Drystan terbaring dalam tidurnya. Kedua netra biru yang selalu tampak berbinar bahagia itu benar-benar sirna, seolah sudah lelah menebarkan cahayanya. Edward duduk pada kursi di samping ranjang Drystan, memandangi lekat-lekat wajah Drystan yang pucat bak mayat hidup. Bibir mungilnya yang selalu sewarna mawar tampak kusam seolah tidak ada darah di dalamnya. Kulit putihnya yang merona samar di kedua pipi benar-benar hilang. Segalanya yang tampak indah dari pemuda itu mendadak sirna. Edward menyentuh lengan Drystan, menyusuri kulit pucat itu pelan-pelan. Tangan Drystan terasa dingin, kulitnya yang hangat seperti matahari pagi juga hilang. Jemari Edward terus menyusuri lengan Drystan sampai ke pergelangan tangannya, dimana infus terpasang. Rasa-rasanya baru kemarin ia mengenal Drystan, baru k

