Dihukum
Dua orang lelaki tengah menghormat pada bendera merah putih. Tak ada yang menjadi pemimpin upacara, tak ada pengibar bendera, tak ada pembaca UUD. Mereka mengangkat sebelah kakinya. Terkadang tubuhnya hampir terjatuh karena berusaha menyeimbangkan. Terik matahari menyorot 2 lelaki itu. Seandainya mereka tidak terlambat datang ke sekolah, pasti tidak akan seperti ini jadinya.
"Gue haus, Ren," keluh seorang lelaki sambil memegangi lehernya.
Lelaki yang satunya mengernyitkan dahi, karena cahaya matahari yang begitu terang. "Gue juga sama kali!" Dia menepuk pundak lelaki yang sama-sama sedang dihukum itu karena terjadi ketidak seimbangan, lelaki itupun mengalami hal yang sama. Hingga...
Bruk!
Mereka terjatuh. Kepala sekolah yang tengah mengawasi menatap mereka dengan tatapan setajam pedangnya. "Berdiri!" ucapnya tegas.
Dua lelaki itu terkesiap, dan bergerak cepat untuk bangkit dari jatuhnya.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba datang seseorang menghampiri kepala sekolah. Mereka berjabat tangan. Rupanya, seseorang itu membawa anak gadis. Mereka berbincang ringan.
"Faqih! Rendy! Waktu kalian berdiri masih setengah jam lagi! Awas aja kalo kalian kabur, Bapak akan tambah hukumannya!" Ancam Kepala Sekolah.
Kepala sekolah itu mempersilahkan kedua tamu yang baru datang itu menuju ke ruangan khususnya, meninggalkan lelaki yang sedang menghormat pada bendera di tengah siang hari yang panas ini.
Faqih terdiam, menatap seorang gadis berjilbab panjang yang datang bersama Ayahnya itu. Tangannya tiba-tiba turun dari hormat, kakinya pun perlahan mulai turun. Dia masih terpaku pada gadis yang saat itu tengah berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Di luar kesadaran, Faqih berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk mengikuti gadis berjilbab tadi. Rendy, teman yang dihukum dengannya berlari mengejar.
"Qih, lo mau kemana?" Rendy menepuk pundak Faqih dengan keras.
Faqih terperanjat. "Hah? Gue mau liat aja tamunya."
"Kita masih dihukum, woyy!"
"Alaah, Pak Hendra juga gak liat. Ngapain panas-panasan juga, orang yang ngawas aja gak ada. Kalo lo mau, silahkan aja..."
Rendy menggaruk kepalanya. "Iya juga, ya? Gue ikut lo deh!"
Mereka berjalan menuju ruang kepala sekolah. Menyusuri koridor sekolah dengan santai, hingga sampailah mereka di depan ruangan Pak Hendra.
Sayup-sayup mereka mendengar, "Jadi ini anak saya. Dia dari pesantren. Sekarang mau melanjutkan sekolah di sini."
"Oh, iya. Kamu bisa masuk mulai besok, sekalian nanti saya suruh beberapa murid untuk mengenalkan lingkungan sekolah pada anak Bapak. Untuk masalah berkas-berkas seperti buku raport yang di sekolah sebelumnya, boleh nanti besok ke ruangan saya untuk mengumpulkannya," ucap Pak Hendra.
"Baik, Pak."
Faqih dari ambang pintu penasaran dengan nama gadis itu. "Namanya siapa, Pak?" ucapnya sedikit berteriak.
Sontak saja membuat Pak Hendra dan seisi ruangan itu menoleh ke arah pintu. Terlihat, Rendy menjitak kepala Faqih sambil berbisik,
"Eh, lo apaan sih, pake teriak segala?"
"Heh, bukannya kalian dihukum?" Suara Pak Hendra, Kepala Sekolah memecahkan suasana serius di ruangan itu.
"Nanti kita lanjutin ko, dihukumnya. Faqih mau mencari sebagian hati yang hilang dulu."
Tangan Pak Hendra mengepal kuat. "Gak ada sebagian sebagian yang hilang. Kalian mau nama kalian hilang dari sekolah ini?" ancamnya.
"Waduh. Iya iya Pak, kita pamit. Byeee pak Kepseek!" ucap Faqih sambil berlari untuk melanjutkan hukuman bersama Rendy.
Mereka berlari menuju lapangan basket, untuk melanjutkan hukuman. Nafas mereka tak teratur. Tetes demi tetes keringan mengalir di dahi mereka.
"Lo selalu cari mati di hadapan Pak Hendra!" ucap Rendy sambil berusaha mengatur nafasnya.
"Kali ini gue gak nyari mati, tapi nyari cinta yang selama ini belum gue rasain. Gue belum tau nama dia, dan gue harus cari tau!" tekadnya.
"Lo itu, tiba-tiba jatuh cinta, tiba-tiba nekat abis, tau gak?"
Faqih mengangkat kedua bahunya.
"Faqiiiih! Rendyy!!!! Lanjutin hukumannya!" teriak Pak Hendra dari kejauhan.
Mereka langsung ke posisi dihukum kembali. Mata Faqih melirik ke arah gadis tadi. Sepertinya gadis itu akan pulang bersama Ayahnya. Gadis itu menatap ke arah Faqih. Bola mata mereka saling bertemu, namun gadis itu langsung mendelikkan matanya. Faqih justru tersenyum ramah kepadanya, hingga gadis itupun menghilang, pergi bersama mobil sedan putihnya.
"Pak Hendra, ini udah nyampe jam 1. Udahan ya, dihukumnya?" tanya Faqih sambil menyengir kuda.
"Hukumannya saya tambah 20 menit, karena kalian tadi ngintip!"
"Kalo gitu, kasih tau dulu nama cewe tadi, Pak!" pinta Faqih.
"Nanti juga kamu tau. Udah lanjutin!"
"Yah, gak bisa gitu dong, Pak. Kalo Bapak gak ngasih tau, kita udahan nih, dihukumnya," keluh Faqih lagi.
"Mau saya tambah, hukumannya?"
"Boleh kok, tapi kasih tau dulu nama cewe tadi! Ya, Pak. Ih, Pak Hendra ganteng deh. Pleasee!" mohon Faqih.
Pak Hendra mulai geram. "Sekali lagi kamu ngomong, saya lempar kamu pak-"
Sebuah bola voly mengapung, hingga mendarat tepat di dahi Faqih. Bola itu berasal dari lapangan voly yang di sana terdapat kelas 10 tengah olahraga voly.
Sedangkan Faqih?
"Lah, Faqih mana?" tanya Rendy.
Pak Hendra menunjuk ke bawah. "Ituu, Faqih pinsan!"
Pak Hendra dan Rendi pun segera menggotong Faqih ke ruang UKS.
Begitulah Faqih di sekolah, paling sering dihukum, bahkan oleh kepala sekolah langsung. Bukan hanya itu, dia pun banyak dikenal oleh guru dan semua warga sekolah akibat kenakalannya. Dia memang bukan anak yang sangat macam-macam dan tidak terlalu keterlaluan juga nakalnya. Hanya saja, dia jarang menaati aturan sekolah. Jika disuruh berseragam lengkap dengan dasi dan sabuk, dia selalu menjawab, "Aduh, Faqih lupa, Bu. Dasinya ketinggalan di rumah. Maafin Faqih ya, Bu," ucapnya dengan polos, seperti tak bersalah sama sekali.
"Gak ada maaf, maaf, nanti temui saya di ruang guru untuk kumpulan bersama pelanggar aturan yang lainnya," jawab seorang guru killer bernama Bu Nela.
Faqih selalu bisa mencari jawaban yang masuk akal, tapi tetap saja, aturan sekolah ya aturan yang harus dipatuhi. Dan siapapun yang melanggar mesti dihukum. "Bu, Allah saja sebagai Tuhan seluruh Alam ini Maha Pemaaf, masa ibu yang hanya seorang makhluk tidak memaafkan manusia, sih? Manusia itu memang tempatnya salah dan khilaf, Bu. Maka dari itu, tolong maafkan saya. Kalo saya tidak lupa juga saya pasti membawa dasi itu, Bu."
Bu Nela terdiam. Namun diamnya adalah diam geram. "Saya tahu Allah Maha Pemaaf. Tapi ini aturan sekolah! Sebelum kamu masuk ke sekolah pun sudah ada perjanjian untuk menaati semua aturan, maka patuhilah! Jangan sekali-kali melanggar lagi!" jawabnya sambil berusaha menahan amarah di hati.
"Ih, Bu Nela mah, gitu! Orang lupa juga, masa gak bisa dimaklumi, sih?" Faqih mulai mengelabui lagi.
"Seragam kamu itu emang gak pernah lengkap, Faqih! Makanya kamu gak pernah lepas dari hukuman. Itu salah kamu sendiri yang gak disiplin. Lain kali, hal-hal penting itu perhatikan!" ucap Bu Nela.
Faqih memang selalu mencari alasan agar bisa terbebas dari hukuman. Tapi satu kali pun, Faqih tak pernah lolos. Karena guru-guru di sekolah itu sudah dinilai baik dan berkelas baik. Disiplin dan sangat memoerhatikan kedisiplinan.