Sepulang sekolah, Aisyah beristirahat sejenak di kamarnya. Siang ini, ia harus menyiapkan diri untuk mengajar anak-anak di Masjid Al-Ukhuwah. Sudah lama sekali ia tak bertemu dengan yang namanya anak-anak. Terakhir ia bertemu dengan anak-anak, yaitu dulu ketika di Pesantren. Selain belajar dan menuntut ilmu, Aisyah juga termasuk murid yang ditunjuk Ustadzah untuk membantu mengajar ngaji anak-anak. Ah, Aisyah merindukan itu semua.
Dan hari ini, dia akan bertemu dengan anak-anak yang dimatanya ada binar indah. Rengekannya, rasa ingin tahunya yang tinggi, membuat Aisyah suka pada anak-anak. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa dan umat. Maka, tekadnya adalah menjadikan setiap anak yang ia ajarkan memiliki tauhid yang baik. Setidaknya mengenal siapa penciptanya.
Setelah beberapa menit istirahat dan Sholat Dzuhur, Aisyahpun mengganti bajunya dengan gamis hitam dan kerudung segi empat berwarna abu-abu. Setelah meminta izin pada Umi dan Abinya yang sedang libur, Aisyahpun berangkat. Langkahnya terhenti saat Almira memanggilnya dari lantai atas, "Aisyah!!!"
Aisyah menoleh ke sumber suara. "Iya, kenapa, Ka?"
"Yakin, mau berangkat sendiri? Gak takut lelaki itu ganggu lagi?"
Aisyah terdiam sejenak untuk berfikir. "Eum..."
"Kakak juga mau ke sana kok, kita bareng ya, Syah."
Aisyah mengangguk setuju.
Mereka pun berjalan menuju Masjid Al-Ukhuwah beriringan. Di depan mereka, ada Faqih yang juga sedang berjalan menuju tempat yang sama dengan mereka. Aisyah berusaha semaksimal mungkin menundukan pandangannya, karena jujur saja, adanya Faqih membuat matanya sulit untuk berpaling. Alhasil, selama di perjalanan, Aisyah hanya melihat ke jalan.
Sesampainya Masjid, Almira meninggalkan Aisyah di teras masjid karena dia harus segera menemui Ustadzah pembimbingnya di dalam. Sedangkan Aisyah menunggu di teras masjid. Suasana masjid saat itu masih sepi, belum ada satupun anak kecil yang datang. Sambil menunggu, Aisyah duduk di lantai untuk membaca Al-Quran, daripada waktunya terbuang sia-sia. Melihat lantai teras yang bersih, Aisyah tersenyum, pasti ini Ka Abdhi yang ngebersihin, batinnya.
Dengan suara pelan, Aisyah membaca Al-Quran. Tak lama setelah itu, Faqih datang dari dalam masjid. Seperti ada sinyal yang memanggil, Faqih segera menghampiri Aisyah.
"Sudah siap, mengajar?" Tanya Faqih saat itu membuat Aisyah terperanjat kaget.
"Astagfirullahal'adziim." Aisyah menoleh ke arah Faqih yang berdiri di belakangnya. "Ngagetin aja!"
Lucu banget sih nih calon istri, batin Faqih. Keinginannya untuk menggoda kali ini ia tahan. Karena baru saja Abdhi menasehati Faqih di dalam masjid.
"Luruskan niat kamu menjadi wakil saya di komunitas ini. Luruskan niat lagi karena Allah. Kamu di sini menjadi ketua divisi mengajar. Saya tau kamu sedang mengejar cinta, tapi tolong jangan bawa perasaan saat kamu sedang berorganisasi. Jadilah orang yang professional!" begitulah nasihat Abdhi pada Faqih barusan. Setidaknya, membuat Faqih harus menahan diri dan berusaha bekerja dengan baik.
"Anak-anak biasanya datang dari pintu sebelah kiri masjid, Syah. Kamu mending masuk, sudah ada anak-anak yang menunggu di dalam!" ucapan Faqih kali ini membuat Aisyah bingung dan berfikir. Bagaimana bisa lelaki menyebalkan ini tiba-tiba menjadi seserius ini?
Aisyahpun masuk ke dalam masjid. Dan benar saja, dilihatnya anak-anak perempuan sedang menyiapkan diri untuk belajar mengaji. Sedangkan di ruang sebelah yang terhalang tirai, ada anak-anak lelaki yang justru terdengar sedang ribut dan bermain-main. Aisyah memaklumi perbedaan ini. Anak perempuan memang rata-rata kalem dan mudah nurut, anak laki-laki justru heboh dan biasanya sulit diatur. Namun itu semua kembali lagi pada karekter asli seorang anak.
Aisyah menghampiri anak-anak perempuan itu dengan wajah riang dan cerianya.
"Assalamualaikum, Adik-adik!"
Dengan kompak, anak-anak itu menjawab, "Waalaikumussalam, Kakak!'
"Kak, kenalan dulu dong!" pinta seorang gadis kecil yang duduk di tempat yang paling depan.
Dengan senang hati, Aisyah mengangguk sambil tersenyum ramah. "Oke, Kakak kenalan dulu ya. Nama kakak Aisyah. Adik-adik boleh manggil Kak Aisyah, ya. Oh iya, Kakak masih baru tinggal di komplek ini, makannya kakak baru bisa ngajar kalian hari ini deh."
"Ya udah, sekarang coba, Kak Aisyah mau tau dong, nama-nama kalian siapa aja? Kalian sebutin nama sama kelas berapanya, oke? Dimulai dari Adik kecil di sebelah kanan ini." Aisyah memulai dengan menunjuk anak kecil yang duduk di tempat yang paling depan dari kanan.
Anak-anak itu satu per satu memperkanlkan dirinya masig-masing. Sebisa mungkin Aisyah berusaha untuk mengingat semua anak yang kira-kira berjumlah 20 orang ini. Setiap anak Aisyah perhatikan, dari wajah lucu polosnya, cara berbicaranya, bahkan tingkahnya yang berbeda-beda. Terkadang Aisyah terkekeh melihat anak-anak lucu ini.
"Semuanya udah kenalan ya. Mau dimulai, mengajinya?"
"Mau cerita dulu, Kak!" tiba-tiba seorang anak meminta diceritakan oleh Aisyah. Aisyah berfikir sejenak.
"Eum, boleh, boleh. Tapi, setelah mengaji. Nanti Kak Aisyah ceritain kisah yang seru buat kalian. Setuju semuanya?"
Dengan riang, serentak anak-anak perempuan itu menjawab, "Setujuuuu!!!"
Mereka pun satu per satu membaca iqro kepada Aisyah. Ada juga yang sudah membaca Al-Quran walaupun sedikit-sedikit Aisyah membenarkan tajwid dan panjang pendeknya. Anak itu terlihat kesal karena menyadari banyak kesalahan.
"Ih, Kayla kesel, Kak. Kenapa banyak banget yang salah?" ucap anak yang bernama Kayla itu pada Aisyah.
"Kayla harus bersabar ya. Jangan terburu-buru bacanya, pelan aja. Nanti, Kayla boleh kok belajar ngaji khusus sama Kakak. Inget nih, pesen Kak Aisyah. Kalo Kayla banyak sabar, Allah makin sayang sama Kayla," nasehat Aisya pada anak terakhir yang membaca padanya.
Kayla Nampak tersenyum manis mendengar nasehat Aisyah yang mudah dicerna itu.
Waktu sudah hampir menjelang maghrib. Di hari pertama ia mengaji ini, banyak sekali anak-anak yang sangat antusias meresponnya. Bahkan, waktunya untuk pulang pun masih banyak yang bertanya-tanya dan bercerita. Menanggapi itu Aisyah hanya tersenyum. Rasa ingin tahu anak-anak yang tinggi, membuatnya semakin semangat mengajar.
Di sisi lain, anak laki-laki justru sudah bubar dari setengah jam yang lalu. Dan kini, di tempat mengaji perempuan, hanya menyisakan Aisyah seorang karena kebanyakan anak telah pulang dan sebagian dijemput oleh ibunya.
Aisyah menghembuskan nafasnya lega. Senang sekali ia hari ini. Andai saja jatahnya mengajar setiap hari, pasti setiap hari pula ia bisa menghabiskan waktu dengan anak-anak.
"Shutt, shut." Suara itu terdengar jelas oleh pendengaran Aisyah. Ia menoleh ke sumber suara yang berasal dari tirai yang memisahkan tempat perempuan dan tempat laki-laki. Tak lama setelah itu, munculah Faqih sambil membuka tirai pemisah hingga membuat Aisyah terperanjat kaget.
"Astagfirullah, Faqih!"
Faqih menyengir kuda, membuat Aisyah malas.
"Ehehe. Pulang, yuk!" ajaknya.
Aisyah terlihat berfikir sejenak. "Eum... aku pulang sendiri aja."
"Eits, seorang wanita gak boleh jalan sendiri loh."
"Komplek ini insyaaAllah aman. Dan Allah sebaik-baik Penolongku. Memang gak boleh sendiri, daripada kita harus pulang berdua, nanti ketiganya setan!"
Faqih terdiam mendengar perkataan Aisyah. "Yaah, nanti kan, kita mau jadi mahram. Aku juga gak bakal macem-macem, kok. Kan, niatnya juga jagain kamu."
"Ah jangan mikir yang aneh-aneh, deh!"
"Faqih!" seseorang memanggil Faqih. Mendengar suara yang tak asing di telinganya itu, Faqih menelan ludah. Itu adalah Abdhi. Bagaimana nasibnya jika terciduk tengah memaksa Aisyah pulang bareng?
"Yahh, dipanggil Ka Abdhi. Semoga Allah selalu menjagamu, Aisyah!" lantas Faqih berlari pergi meninggalkan Aisyah yang terkekeh melihat tingkah Faqih yang terkadang menyebalkan, terkadang juga lucu.
***
? Faqihpun terciduk Ka Abdhi, haha. Gak jadi pulang bareng Aisyah deh, wkwk.
Tetep tunggu kelanjutan ceritanya okeee. Author rindu vote dan comment kalian banget?
Salam,
Saifa Hunafa ❤