Mentari terbit dengan sinar hangatnya di ufuk timur. Pagi yang cerah menyambut insan manusia untuk memulai rutinitasnya. Sedari tadi Alan telah terjaga dan sedang mengamati wajah Shania. Ia duduk bersilang tangan di d**a.
Bunyi ketukan pintu dari luar menyadarkannya. Alan segera berdiri dan berjalan ke arah pintu. Seorang kurir pengantar makanan datang dengan membawa pesanannya tadi malam.
Alan mengambil box makanan lalu ia segera menutup pintu kamar pasien.
Alan meletakan box makanan itu di atas meja. Aroma makanan menyentil hidung Alan. Beef steak saus tiram plus kentang goreng menjadi makanan favorit Alan. Ia juga memesan ayam goreng dengan saos tomat untuk Shania. Seketika perutnya sedikit bergejolak untuk diisi. Sejak kemaren ia belum sempat makan dan sekarang ia akan makan sembari menunggu Shania terjaga. Sebelum makan Alan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan tangan.
****
Perlahan Shania mulai membuka matanya. Ia menggeliat seolah bangun dari tidur panjangnya. Keningnya berkerut seolah sedang berfikir. Ia melihat langit-langit kamar yang berwarna putih. Seingatnya kamarnya bewarna pink. Shania menoleh ke kiri dan ia melihat tangannya dipasang infus. Shania langsung duduk dan tiba-tiba kepalanya berdenyut.
"Awww" Shania berteriak sambil memegang kepalanya.
"Ada apa" tanya Alan yang tiba-tiba berada di depan Shania dengan wajah yang nampak khawatir.
Sontak Shania langsung melihat ke arah sumber suara itu. Seorang pria tampan dengan wajah yang basah dan tetesan air yang jatuh dari ujung-ujung rambut depannya menambah kesan meleleh bagi kaum hawa yang haus belaian tapi tidak dengan Shania yang melotot marah.
"Dasar kau pria c***l, aku disini pasti karena dirimu". Tuduh Shania galak.
" Apa kau tidak mampu memikat wanita yang lebih tua sehingga kau kehilangan akal mengira aku wanita seusiamu, haa. Beraninya kau melecehkan ku dasar kau pria tua". Shania terus berbicara dengan nada tinggi. Amarah yang meledak-ledak tidak mampu ia kontrol. Kejadian tadi malam tidak akan pernah ia lupakan. Kejadian yang membuat ia terus-terusan memaki perilaku Alan yang bertindak asusila terhadapnya.
Alan merutuk dirinya yang sempat khawatir dengan teriakan Shania dan lihatlah gadis kecil ini, energinya masih besar untuk memakinya.
Alan menghela nafas sambil mengusap wajahnya yang masih basah.
Alan mengambil meja makan kecil dan menaruhnya didepan Shania. Lalu ia mengambil box makanan dan membuka satu persatu kotak makanan itu. Alan juga menaruh dua botol minuman mineral di depan Shania.
Aroma makanan langsung mengganggu indra penciuman Shania. Matanya bersinar dan air liurnya seakan menetes melihat makanan yang tersaji didepannya.
Tanpa diperintah Shania langsung mengambil ayam goreng tepung kesukaannya. Shania menikmati makanannya tanpa peduli Alan melihatnya dengan aneh.
Alan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
Shania seperti orang kelaparan dengan mulut penuh dengan ayam goreng.
Ia merasa terhibur melihat tingkah lucu Shania.
Alan duduk didepan Shania dan mengambil makanannya. Sama hal nya dengan Shania, cacing-cacing perutnya sudah memberontak ingin diberi makan.
" Terima kasih sudah memberiku makanan, pria m***m. Aku menyukai makananku" ucap Shania sambil tersenyum. Efek dari ayam goreng tepung merubah suasana hati Shania yang tadi garang menjadi senang.
Alan terpesona dengan senyuman manis Shania. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih kencang.
" Sama-sama " singkat Alan. Alan melanjutkan makannya dalam diam. Ia tidak mengerti dengan kondisi dirinya saat ini. Kenapa ia tiba-tiba merasa sedang kasmaran. Sudah lama ia tidak merasakan gejolak asmara. Perasaan itu kembali muncul dengan gadis kecil didepannya ini yang sejujurnya jauh dari kriteria wanita idamannya. Mungkin ini hanya perasaan sementara dan akan menghilang seperti debu yang beterbangan.
Shania merasa kenyang setelah memakan habis ayam goreng tepungnya. Ia juga sudah menghabiskan minumannya. Shania membersihkan tangannya menggunakan tissue basah yang diberikan Alan. Shania melihat Alan yang baru saja menyelesaikan makannya. Pria didepannya ini sungguh tampan dan enak dipandang mata. Alan mengambil minum dan langsung meminumnya. Terlihat jakun pria itu naik turun seiring minuman yang di teguk nya. Ia seketika terpana melihatnya.
" Pria ini sungguh tampan dan mempesona" Shania membatin. Ia berkali-kali memuja pria m***m didepannya ini.
"Aku memang tampan dan banyak wanita yang menginginkan aku " ucap Alan dengan seringai nya. Seolah ia mengetahui apa yang sedang Shania pikirkan. Saat ia meminum air mineral, dari ujung mata Alan dapat melihat Shania yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
Shania mencibir dengan apa yang dikatakan Alan seolah ia tidak percaya. Shania menyandarkan punggungnya karena ia merasa perutnya begitu penuh dengan makanan. Saat ini ia malas untuk menimpali perkataan pria itu dan lebih baik ia istirahat agar memulihkan staminanya agar dapat lepas dari pria m***m ini dan mencari daddynya.
" Bagaimana keadaan Daddy saat ini dan dimana Daddy sekarang" batin Shania mencemaskan daddynya. Shania merutuki dirinya yang bodohnya ketika ia lupa dengan apa yang dibisikkan bi Maryn kepadanya. Padahal bi Maryn menyebutkan rumah sakit tempat daddynya dirawat karena tiba-tiba daddynya sakit.
Alan meletakan botol air mineralnya ke atas meja dan memindahkannya ke bawah tempat tidur Shania. Alan mengambil tissue basah diatas nakas untuk membersihkan tangannya. Terlihat Shania yang sedang melamun dengan raut wajahnya sedikit sedih. Alan berdiri didepan Shania dan memasukan tangannya ke dalam kantong celananya. Saat ini Alan menatap Shania dengan tatapan intimidasinya.
" Perlu kutegaskan disini Shania, kalau kau adalah jaminan akan tindakan yang telah daddymu perbuat terhadap perusahaanku. Aku ingin kau menuruti semua yang aku ucapkan " tegas Alan dengan masih tatapan intimidasinya.
" Mulai saat ini kau harus memanggilku dengan nama Alan dan BUKAN pria m***m atau pria c***l, mengerti ". ucap Alan yang sengaja meninggikan nada suaranya. Ia berharap dengan caranya seperti ini mampu menakuti Shania dan membuat gadis kecil didepannya ini menuruti semua keinginan Alan.
Jika Shania mulai bersikap baik terhadapnya, Alan berjanji akan mengajari Shania menjadi wanita dewasa seutuhnya dan memberikan apa yang Shania inginkan.
Otak m***m Alan mulai membayangi ciuman panasnya dengan Shania yang berakhir di ranjangnya dengan saling berpelukan.
" Baiklah jika itu yang kau inginkan tapi aku ada satu syarat " ucap Shania santai. Ia memperbaiki posisi duduknya dengan meluruskan punggungnya.
Shania menatap Alan dengan tatapan yang tak kalah tajamnya dari Alan.
" Katakan " jawab Alan kesal. Alan merasa Shania sedikit kurang ajar dengan mengajukan syarat kepadanya. Tapi ia sedikit penasaran dengan apa yang akan Shania ucapkan.
" Aku ingin kau mempertemukan aku dengan daddyku " Ucap Shania serius. Rasa khawatir Shania terhadap daddynya begitu besar. Ia ingin sekali bertemu daddy dan memeluknya. Ia melakukan pemberontakan sekuat tenaga tapi di lubuk hatinya yang paling dalam terdapat rasa takut yang begitu besar. Shania akan melakukan berbagai cara agar Alan mau mempertemukannya dengan daddy. Walaupun dengan merendahkan harga dirinya pada Alan, ia akan menyanggupinya.
Alan melihat sisi lain dari Shania. Shania yang berani dan hobi memberontak akan berubah menjadi gadis yang mampu bersikap serius. Keinginannya bertemu dengan daddynya mampu mengubah sikapnya. Keseriusan dalam perkataannya patut diacungkan jempol. Gadis kecilnya begitu menarik.
" Baiklah " ucap Alan singkat.
Alan mendekati Shania dan mengecup kening gadisnya. Dapat dirasakan jika saat ini tubuh Shania tegang akan sikap Alan yang mendadak menciumnya. Alan tidak tahan untuk tidak mencium Shania.
" Istirahatlah agar kau dapat bertemu daddymu dan setelahnya kau akan menjadi wanitaku " Alan menuntun Shania agar ia berbaring dan menaikan selimut Shania sebatas dadanya.
Shania mencoba untuk memejamkan matanya agar nanti ketika ia membuka mata ia dapat bertemu daddynya.
***
Bi Maryn mendadak pucat ketika layar monitor pendeteksi jantung Mr. Abraham mendadak membentuk garis lurus. Bi Maryn langsung menekan tombol panggilan darurat yang berada disamping kanan atas kepala Mr. Abraham. Bi Maryn tak henti-hentinya menekan tombol merah tersebut hingga tak lama kemudian seorang dokter muda dan dua perawat tiba dan langsung mengambil tindakan terhadap Mr. Abraham.
Bi Maryn sedikit bergeser dari ranjang tuannya dan berdoa dalam hati agar tuannya selamat.
10 menit berlalu dan pada akhirnya dokter menyatakan jika Mr. Abraham meninggal dunia. Dokter meminta agar bi Maryn segera mengabari keluarga dari Mr. Abraham dan untuk administrasinya tidak perlu diurus karena telah diselesaikan oleh pemilik rumah sakit ini. Dokter muda itupun keluar kamar sambil mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya.
Bi Maryn terduduk lesu dikursinya dan beberapa tetes air mata mengalir di kedua pipinya.
" Bagaimana dengan nona mudanya jika ia tahu kalo daddynya telah meninggal dunia?".
"Kasian sekali nona mudanya yang telah menjadi yatim piatu." batin bi Maryn sambil mengelap butiran air matanya.
Terlihat kedua perawat mulai mencabut semua peralatan yang berada di tubuh Mr. Abraham dan setelahnya menutupi wajahnya dengan kain yang dipakai sebagai selimut.
Alan mendapatkan kabar jika Mr. Abraham baru saja meninggal dunia. Alan terkejut dan langsung melihat ke arah Shania. Terlihat wajah damai gadis kecilnya itu begitu lelap dalam tidurnya.
Alan memasukan lagi ponselnya ke dalam saku celananya. Alan berjalan ke arah Shania dan langsung membelai sayang pucuk kepala Shania. Alan sedang berpikir bagaimana reaksi Shania ketika ia memberitahu bahwa daddynya telah meninggal dunia.