Luke memasukkan mobil kedalam halaman yang tertata rapi," Sassy ..." disentuhnya lengan gadis yang tertidur disampingnya.
Sassy menggeliat dan membuka matanya saat menyadari mbil Luke telah berhenti ," Lho ....Bang"
" Benar ini rumah nenekmu kan ?"
Sassy mengangguk ," Kok tahu ?"
Luke mengangkat sudut bibirnya ," Kan aku bilang , aku mencari tahu." dibukanya pintu bersamaan dengan terbukanya pintu depan.
" Nenek ...." Sassy keluar dari mobil dan berlari memeluk tubuh kurus yang membuka pintu itu.
" Pelan pelan,kamu mau nenek jatuh ?" tangan keriput itu memukul punggung Sassy pelan.
Sassy terkekeh ," Nenek baik baik saja ? Makannya gak rewel kan ? obatnya gak terlambat ?" pertenyaannya terhenti ketika merasakan tarikan ditelinganya.
" Bawel ....Itu ajak masuk dulu."
" Oh ... abang. Aku lupa." Sassy memutar tubuhnya, mendapati Luke sudah berdiri dibelakangnya sambil membawakan travel bag hiju miliknya ," Nek ini kakak sulung Cinta."
" Saya Luke, Nek ..." Luke maju dan memberi salam.
Nenek menggenggam hangat tangan besar kecoklatan itu, menatap keduanya bergantian ," Ayo masuk, istirahat dulu." ujarnya mendahului masuk ," Nenek siapkan minumnya."
" Duduklah, aku masuk sebentar ya bang."
Luke mengangguk dan duduk di kursi tamu. Diedarkannya pandangan ke sekeliling rumah. Besar, terlalu besar kalau hanya untuk mereka tempati berdua. Dari tatanannya, terlihat hanya sebagian ruang yang sering difungsikan, walaupun semua tetap terawat dengan baik.
" Minum dulu, sambil menunggu makan siang siap." nenek meletakkan dua gelas teh hangat ," minumlah, itu sengaja gak terlalu panas."
" Baik, nek Terima kasih." Luke menikmati minumannya.
" Berangkat jam berapa kok sampainya jam segini ? Katanya mau naik bis."
" Kemaren berangkat setelah makan malam, nek. Sore masih servis mobil dulu." diletakannya gelas yang sudh nyaris kosong.
" Wuih ... haus, bang ?" Sassy datang dan meraih gelasnya sendiri, tertawa melihat neneknya melebarkan mata.
Luke hanya menggelengkan kepala ," Kamu bisa bikin teh seperti ini ?"
Sassy meneguk minumannya ," bisalah, kenapa ?"
" Bagus."
" Apanya ?"
" Karena aaku suka tehnya, jadi lain kali gak harus merepotkan nenek."
" Ish ...." Sassy memajukan bibirnya ," Gak ada lain kali."
Nenek kembali menjewer telinga Sassy ," Gak sopan. Maaf ya nak ..."
Sassy tertawa.
" Tadi nenek cuma masak sedikit, bikin lagi buat Luke." ujar nenek sambil mengibaskan tangannya.
" Emang abang mau makan siang disini ?'
" Mau"
" Kenapa tidak ?"
Sassy merengut saat dua orang dihadapannya menyahut bersamaan ," Baiklah ... abang istirahat aja dulu."
" Hmm." Luke mengangguk.
" Bagaimana ? Acara Cinta lancar ?" tanya nenek.
" Lancar nek, terima kasih sudah mengijinkan Sassy berangkat."
Nenek terkekeh ," Nenek gak pernah melarang, dia aja yang selalu membatasi diri dan nenek dijadikan alasan."
" Sepertinya begitu."
" Jadi pura pura jadi pacarmu ?" senyumnya muncul melihat binar di mata kelam lelaki dihadapannya ," Kalau melihat tampilanmu seperti ini, nenek gak heran sampai Cinta mencarikan satpam buat abangnya."
" Satpam." Luke tersenyum kecut ," Yakin hanya satpam, nek ?"
Nenek tertawa lalu menghela nafas ," Selamat berjuang."
" Lampu hijau, nek ?"
" Semua ditangan Sassy, kenyamanan dan kebahagiannya jadi satu satunya tujuan hidup nenek sekarang." ujarnya lalu bangkit dari kursi ," Istirahatlah sebentar, di sofa itu lebih nyaman untuk meluruskan punggung setelah mengemudi lama." ujarnya menunjuk sofa besar diruang tengah ," nenek bantuin Sassy masak sebentar."
" Terima kasih nek." Luke beranjak ke ruang tengah dan berbaring di sofa, dan ternyata memang tidak membutuhkan waktu lama untuk terlelap. Kesibukan selama seminggu terakhir, ditambah mengemudi untuk beberapa jam membuat lelahnya bertumpuk.
" Dia lelah." nenek menatap ke ruang tengah.
" Siapa ?" Sassy mengikuti arah pandangan neneknya ," Sudah pasti. Namanya baru punya hajat."
" Lalu kenapa harus mengantarmu ?"
Sassy mengangkat bahu ... tidak mungkin menyampaiakn alasan Luke kepada neneknya.
" Dia kelihatannya anak baik."
" Hmm ..." Sassy memilih memotong bawang.
" Gimana rasanya jadi pacar pura pura lelaki sekeren itu ?"
Sassy mendengus ," Berasa beneran jadi satpam, nek. Banyak banget yang harus dihadapi." ditatapnya nenek sekilas ," Harusnya aku kemaren minta ongkos per person ...." kekehnya ," Penggemarnya banyak."
" Lalu ?"
" Apanya lalu ? Sudah selesai acara dan ceritanya Cinta."
Nenek menepuk punggung Sassy lembut ," Jangan terlalu yakin ... bersiaplah membuka diri."
" Apaan sih ..."
Nenek tertawa pelan, membiarkan cucunya bersikeras menyangkal.