Day 7 : Bukan Hari Terakhir

700 Words
" Pagi ...." Sassy tersentak ketika mendapati Luke sudah berdiri di teras ketika ia keluar untuk jalan pagi. " Aku pikir kamu masih tidur, istirahat." Sassy mengenakan sepatunya ," Sayang melewatkan hari ini. Udara seperti ini akan sulit aku dapatkan kalau sudah pulang." " Ayo," Luke mengulurkan tangan membantu Sassy berdiri ," Aku tunjukkan tempat favoritku." Sassy memilih diam, mengikuti langkah Luke berlari kecil menembus perkebunan sayur dan bunga, sebelum masuk ke area yang lebih rimbun. " Sedikit lagi." Luke meraih tangan Sassy, menyibakkan ranting dan dahan. " Wow ..." Sassy terdiam, menatap mata air dan kolam kecil didepannya, sementara di seberang kolam berjajar aneka tanaman dan bunga liar yang jarang ditemuinya. Luke duduk diatas batu besar, membiarkan gadis itu mengeksplore tempat rahasianya ini dengan kamera ponselnya. " Sayang gak bawa kamera tadi." " Lain kali kita kesini lagi bawa kamera." Sassy cemberut ," Nanti sore aku pulang." " Ya diundur aja." Sassy menggeleng ," Kasihan nenek." " Kita pergi besok pagi aja." " Kita ? Abang mau kemana ?" " Mau ngantar kamu." Luke menepuk tempat disisihnya ,"Aku calon suami yang baik kan " Sassy mencibir ," Hanya sampai jam dua belas. Ini sudah hari terakhir." sahutnya sambil fokus ke ponsel ," dan cinderella kembali jadi upik abu." Luke mengacak ujung kepala yang tertunduk mengamati hasil fotnya itu ," Ini hari ketujuh, bukan hari terakhir." Sassy mengangkat wajahnya, menatap Luke dengan pandangan penuh tanya. " Semua ini hanya awal, Sassy." " Kata siapa ?" " Kataku barusan." " Abang ...." Luke tersenyum penuh makna ," Aku mulai terbiasa dengan peranku." Sassy berdiri ," Ayo balik, keburu siang." " Lampu belum hijau kok sudah jalan ?" Luke menjajari langkah Sassy. " SIM ku palsu." Luke tersenyum geli, sangat menyadari gadis disampingnya ini mulai menjaga jarak. " Duh ... sudah mulai menghilang berdua." goda Jane dan Reina.begitu mereka memasuki rumah. " Berisik." sungut Sassy lalu segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan membereskan barangnya. " Dari mana , Bang ?" " Jalan jalan aja, sambil dia cari foto." Luke meneguk segelas air ," Sarapan apa ?" " Bi Imah bikin bubur sayur." " Oke ... aku mandi sebentar." Jane dan Reina berpandangan, lalu tersenyum. " Misi kita hampir berhasil." ujar Jerry yang sedari tadi duduk diam memperhatikan Luke dan Sassy. Jane menggeleng ," Abang mungkin, tapi Sassy .... masih butuh waktu." " Justru itu, kalau bang sudah mau ... dia gak akan menyerah." " Dan kelihatannya abangmu mau." sahut Mama Cinta sambil tetap berkutat dengan gunting tanamannya. " Sassy ...." guman Jane ," Ah sudahlah ... semoga abang punya stock sabar mengahadapinya. kepalanya lebih keras dari kelihatannnya." " Kamu meremehkan abang." ujar Rey lalu bangkit dari duduknya ," Sayang, sudah olah raganya. Jangan terlalu capek." diulurkannya sebotol air melihat Reina sudah berkeringat ," Ayo istirahat sebentar terus mandi." Beberapa waktu kemudian Sassy kembali duduk disamping Luke untuk sarapan. Tanpa suara menikmati bubur sayur diadapannya, mencoba mengabaikan pandangan penghuni meja. " Kamu jadi pulang nanti sore ?" Jane mendorong mangkuk yang sudah kosong. " Iyalah ... sudah seminggu, kasihan nenek." Sassy mengelap bibirnya dengan lap ," Lagipula, aku harus kerja. Staff seperti aku kan ijin nya gak sebanyak big boss." sahutnya sambil nyengir melihat Rei melotot sebal. " Kamu bisa nambah beberapa hari lagi, Sassy." " Boleh gak kalau beberapa hari itu aku pakai buat berduaan sama nenek ?" " Ngelunjak." sungut Rei. Sassy tertawa. " Sudah beli tiket ? Mau pake kereta atau bis ?" " On the spot aja kak .... bukan musim liburan ini." Luke menyelesaikan makannya ," Gak usah, ka aku tadi bilang akan mengantarmu pulang." Seluruh penghuni meja bertukar pandang sambil mengulum senyum. " Gak usah ... abang istirahat aja ..." " Gak usah membantah." sergah Luke ," Pagi ini mobil dibawa ke bengkel dulu. Kita berangkat agak malam aja ... setelah makan malam di Paman Yo sekalian pamit." " Tapi ....." Luke tersenyum mengusap ujung kepala yang sedikit lembab itu ," Katamu potential husband nama tengahku." tersenyum geli melihat gadis disampingnya membuka mulut tanpa mengeluarkan suara ," Pa, kita cek pengiriman sekarang ?" " Ayo ..." lelaki parobaya itu bangkit dari duduknya ," Yang nurut, Sassy." ujarnya sambil menepuk bahu gadis yang hanya bisa menelan ludah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD