Dyza sama sekali tidak pernah menyangsikan betapa Tuhan menyusun struktur tubuhnya sedemikian rupa hingga layak mendapat nominasi sebagai ciptaan paling kompleks se-alam semesta. Termasuk detektor alami di sistem saraf pusatnya yang terus bekerja menghadirkan perasaan seperti sedang diintai, dilihat, atau diperhatikan. Hanya saja, kemampuan sensorik untuk meningkatkan kemawasan diri tersebut mulai membuatnya resah.
Bukan tidak bersyukur dengan ilusi persepsi yang mematahkan asumsi "sedang diperhatikan oleh sesuatu yang tak kasat" itu. Perlu untuk diketahui bahwa makhluk tak kasat mata yang dapat diterima akal pikiran Dyza hanyalah golongan bakteri dan protista. Masalahnya, sekarang dirinya tidak berada dalam posisi "seperti" sedang diintai, dilihat, atau diperhatikan, tetapi benar-benar sedang diintai, dilihat dan diperhatikan. Dan bila hantu dan sebangsanya itu benar ada, sungguh Dyza lebih memilih diperhatikan oleh mereka ketimbang stalker tidak tahu diri yang membuatnya keki sepanjang hari sampai batagor sebagai menu sarapan sekaligus makan siangnya kehilangan cita rasa.
Siapa lagi kalau bukan Ryo Ayodhya yang tidak semenawan namanya. Dyza tidak mengerti tindak kejahatan macam apa yang sedang direncanakan saudara tiri Azka itu sampai terus mengekorinya tiga hari belakangan, sejak Ryo membebaskannya dari serangan si Canis lupus, Sus scofora dan Macaca fascicularis. Tidak, ini bukan u*****n. Dyza benar-benar tidak tahu dan tidak ingin tahu nama ketiga senior yang merundungnya hari itu.
Ryo memang tidak melakukan sesuatu yang merugikannya secara harfiah. Tapi berada dalam radius sekian meter saja dengan laki-laki yang senantiasa memamerkan senyum palsu itu sudah mampu menghidupkan alarm kewaspadaan Dyza. Apalagi ditatap intens seperti sekarang, naluri bertahan hidupnya aktif seketika.
Dari sudut mata, Dyza yang melihat Ryo berjalan mendekat lekas menghirup udara dalam-dalam, seolah tidak ingin menyisakan satu molekul oksigen pun untuk laki-laki itu dan berharap ia kehabisan napas lalu terserang syok hipovolemik.
"Selamat menjelang tengah hari, Dyza."
Dyza menahan geram dalam hati melihat bagaimana sudut bibir Ryo dengan entengnya membentuk lengkungan indah, yang kontras dengan cara laki-laki itu menjatuhkan tatapan padanya. Ternyata benar bahwa mata adalah jendela hati, sebab hanya dengan melihat ke dalam manik gelap itu, Dyza tahu tidak ada ketulusan dari semua sikap manis yang Ryo tunjukkan.
Musang berbulu domba! Dyza merutuk dalam hati. Bukan, jangan musang. Hewan kecil itu masih tergolong imut. Bagaimana kalau serigala? Ah, tapi di mata Dyza serigala adalah hewan yang penuh kharisma. Macan? Jelas tidak. Dyza bahkan selalu berharap bisa memelihara satu saja dari pemuka ordo Phantera nenek moyangnya Coco itu.
iblis bersayap malaikat! Ya, metafora ini kedengaran sempurna untuk mencitrakan sosok Ryo.
"Kebetulan sekali, ya!" Ryo menarik kursi kosong dan duduk di hadapan Dyza tanpa permisi.
"Ya." Dyza menegakkan duduknya. "Kebetulan Kakak mengikutiku sepanjang hari mulai dari parkiran tadi pagi!"
"Dari depan rumahmu tepatnya."
Dyza bergidik ngeri. Oh, my! Laki-laki ini benar stalker!
Ryo tertawa kecil dan mengibaskan tangannya di udara berulang kali, "Bercanda, Sweetie."
Tunggu! Apa katanya tadi? Sweetie? Mungkin Dyza lupa membersihkan telinganya setahun belakangan sampai salah dengar begini. Tidak ada yang boleh memanggilnya dengan panggilan manis itu kecuali Azka. Ralat, bahkan Azka sekalipun.
"Kenapa terkejut begitu? Terharu, ya? Kalau begitu besok-besok akan kucoba."
"Mimpi!" Dyza bersungut dan berusaha menahan diri untuk tidak meluruskan sendi engsel yang menghubungkan tulang hasta dengan tulang lengan atasnya dan memberi Ryo sebuah pukulan tepat di wajah.
Ryo ikut bangkit dan menahan tangan Dyza yang siap beranjak setelah menggebrak meja cukup keras. Dua hal yang disesali Dyza setelahnya adalah perih di lapisan kulit tangannya yang tidak mampu meredam gaya tolak dari meja, berikut beberapa pasang mata yang tertuju pada mereka.
"Apa, sih!" Dyza menampik tangan Ryo.
"Oke! Oke!" Ryo mengangkat kedua tangannya dan tersenyum tanpa dosa. "Gadis manis tidak boleh main kasar."
Beruntung sekali gelas minuman Dyza sudah kosong. Jika tidak, Dyza tidak bisa menjamin tidak mengguyur Ryo dengan air perasan jeruk segar.
"Tunggu, Dyza!" Ryo mengambil langkah memutar, menghalangi jalan Dyza, "Kamu ada waktu nanti malam?"
Dyza merungus. Pertanyaan basa-basi macam ini paling tidak disukainya. Manusia hidup dalam dimensi yang dilingkupi ruang dan waktu. Maka selama Tuhan belum menghapus eksistensinya, tentu saja ia punya waktu.
"Kalau malaikat belum menjemputku nanti malam, berarti aku masih punya waktu."
Ryo menguyar rambutnya sambil terkekeh. "Jangan bilang malaikat sambil menatapku seperti itu." katanya berlagak tersipu.
Untuk kesekian kali, Dyza meragukan fungsi indra pendengarnya.
"Sayang sekali malaikat yang kumaksud adalah malaikat maut." Dyza menghentakan kakinya sekali lalu memutar badan, mengambil arah berlawanan dengan tujuan awalnya.
"Malaikat maut, ya. Boleh juga." Ryo mengelus dagu dan menatap punggung Dyza yang menuju gedung laboratorium. Ya, anak farmasi memang terkenal paling sibuk se-fakultas.
Ryo memilih memperhatikan Dyza dari jauh. Keterkejutan dalam dirinya berganti menjadi ekspresi kebingungan melihat gadis yang hampir jatuh tersandung itu berbalik dan membungkuk berulang kali—entah pada siapa. Apa mungkin pada kerumunan semut yang tidak sengaja diinjaknya?
Ryo menopang dagu dengan sebelah tangan. Ia tersenyum penuh pada Dyza yang langsung mengerutkan wajah saat tidak sengaja menoleh ke arahnya dan bertemu mata."
Gadis yang menarik. Pantas Azka mencintainya mati-matian," sorot mata Ryo berubah menjadi kelam, "sampai mati, lebih tepatnya."
*****
To be Continued