Bi Maryn menatap nanar tubuh kaku Mr. Abraham. Ia kehilangan majikan yang telah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Mr. Abraham sangat baik padanya.
Bi Maryn melihat lagi ponselnya dan beberapa detik kemudian ia menghela nafas panjang.
Shania belum juga membaca pesannya. Anak majikannya itu harus melihat daddy nya untuk yang terakhir kalinya.
Ia sangat mengkhawatirkan Shania saat ini.
Bi Maryn masih fokus menatap ponselnya sampai ia tidak menyadari kedatangan pemilik dari rumah sakit ini.
" Apa anda pembantu rumah tangga Mr. Abraham " tanya Alan datar.
Bi Maryn mendongakkan kepalanya dan menatap sosok pria muda di depannya dengan kedua tangan di dalam kedua saku celananya. Terlihat begitu arogan.
" Maaf anda siapa " tanya bi Maryn heran.
Alan berjalan mendekati ranjang Mr. Abraham tanpa peduli dengan pertanyaan wanita tua itu. Ia terpaku sesaat melihat jasad Mr. Abraham yang tertutup kain putih hingga kepalanya. Alan tersenyum tipis dan tak dipungkiri ia sedikit mempunyai rasa dendam pada Mr. Abraham karena telah mengambil uangnya. Mr. Abraham jauh lebih tua darinya. Ia merupakan salah satu karyawan senior di perusahaannya dan dedikasinya terhadap perusahaan patut di acungkan jempol. Mr. Abraham memegang jabatan tinggi di perusahaannya dan banyak pegawai yang segan serta patuh padanya. Mungkin hal itu juga lah yang membuat ia leluasa mengelola keuangan perusahaan dan mengambilnya dengan alasan untuk kepentingan perusahan tapi nyatanya uang yang di ambil untuk keperluan pribadinya. Mr. Abraham tak lagi loyal terhadap perusahaan semenjak kematian Mr. Steve yang merupakan teman baiknya dan juga ayah kandung Alan.
"Aku adalah pemilik rumah sakit ini, dan Mr. Abraham adalah anak buah ku yang telah mengambil uang ku." Alan berjalan mendekat ke arah tempat duduk bi Maryn.
Alan melihat wanita tua di depannya ini terkejut.
bi Maryn langsung berdiri dari tempat duduknya dan kepala tertunduk takut pada pria muda di depannya.
" Mr. Abraham harus mengembalikan semua uang ku." ucap Alan dengan tatapan intimidasi nya pada bi Maryn. Alan ingin melihat respon dari asisten rumah tangga Mr. Abraham ini.
" Tapi tuan, Mr. Abraham telah meninggal dunia dan saya hanya seorang pembantu rumah tangga yang tidak memiliki apa-apa untuk membayarnya. " jawab bi Maryn takut.
" Mr. Abraham memiliki seorang putri, bukan.? tanya Alan sambil melipatkan kedua tangan nya didepan dadanya.
Bi Maryn menatap pria muda di depannya dan kening nya sedikit berkerut seolah sedang berfikir kemana arah tujuan pembicaraan pria ini dan kenapa ia bisa tahu kalau Mr. Abraham memiliki seorang putri.
" Mr. Abraham memang memiliki seorang putri tuan tapi saat ini saya tidak mengetahui keberadaannya" jawab bi Maryn mencoba untuk tenang.
Alan tersenyum tipis pada bi Maryn. Salah satu tangan Alan memegang lembut dagu nya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
" Aku ada penawaran untukmu. " ucap Alan pada bi Maryn.
***
Shania terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tidurnya begitu lelap dan nyenyak. Badannya kembali segar dan bertenaga.
Dalam tidurnya, Shania bermimpi daddy nya sedang membelai lembut pucuk kepalanya dan tersenyum. Shania merasa tenang dan bahagia.
Shania duduk untuk mengambil minum di meja samping dekatnya. Tenggorokan nya terasa kering dan ia butuh minum. Segelas air putih pun tandas diminum Shania.
Suara kenop pintu terdengar ketika Shania meletakkan kembali gelas kosong di atas meja. Pintu kamar Shania terbuka dan terlihat Alan masuk dengan membawa seorang wanita di belakangnya. Wanita itu terlihat mengekor langkah Alan dengan kepala sedikit menunduk sehingga Shania tidak dapat melihat wajahnya.
Kening Shania terlihat berkerut seakan bertanya siapa wanita yang di bawa pria m***m itu.
Langkah Alan berhenti tepat di depan Shania dan seketika wanita yang mengekor langkah Alan juga ikut berhenti.
Shania lebih tertarik menatap wanita yang di belakang Alan ketimbang menatap wajah tampan Alan. Seorang wanita kurus dan sepertinya agak tua. Ia memegang sebuah tas yang lumayan besar dan kedua tangan wanita itu sedikit berkerut.
" Aku membawa seseorang yang kau kenal " ucap Alan menatap Shania intens. Alan berjalan mendekati Shania dan berdiri di samping ranjang Shania.
Alan dan Shania sama-sama memperhatikan wanita dihadapan mereka.
Wanita itu mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat seseorang yang berada di ranjang. Bi Maryn terkejut sekaligus sedih melihat nona mudanya.
Ia langsung mendekati Shania dan langsung memeluknya. Shania juga menyambut pelukan bibi yang telah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri. Perasaan campur aduk melebur jadi satu perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
" Bi Maryn, dimana daddy"? tanya Shania.
Pertanyaan tiba-tiba Shania membuat bi Maryn terkejut dan memeluk Shania lebih erat. Ia menangis sedih dengan keadaan nona muda nya ini tapi ia harus memberitahu Shania jika Daddy nya telah meninggal. Perasaan gundah gulana melanda bi Maryn, bagaimana caranya agar nona muda nya dapat memahami keadaan yang tidak lagi sama?.
Perlahan bi Maryn melepaskan pelukannya dari tubuh Shania dan menatap Shania.
Rasa iba menyelimuti hati dan pikiran bi Maryn.
" Nona muda, daddymu telah pergi jauh" ucap bi Maryn sendu. Ia tertunduk lesu tidak berani menatap Shania.
" Pergi kemana bi ? tanya Shania
tidak ada jawaban dari bi Maryn.
" Bii, Daddy pergi kemana ?" tanya Shania lagi sambil memegang pundak rapuh Bu Maryn.
Melihat keadaan yang melankolis, Alan memegang pundak Shania dengan lembut. Sontak Shania menatap Alan dan melepaskan tangannya dari pundak bi Maryn.
Terdengar ketukan pintu kamar dari luar.
Satu orang perawat masuk ke kamar Shania dan mulai mendekat ke sisi ranjang Shania. Perawat itu melepaskan selang infus di tangan Shania.
Perawat itu sedikit menunduk ke arah Alan yang menandakan ia pamit keluar karena tugasnya selesai.
Sebelumnya Alan memerintahkan anak buahnya memanggil perawat untuk melepaskan selang infus Shania karena ia berencana mempertemukan Shania dengan Daddy nya untuk terakhir kalinya.
" Ayo, kita lihat Daddy mu !" ucap Alan pada Shania.
dengan anggukan kepala Shania turun dari ranjangnya. Ia tidak sabar ingin bertemu Daddy dan meminta maaf.
Alan membantu Shania turun dari ranjangnya dengan memegang ke dua bahu Shania seakan ia takut jika Shania terjatuh.
Alan mengajak Shania keluar kamar diikuti oleh bi Maryn dibelakang.
Perasaan Shania menjadi tidak enak.
" Ada apa ini ?" batin Shania. Kenapa sikap Alan dan bi Maryn seolah diam seperti orang bisu dengan ekspresi bi Maryn yang sedari tadi tertunduk lesu dan sedih.
Alan, Shania dan bi Maryn berjalan ke arah sebuah kamar pasien yang tak jauh dari kamar Shania yang hanya berselang tiga kamar dari tempatnya dirawat. Mereka berhenti didepan sebuah kamar pasien dan Alan sempat menarik nafas dalam sebelum ia membuka pintu kamar tersebut.
Hal ini semakin aneh buat Shania tatkala bi Maryn mulai menangis terisak dengan menutup mulut dan memegang dadanya.
Alan memasuki kamar dengan tetap merangkul Shania erat.
Shania nampak terkejut ketika ia melihat dihadapannya ada jenazah yang telah ditutupi kain putih hingga kepala.
Alan merasakan tubuh Shania mulai bergetar. Shania melepaskan tangan Alan dari bahunya dan ia mulai berjalan pelan mendekati ranjang di hadapannya. Tak terasa air mata Shania jatuh bercucuran. Seakan ia telah mengetahui siapa jasad yang terbujur kaku dihadapannya itu.
Shania membuka kain putih itu secara perlahan dan menampakan wajah Daddy nya yang telah putih memucat.
Shania tak kuasa menahan tangisnya, dengan cepat ia memeluk Daddy nya dengan erat.
Begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan tapi tenggorokannya seakan tercekat tak mampu berbicara. Shania menciumi wajah daddynya dengan penuh kasih sayang. Penyesalannya hadir ketika Daddy telah meninggalkannya sebatang kara di bumi ini.
Shania menangis pilu tanpa kata. Ia begitu rapuh dan hancur. Shania meratapi nasibnya yang tak memiliki orang tua. Siapapun yang mendengar tangisan Shania seakan terhanyut akan kesedihan yang mendalam.
Bi Maryn mendekati Shania dan merangkul nona mudanya itu. Bi Maryn tak kuasa akan tangisan pilu Shania. Bi Maryn merasakan apa yang dirasakan nona mudanya ini tapi ia harus menenangkan Shania agar dapat mengikhlaskan daddynya.
***
POV Alan
Aku menyaksikan langsung betapa terpukulnya Shania. Gadis kecil yang biasanya cerewet dengan suara cemprengnya saat ini tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya menangis dan memeluk jasad daddynya. Tak lama kemudian suara tangisnya mereda dan aku melihat gadis kecil itu memeluk daddynya. Bi Maryn menggoyangkan tubuh Shania dan memanggilnya. Tapi tak ada respon dari Shania. Rasa khawatirku mulai muncul dan aku segera berlari ke arah Shania. Matanya tertutup dan wajahnya sendu berlinang air mata.
Segera aku mengangkat tubuh Shania ala bridal style yang rapuh itu dan membawanya kembali ke kamarnya. Keadaannya belum sepenuhnya sehat dan ia kembali tak sadarkan diri.