Judes Amat

1219 Words
Di sebuah kamar bercat putih, seorang gadis merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia mengibas-ngibaskan tangannya karena merasa gerah. Mata indahnya terpejam, namun ia tidak tertidur. Begitulah cara gadis ini mengekspresikan rasa lelahnya. Tak lama setelah itu, datanglah Uminya. Ia melihat, pintu kamar Putrinya terbuka. "Assalamualaikum, Aisyah!" ucapnya yang lantas menghampiri gadisnya di atas ranjang. Gadis bernama Aisyah itu membuka matanya. Sosok Ibu dengan wajah menentramkan hati itu tertangkap jelas oleh penglihatannya. Membuat Aisyah tak mampu menahan senyum saat melihatnya. "Waalaikumussalam, Umi," jawabnya sambil mencium tangan Sang Ibu. "Tadi gimana, keadaan sekolahnya? Bagus, kan?" tanya Uminya. Aisyah mengangguk. "Bagus. Katanya, banyak murid berprestasi tingkat nasional juga di sana. Oh iya, Mi, kata Abi, Adinda juga sekolah di sana kan?" "Kalo gak salah sih iya. Soalnya Ibunya Adinda juga bilang sekolahnya di SMAN Nusa Bangsa." "Semoga aja, ketemu. Aisyah kangen banget, Mi," ucap Aisyah yang lantas bangkit dari tidurnya. Uminya tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Aisyah. "Insyaallah, ya. Ya udah, Umi mau beres-beres di dapur dulu. Kalo kamu lapar, nanti bilang aja ke Umi ya." "Siap, Mi!" Aisyah menghormat bak dua lelaki yang ia lihat siang hari tadi di sekolah. Mengingat lelaki itu, Aisyah langsung menurunkan hormatnya. Apalagi saat ia mengingat lelaki yang tadi memperhatikannya. Alhamdulillah, udah lupa wajahnya, batin Aisyah. Begitulah Aisyah, hafalannya memang lemah jika dari segi mengingat seseorang. Jika ia ingat nama, pasti orangnya tak tau. Sebaliknya, jika ia ingat orangnya, pasti lupa dengan namanya. Untuk itu, Aisyah perlu sering bertemu hingga bisa benar-benar ingat pada seseorang. Aisyah beranjak menghampiri sebuah dus berisi barang-barang pribadinya. Dia memang baru kemarin datang ke rumah baru ini, jadi ia belum sempat membereskan semua barang. Jikalau bukan karena ingin bertemu dengan Abinya setiap hari, mana mau Aisyah meninggalkan Pesantren dan rumahnya di Jakarta. Abinya bekerja di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, sebagai salah seorang dokter spesialis kulit. Selama ini, Abinya jarang pulang, mengingat, dari hari ke hari semakin banyak pasien yang membutuhkan jasanya. Maka dari itu, ia putuskan untuk pindah ke Bandung yang rumahnya saat ini tidak terlalu jauh dengan tempat ia bekerja. Satu per satu Aisyah mengeluarkan barang pribadinya. Mulai dari buku diary, hiasan meja, hingga foto pun ada di dalam dus itu. Aksi mengeluarkannya terhenti, saat tangannya memegang sebuah foto berukuran A6 yang menampilkan 3 orang gadis. Aisyah terkekeh pelan, saat melihat dirinya sedang menyilangkan tangan di depan d**a sambil mengerucutkan bibir. Sedangkan kedua temannya di foto itu justru menertawakannya. Benar-benar momen tak terlupakan, yang memotretnya pun adalah seseorang yang cukup handal, yaitu Kakaknya. "Haha, ini kalo gak salah pas Adinda sama Qory ngejailin aku." Ada foto lagi, yang menampilkan mereka bertiga tengah berpelukan. Momen itu dipotret ketika perpisahan dengan Adinda yang akan pindah ke Bandung, karena harus mengikuti keinginan orang tuanya. "Dulu, Adinda yang pergi ke Bandung, ninggalin aku dan Qory di Jakarta. Sekarang? Malah aku yang ninggalin Qory sendirian di sana. Kasian banget sih, Qory. Maafin aku ya." *** Sinar matahari pagi itu cukup terang. Cahayanya mulai memasuki celah-celah yang ada di kamar bertema Persib itu. Kasur berukuran king size berwarna biru dan bergambar lambang persib itu terlihat tidak rapih, karena si pemiliknya memang belum terbangun dari tidur panjanganya. Alarm bergambar lambang persib pun berdering. Bergerak-gerak demi membangunkan si pemiliknya. Namun, tak ada respon sama sekali dari lelaki yang masih tertidur lelap di bawah selimut itu. Tak lama setelah itu, sang Umi datang. Menarik selimut yang ia pakai. "Faqiiiih! Ayo, bangun!" Lelaki bernama Faqih itu menggeliat kecil. Dia mengusap-ngusap wajahnya, dan kemudian mendudukan badannya. "Kepala kamu masih sakit?" tanya Fatma, Uminya, sambil meraba dahi Faqih yang terlihat masih memar. "Ssh, aww! Masih sakit, ih!" Faqih meringis kesakitan. Fatma mengangkat sudut bibirnya sambil menghembuskan nafasnya pelan. "Kamu mau sekolah?" Faqih terlihat sedang berfikir sejenak. "Gak mau, ah." "Tapi beneran kan, kamu masih sakit?" Faqih mengangguk mantap. "Ya udah. Nanti Umi ambilin kompresan dulu sama makan buat kamu, ya?" Faqih mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Fatma keluar dari kamar Faqih. Faqih meraba dahinya, ia merasakan sedikit perih dan agak benjol. "Huh, kalo gak bisa maen voly padahal gak usah ikutan. Ribet amat sih, kelas 10," gerutunya. Tiba-tiba, bayangan gadis kemarin teringat oleh Faqih. Ia ingat, bahwa ia masih memiliki tugas penting yang belum ia laksanakan. Mau tak mau, untuk melaksanakannya, dia harus pergi sekolah . "Gue belum tau nama cewe berjilbab itu. Berarti gue harus sekolah!" gumamnya. Dengan cepat, Faqih mengambil air wudu, dan lantas melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Faqih memang paling langganan dihukum di sekolah. Tapi prinsipnya adalah tidak boleh dihukum Allah karena meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Saat sujud, ia sedikit kesulitan. Dahinya memang terbentur cukup keras dengan bola voly. Membuatnya meringis menahan perih setiap sujud. Meski sakit, ia akan selalu berusaha menyempurnakan sholatnya. Di akhir sholat Shubuh, seperti biasa, dia berdoa. Mengangkat kedua tangannya, dan menunduk khidmat karena tengah meminta pada Yang Maha Besar, Maha Kuasa. Setelah selesai, dia mengusap wajahnya. "Semoga jodoh!" gumamnya tiba-tia, lantas bangkit dan membuka sarungnya. Faqih segera mengganti bajunya menggunakan seragam. Namun, ada yang berbeda dari Faqih hari ini. Dia memakai peci. Pecinya tidak dilepas seusai sholat Shubuh tadi. Faqih menyambar ranselnya, kemudian pergi menuju dapur untuk menemui Uminya. Uminya yang sedang menyiapkan sarapan merasa aneh dan bingung melihat anak lelaki yang tadi bilangnya sakit itu sekarang justru sudah dusuk di menja makan sambil memakan roti yang telah disiapkan untuk adiknya. "Ih, Kak Faqih! Itu kan buat Fella!" gerutu adiknya. Faqih tak menggubris. "Itu masih banyak, oles lagi aja pake coklat sendiri!" Fella, adiknya, mendengus kesal. "Faqih? Kamu sehat?" Fatma menghentikan aksi mengoles rotinya. "Alhamdulillah, Mi." Faqih tersenyum dengan pipi yang kembung karena penuh dengan roti. "Tadi katanya masih sakit?" "Inget dia jadi sembuh, Mi." "Dia siapa?" "Doain aja, Mi." "Maksudnya? Umi gak paham, deh!" "Umi akan paham pada waktunya, kok." "Kamu kok, jadi aneh sih? Pake peci lagi, gak biasanya." "Tapi Kak Faqih keliatan kaya Abi, loh, Mi, kalo pake peci," celetuk Fella. "Iya juga ya." "Faqih ganteng, berarti? Haha..." Mereka pun hanyut dalam tawa hangat. *** Sebuah mobil Sport berwarna biru milik Faqih terparkir rapih di parkiran. Kini, pemiliknya sedang berdiri di samping gerbang, sambil sesekali melihat jam tangannya. Tak lama setelah itu, mobil sedan putih yang kemarin ia lihat datang dan berhenti tepat di depannya. Seorang gadis yang kemarin turun darinya dan melambaikan tangan pada pengendara yang ada di dalamnya. Faqih mulai beraksi. Dia berlari kecil menghampiri gadis itu. Faqih membenarkan pecinya. "Assalamualaikum," ucapnya sambil tersenyum. Gadis itu menunduk. "Waalaikumussalam." Faqih menyengir kuda, dan sesekali terkekeh tidak jelas. Gadis itu merasa bosan, hingga akhirnya dia pergi meninggalkan tingkah aneh Faqih. Faqih mengejarnya. "Et, tunggu dulu!" tangannya memalang gadis itu. "Ada apa?" "Nama kamu siapa?" tanya Faqih. "Gak penting!" jawabnya jutek. Saat gadis itu akan melangkah pergi, Faqih segera menahannya lagi. "Eh, itu penting! Kamu kan sekolah di sini, jadi aku harus tau nama kamu." "Bentar lagi bel. Liat tuh, jam tangan mahal kamu! Kebiasaan dihukum deh, kayaknya, sampe gak pernah liat waktu!" Faqih merasa kalah. "Oke, kita ke kelas. Kamu kelas apa?" "Kelas XII IPA1." "Waw, kelas unggulan! Berarti kita kelasnya sampingan dong, kalo aku kelas XII IPA2." Faqih mengangkat kedua alisnya. "Gak nanya!" Gadis itu meninggalkan Faqih. Faqih mengejar lagi. Judes amat, tapi gue suka... batinnya. *** TBC Katakan 1 kalimat untuk cerita ini di kolom komentar ya:) Setiap penulis w*****d pasti bahagia melihat readersnya aktif vote dan comment? Salam, Saifa Hunafa:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD