Jangan gampang memutuskan tanpa meneliti, nanti kamu akan keliru!
***
Kelas XII IPA1 adalah kelas unggulan di SMAN Nusa Bangsa. Di dalamnya hanya terdapat murid-murid berkualitas dan berprestasi. Perlu bersaing sangat ketat demi mendapatkan juara di kelas itu. Rata-rata penghuni kelas itu pernah mengikuti olimpiade, baik di bidang akademik maupun olahraga.
Tak heran, jika Aisyah dimasukkan ke kelas itu, karena nilai raport nya memang memuaskan. Membuat kepala sekolah dengan mudahnya memasukan ia ke kelas itu.
Aisyah melangkah masuk ke kelas dengan sedikit ragu. Bu Susan, yang sedang mengajar mengenali Aisyah sejak kemarin. Dia mempersilahkan Aisyah untuk berkenalan dan memperkenalkan dirinya di depan semua murid.
"Assalamualaikum," ucap Aisyah pada teman-teman barunya. Dia disambut cukup hangat dengan senyum hangat calon teman-temannya itu.
"Waalaikumussalam," jawab seisi kelas secara serempak.
"Nama saya, Aisyah Naufalyn Azima Azzahra. Kalian bisa panggil Aisyah." Aisyah tersenyum dan memandangi teman barunya satu persatu.
Saat itu, matanya tertuju pada bangku pojok belakang. Ada seorang gadis melambaikan tangan, seperti telah mengenalnya. Sedangkan ia sendiri bingung.
"Aisyah, kamu bisa duduk di bangku yang kosong. Itu di belakang!" ucap Bu Susan sambil menunjuk ke arah belakang. "Tenang aja, setiap harinya perpindahan tempat duduk kok. Nanti kamu bakal ngerasain juga bangku di depan. Silahkan, Aisyah," lanjutnya ramah.
Aisyah berjalan melewati bangku-bangku menuju tempat duduk yang ada di belakang. Sesekali ada yang menyapa dan ber'hai' ria dan dibalas ramah olehnya. Aisyah kemudian duduk, tepat di samping orang yang tadi melambaikan tangannya.
"Aisyaaaahhh." Orang itu memeluk Aisyah yang tentu saja membuat Aisyah sedikit terkejut.
Aisyah hanya tersenyum. "Hay!" sapanya.
"Ih, kamu sombong!" ucap gadis yang memeluk Aisyah tadi. Aisyah melirik ke arahnya saat ia melepas pelukan. Ia mengamati wajah gadis itu, dan sepertinya wajah ini tak asing.
"Adinda?" Aisyah menunjuk ke arah gadis yang dipanggil Adinda itu.
"Iyaaa, masa lupa sih?" Adinda tersenyum penuh harap.
"Abis, kamu beda banget. Mukanya kaya udah gede, hehe."
"Ish! Aku kan emang udah gede."
Betapa bahaginya perasaan mereka pada hari itu. Tapi, karena mendapat teguran dari Bu Susan, bahagia mereka terpaksa disimpan karena harus belajar.
Aisyah selalu yakin, jika setelah perpisahan, pasti akan ada pertemuan. Begitupun sebaliknya. Maka dari itu, ia tak pernah menyesali sebuah perpisahan. Karena dengan doa, mereka merasa begitu dekat. Karena yang selalu ia harapkan adalah sebuah pertemuan indah di surga. Maka dari itu pula mereka tak pernah khawatir dengan adanya perpisahan.
Karena Allah selalu dan akan tetap menjadi Yang Maha Adil, batinnya.
***
Di kelas tetangga, tampak seorang guru sedang mengajari beberapa orang murid. Murid yang lainnya justru tidak memperhatikan karena menahan kantuk, atau justru ada yang memainkan ponsel. Jujur saja, belajar PKN bersama Pak Hendra, Kepala Sekolah, begitu membutuhkan niat yang kuat. Jika tidak, maka bisa jadi langsung terlelap. Cara penyampaiannya yang sedikit lamban membuat nada bicaranya seperti tengah menceritakan dongeng pengantar tidur. Apalagi jika menjelaskan tentang sejarah. Padahal, saat itu pelajaran baru saja dimulai sekitar 15 menit.
"Pak, saya mau nanya!" Faqih termasuk murid yang tidak mengantuk mengacungkan tangannya.
Pak Hendra menoleh ke arah Faqih. "Ya! Silahkan!"
"Istirahat berapa detik lagi, Pak?" Pertanyaan tak berkualitas itu membuat murid yang tak tertidur tertawa dan menyorakinya.
Pak Hendra membulatkan matanya. "Pertanyaan macam apa, itu?"
"Ayolah, Pak, percepat jam istirahatnya. Faqih ada tugas wajib yang lebih penting, nih," pinta Faqih.
"Kamu mau, saya kasih tugas buat menghormat bendera lagi?"
Faqih menggelengkan kepalanya cepat.
"Makannya, jangan nanya yang aneh-aneh! Perhatikan saya, dan untuk semua yang tidur silahkan berdiri!"
Brakk!
Pak Hendra memukul meja dengan keras, membuat seisi kelas benar-benar terbangun semuanya. "Kalian berdiri sampai saya selesai mengajar!"
"Yaaahhh..."
Sekitar 2 jam, mereka berdiri. Memperhatikan sang guru dengan keadaan kaki pegal. Namun, cara seperti ini ampuh, membuat sebagian besar murid tidak mengantuk. Walau, masih ada saja yang mengantuk. Akhirnya, pelajaran PKN pun berakhir. Waktunya berganti dengan pelajaran Matematika. Ketika kelas itu sedang menunggu kedatangan guru Matematika, Faqih justru malah keluar dari kelas tanpa izin ke ketua kelas.
Faqih berjalan menuju kelas sebelah. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kelas IPA XII1. Yang keluar saat itu adalah Bu Susan. Saat itu, di kelas IPA XII1, pelajaran Bahasa Inggris memang 4 jam.
"Assalamualaikum, Bu." Faqih mencium tangan Bu Susan.
"Waalaikumussalam. Faqih? Ada apa?" tanya Bu Susan.
"Faqih mau nyari anak baru tadi."
Bu Susan terlihat bingung. "Mau ngapain?" selidiknya.
Faqih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Eum, anu. Itu, Bu. Faqih mau kenalan, hehe," kekehnya.
Bu Susan mengernyitkan dahinya heran. "Lah, cuma mau kenalan aja, toh? Nanti aja pas istirahat. Kok kamu bela-belain dateng kaya gini, sih? Sekarang pelajaran apa?" tanyanya.
"Bentaaar, aja Bu. Ayolah, Bu!"
"Bu Susan, bentaaaar aja saya mau jewer Faqih sampe masuk ke kelasnya," ucap seorang guru wanita berisi dan berkacamata pada Bu Susan.
Bu Susan terkekeh kaku. "Ehehe, silahkan, Bu Rina."
Seorang guru yang di cap sebagai guru killer itu benar-benar menarik telinga Faqih dengan keras hingga sampai ke kelas. "Adaww, sakit, Bu! Sakiiiiiit!" keluh Faqih saat diakhiri penjewerannya dengan sangat keras. Ia segera mengusap-ngusap telinganya yang terasa panas dan mungkin sudah berwarna merah.
"Sekarang belum waktunya istirahat!!! Untuk semua, jangan ada yang ngikutin Faqih. Sekarang fokus belajar, semuanya buka buku matematikanya!" perintahnya tegas.
Baru saja Bu Rina akan menulis di papan tulis, Faqih mengacungkan tangannya untuk bertanya. "Bu!"
Bu Rina menoleh. "Ada apa?" ucapnya dengan sisa amarahnya tadi.
"Saya, saya, eum. Gak bawa buku matematika," ucap Faqih sambil terkekeh pelan.
Rendy yang duduk tepat disebelahnya menyenggol Faqih dan berbisik, "Aduh, kok, lo jujur sih? Lo mau dihukum?" seketika Faqih menutup mulutnya menggunakan tangan kanannnya.
Mata Bu Rina memerah. "Kamu mau ngapain ke sekolah, hah? Kalo kerjaannya cuma buat dihukum gak usah sekolah!!! Sekarang, kamu pinjem buku paket Rendy, terus tulis tangan halaman 140 sampai halaman 299!!!"
"Apa? Ibu gak salah?"
"Sekali kamu ngomen, saya tambah 100 halaman. Mau?"
"Enggak, deh, Bu." Faqih terlihat lesu.
Dia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kelas dan duduk di bangku depan kelas untuk menulis tugasnya. Faqih merasa lelah juga menjadi murid yang selalu dihukum. Dia rasa, semua yang ia lakukan selalu salah di mata semua guru.
Padahal, apa salah gue? Kalo gue telat sekolah, berarti gue telat bangun. Apa salahnya? Gue juga udah punya niat gak telat bangun kali. Kalo gue tadi izin keluar kelas, berarti gue ada perlu. Apa salahnya? Gue juga punya hak buat nyari tau tentang anak baru itu. Kalo gue gak bawa buku, berarti gue lupa. Manusia emang tempatnya lupa kali, apa salahnya? Salah mulu gue! batin Faqih.
***
Bel istirahatpun berdering, tanda semua murid bisa keluar kelas untuk break dari belajar. Bu Rina keluar dari kelas, dan didapatinya Faqih tengah tertidur di atas bangku dengan kepala beralaskan buku matematika.
Saat ada seseorang lewat membawa botol minum, Bu Rina menghentikannya. "Tunggu! Saya minta minumnya!"
Seorang gadis yang dipintai minum itu menyodorkan botolnya yang berisi air setengah dari botol.
Bu Rina mengguyur Faqih hingga air yang ada di dalam botol itu habis. Faqih terperanjat kaget. Ia terbangun karena terkejut. Baju seragam bagian atasnya basah.
"Dari tadi kamu tidur?" tanya Bu Rina.
"Saya udah kok, nulisnya. Bu Rina aja kelamaan cerita, padahal tadi udah waktunya istirahat. Liat aja buku saya kalo Ibu gak percaya," ucap Faqih santai.
"Sini, buku kamu! Nanti saya periksa!"
Faqih menyodorkan bukunya pada Bu Rina. Lantas Bu Rina mengembalikan botol milik seorang gadis tadi. "Nih, makasih ya. Maaf abis, kamu ngambil aja ya di tempat pengisian air minum."
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum tipis. Baru saja gadis itu akan melangkah pergi, Faqih menahannya. "Eh, tunggu!"
"Ada apa?"
"Nama kamu siapa?"
"Kamu penasaran banget ya? Emang buat apa?" tanya gadis itu.
Faqih berdiri dari duduknya dan mengusap wajahnya yang basah. "Biar kalo Umi aku nanya, aku gak bingung lagi."
"Umi kamu bakal nanya apa?"
"Nanti kan, kalo aku mau ngelamar seseorang, pastinya aku ngasih tau dulu nama calonnya ke Umi sama Abi."
Gadis itu mengernyitkan dahinya bingung. "Lah, emang kamu mau ngelamar aku?"
Faqih gelagapan. Saat itu, hatinya mulai merasakan getaran aneh. Berbeda dengan hatinya di pagi hari tadi. Saat ini, telapak tangan dan kakinya dingin. Bahkan, keringat dingin pun mengalir di pelipis. "Eum... Siapa tau aja kita jodoh, gitu."
"Semudah itu, kamu bilang siapa tau kita jodoh? Kita baru kenal, bahkan aku gak kenal kamu. Kamu jangan jadi lelaki yang gak bisa nyeleksi mana wanita baik dan wanita buruk. Kamu gatau apapun tentang aku, jangan gampang memutuskan tanpa meneliti, nanti kamu akan keliru!" ucap gadis itu.
"Dih, serius amat ngomongnya? Kalo aku bercanda doang, gimana?" Faqih menyembunyikan rasa gugupnya.
"Oh, bercanda? Kalo gitu, aku injek kaki kamu, gimana?"
"Silahkan aja kalo berani," tantangnya sombong.
Gadis itu benar-benar menginjak kaki Faqih sekeras mungkin. Membuat si pemilik kaki meringis kesakitan dan mengaduh, "Aww, sakit benerr. Aduhh..."
"Mau lagi?"
Masih dalam keadaan meringis, Faqih bertanya, "Minta nomer WA, boleh?"
Sekali lagi, gadis itu menginjak kaki Faqih. Faqih semakin keras berteriak kesakitan. Gadis itu pergi, tak mempedulikan lelaki yang aneh menurutnya itu.
"Berani-beraninya mainin hati wanita! Aku gak suka lelaki kaya gitu!" gerutu gadis itu sepanjang perjalanannya
Tentang perasaan, aku tak pernah bercanda, percayalah.
Apalagi, dia cinta pertama.
Kau tau? Cinta pertama itu adalah yang paling berkesan. Cinta itu akan menjadi pengalaman. Maka, jadikan cinta pertamamu untuk orang-orang yang baik. Yang membuatmu semakin ingat pada Sang Pencipta. ~ Faqih
***
TBC.
Aku akan selalu rindu sama komentaran kalian:)
Salam,
Saifa Hunafa:)