Walaupun saat ini ia kembali merasa galau ketika mengingat percakapan Abdhi tadi. Benar-benar memilukan hatinya.
Tak pernah ia rasakan hati yang sesakit ini sebelumnya. Cinta telah mengubah hidupnya. Pertemuan-pertemuan singkat memang menjadi kebahagiaan tersendiri, dan di sisi lain, jalan untuk mengikhlaskan akan menjadi pilihan berat tersendiri. Semua tergantung hati. Apakah ia mampu untuk ikhlas, walaupun itu berat?
***
Absen readers yang nunggu cerita ini, cuung?
Siapa aja nih yang masih nunggu cerita ini?
Salam,
Saifa Hunafa.