-happyreading-
Angga mengerjap beberapa kali saat ia mendengar suara gaduh yang cukup berhasil menganggu tidurnya, laki-laki itu menolehkan kepala untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata mereka sudah sampai di tempat tujuan dan hal itulah yang membuat beberapa murid bersorak senang.
Di sisi lain Aya juga merasakan hal yang sama, ia juga terbangun dari tidurnya karena mendegar sorakan demi sorakan murid-murid yang kesenangan. Fyi, Aya paling tidak bisa mendegarkan suara apapun ketika ia sedang tidur. Ingat, suara apapun!
Pernah pada saat ia tertidur di kamar Rival, dan pada saat itu Rival sedang menonton youtube di ponselnya tanpa menggunakan earphone. Hal itu membuat Aya terbangun dari tidurnya dan langsung membentak Rival karna berisik.
Back to the topic, mereka meregangkan otot-otot dan sesekali menguap karena masih mengantuk padahal waktu sudah menunjukan pukul 10:30. Setelah menunggu beberapa detik untuk mengumpulkan nyawa, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari bis, tak lupa membawa barang-barang yang ada di dalam bis.
Aya mengernyit heran saat ada sebuah jaket yang menempel pada tubuhnya. Karena ia tidak tahu itu milik siapa dan malas bertanya, akhirnya ia pun memakai jaket itu dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
Aya berjalan ke pintu bis dan menuruni tangga kecil, sesekali ia menguap dan mengucek matanya. Wajahnya setelah bangun tidur bukannya kelihatan kucel, malah terlihat imut dengan rambut yang sedikit berantakan.
Gadis itu berjalan ke bagasi untuk mengambil kopernya dan setelah itu menuju ke arah murid-murid yang sedang berbaris karena perintah dari Pak Ramlan. Aya berjalan sambil celingukan mencari barisan kelas dan ketiga sahabatnya.
"AYA!," ia menolehkan kepalanya saat ada seseorang yang meneriaki namanya, gadis itu melambaikan tangannya dan berjalan sambil tersenyum.
"Ngapain?," tanya Aya yang ikut berbaris di belakang Valerie.
"Paling cuman nyampain info doang," jawab Valerie seadanya.
"Dilta sama Ara mana?,"
"Katanya tadi mau ke toilet,"
Aya mendengus, pasti itu hanya akal-akalan mereka agar bisa berfoto-foto ria, seperti tidak ada waktu lain saja. Setelah mendengar beberapa amanat dari Kepsek, akhirnya barisan pun di bubarkan. Mereka mulai berjalan menuju ke tempat yang sudah di sediakan untuk memasang tenda.
Aya meneguk salivanya, ia sangat payah dalam hal memasang tenda. Meskipun ia sering mengikuti kegiatan pramuka pada saat SMP, sayangnya ia tidak terlalu berhasil dan kalaupun berhasil itu pasti di bantu oleh pembina.
"Lo bisa masang ini?," tanya Valerie pada Aya.
Aya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Gak bisa hehe," jawabnya sambil menyengir.
Valerie menghembuskan nafas kasar "Gue juga gak bisa njir!,"
Aya menyipitkan matanya untuk mencari seseorang "BANG ALDY!!" teriaknya memanggil Rival untuk meminta bantuan.
Gadis itu sudah melupakan hal tadi pagi, karena sebrengseknya Rival, ia melakukan itu karna sayang dan tidak mau terjadi sesuatu pada Aya.
Merasa dipanggil, Rival pun memutuskan untuk menghampiri Aya dan Valerie yang notabene kekasihnya, sekalian modus dikit kali ya.
"Bang, bantuin pasang tenda dong" pinta Aya memohon sambil bergelayut di lengan Rival.
Bukannya menjawab ucapan Aya, Rival justru berteriak memanggil Angga. Merasa terpanggil, Angga pun langsung berjalan menuju ke tempat Rival, sesekali ia menyisir rambutnya menggunakan jari.
'Duhhh, Angga ganteng banget njir'
Entah mengapa, Aya merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya saat melihat Angga berjalan ke arahnya. Eh, ke arah Rival deng hehe.
Aya menggelengkan kepalanya, menepis semua pikiran aneh yang bersarang di kepalanya. Ia nenghembuskan nafas pelan untuk menetralkan suasana jantungnya.
Valerie yang melihat sikap Aya yang terlihat aneh pun mengernyit bingung "Lo kenapa?," tanyanya sambil berbisik.
"Nggak papa, nggak mama," jawab Aya asal
"Apasih lo jayus banget! "
"s**u gendong,"
"Paan tuh?,"
"Suka-suka gue dong,"
>~sneakers yang di pakainya dengan sendal jepit yang di bawanya dari rumah.
Aya keluar dari tenda dan mengayunkan kakinya menuju ke tempat ketiga sahabatnya berada. Sesampainya di sana, ia langsung mendudukkan pantatnya karna badannya terasa pegal. Gadis itu mencempol asal rambutnya.
Sesekali ia melihat Angga yang sedang berbicara dengan Pak Kepsek. Aya mengalihkan pandangan kearah temannya yang sedang bercanda ria dengan kekasih mereka.
Aya memutar bola matanya malas "Perasaan gue jadi nyamuk mulu," gumamnya.
"Dek itu jaket siapa?," tanya Rival ketika melihat jaket yang familiar melekat di tubuh adiknya.
Aya mengedikan bahu acuh "Gak tau, tadi gue nemu di bis,".
"Itu jaket Bang Angga bukan sih?," tanya Ara yang di angguki oleh mereka semua.
Aya yang mengernyitkan keningnya bingung "Emang iya?," tanyanya.
"Lo pada kek anak anjing tau nggak," Aya terkekeh melihat mereka yang mengangguk bersamaan.
Aya menggaruk tengkuknya ketika mereka semua menatapnya tajam "Berarti lo ibu anjingnya," jawab Dilta ketus.
>~sunset sambil menikmati semilir angin yang menerpa kulitnya.
'Segitu menariknya kah sunset, daripada gue?'
Entah mengapa Angga merasa sedikit kesal karna Aya tidak memperhatikannya, entahlah ia pun tidak tahu kenapa ia menjadi seperti itu.
Angga membenarkan posisinya, ia menolehkan kepalanya untuk memperhatikan wajah Aya yang sedang tersenyum. Sesekali ia tersenyum tipis melihat Aya yang menurutnya sangat lucu, ehhh.
Merasa diperhatikan Aya pun menolehkan kepalanya melihat Angga yang sedari tadi memperhatikannya, ia menepuk pundak Angga pelan "Kenapa?,"
Angga tersentak "Ha? g-gak papa," jawab Angga gelagapan karna kepergok memperhatikan Aya.
'Duhh b**o, kenapa lo kepergok sih Ngga?!'
Aya mengernyit heran ketika melihat Angga yang menepuk jidatnya berulang kali, ia tersenyum melihat tingkah Angga yang menurutnya aneh. Aya merasa lelah, hingga sebuah ide muncul d iotaknya "Ngga, selonjorin kaki dong," pinta Aya.
Angga mengangkat satu alisnya "Buat apa?,"
"Buruan ih!," pinta Aya sambil menarik kaki Angga untuk di selonjorkan.
Angga menghela nafas, ia meluruskan kakinya dan saat itu juga Aya merebahkan kepalanya di paha Angga. Laki-laki itu sedikit terkejut saat Aya berbaring di pahanya, namun setelah itu mengangkat sudut bibirnya membentuk lengkungan tipis yang mungkin Aya tidak sadari.
Aya mendongakan kepalanya menatap wajah Angga dari bawah, ia menelan salivanya ketika Angga juga menatapnya intens.
'Ya Allah, ciptaanmu'
Aya berdeham untuk menetralisir jantungnya yang sedang maraton "Gue numpang rebahan ya," ucap Aya menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Iya," jawab Angga singkat yang membuat Aya mendengus, sikap dinginnya muncul lagi.
Aya kembali mendongak "Ngga, liat deh langitnya cantik banget," ucapnya sambil menunjuk langit yang berwarna jingga.
"Ngapain gue ngeliatin itu, kalo yang lebih cantik lagi sama gue"
"Mana?"
Aya tertegun ketika melihat Angga tersenyum, bukan senyum tipis melainkan sebuah senyum yang sangat manis dan jarang ia keluarkan di hadapan semua orang.
"Mau tau apa yang lebih cantik dari sunset?" tanya Angga sambil menatap Aya.
"Apa?" tanya Aya bingung.
"Lo,"