Getaran Aneh

1111 Words
Bi Maryn terbangun dari tidurnya. Wajahnya pucat dengan keringat dingin yang mengucur didekat pelipis matanya. Tidur dikursi tunggu pasien membuat leher dan punggung rentanya terasa kaku dan pegal. Ia berdiri mendekati ranjang Mr. Abraham untuk melihat keadaannya. " Syukurlah " ucap bi Maryn lega. Mimpi buruk membuat ia tersentak dan khawatir pada Mr. Abraham dan Shania. Didalam mimpinya, bi Maryn melihat tuannya itu meregang nyawa dan ia juga melihat Shania sedang ketakutan dan membutuhkan pertolongan. "Semoga nona muda baik-baik saja" bi Maryn kembali membatin. Sampai saat ini, bi Maryn merasa heran kenapa Shania tak kunjung datang ke rumah sakit tempat daddynya dirawat padahal ia sudah memberitahu nona mudanya itu alamatnya. Bi Maryn mengambil ponselnya didalam tas dan menekan nomor anak majikannya itu. Drrrrt... Drrrrrt... Tidak ada sahutan dari Shania. Bi Maryn mengetik pesan dan tidak lama kemudian menekan tombol kirim. Pesan terkirim ke nomor ponsel Shania. " Setidaknya ponsel nona Shania aktif dan mudah-mudahan ia membaca pesannya " ucap bi Maryn mencoba menghibur dirinya sendiri. *** " AWWWWW " Alan berteriak dan segera menjauh dari tubuh Shania. Alan memegang bibirnya dan terlihat darah di jarinya. " Dasar kau gadis kecil, berani-beraninya kau menggigit bibirku" geram Alan menunjuk ke arah Shania. Salah satu kebiasaan Alan jika ia mulai emosi yaitu refleks jari telunjuknya akan terangkat menunjuk seseorang yang berani memancing emosinya. Shania segera duduk dan beringsut mundur ke tepian ranjang. Ia mengambil bantal dan memeluknya erat. Shania merasa jijik dengan apa yang baru saja dilakukan pria didepannya ini terhadap dirinya. Ciuman pertamanya direnggut pria m***m ini dengan cara jauh dari kata romantis. Tubuh Shania gemetar dan wajahnya sedikit pucat. Kepalanya pusing dan penglihatannya mulai buram. Shania melihat pria didepannya itu menunjuk ke arahnya dan mengumpat. Shania tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pria itu padanya. Kemungkinan pria itu marah karena ia telah menggigit bibirnya. Shania tidak peduli dan tak lama kemudian Shania hanya melihat kegelapan. Alan belum puas memarahi Shania karena telah berani kepadanya. Alan melihat Shania menundukan kepalanya sambil memeluk bantal. " Dengar kau gadis kecil, masih untung kau ku bawa ke kamarku dan melayaniku daripada kau menjadi jalang di club ku. Pelangganku banyak yang mata keranjang dan jika aku menawarkan dirimu pasti mereka sanggup memberikan uang berapapun yang aku minta " ucap Alan yang mulai bisa mengatur emosinya. Alan melihat Shania hanya menunduk dan mengira bahwa gadis itu mulai memahami apa yang ia ucapkan. Alan menyilangkan kedua tangan di dadanya. Ia tetap berdiri di seberang ranjang dan menatap tajam pada gadis di depannya ini. " Lagipula, daddymu itu sudah mengambil uangku dan itu jumlahnya sangat besar. Rumah, mobil dan aset kekayaan kalianpun tidak cukup untuk mengembalikan seluruh uangku jadi wajar kalau aku meminta dirimu untuk melayaniku" ucap Alan panjang lebar. Alan mengamati Shania yang sedari tadi hanya diam dan menunduk. Hal itu sangat bertolak belakang dari sifatnya pertama bertemu. Alan berjalan mendekati Shania dan ia menyentuh bahu Shania. Betapa terkejutnya Alan melihat Shania langsung jatuh kesamping dengan wajah begitu pucat. Matanya terpejam dan berkeringat. " Hei Shania bangun " kata Alan khawatir sambil menyentuh pipi Shania dan menepuk pipinya pelan. Tidak ada respon dari Shania dan dengan cepat Alan menggendong Shania ala bridal style membawanya ke salah satu rumah sakit miliknya. Laju mobil mewah dengan cepat melintasi jalanan malam NY City. Seorang pemuda tampan tengah dilanda kekhawatiran dengan kondisi gadisnya. Shania duduk disebelah Alan dengan seat belt yang terpasang ditubuhnya. Jok mobil dibuat rendah layaknya kasur agar Shania merasa nyaman dan aman. Alan fokus dengan jalanan didepannya dan sekali-sekali matanya melirik ke sebelahnya untuk sekedar memastikan keadaan gadisnya. Sesampainya di rumah sakit, Alan segera menggendong Shania dan membawanya ke kamar khusus pasien keluarga Hugos untuk segera diperiksa. Alan berjalan cepat dengan dokter dan beberapa perawat yang mengikuti langkahnya dari belakang. Shania akan langsung mendapatkan penanganan khusus dari dokter jaga malam ini tanpa proses administrasi. Seluruh dokter dan perawat tahu jika Alan Hugos merupakan pemilik rumah sakit elite ini. Jika Alan membawa seseorang ke rumah sakit ini maka orang itu pastilah orang terdekatnya. Seorang dokter muda dengan stetoskop menggantung di lehernya siap melayani gadis yang dibawa tuan Alan Hugos. Alan meletakan Shania di kasur dengan perlahan. Saat dokter muda akan meletakan stetoskopnya ke arah d**a Shania dengan spontan Alan langsung menepis tangan dokter itu. Sontak dokter muda itu terkejut akan tindakan tuan Alan yang berdiri tepat disebelah Shania. " Panggil dokter perempuan kesini untuk memeriksanya " perintah Alan dengan mata tajamnya. " Baik tuan " jawab dokter muda itu. Dokter muda berbalik dan menyuruh salah satu perawat untuk memanggil dokter jaga lainnya dan tak lupa dokter itu harus perempuan. Perawat itu langsung pergi dari ruangan untuk memanggil dokter jaga lainnya. Tidak beberapa lama dokter Arini tiba dan tak lupa ia mengucap salam pada pemilik rumah sakit itu. Dokter Arini dengan sigap memeriksa gadis tuan Hugos yang sedang terbaring lemah. Dokter Arini memerintahkan salah satu perawat untuk langsung memasang infus ke salah satu tangan pasien. Setelah memeriksa dan memastikan keadaan pasien, dokter Arini melihat ke arah tuan Hugos yang dengan setia menunggu pemeriksaan. " Maaf tuan, gadis muda ini kekurangan cairan dan asam lambungnya naik karena belum makan. Hal itulah yang membuat gadis ini tak sadarkan diri. Saat ini dia sedang tidur karena pengaruh obat bius. Besok keadaannya pasti membaik dan saran saya, jangan sampai ia telat makan " dokter Arini menjelaskan dengan sopan dan lembut. Alan melirik ke arah wajah Shania yang tidak sepucat tadi. " Baiklah kalau begitu, kalian boleh pergi " ucap Alan yang tidak melepaskan pandangannya dari Shania. Kedua dokter jaga dan perawat tersebut segera keluar dari kamar khusus pasien keluarga Hugos. Kamar khusus yang dibuat hanya untuk keluarga Hugos layaknya kamar hotel bintang lima dengan fasilitas lengkap super mewah. Kening Alan tampak berkerut, ia mencoba mengingat sesuatu. Malam ini ia belum memberikan Shania makan dan minum. Alan menghela nafas kasar dan mengambil ponsel dalam saku celananya. " Besok pagi antarkan makanan ke rumah sakit " ucap Alan pada asistennya. Alan menaruh ponsel di atas nakas. Alan menatap Shania intens. Ia tersenyum melihat putri cantik yang sedang tidur dengan bulu mata yang lentik. Alan mengelus pipi Shania lembut, menghalau anak-anak rambut yang menyentuh pipi nya. Sesuatu bergetar di hatinya. Perasaan yang sudah lama tak pernah ia rasakan dan rasa itu kembali hadir. "Aneh " batin Alan. Tak mungkin ia memliki perasan terhadap gadis bersuara cempreng ini dan jangan lupakan kalau Shania masih begitu muda. Apa kata orang jika ia memiliki pasangan seperti Shania. Wajah cantik nan imut membuat Shania beberapa tahun lebih muda dari umur yang sebenarnya. Pastinya ia akan malu memperkenalkan Shania pada rekan-rekan bisnisnya. Bisa-bisa nanti Alan disebut sebagai p*****l. Alan menghela nafas panjang, ia merasakan sesuatu mulai bergejolak dan ia mulai frustasi dengan keadaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD