BLANC 17

3252 Words
Jam sudah menunjukkan jam 1 malam ketika Naura bangun dari tidurnya. Itu artinya sudah lima jam dia mengistirahatkan tubuhnya setelah beberapa hampir 3 hari ini dia tidak bisa istirahat sama sekali. Menurutnya itu sudah cukup untuk membalaskan rasa lelah dibadannya yang memang sudah berteriak kelelahan. Padahal awalnya dia berniat menunggu Ravael pulang dan membicarakan semuanya, barulah dia akan istirahat. Tapi sampai jam Sembilan tadi suaminya itu tidak kunjung pulang, hingga tanpa sadar di tertidur dengan keadaan yang bahkan belum berganti sama sekali. Malam ini dia sudah berjanji untuk melakukan apa yang disarankan David dan diminta Theresia kepadanya. Naura berniat untuk menyelesaikan masalah ini secepat yang dia bisa. Kalaupun nantinya akhir dari penyelesaian masalah ini mengecewakannya, setidaknya semuanya ini menjadi akhir yang jelas bagi semuanya. “Apa kak Ael belum juga pulang?” Tanyanya pelan lalu turun dari ranjangnya utuk memeriksa rumah itu. Hanya ada Naura seorang diri di rumah ini sekarang karena tadi dia meminta semua pekerja mengambil cuti mereka hingga beberapa hari. Selain karena dia merasa butuh ruang privasi untuk bicara dengan Ravael, semua orang di rumah ini dirasanya butuh istirahat setelah melalui beberapa hari yang berat ini. Menghidupkan beberapa lampu yang bisa memberi sedikit penerangan di rumah itu. Kemudian dia berjalan untuk memeriksa pintu utama, mendapati pintu itu dalam keadaan terkunci. Lalu dilanjutkannya langkahnya ke pintu samping rumah yang langsung menembus keparkiran rumah ini. Disana dia mendapati mobil Ael, jadi seharusnya suaminya itu sudah ada di rumah ini seharusnya. Melanjutkan pencariannya, Naura menuju ruang tamu berpikir Ravael mungkin ada disana karena tidak mau mengganggu dia yang tidur di kamar pria itu. Namun lagi-lagi dia tidak menemukan Ravael disana, untuk sesaat dia mulai ragu apakah Ravael memang sudah pulang atau tidak. ‘Tapi kalau kak Ravael belum pulang, dimana dia saat ini?’ Tanya Naura dalam hatinya karena seingatnya Ravael bukanlah tipe orang yang suka keluyuran. ‘Apa mungkin kak Ravael pergi ke rumah sakit?’ Lanjutnya bertanya dalam hati. Walau begitu Naura tetap melanjutkan pencariannya dan kamar putra kembarnya adalah tujuannya saat ini. Entah kenapa hatinya menyuruh dia kesana, padahal sejak apa yang dikatakan Naura kepadanya kamar Dathan dan Nathan adalah tempat yang sangat jarang dimasuki oleh Ravael. Dengan sangat hati-hati dia membuka pintu kamar itu dan saat itulah matanya langsung menemukan sosok Ravael tengah berbaring miring membelakangi pintu kamar. Naura terhenyak melihat itu, Karena untuk pertama kalinya Naura melihat sisi rapuh Ravael, sesuatu yang belum pernah benar-benar dilihatnya selama ini dari suaminya itu. Melangkan mendekat pada sosok Ravael yang tampak tertidur pulas, Naura mendudukkan dirinya dipinggiran tempat tidur dimana suaminya itu tengah berbaring sambil memegang sebuah amplop coklat besar. Diambilnya amplop itu, kemudian ditatapnya wajah Ravael yang terlihat sangat lelah dengan lingkaran hitam besar dibawah matanya, lalu wajahnya yang telihat luyu. Sedangkan penampilannya sangat kusut, membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir betapa tidak terurusnya pria itu. Naura menghela napasnya pelan, lalu diamatinya amplop itu sebelum membukanya karena ada nama Dathan disana. Dan hatinya mencelus saat ditaunya kalau amplop itu berisi tentang apa usaha yang bisa diambil Ravael untuk mengusahakan kesehatan Dathan. “Selama ini aku bertingkah seolah kak Ravael lah yang tidak memiliki perasaan disini, nyatanya dia bahkan lebih menyayangi Dathan dan Natahan daripada aku.” Olok Naura pada dirinya karena sekarang dia merasa jahat dan bodoh sekaligus. Kemudian Naura menghembuskan nafasnya lagi sebelum kembali melihat wajah Ravael. Ditatapnya wajah itu begitu lama, sebelum kemudian dia mengangkat tangannya dan menggenggam erat tangan suaminya itu. Seharusnya kalau Naura ingin berbicara dan menyelesaikan masalahnya dengan Ravael, Naura harusnya menunggu suaminya itu bangun. Tapi entah kenapa dia malah mulai bercerita, pada Ravael saat ini tengah tidur. “Kak Ael maafin aku,” katanya dengan sangat pelan. “Semua ini salah aku makanya kita sampai kehilangan anak-anak kita. Kalau saja waktu itu aku tidak tidak gelap mata dan membuat keputusan yang tergesa, mungkin sekarang kita berempat masih hidup bersama-sama. Maaf sudah gelap mata hingga menghukum kak Ael atas kesalahan yang tidak sepenuhnya kak Ael lakukan.” Kemudian lama Naura diam sebelum dia mengeluarkan suaranya lagi. “Aku wanita yang sangat picik kak...” lebih pelan dari sebelumnya Naura mengeluarkan suaranya. Dia tampak ragu dengan apa yang akan disampaikannya, tapi dia tetap akan mengatakannya. “Kemarahan dan hukuman yang aku berikan kepada kak Ael, bukan semata-mata hanya karena aku marah soal kematian orangtua aku. Sebenarnya...” kembali Naura terlihat ragu. “Apa yang membuat aku sangat marah adalah karena kak Ael masih berhubungan dengan Patricia. Aku takut dan panik kak, dalam pikiranku kak Ael pasti lebih menginginkan Patricia dan anak kalian dari pada aku dan anak-anak yang dari rahimku. Siapapun pasti lebih lebih memilih orang yang dicintainya dan anak dari wanita yang dicintainya daripada orang yang harus dinikahi karena terpaksa.” Naura benar-benar mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. “Aku cemburu kak,” kata Naura sangat lirih dengan kepala yang tertunduk. “Aku jadi gelap mata karena rasa marah dan cemburu itu...” katanya sangat pelan. ... “Aku cinta kak Ravael.” “Aku juga mencintaimu.” Kepala Naura terangkat dan matanya langsung bertemu tatap dengan Ravael yang sudah dalam keadaan mata yang terbuka. “Kak Ael,” Naura bangun dari posisi duduknya. Berniat menarik tangannya yang tadi menggenggam tangan Ravael. Tapi Ravael tidak membiarkan Naura melakukannya, dia malah menarik Naura hingga terjatuh tepat di atas tubuhnya. “Aku mencintaimu,” ulang Ravael yang jelas membuat jantung Naura berdetak kencang. BLANC  “Tap...tapi...” Naura ingin membantah. “Aku tidak memiliki perasan itu lagi kepada Patricia.” Potong Ravael terlihat ingin segera memberi penjelasan pada Naura. “Sejak hari dimana aku memutuskan bertanggung jawab dengan menikahimu, aku sudah membuang perasaan itu jauh-jauh karena aku ingin menghormati pernikahan kita dengan tidak memiliki perasaan kepada wanita lain.” Jelas Ravael tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya pada Naura. “Tidak sulit untukku membuang perasaan itu karena setelah aku tau apa yang dilakukan Patricia dan Kevin dibelakangku.” Wajah Naura berkerut samar. “Kevin?” “Ya, mereka bermain dibelakang aku. Niat awal Patricia adalah menggunakan kamu agar aku mau memaklumi apa yang telah dia lakukan dengan Kevin. Sayangnya semuanya tidak sesuai dengan perkiraannya karena akhirnya aku memilih untuk benar-benar berakhir dengannya dan memilih bersamamu.” “Lalu bagaimana dengan bayi yang di kandung Patricia saat itu. Kenapa dia bilang kalau itu adalah milik kak Ravael?” Lagi-lagi Ravael mendesah berat dan kemudian menjawab, “Itu karena aku berusaha menyelamatkan bayi itu Ra. Patricia coba menggugurkannya saat dia tau kalau dia sedang mengandung anak Kevin. Dia tidak mau Kevin bertanggung jawab untuk bayi itu karena Patricia katanya masih menginginkanku. Apalagi Kevin sampai memohon kepadaku untuk menyelamatkan anaknya itu dari Raina. Dia bahkan rela pergi ke London untuk memenuhi permintaan Patricia yang katanya tidak mau lagi bertemu dengannya. Kamu taukan kalau aku tidak mungkin membiarkan Patricia melakukan hal gila pada anaknya setelah Kevin memohon kepadaku seperti itu? Apalagi yang diminta Kevin hanyalah hal sederhana, membuat Patricia percaya kalau aku bersedia bertanggung jawab untuk Raina. Sampai 17 tahun sebelum nantinya Kevin bisa mengambil hak asuh Raina.” Naura tercenung, tetap merasa kalau dia memang sudah merebut Ravael saat itu dari Patricia. “Jangan berpikir kalau di sangat mencintaiku.” Seolah bisa menebak apa yang dipikiran Naura, Ravael langsung menanggapinya dengan sangat tenang. “Kalau dia memang benar-benar menginginkan aku, dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama setelah dia ketahuan. Lagipula dia tidak akan menyerahkan dirinya pada orang lain kalau dia memang mencintai aku, saat aku bahkan tidak pernah menyentuhnya.” Kening Naura kembali berkerut samar tanda dia tidak mengerti apa yang dikatakan Ravael. “Maksud kak Ael?” Ravael tersenyum tipis sambil sekali-kali merapikan anak rambut Naura. “Aku tidak pernah melakukan apapun yang melebihi batas dengan Patricia Ra. Entah kenapa aku merasa ada rasa segan yang selalu menahanku untuk tidak berbuat lebih kepadanya.” Tanpa disadari Naura wajahnya terlihat sedikit lebih lega setelah itu. “Oh iya kak, mengenai kak David aku tidak pernah memiliki apapun dengannya.” Ucap Naura menjelaskan satu kebohongan yang sengaja dibuatnya untuk mengusik ego dan emosi Ravael. Kebohongan yang masuk dalam tahap keterlaluan sebenarnya karena saat itu dia bilang pada Ravael kalau dia tidur dengan David karena dia sangat mencintai pria itu. Kedua tangan Ravael kembali melingkar di pinggang Naura, kini dengan. “Aku sudah tau itu.” Jawab Ravael tampak mengalihkan tatapannya untuk beberapa saat. “Bagaimana kak Ael tau?” Bibir Ravael menyunggingkan senyum samar. “Kamu tidak lupakan Patricia dan David sepupuan? Beberapa kali aku pernah bertemu dengannya berbicara sedikit banyak dan dari cara dia menceritakan istrinya, Nathalie aku tau kalau dia tidak akan melakukan sesuatu yang bisa melukai perasaan istrinya. Apalagi saat kamu mengatakannya saat Nathalie masih dalam keadaan sehat. Walau aku harus akui kalau waktu itu aku sangat marah setelah pengakuanmu itu. I feel hurt more than what Patricia had done to me before.” Naura menundukkan kepalanya, hingga kini dahinya ada di d**a suaminya karena dia terlalu malu untuk kebohongannya. Sampai Ravael melanjutkan perkataannya kembali, membuatnya berani untuk bertatapan kembali dengan pria itu. “But thanks to your lie, aku akhirnya menyadari perasaan cintaku ke kamu. Mungkin kalau kamu tidak melakukan kebohongan ini, aku tidak akan pernah menyadarinya sampai sekarang. Aku pasti berpikir kalau perasaan yang kumiliki kekamu itu hanya sebatas tanggung jawab. Tapi karena rasa sakit dan cemburu yang aku rasakan, akhirnya aku sadar kalau perasaan ini bukan sebatas rasa tanggung jawab saja. Bahkan aku baru menyadari kalau perasaan cinta yang sebenarnya itu ada perasaan yang aku punya ke kamu, bukan seperti apa yang aku rasakan ke Patricia.” “Ya?” Naura tidak mengerti. “Sakit yang aku rasakan disini jauh lebih sesak ketika kamu yang mengatakan kalau kamu mencintai David.” Kata Ravael sambil menunjukkan dadanya. “Awalnya aku memang sedikit bingung dengan perasaan itu karena aku merasa asing dengan rasa sakit, sesak dan marah yang aku rasakan ke kamu, sampai akhirnya mama mengatakan kalau perasaan aku ke kamu itu adalah cinta. Kamu tau apa yang mama katakan saat itu kepadaku?” Kepala Naura menggeleng. “Begini katanya mama, ‘Cinta adalah perasaan yang bisa membuat kamu menjadi orang yang paling bodoh didunia. Perasaan itu akan membuatmu  tetap ingin bertahan disamping orang yang kamu cintai meski orang itu mungkin sudah melukai dan menyakiti kamu sangat dalam.’ Kamu taukan apa artinya perkataan mama itu?” Lagi lagi kepala Naura menggeleng. Mengambil napas yang banyak kemudian menghembuskannya. Ravael lalu berkata, “Ketika aku tau Patricia berselingkuh dengan Kevin, mudah buatku untuk memutuskannya dan mengalihkan perhatianku seluruhnya padamu. Tapi ketika kamu menghukumku dengan sangat berat menggunakan anak-anakku, melakukan sesuatu yang sangat melukaiku dan mengatakan kebohongan yang hatiku hancur, aku tetap tidak ingin berpisah denganmu. Aku lebih memilih membebaskan kamu melakukan apapun yang kamu mau dan mengabulkan apapun permintaanmu daripada aku harus berpisah denganmu. Lebih baik buatku hidup dengan luka yang mungkin kamu berikan kepadaku daripada membayangkan hidup tanpamu.” Kepala Naura kembali menunduk, tapi kali ini menunduk seperti hendak menyembunyikan wajahnya pada d**a Ravael. Tangannya sendiri kini berpindah ke leher Ravael dan melingkar disana untuk memeluknya. Lalu tanpa bisa ditahannya, dia menangis. “Maaf...” katanya terisak pelan. “Aku benar-benar salah dan minta maaf karena sudah membuat semuanya menjadi begini.” Naura lanjut menangis. “Kita bahkan harus kehilangan Dathan karena kebodohan aku. Seandainya saat itu aku tidak membuat keputusan yang gegabah kita mungkin tidak seperti ini. Aku juga tidak akan terkena postpartum depression yang berat, hingga hingga hampir membunuh anak kita.” Ya, Naura pernah mengalami postpartum depression. Pemicu pertengkarannya yang paling parah dengan Ravael karena saat itu Ravael salah sangka. Ravael pikir Naura sengaja membiarkan si kembar melemah karena menangis kuat dan tidak diberi ASI karena dia ketahuan oleh Naura setiap malam masuk ke kamar Dathan dan Nathan untuk mengurus kedua anak mereka itu. Ravael tidak tau kalau sebenarnya Naura mengalami postpartum depression yang membuatnya pernah menjatuhkan Nathan dari pangkuannya karena tiba-tiba saja pemikiran untuk menyakiti Ravael melalui anak-anaknya melintas dipikirannya. Kejadian yang sangat membuatnya trauma dan ketakutan sampai sekarang, hingga untuk menyentuh Dathan dan Nathan saja dia tidak sanggup. Dia terlalu takut dan merasa sangat tidak pantas menjadi ibu padaa dua anaknya itu. Mendengar itu Ravael sempat terdiam kaku untuk sesaat, sampai dia bisa menguasai dirinya kembali dan menangkup pipi Naura. Kemudian diarahkannya wajah Naura kewajahnya sebelum memberikannya ciuman yang ternyata cukup berhasil untuk menenangkan Naura. “Harusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Akulah yang membuatmu menjadi begitu.” Kata Ravael setelah melepaskan ciumannya dari bibir Naura. “Seharusnya aku memaksamu untuk mendengarkan penjelasanku dan memperjelas kesalahpahaman kita. Bukannya malah membiarkan kamu larut dalam pikiran-pikiran aneh yang membuatmu malah sakit. Seandainya aku peka dan sedikit memiliki peduli saat itu, bukannya malah mengikuti apa yang aku pikirkan mungkin kita akan menjalani hidup kita layaknya keluarga normal lainnya. Dan Dathan...” Ravael kemudian mengusap pipi Naura yang basah dengan ibu jarinya. “Mungkin masih bersama kita sekarang.” “Maaf,” katanya Ravael dengan parau. Kemudian Ravael kembali memeluk pinggang Naura dan membuatnya kembali benar-benar terbaring di atas tubuh suaminya itu, hingga wajah Ravael berada di ceruk leher Naura. Awalnya Naura sedikit bingung dengan diamnya Ravael, sampai akhirnya dia merasakan basah diceruk lehernya tersebut. Ikut menangis dalam diam untuk menemani Ravael yang juga sedang menangis. Menangisi kegagalan mereka sebagai orang tua, sekaligus penyasalah mereka atas masa lalu yang tidak mungkin mereka perbaiki lagi. BLANC Naura tidak tau sudah berapa lama persisnya dia dan Ravael berhenti menangis dan membiarkan keheningan menemani. Keduanya seolah sepakat untuk membiarkan suasana itu menemani mereka agar mereka bisa lebih tenang lagi. “Hhhh...hufffttt...” Suara helaan napas Ravael memecah keheningan itu, menarik perhatian Naura untuk kembali pada Ravael. “Apakah ini artinya kita telah berbaikan?” Tanya pria itu begitu Naura memutarkan kepalanya dan bertemu wajah dengan Ravael. Untuk sesaat Naura ragu untuk menjawab Ravael. Sebelum kemudian dia tersenyum kecil dan mengangguk. “Tentu saja kita sudah berbaikan sekarang.” Jawabnya dengan suara yang pelan dan serak, sebelum kemudian dia menghilangkan senyumnya dan balas bertanya pada Ravael. “Tapi kak apakah begini saja sudah cukup? Bagaimana dengan Nathan dan Dathan?” Sama seperti Naura, Ravael tidak langsung menjawab. Dia terlihat terdiam sebentar sebelum membalikkan posisi mereka dengan Naura yang kini berada di bawah Ravael, sedangkan Ravael berada diatas Naura dengan menumpu pada sikunya. “Aku tidak akan bisa menjawab bagaimana dengan Nathan Dathan karena aku bukanlah mereka.” Kata Ravael menjawab dengan jujur. “Tapi yang pasti ada satu hal yang harus kita lakukan untuk mereka.” “Apa?” Tanya Naura pelan dan berdebar karena setelah sekian lama dia kembali merasakan keintiman bersama sang suami. “Ayo kita memperbaiki diri kita untuk lebih baik lagi. Mari kita hidup dengan baik dengan belajar dari pengalaman. Kita tunjukkan pada Dathan dan Nathan kalau kita bisa menjadi orangtua yang baik untuk mereka.” Naura tersenyum kemudian mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Ravael. Setelah itu Naura dan Ravael terlibat saling berbalas tatap yang sangat dalam, seolah sedang menyelami apapun yang dipikirkan lawan bicaranya melalui tatapan mata mereka. Lalu tanpa Naura duga-duga Ravael mendekatkan wajahnya kepada Naura dan berkata dengan suara yang seperti berbisik. “Aku mencintaimu Naura, seperti yang pernah aku janjikan pada Tuhan kalau aku akan setia padamu dalam keadaan apapun. Mau dalam keadaan suka maupun duka dalam keadaan sehat maupun sakit. Jadi aku berharap kamupun mau berpegang pada janji itu.” Minta Ravael sambil mengusap-usapkan ringan hidungnya pada hidung Naura. “Hmmm...” Dan Naura hanya bisa mengiyakan permintaan Ravael karena kini dia tidak sanggup mengatakan apapun. Seluruh indra ditubuhnya terlanjur terlalu fokus dengan sentuhan yang diberikan Ravael saat ini kepadanya. Walau begitu dia tetap bisa menjawab Ravael karena otaknya masih bisa bekerja. Ya wau dia memprosesnya seikit lama karena debaran jantungnya dan kedut ditubuhnya terlalu banyak mempengaruhinya. “Kakh... Aelh...” desah Naura  sentuhan ringan Ravael bergerak dari hidungnya menuju rahangnya dan berlanjut ke ceruk leher dan belahan d**a Naura. “Kakhhh... Aelhhh...” Katanya mengerang dan mendesah kagi karena kini Ravael tidah hanya memberikannya sentuhan ringan hidungnya, tapi juga kecupan, ciuman serta hisapan menggunakan bibirnya. Ada sedikit lega dan kecewa yang Naura rasakan secara bersamaan saat Ravael menjauhkan tubuhnya darinya. Lega karena sejujurnya dia merasa gugup untuk melakukan sesuatu yang sangat intim dengan Ravael setelah lebih dari 15 tahun mereka tidak pernah selibat. Lalu kecewa, Naura tidak bisa membohongi dirinya kalau dia menginginkan sentuhan itu berlanjut.  “Apakah kamu keberatan jika kita melanjutkannya?” Suara parau dan serak Ravael menyadarkan Naura dari lamunannya. Membuatnya kembali fokus pada suaminya yang tampak terlihat tenang namun jelas sedang menahan gairahnya itu. Lalu Naura, dia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak kak. Aku tidak keberatan,” jawabnya parau dengan pipi yang merona karena menahan gairah juga. Sedangkan tangannya sudah membawa tangan Ravael ke payudaranya. Naura tau kalau itu adalah tindakan terberani yang pernah dia buat selama bersama suaminya. Dan dia tidak menyesalinya meski sebenarnya dia malu apalagi saat dilihatnya Ravael tersenyum karena tingkahnya itu. Naura sudah akan melemparkan wajahnya kesamping untuk menyembunyikan wajah malu dan meronanya. Namun Ravael menahannya dengan tangan kanannya sembari berbisik di depan wajah Naura. “Naura, let’s make love. Let’s feel our love thourgh of the touch in our bodies.” Setelah mengatakan itu Ravael kembali mencium bibir Naura, kemudian melumatnya. Membuat Naura mabuk kepayang hanya dengan ciuman, hingga tanpa disadarinya Ravael sudah melucuti pakaian mereka berdua. Setelah memastikan tidak ada sehelai benangpun yang akan mengganggu aktifitas mereka, Ravael kembali menyentuh Naura. Pria itu memberikannya sentuhan-sentuhan pada titik sensitive-nya yang mampu membuat Naura merasa melayang. Sedangkan Naura, dia hanya bisa mengerang, mendesah dan mencengkram erat seprai tempat dia berbaring saat ini untuk menahan dirinya untuk tidak menjadi gila karena kenikmatan sentuhan yang diberikan Ravael kepadanya. Sentuhan penuh cinta menurutnya karena Ravael memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Apalagi ketika Ravael mulai akan menyatukan tubuh mereka. Ravael memastikan kalau Naura memang siap dan tidak akan merasa sakit yang amat sangat jika pria itu memasukinya. Sikap Ravael yang itu saja cukup untuk membuat Naura berusaha sekuat tenaga menahan sakit dari pusat tubuhnya saat Ravael memulai memasukinya. Tidak bisa dipungkirinya kalau dia memang merasa sakit setelah ketika Ravael mulai mendorong masuk ke dalam tubuh tubuhnya. Melingkarkan tangannya pada leher Ravael, Naura kemudian ikut bergerak mengimbangi gerakan Ravael dalam tubuhnya. Sakit memang awalnya, namun sakit itu berubah jadi nikmat ketika mereka saling bergerak untuk mendapatkan kenikmatan hubungan itu. Dan ketika dia dan Ravael sampai puncak kenikmatan itu, Naura meneriakkan nama Ravael, sama seperti Ravael yang juga meneriakkan nama Naura. “Aku mencintaimu.” Setelah merasa kosong, Ravael kembali mengatakan perasaannya dan mengecup Naura sebelum kemudian dia mengeluarkan dirinya dari Naura. “Aku mencintaimu juga kak. Terimakasih sudah mau menerimaku dan mau mengisi hidupnya yang kosong dan seperti pohon yang siap mati ini.” Kata Naura tulus. Ravael tersenyum, lalu mengambil mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya dan Naura. Kemudian ditariknya tubuh Naura kedalam pelukannya, membiakan wanita itu tertidur dipelukannya. Mungkin untuk beberapa orang tindakan Ravael ini sangat tidak masuk akal karena bisa-bisanya dia malah bercinta setelah apa yang terjadi pada Dathan. Tapi Ravael memiliki pemikiran sendiri atas tidakannya ini karena buatnya aktifitas mereka barusan sebagai awal dari kehidupan baru rumah tangganya dengan Naura. Dia ingin apa yang baru mereka lakukan tanda bahwa kini mereka kembali saling memiliki dengan berpondasikan cinta. Dia dan Naura akan memulai hidup baru yang lebih baik lagi dengan menggunakan masa lalu mereka yang abu-abu kelam sebagai pelajaran. Sedangkan masa depan mereka yang masih putih, mereka akan mengisinya dengan kebahagian hingga memberikan warna yang lebih indah. Memang dihari depan masih banyak masalah yang masih perlu mereka selesaikan termasuk masalah putra mereka didalamnya, tapi Ravael yakin kalau mereka bisa melaluinya karena sekarang mereka sudah kembali bersama.                                                                                                                                                                                                                                                                                         END   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD