Sassy dan Jane saling menggenggam tangan dengan erat ketika di depan sana Cinta dan Sam mengucapkan janji dan mengesahkan hubungan mereka dihadapan Tuhan, hukum dan keluarga. Perjalanan cinta sahabat mereka sudah sampai tahap berikutnya.
Jane mengulurkan tissue ,” Bisa nangis juga.”
Sassy hanya mencibir dan mengusap air matanya perlahan ,” Setelah ini giliranmu. Apa aku dapat tiket ke Prancis ?”
“ Tergantung.”
“ Aku akan jadi anak baik.” Sassy memasang wajah memelas.
“ Tergantung apakah orang sebelahmu mau ngajak.” bisik Jane, tertawa kecil ketika Sassy mencubit lengannya.
“ Ada apa ?” tanya Jerry, tertawa ketika Jane memberitahukannya.
“ Mau ?” Luke menatap gadis yang semakin cemberut disampingnya.
“ Ayo, kita geser ke area resepsi.” Rei berdiri dan membantu Reina.
Beriringan mereka meninggalkan rumah tua keluarga yang digunakan secara tertutup. Upacara ini hanya diikuti oleh pihak keluarga dan kerabat terdekat, sedangkan resepsi dilaksanakan di gedung pertemuan milik keluarga yang berjarak tak lebih dari seratus meter.
Rio melirik kembarannya yang beberapa kali melemparkan pandangan terluka melihat Luke berjalan disamping Sassy. Tidak seperti perempuan perempuan sebelumnya yang atraktif, gadis bertampang menggemaskan itu bahkan bersikap sedikit cuek. Tapi bahkan Rio bisa melihat kali ini kedekatan itu lain, Luke tidak lagi menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh. Jika biasanya perempuan disamping Luke akan menjadi pihak yang menginginkan, kali ini sebaliknya.
Setelah Cinta dan Sam duduk di pelaminan, rombongan keluarga itu menempati satu sisi yang disediakan untuk mereka mengikuti rangkaian acara.
" Bang ...." Sassy menatap Luke ketika lelaki itu meraih dan menggenggam erat tangannya sambil tatapannya terfokus pada Cinta dan Sam ," Gak rela ?"
" Bukan gak rela, tapi ...."
Sassy diam, tahu bahwa apa yang dirasakan Luke tidak mudah untuk diungkapkan. tanpa sadar ia membalas genggaman tangan itu. Tanpa menyadari beberapa mata disekitarnya memperhatikan mereka.
Jane bertukar senyum senang dengan Rey, Reina dan Jerry. Sementara May merasakan kembarannya mengusap lembut punggungnya.
" Luke ..."
" Show time." bisik Luke sebelum berdiri menyambut beberapa temannya.
Satu persatu teman Luke bergabung, sampai membentuk kelompok kecil. Ada dua laki laki dan empat perempuan yang seusia Luke, " Kumpulan orang orang usia matang." bisik Sassy pada Jane sebelum terkikik berdua.
" Kejar tayang." sahut Jane.
" Luke," salah satu lelaki disana menatap Sassy yang sedang cekikikan bersama Jane ," Aku lihat kamu masuk bersama gadis kecil itu, temannya Cinta ?"
Luke mengerutkan kening dengan tatapan dingin ," Sassy !" diulurkannya tangan meminta Sassy mendekat.
Sassy berdiri, mengangguk tipis pada orang orang disekitarnya. Digigitnya bibir ketika Luke meraih pinggangnya.
" Ya, dia teman Cinta .. and she is mine,"
" Ganti selera, Luke ? Dia masih anak anak."
" Dia sudah cukup umur, bahkan adikkupun menikah hari ini." Luke menatap gadis disampingnya ," Dan bukan salahnya kalau dia seimut ini." meringis ketika Sassy mencubit pinggangnya.
" Apa dia juga harus berbagi dengan perempuan disana itu ?"
Sassy mengerutkan kening menatap perempuan berbaju hijau didepannya. Sudut matanya mennagkap tampang datar May, menyadari selama ini perempuan pendiam itu jadi sasaran ," Dia mantanmu, Bang ?"
Luke mengangkat bahu.
" Iya, mereka juga." perempuan itu kembali menyahut.
" Semua ?"
" Belum semua sayang, masih banyak diluaran sana." sahut Luke.
" Abang pacaran mulai TK ?" Sassy melebarkan matanya.
Luke tersenyum ," Batas berhubunganku hanya hitungan bulan, tiga atau empat bulan."
Sassy melengos ," Itu sih namanya audisi, pede amat bilang mantannya banyak."
Luke tertawa geli, dan mendengar orang orang dibelakangnya juga tertawa.
" Siapa yang tahan, selalu menghadirkan dia."
Sassy menatap serius.
" Atau kamu sengaja memilih anak sekecil ini biar gak komplain atas kehadirannya ?" Perempuan berambut pendek yang sedari tadi diam mulai buka suara.
Sassy menggelengkan kepala, mengusap tangan Luke yang mencengkeram pinggangnya.
" Memangnya kamu mau berbagi dengan dia ?"
" Siapa ? Kak May ?" Sassy balik bertanya ," Kenapa tidak ? Kak May adalah bagian dari abang yang harus aku terima."
" Naif atau bodoh ?"
Luke meradang.
Sementara Sassy malah tertawa ," Hitungan bulan .... satu, dua, tiga dan empat ... berarti setahun kalian berempat merasa dekat dengan abang .... berhitunglah, hanya dalam jangka waktu setahun saja sudah cukup untuk menunjukkan arti Kak May minimal empat kali lebih berharga buat abang daripada kalian. Kalian lihat Kak May masih disini. Sesederhana itu juga tidak paham ?"
Rio bertukar pandang dengan May ...
" Kamu menerimanya ?" kali ini lelaki berkacamata disamping Luke yang bertanya, lebih pada rasa penasaran.
Sassy menarik sudut bibirnya ," Menerima abang berarti menerima orang orang yang penting dalam hidupnya. Keluarganya dan teman teman dekatnya."
" Berbagi ?"
" Lalu apa aku harus bersaing dengan mamanya ?" Sassy geleng kepala ," Hati bukan sepotong kue. Membaginya untuk beberapa tempat tidak akan membuat hati berkurang."
" Dan kamu ?" perepuan berambut pendek itu kembali mengejar.
" Aku punya tempat tersendiri, iya kan Bang ?" Sassy mendongak.
Luke tersenyum, menatap lembut dan mencium singkat ujung kepala gadis dipelukannya.
" Gak sesederhana itu gadis kecil."
" Gak serumit itu kakak kakak ..... cukup bukalah hati, ada banyak bentuk rasa sayang dan cinta." dilihatnya Mama Cinta memanggil ," Bang, dipanggil mama."
" Ayo ... kita kesana." Luke menatap teman temannya ," Lihatlah, tua akan berbanding lurus dengan usia, tapi dewasa itu belum tentu. Kami kesana dulu."