Luke menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidurnya.
“ Bagaimana abang tahu begitu banyak tentang aku ?" Luke tertawa kecil mengingat pertanyaan polos Sassy tadi. Dan mencari tahu adalah kata paling sederhana untuk apa yang dilakukannya nyaris satu tahun terakhir.
Flashback
" Sassy .... tunggu." suara melengking Cinta menarik perhatian Luke. Menatap dari balik kemudi mobil yang terparkir dihalaman asrama. Seorang gadis dengan rambut tergerai melewati bahu, kaos putih, jeans dan kemeja biru dengan lengan tergulung sebatas siku nampak berhenti menunggu Cinta dan Jane mendekatinya. Ketiganya terlibat pembicaraan, dan gadis itu menggeleng geleng sambil menunjuk jam tangan di lengannya. Dari jauh dilihatnya Cinta danJane cemberut ketika seorang driver ojek nline mendekat dan membawa gadis itu pergi.
" Menyebalkan, padahal aku sudah bilang abang mau ajak keluar." Cinta membuka pintu mobil sambil menggerutu.
" Kan sudah aku bilang, jangan bilang kalau ada abang." Sahut Jane dan duduk di bangku belakang ," Kamu sih kayak gak tahu Sassy aja, otaknya langsung berputar mencari acara."
" Cuma mau dikenalin ke abang apa salahnya sih ? Kenal Kak Rey dan Kak Jerry ... aku masih punya abang."
" Gak salah sih non .... cuma kamu terlalu mecolok tahu gak ? Setahun belakangan ini gak berhenti menyebut abang abang dan abang di depan Sassy. Dia gak sebodoh itu untuk sekedar membaca maksudmu."
Cinta nyengir.
" Haloo ..... yang kalian bicarakan itu ada disini lho." sungut Luke kesal ," Kayak yang aku mau saja."
Cinta merengut ," Mau gak mau urusan nanti. Aku kesal aja ... cuma Sassy yang gak mau aku ajak pulang. Kita kenal dekat dan baik dengan neneknya, apa salah kalau aku pengen dia juga dekat dengan keluarga kita ? Sebenarnya kita ini teman dekat atau bukan sih ?"
Luke menarik sudut bibirnya. Nama Sassy memang kerap disebut Cinta dan keluarganya didepan Luke belakangan ini, tapi kalau tidak salah ingat ... nama itu secara konsisten juga muncul dalam pembicaraan Cinta dan keluarganya sejak mereka berbagi kamar di asrama. sampai saat ini mereka tinggal menunggu bulan untuk keluar dari asrama setelah wisuda. Dengar dengar yang namanya Sassy itu bahkan sudah bekerja di rumah sakit yang dipimpin Rey, satu bagian dengan Reina istrinya.
Dan tanpa diketahui adik adiknya, Luke sering sengaja makan siang di foodcourt dekat rumah sakit, mengamati bagaimana gadis itu berinteraksi dengan teman temannya. Mengandalkan mata dan telinganya Luke mengenali makanan dan minuman yang disukai Sassy.
Mengandalkan koneksinya ia mencari tahu bagaimana gadis itu dan keluarganya, cukup tahu tapi ia selalu merasa banyak hal yang disimpan oleh gadis itu dibalik sifatnya yang ceria. Satu hal yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana gadis itu berinteraksi dengan Cinta, tulus dan apa adanya. Ia melihat mereka terkadang berselisih paham, tapi selalu kembali bersama. Gadis yang cukup keras kepala untuk melakukan semua sendiri, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, sahabat terdekatnya sekalipun.
Flashback off
Ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Luke ," masuk."
"Sudah mau tidur ?"
Luke menepuk kasur disampingnya, membuka tangan dan menerima Cinta yang menelusup ke dalam pelukannya. Untuk sesaat hening, keduanya menikmati saat ini karena tahu semua akan berubah mulai besok.
" Bang ...."
" Hmmmm."
" Terima kasih ya, sudah jagain Cinta selama ini."
Luke mengatur nafasnya, matanya basah tanpa bisa dicegah. Diciumnya ujung kepala adik bungsunya itu.
" Bang, besok aku menikah, begitu juga kak Jerry sebentar lagi. Abang kapan ?"
" Ish ... bawel."
Cinta mengangkat wajahnya ," Bagaimana dengan Sassy ?"
" Urus masalahmu sendiri."
Cinta cemberut lalu mengeratkan pelukannya ," Abang menerimanya, aku tahu itu."
Luke mendengus," Gak semudah yang kalian pikirkan."
" Sassy?“
" Ternyata ada yang lebih tertutup dari aku."
" Jangan menyerah, bang. Walaupun membatasi diri aku tahu dia tulus."
" Aku tahu. Dan apa ada yang lepas dari seorang Luke kalau dia mau?"
Cinta tertawa kecil dan menyusup lebih dalam ke pelukan abangnya," Kelon ah, mumpung abang belum ngelonin Sassy.. awww" teriaknya ketika Luke menjitak kepalanya pelan.