Cinta ini Suci

1331 Words
"Cinta ini suci, tidak pantas jika harus dikotori dengan pacaran." -Ketika Akhwat Jatuh Cinta °•°•°•°•° "Ini rumah calon mertua kamu, ayo, masuk!" Deg! Aisyah salah tingkah setiap Faqih berkata mengenai calon, mertua, atau godaan apalah mengenai nikah. Jujur saja, Aisyah tak pernah berfikir sampai ke sana. Baginya, sebagai seorang pelajar, ya belajar! Lagipula, langka juga lelaki dengan fikiran seperti Faqih. Jatung Aisyah berdebar tak karuan. Akan menjawab apa jikalau orang tua Faqih bertanya mengenai hal di luar dugaannya. Dengan terpaksa, Aisyah melangkah masuk ke rumah Faqih karena Fela juga sudah menarik-narik tangan Aisyah sedari tadi. Di ruang tamu, sudah ada Fatma-Uminya Faqih-, juga ada seorang wanita paruh baya yang sedang mengobrol. Mereka mengucap salam. "Waalaikumussalam," jawab Fatma dan wanita itu sambil menoleh reflek ke sumber suara. Aisyah terkejut. "Loh, Umi? Umiii...." Ia berlari dan memeluk Sang Umi dengan sangat erat. "Aisyah? Udah dong, malu nih diliatin Faqih," ucap Asma-Uminya Aisyah- sambil mengelus pundak Aisyah. Aisyah menghembuskan nafasnya lega saat ia mendapati Uminya di sana. Rasa syukurpun tak henti ia ucapkan. "Umi kok, ada di sini?" tanyanya. "Ya Umi khawatir. Abi kamu gak bisa jemput, Pak Toni masih cuti, Kakak kamu kuliah sampe malem, Umi gak bisa motor. Alhamdulillah tetangga kita ternyata punya anak yang sekolahnya sama kaya kamu. Ya udah Umi minta tolong. Alhamdulillah," ucap Asma sambil mengusap tangan Aisyah yang terlihat gugup. Hah? Tetangga? Aisyah membatin dengan raut wajah ragu. Fatma mulai angkat bicara. "Aisyah ya, namanya? Nanti, kalo gak ada yang bisa jemput kamu, biar Faqih aja yang anter. Kebetulan dia bareng terus sama Adenya. Jadi aman lah kalo ada Fela." Aisyah menyengir kaku. "Oh iya. Di komplek ini ada organisasi remaja. Nah, mereka ngundang si Faqih buat ngajar ngaji di masjid komplek ini, karena kebetulan jumlah anak kecil yang membutuhkan bimbingan Al-Quran cukup banyak. Dan mereka benar-benar ingin mengubah anak-anak sini agar memiliki akhlak Al-Quran. Nah, karena kebetulan mereka butuh banyak pembimbing, makannya Umi ajak kamu juga, Syah. Gimana?" tanya Fatma setelah menjelaskan panjang lebar. Faqih yang duduk si samping Uminya menaik turunkan alisnya saat Aisyah menoleh ke arahnya. "Waktunya, kapan aja?" tanya Aisyah. "Eum, kalo gak salah sih, setiap hari. Tapi setiap orang dijadwal hanya 2 kali mengajar dalam seminggu. Nah, buat besok, abis pulang sekolah, para remaja sini ada kumpulan dulu di masjid komplek. Kamu sama Faqih ikut ya?" "Insyaallah." Aisyah tersenyum tipis. Faqih justru malah tersenyum-senyum sendiri. "Eum, Umi, ini calonnya Faqih." Aisyah membulatkan matanya. Mata tajamnya segera menuju pada sosok Faqih yang jujur saja di setiap ucapan ceplosnya selalu membuat kesal juga gugup. Apalagi, di sini ada Uminya dan Uminya Faqih. "Maksud kamu apa, Qih?" tanya Fatma yang masih belum paham dengan jalan bicara Faqih. Faqih gelagapan. "Eum, itu. Ya, kalo jodoh, Aisyah calonnya, Mi. Doain ya, Mi, doain ya, Tante. Insyaallah, doa orang tua diijabah." Ia terkekeh tanpa melihat wajah Aisyah yang saat itu bungkam. ____________________________________ Aisyah pulang ke rumah bersama Uminya. Ternyata, rumahnya berada tepat di sebrang rumah Faqih. Dengan segenap rasa takut, Aisyah mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Sang Umi. "Mi..." Aisyah ragu. Uminya yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh ke arah Aisyah. "Kenapa, Sayang?" tanyanya. "Mi, tolong maafin Aisyah. Semua ucapan Faqih bohong, kok." Asma hanya tersenyum melihat ekspresi Aisyah yang tampak sangat takut itu. "Aisyah, Faqih itu ada baiknya juga. Karena lelaki sejati itu tidak akan pernah mengajak pacaran. Lelaki sejati itu yang serius menjaga diri dan melamar." "Iiih, Umi." Aisyah mengerucutkan bibirnya, membuat Sang Umi terkekeh gemas melihatnya. "Iiih, Aisyah masih sekolah. Gak boleh mikirin yang gituan dulu. Ah, Umi. Aisyah gak suka ngomongin nikah nikahan. It's so sensitive for me!" ucapnya dengan manja. Asma hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Ke kamar sana! Sholat, abis itu istirahat." "Aisyah mau nunggu Abi sama Kak Almira." "Kalo mereka pulang, pasti dateng ke kamar kamu, kok. Kebiasaan mereka kan, ngelus rambut kamu pas tidur." Aisyah tersenyum lantas mencium pipi Uminya yang menggemaskan itu. "Aisyah sayang Umi karena Allah," ucapnya cepat dan lantas berlari menuju kamarnya. Sang Umi hanya tersenyum. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Aisyah menghampiri ranjang yang di atasnya ada beberapa buku. Diantaranya ada buku diary dan buku catatan biologi. Ia merebahkan diri di atas ranjang sambil mengambil buku diary. Ia membuka lembaran kosong dari buku itu, lantas ia menggulingkan badannya hingga ia pun siap untuk menulis kata. Baru saja pena menggores satu titik, ponselnya yang berada di atas nakas bergetar begitu lama. Sepertinya ada yang mengirim banyak pesan di WA. 0854915++ : Hay Hay Hay Aisyah Test Read!!!!! Save no orang ganteng Heyyy Aisyaaaaahhh Tes tes 123 Tes 456 Heyyyy Aisyaaahhhh Aisyah NAA: WHO ARE YOU? 0854915++ : Orang ganteng Aisyah NAA: SALAH SAMBUNG KALI. 0854915++ : enggak ko Aisyah NAA: INI SIAPA? AKU BLOKIR YA? 0854915++ : Ehh, ini aku Faqih Melihat nama itu, Aisyah mendelikkan matanya. Tak mau ia membalas pesan itu lagi. Ia terlalu kesal dengan setiap perkataan Faqih yang selalu aneh-aneh. 0854915++ : Kaget ya di chat sama orang ganteng Membaca itu, Aisyah berekspresi seperti ingin muntah. 0854915++ : Bales dong Aisyah Test Ping! Sekali gak bales aku lamar kamu besok!!! Aku tinggal nyebrang kalo mau ngelamar kamu. Aisyah membulatkan matanya. Ia terkejut dengan ancaman receh Faqih itu. Aisyah NAA: APAAN? ????????? 0854915++ : kamu marah ya? Aisyah NAA: Gimana gak marah? Kamu bilang didepan Umi kamu kalo aku calon kamu, sedangkan itu adalah bohong. Ini akan berujung dengan masalah besar Faqih?? 0854915++ : Tapi, aku serius ko. Kalo aku mau jadiin kamu istri aku. Dan itu berarti aku gak bohong sama Umi aku Aisyah NAA: Kamu gila ya? Kita masih kelas 12 SMA. Masa udah mikirin yang gitu sih? (Name changed) Faqih ngeselin: Aku ga gila. Menikah itu salah satu obat penawar bagi dua insan yang saling mencintai. Kita menikah hari ini juga ga akan dosa kan? Apa salahnya jika aku ingin nikah muda denganmu? Astagfirullah. Aisyah beristigfar. Jantungnya selalu saja dibuat bergetar tak karuan oleh setiap kata-kata Faqih. Jujur saja, hatinya semakin merasa tak tenang. Ia merasa, di sana ada yang ia duakan. Ia akan menolak mentah-mentah jika harus berkata suka Faqih. Namun, berbeda dengan hati yang merasakan. Bahkan, harapan pun mulai bermunculan. Aisyah mulai khawatir. Faqih ngeselin: (Voice Note) ? "Aisyah, aku baru kali ini ngerasain yang namanya jatuh cinta. Ini my first love. Aku gak mau ngegunain first love ini buat ngajak maksiat kaya orang-orang dengan berpacaran. Bagi aku, cinta itu sama seperti menikah. Sekali seumur hidup. Cinta ini suci, tidak pantas jika harus dikotori dengan pacaran. Aku gak mau m*****i fitrah ini. Aku cuma ingin, cinta pertama ini menjadi cinta terakhir pula. Aku gak mau terlalu mudah mencintai banyak wanita. Maka dri itu, cukup untuk kamu aja first love ini." Mendengar itu, hati Aisyah bagai terguncang hebat. Ia tak henti beristigfar. Kenapa itu begitu menyakitkan? Ia begitu mengerti jika ia telah membuat Sang Pemilik Hati cemburu. Tiba-tiba saja hatinya bergetar tak biasa. Air matanya meleleh. Ia melempar ponselnya ke lantai hingga ponsel itu terbagi menjadi beberapa bagian. Ia menangis. Sudah lama ia berjanji pada dirinya agar tidak jatuh cinta. Benarkah guncangan hati ini tanda ia jatuh cinta? Ya Allah, aku tak pantas untuk menduakan cintaMu. Aku tak mau ada orang lain selainMu di hati ini. Ku mohon, hapus saja rasa ini, jika ini bisa membuatku lupa pada cintaMu. Tolong jangan biarkan rasa ini tumbuh berakar. Aku masih belum pantas. Cintaku padaMu belum terlalu sempurna. Aku tak pantas... Begitu takutnya Aisyah ketika harus menerima takdir jatuh cinta. Jatuh cinta adalah tanggung jawab yang cukup berat. Dengan mudah mencintai seorang makhluk, namun penciptanya belum dicintai. Itulah tanggung jawabnya. Cinta yang fitrah tidak layak jika harus dikotori dengan maksiat. Bukan cinta suci jika membawa pada maksiat. Cinta yang sebenarnya, adalah cinta yang membuat kita merasa semakin dekat dan semakin cinta pada Sanga Pencipta. Bukan cinta suci, jika orang yang kita cinta tak mencintai Allah. Bukan cinta, jika mengajak orang yang disayanginya pacaran. Kuulangi, CINTA INI SUCI, JANGAN PERNAH KAU KOTORI! ____________________________________ Cuma mau minta kesan kalian baca cerita ini:) TBC? Salam, Saifa Hunafa:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD