Awal yang baru

1175 Words
POV Shania Seminggu telah berlalu dengan kesedihan yang mendalam bagi ku. Kehidupan ku kini tak lagi sama tanpa kehadiran seorang Daddy yang menyayangi ku. Sejak dilahirkan ke dunia ini, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Mommy dan sekarang Tuhan mengambil Daddy ku, satu-satunya orang tua yang mampu memenuhi segala keinginanku. Sekarang apa yang harus aku lakukan dengan hutang Daddy semasa hidupnya dulu.? Aku sedang menatap langit-langit kamar sambil berbaring di ranjang king size miliknya. Tepatnya milik pria m***m tapi tampan itu. Pria itu mengurus segala keperluan pemakaman Daddy. Walaupun ia menyuruh pegawainya tapi tetap saja menurutku ia ikut membantu. Pria tampan itu meminta ku untuk tinggal di rumahnya sebagai ganti rugi atas tindakan Daddy mengambil uang perusahaannya. Pria tampan itu juga mempekerjakan bi Maryn untuk mengurus segala keperluanku. Yah tidak dipungkiri si pria tampan itu cukup baik untuk diriku dan bi Maryn saat ini. Pria m***m itu pernah berkata akan menjadikan ku seorang wanita dewasa. Dewasa dalam artian apa maksudnya??. Apa dia buta sehingga menganggap ku belum dewasa dan helloooo guys usia ku sekarang 19 tahun dan itu usia yang masuk kategori dewasa. Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. " Entahlah, terkadang pria m***m itu sangat membingungkan". Aku memeluk guling yang berada tak jauh dariku. Aku berfikir keras hingga kening ku berkerut atas kejadian yang sedang menimpa ku saat ini. Kehidupan ku sekarang begitu mirip dengan film yang pernah ku tonton. Aku jatuh miskin tanpa orang tua dan terikat dengan seorang pria dewasa. Apakah Steve dan teman-temanku masih mau dekat denganku? atau aku akan di asingkan oleh teman-temanku sendiri ?. Bagaimana jika kisah kehidupan ku sama seperti aktris dalam film yang pernah ku tonton ?. Jika hal itu terjadi alangkah malang nasib diriku. Shania melemparkan gulingnya ke lantai. Semua kejadian yang baru ia jalani serasa mimpi buruk baginya. Perasaannya menjadi tidak enak dan tak menentu. Begitu banyak hal yang ia khawatirkan dan semoga itu tidak terjadi. Ia harus berusaha memulai kehidupannya dari awal. Ia akan bekerja dan mengembalikan semua uang yang Daddy ambil dari pria m***m itu agar ia dapat keluar dari rumah ini dan jauh-jauh dari pria m***m itu. Shania menghela nafas panjang lagi dan tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Bi Maryn masuk ke kamar Shania dengan membawa nampan makanan dan minuman untuk Shania. " Nona, ini makanan dan minumanmu, makanlah selagi hangat!" ucap bi Maryn lembut dan menaruh nampan di hadapan nona mudanya itu. Bi Maryn berdiri tidak jauh dari Shania. Ia sedang memastikan nona nya makan. Shania beringsut duduk karena kebetulan sekali perutnya kelaparan karena terlalu keras berfikir. Shania mulai mengambil roti isi nya dan melahapnya cepat. Shania perlu makanan agar otaknya dapat memikirkan kehidupannya mendatang. Ia masih muda dan saat ini jatuh miskin. Semua aset milik Daddy telah diambil alih oleh pria itu. " Dasar sinting, kenapa dia cepat sekali mengubah sertifikat kepemilikan seluruh aset pribadi Daddy? Apa dia tidak merasa kasihan padaku yang sudah tidak memiliki orang tua lagi dan sekarang jatuh miskin?" batin Shania kesal. Shania mengunyah makanannya sambil menggerutu dan itu tak luput dari perhatian bi Maryn. " Apa nona baik-baik saja?" tanya bi Maryn khawatir melihat wajah nona mudanya terlihat sedikit memerah menahan kesal. " Eh iya bi aku baik-baik saja !" jawab Shania dengan mulut penuh makanan. " Bi, apa pria itu belum pulang? tanya Shania dengan tangannya mengambil minumannya. " Tuan Muda belum pulang non " jawab bi Maryn singkat. Bi Maryn duduk dihadapan Shania dan menatap Shania dengan sayang. Ia merasa kasihan. " Nona Shania, sekarang kita tinggal di kediaman tuan Alan. Tuan cukup baik untuk menampung kita disini non. Bibi harap nona bisa mengikuti aturan dari tuan Alan." ucap bi Maryn dengan maksud tersirat. Shania langsung menatap bi Maryn tajam. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. " Kenapa bibi membela pria itu,? jangan lupa kalau dia juga yang menyebabkan Daddy meninggal." ucap Shania kesal. Shania meletakan sisa rotinya di atas nampan. Selera makannya langsung menghilang ketika bi Maryn terang-terangan membela Alan. Bi Maryn membelai pucuk kepala Shania dan menatapnya penuh kasih. " Nona, sejak kecil dirimu telah terbiasa hidup berkecukupan. Semua keinginanmu harus terpenuhi, bibi tidak sanggup melihat mu menderita." ucap bi Maryn mencoba menenangkan Shania. Shania dengan segala bentuk keegoisannya langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan bi Maryn sendiri. Ia masih belum percaya jika bi Maryn membela Alan si m***m itu. **** POV Alan Alan sedang duduk di kursi kerjanya. Kedua kakinya menyilang di atas meja. Ia sedang memegang ballpoint dan memutarnya dengan jari-jari panjangnya. Beberapa hari ini ia sering melamun. Bayangan Shania selalu menari-nari dibenaknya. Haruskah ia menampung anak dari orang yang telah mengambil uang perusahaan nya?. Ia juga mempekerjakan pembantunya untuk mengurus segala keperluan gadis itu. Harusnya ia telantarkan saja gadis kecil itu di jalanan, toh semua aset kekayaannya telah kembali atas namanya dan seandainya ia ingin melampiaskan gairahnya harusnya ia bisa mendapatkannya dengan mudah. " Tok tok tok" terdengar suara ketukan dari luar yang membuat Alan langsung tersadar. " Masuk " Seorang gadis cantik nan seksi masuk ke ruang kerja Alan. Rambut panjang yang Curly serta kulit putih nan mulus sangat menggoda kaum pria untuk menyentuhnya. " Hai Alan, apa kau sudah makan siang? tanya Katy dengan suara lembutnya. Alan melihat Katty berjalan ke arahnya. Ia memakai dress merah mini ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping. Alan akui kalau Katy cantik dan menawan. Tidak sembarangan pria yang bisa dekat dengan Katy seorang model majalah dewasa. " Belum" jawab Alan santai. Alan menurunkan kakinya dan memperbaiki duduknya. Katty duduk di atas meja tepat di depan Alan. Katty memegang pundak kokoh Alan dan meraba d**a bidang Alan. Katty sangat menyukai pria didepannya ini dan ia mampu memberikan segalanya untuk Alan. Alan menikmati belaian Katy dan harus ia akui Katty mampu membangkitkan gairah primitif nya. Alan mulai menutup matanya dan "Ooooo God, what the hell ". Sontak Katty kaget tiba-tiba Alan berteriak. Katy segera bangkit dan sedikit bergeser ketika Alan sedikit membungkuk memegang kepalanya dengan kedua tangannya. " Alan apa kau baik-baik saja?" tanya Katty cemas. Katty memegang bahu Alan dan langsung ditepis oleh Alan. Katy terkejut dengan sikap Alan, apa ia berbuat kesalahan sehingga Alan merasa tak nyaman dengannya?" pikir Katty dengan perasaan cemas. Katy masih berdiri disamping Alan dan memperhatikan Alan. Alan tak habis pikir dengan yang terjadi. Ketika menutup mata, wajah Shania hadir merusak gairahnya bersama wanita lain. "Ada apa ini?" Kenapa selalu dia benakku?" apa aku kena kutukan ?" batin Alan. Alan mencoba untuk memperbaiki posisi duduknya. Salah satu tangan Alan memegang meja dan ia menarik nafas dalam dan perlahan mengeluarkannya. Sekarang ia dalam keadaan tenang. " Ayo kita makan" ajak Alan pada Katty. Alan langsung berdiri dan berjalan duluan meninggalkan Katty yang masih shock akan perubahan sikap Alan yang tiba-tiba. " Sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada Shania. Hal ini tidak boleh terjadi lagi. Bisa-bisa aku terkena penyakit akibat hasrat tak tersalurkan ". Alan membatin seiring langkah kaki cepat meninggalkan Katty. "Alan, tunggu" teriak Katty yang melihat Alan yang telah sampai di depan pintu. Katty sedikit berlari mengejar Alan. Mereka berdua pergi makan siang di kafe seberang kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD