Aisyah berjalan menyusuri koridor sekolah. Saat itu, ia tengah mencari masjid sekolah. Suasana kelas saat itu benar-benar sepi, karena jika waktu istirahat tiba, semua siswa wajib berada di kawasan break, di mana di sana terdapat banyak fasilitas. Seperti koperasi, kios-kios jajanan, ruang komputer, lapangan olahraga, dan juga perpustakaan. Karena itu, Aisyah bingung, harus bertanya pada siapa.
"Hay Kamu!" sapa seseorang yang berhasil membuat Aisyah terkejut dan menoleh ke arahnya reflek.
"Astagfirullah, ngagetin aja. Loh, kamu yang tadi diguyur sama Bu Guru ya?" tanya Aisyah.
"Iya. Kamu mau kemana?" tanya lelaki itu.
Aisyah mendelikkan matanya. "Bukan urusan kamu!"
Lelaki bernama Faqih itu melirik jam tangannya. Waktu istirahat tinggal 20 menit lagi, dia belum sempat melaksanakan Dhuha. "Aku kan cuma nanya doang. Ya udah, aku mau ke masjid dulu, bye."
Baru saja Faqih akan melangkahkan kakinya, gadis itu menahan. "Eh, tunggu!"
Faqih yang membelakangi gadis itu tersenyum. Nah, kan, dia butuh gue, haha, batinnya.
"Aku juga mau ke masjid. Aku ikut!" ujarnya.
Faqih tersenyum menang. "Nah, gitu dong! Makmum itu emang harus ngikutin imam," gumam Faqih.
Aisyah membulatkan matanya. "Apa katamu?"
"Hah? E-enggak, kok."
"Cepet jalan!" Suara gadis itu naik satu oktaf.
Faqih pun berjalan. Saat itu, mereka berjalan menuju masjid. Saat sampai di sana, segera saja Aisyah berlari menuju kawasan Wudhu wanita dan Faqih ke kawasan wudhu pria.
Selama perjalanan tadi, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka. Keadaan seperti itu membuat jantung Aisyah bergetar tak karuan. Jangan sampai saja, lelaki menyebalkan itu memporak porandakan hatinya.
Aisyah langsung berwudhu. Terasa begitu segar ketika air bersuci itu mengenai bagian-bagian tubuhnya. Setelah itu, ia segera masuk ke masjid tempat wanita. Shaf tempat pria terhalangi oleh tirai yang tidak terlalu tebal, hingga ia masih bisa melihat sosok lelaki bernama Faqih tadi sedang rukuk.
Di saat, semua siswa jajan dan main, ternyata cuma dia yang pergi ke masjid, batin Aisyah yang lantas memakai mukena yang telah disediakan di sana.
A'uudzubillahi minashaithaanirrajim...
Bismillahirahmanirahim..
Qul lilmu'miniina yaghudluu min abshoorihim, wa yahfadzuu furuujahum. Dzaalika azkhaa lahum. Innallaha khoirummbimaa yashna'uun.
Di balik tirai, Faqih membacakan salah satu ayat Al-Quran. Saat itu, Aisyah yang tengah beristigfar tiba-tiba terpaku. Istigfarnya terhenti saat indra pendengarannya menangkap alunan ayat suci indah. Hatinya bergetar. Suara indah itu berhasil menggemuruhkan hatinya. Jika bukan Faqih yang membacanya, siapa lagi? Saat itu, di masjid hanya ada mereka berdua.
"Anak baru!" Faqih berteriak setelah membaca 1 surat Al-Quran di balik tirai. Aisyah bisa melihat bayangan lelaki itu. Lelaki itu tampak sedang membawa Al-Quran sambil duduk menghadap tirai, lebih tepatnya menghadap ke arah Aisyah.
"Kamu denger kan, bacaannya tadi?" tanya Faqih lagi.
"Iya!" ucap Aisyah sedikit berteriak.
"Abi aku suka nasehatin aku pake ayat itu. Dia suka baca ayat itu di hadapan aku. Tapi, jujur aja aku belum paham sama artinya."
"Itu perintah bagi laki-laki agar menundukkan pandangan dan menjaga k*********a," jawab Aisyah.
"Nama kamu, siapa?" Faqih mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tau, istri Rasulullah yang dinikahi selagi masih sangat muda?" tanya Aisyah.
"Ya, aku tau."
"Itulah namaku."
"Ooh, Aisyah," gumamnya. "Kalo gitu, kamu mau kaya Sayyidatina Aisyah, gak?"
Aisyah mengernyitkan dahinya tak paham. "Maksudnya?"
"Dinikahi selagi masih muda." Di balik tirai, Aisyah melihat Faqih tengah terkekeh menahan tawa.
Segera Aisyah melempar mukena yang baru ia buka ke arah Faqih yang terlihat dekat dengan tirai, hingga terdengar suara, "Aduh!"
"Kamu gak usah nanya yang aneh-aneh, deh!" ucap Aisyah. Ia mengambil kembali mukena yang ia lempar dan kemudian membereskannya dengan rapi seperti semula.
____________________________________
Hari pertama sekolah, Aisyah sudah diikut sertakan dalam kerja kelompok di kelas hingga kira-kira pukul 3 siang. Setelah itu, dia juga termasuk perugas piket di hari itu. Mau tak mau dia harus piket terlebih dahulu. Kebetulan, teman piketnya saat itu adalah Adinda.
"Din, aku nebeng kamu ya, pulangnya?" pinta Aisyah.
"Yaah, aku gak bawa motor, Syah. Aku juga pulang dianter Rendy," ucap Adinda.
"Rendy? Siapa?"
"Pacar aku."
Aisyah terkejut. "Hah? Pacar? Kamu, punya pacar?"
Adinda mengangguk. "Iya. Nah, itu dia pacar aku." Ia menunjuk ke arah pintu, di mana Rendy sudah berdiri menunggu Adinda.
"Itu kan, yang kemaren dihukum sama Faqih." Aisyah menunjuk ke arah Rendy.
Adinda terkekeh. "Mereka emang ce-es. Kerjaannya dihukum mulu. Aku duluan ya, Syah. Kamu hati-hati."
Adinda dan Rendy pergi, meninggalkan Aisyah seirang diri di kelas XII IPA1. Suasana kelas saat itu sudah sepi. Ia pun keluar dari kelas, karena telah selesai piket. Lingkungan sekolah pun sudah sepi. Hanya ada orang yang sedang eskul basket saja di sana.
Aisyah mengambil ponselnya dari tas. Dan didapatinya sebuah pesan dari Sang Abi.
Aisyah, Abi lagi banyak pasien. Kamu pulang sendiri aja ya.
Pesan itu diterima sekitar 2 jam yang lalu. Aisyah tentu saja belum tau jalan ke rumahnya. Masa Abinya nyuruh pulang sendiri? Aisyah menelfon Abinya. Namun, ponsel Abinya mati. Mungkin karena banyaknya pasien tadi, sehingga ponselnya harus dimatikan.
Aisyah menghembuskan nafasnya kasar. Dia juga sempat menelfon Uminya, namun ponsel Uminya mati juga.
Saat itu, ia sedang menunggu di depan gerbang sekolah. Anak-anak basket sudah mulai bubar dan pulang. Jika seperti itu kejadiannya, mungkin ia akan sendirian menunggu. Dan ia pun bingung tengah menunggu apa. Bibirnya tak henti melafalkan dzikir. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi. Namun, ia harus selalu husnudzon pada Allah. Jika ia meminta pertolongan pada Allah, pasti Allah akan menolongnya.
"Aduuuh, gimana ya?" Aisyah mulai panik.
Saat itu langit mulai oranye. Sebentar lagi waktu magrib. Jujur saja ia takut. Tak lama setelah itu, sebuah mobil sport berhenti di hadapannya. Kacanya perlahan mulai terbuka dengan sendirinya.
"Kamu ngapain?"
Dilihat Aisyah, itu adalah Faqih dengan menggunakan kacamata hitam dan baju basket. Sepertinya, Faqih baru selesai eskul basket.
"Gatau," ucap Aisyah dengan nada yang membingungkan.
Pasalnya, saat itu ia bukan tengah menunggu siapa-siapa. Tapi tengah kebingungan.
"Kok gatau? Gak ada yang ngejemput?" tanya Faqih.
Aisyah semakin takut. Air matanya tiba-tiba meleleh. Dia menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis. Bagaimana tidak, saat itu ia sedang berada di kota yang masih asing untuknya. Ia tak tau jalan dan arah.
"Eh, kok, nangis?" Faqih segera turun dari mobilnya dan menghampiri Aisyah.
"Mau aku anter?" tawar Faqih.
Aisyah menggelengkan kepalanya. "Kita bukan mahram. Gak baik berdua-duaan."
"Tapi aku khawatir, apalagi kamu nangis."
Reflek, Aisyah menatap Faqih yang memang menampilkan raut wajah khawatir. Merasa diperhatikan, Faqih salah tingkah.
"Eum. Gini aja, sebentaaaar aja kita berduaan di mobil. Karena aku sekalian mau jemput adik aku dari tempat lesnya. Jadi, nanti kita bertiga di mobil. Deket ko, itu, di depan tempat les adik aku. Gimana?" Faqih berusaha menenangkan Aisyah.
Aisyah pun mengangguk. Ia masuk ke pintu belakang. Jujur saja, saat itu ia gugup. Lelaki yang menurutnya menyebalkan itu justru lelaki yang baik. Sangaaat baik, batinnya.
Sekitar 1 menit saja mereka berdua di dalam mobil. Akhirnya mereka berhenti, menunggu adiknya Faqih yang tengah berdiri di depan gerbang tempat ia les masuk ke dalam mobil. Ia pun masuk ke pintu bagian depan mobil. "Ih, Kak Faqih lama banget! Sebel deh!" keluhnya sambil menyilangkan kedua tangan di atas d**a.
Faqih mengelus pucuk kepala adiknya yang menggemaskan itu. "Kakak tadi ngejemput Calon Kakak ipar kamu dulu."
Aisyah yang sedang duduk di kursi belakang membulatkan matanya.
"Tuh, ada di belakang. Namanya Kak Aisyah."
Fela, Adiknya, menengok ke belakang. Dan didapatinya Aisyah tersenyum manis padanya.
"Wah. Hay Kak Aisyah. Aku Fela. Kak Aisyah cantik, deh," ucap Fela dan lantas pindah ke belakang untuk duduk di samping Aisyah.
"Hay juga Fela. Kamu gak kalah cantik kok," ucap Aisyah sambil mengelus pundak Fela.
Jujur saja, saat itu Aisyah benar-benar malu. Malu pada Fela. Faqih memang baik, tapi jika sudah menyebalkan, rasanya Aisyahpun ingin menginjaknya lagi.
Tiba-tiba mobil yang Faqih kendarai berhenti di depan sebuah rumah bercat abu-abu.
"Eh, ini kan, bukan rumah aku?" ucap Aisyah.
"Ini rumah calon mertua kamu, ayo, masuk!"
Deg!
____________________________________
Komentar dan vote mu adalah semangatku menulis:)
Salam,
Saifa Hunafa:)