02. Latecomer

1145 Words
Kantor Pusat Kementerian Perhubungan Dunia Medieter Divisi Pencarian dan Pertolongan Arwah Zen memutar kursinya dengan malas. Sepatu laras kokoh yang sedari tadi mengetuk lantai berbahan dasar granit di ruang kerjanya digeser sedemikian rupa, hingga sekarang posisinya tepat menghadap ke jendela. Sewaktu mengikuti tur saat masih menjalani hari-hari sebagai pelajar di jurusan Pendidikan Kematian, Zen berpikir bisa bekerja di kantor dengan arsitektur termegah se-Medieterania Raya ini adalah hal yang sangat membanggakan. Kenyataannya, asumsi tersebut hanya bertahan kurang lebih satu minggu bila dikonversi ke dalam perhitungan waktu manusia. Ya, meski variabel waktu di dunia peralihan tersebut masih berlaku, besarannya sedikit berbeda. Tapi Zen lebih senang menggunakan waktu manusia. Perhitungan waktu di dunianya itu melibatkan titik nol dan kelengkungan ruang, salah satu kompetensi dalam mata kuliah umum--Metafisika--yang membuat urat syaraf semu di kepalanya berdenyut hebat. Zen anti dengan segala hal yang melibatkan perhitungan matematis rumit. Zen memandang horolog di pergelangan tangannya. Alat serupa arloji dengan tiga konograf tersebut berfungsi untuk mengkonversi satuan masa dan membantu para Luxa menyesuaikan zona waktu mereka pada dimensi ketiga yang dihuni manusia. Horolog juga memungkinkan pemiliknya mengatur arus waktu dalam batas ruang tertentu. Berbicara perihal ruang dan waktu, Zen akan berbagi cerita singkat tentang tiga dimensi yang dibatasi oleh dua kontinuitas tersebut. Dimensi pertama disebut dimensi immortal, tempat para malaikat, iblis dan semua makhluk kekal lainnya bersemayam. Dimensi kedua adalah dunia Medieter, dunia transisi yang dikenal dengan istilah Medeiterania Raya. Sedangkan dimensi ketiga adalah dimensi mortal yang dihuni manusia dan semua makhluk hidup. Perbedaan mendasar dari makhluk yang menghuni ketiga dimensi tersebut adalah keterikatan mereka dengan dua kontinuitas yang melingkupinya. Makhluk di dimensi pertama tidak terikat ruang dan waktu, mereka dapat menembus ruang dan hidup abadi sampai akhir waktu yang ditetapkan Yang Maha Kuasa. Makhluk transisi di dunia peralihan--termasuk Luxa memiliki kemampuan menembus ruang, namun eksistensinya masih terbatasi waktu. Mereka bisa melakukan teleportasi dan hidup selama periode waktu tertentu yang manusia sebut dengan istilah usia. Adapun makhluk mortal di dimensi ketiga memiliki keterbatasan akan keduanya, mereka fana dan pergerakannya dibatasi ruang. Di luar itu,  ada satu lagi hal yang membedakan Luxa dengan penghuni dimensi pertama dan ketiga. Bahwasanya Luxa diciptakan karena permintaan roh pendahulunya, berbeda dengan melaikat,  iblis, dan manusia yang sudah tertulis di buku takdir. Karena itu, walaupun portal dimensi pertama sangat dijaga ketat dan tidak bisa dimasuki oleh makluk dunia kedua dan ketiga, hal-hal terkait mereka lebih dikenal manusia dibanding Luxa dan dunia Medieter. Kehidupan sebagai seorang Luxa bisa disebut sebagai kesempatan kedua karena kemurahan yang Maha Kuasa.  Dan seperti halnya manusia yang tidak mengingat janjinya di alam roh kepada Tuhan, demikian pula dengan Luxa yang tidak mengingat kehidupannya di masa lalu. Zen jelas tidak akan menentang Sang Pencipta dengan mempertanyakan masalah tersebut. Hanya saja, ia terkadang dibuat tidak mengerti hal apa yang membuatnya ingin menjalani hidup seperti sekarang dan mengabaikan golden ticket untuk masuk surga. "Ah,  sial! Aku mengantuk sekali!" Zen menguap lebar. Kronograf yang telah di atur Zen sejak pertama kali ia dilantik menjadi anggota dalam tim Soul Search and Rescue (SSAR) menunjukkan angka 37. Itu berarti sudah hampir sebulan lamanya ia belum mendapatkan misi pertama. Tentu kurun masa tersebut hanya perumpaan saja. Sebab waktu di dunia kedua bersifat dinamis, hanya mengacu pada gelombang waktu umum yang terus berjalan menuju hari akhir. Tidak dibagi berdasarkan garis geografis, juga tidak berpatokan pada peredaran bulan, bumi atau benda angkasa lainnya. Jemu dengan ruangan berdinding pualam yang dihiasi profil dari susunan batu mulia langka yang dulu sukses membuatnya rahangnya terbuka maksimal, Zen mengalihkan pandangan ke luar jendela, pada halaman utama gedung Kementerian. Patung emas raksasa yang menggambarkan Luxa dan arwah saling berjabat tangan berdiri megah di sana. Patung tersebut adalah representatif peranan Kementerian Perhubungan, dengan dua tangan yang saling berjabat adalah simbol resminya. Seperti tiap mural berlapis emas yang terukir sempurna di dinding interior kantor, juga yang tersulam di seragam setiap anggota divisinya—termasuk Zen sendiri sebagai seorang Seeker. Sesungguhnya ada beragam jenis makhluk di dunia Medieter, tetapi Luxa adalah makhluk yang diberi wewenang untuk memimpin dan mengatur segala urusan di alam peralihan tersebut. Seperti halnya bumi yang dihuni beragam makhluk hidup dengan manusia yang ditunjuk sebagai sebagai "khalifah". Dalam menjalankan perannya itu, Luxa terbagai menjadi menjadi beberapa profesi. Mereka yang bekerja pada kementerian perhubungan dan lembaga terkait "kematian" lainnya adalah pemegang profesi krusial dan terpandang, selain profesi yang berhubungan langsung dengan para malaikat. Sebagai seeorang Seeker dengan kemampuan sensorik alami, Zen boleh berbangga diri. Sama halnya dengan manusia, Luxa juga memiliki bakatnya masing-masing. Dan kemampuan sensorik yang mampu mendeteksi beragam gelombang energi adalah satu dari sedikit bakat yang langka. Seeker adalah profesi yang berperan sebagai pencari arwah. Tugas utamanya adalah untuk mencari dan menyelamatkan roh-roh yang tersesat lalu mengantarkannya menuju terminal perbatasan pintu langit, sebelum mencapai batas waktu 120 hari setelah kematian dan menjadi arwah penasaran selamanya. Pada hakikatnya, roh lebih dahulu tercipta sebelum segala sesuatu di alam ini. Mereka berkumpul di suatu tempat di langit ketujuh. Fase ini disebut before zero, tahap di mana jiwa-jiwa belum memulai kehidupannya. Setelah mengikat janji dengan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, pada waktu yang telah ditetapkan, roh tersebut akan ditiupkan ke dalam janin yang berumur sekitar empat bulan. Hal ini yang mendasari mengapa roh yang terlepas dari raganya setelah kematian tidak boleh melewati batas waktu 120 hari. Sebab tubuh mortal yang telah mengalami dekomposisi hanya dapat dibangkitkan kembali sebelum mencapai kurun waktu tersebut. Oleh karena itu pula, pintu alam kubur akan tertutup setelah 120 hari setelah kematian. Selanjutnya roh menjalani fase kehidupan dan hidup sampai batas usianya. Di penghujung hidup nanti, malakat maut akan menarik roh tersebut hingga terlepas dari tubuh mortalnya. Lalu, Luxa yang berperan sebagai Ductor akan menjemput sang arwah menuju dunia peralihan. Di alam peralihan, arwah akan diberi waktu menyelesaikan segela urusannya di dunia dengan batas 120 hari untuk memperoleh sertifikat pemberangkatan menuju terminal perbatasan pintu langit. Setelah urusannya di langit selesai, barulah arwah akan dikembalikan ke alam kubur untuk menanti hari kebangkitan. Urusan di alam langit dan di alam kubur adalah wewenang para malaikat. Zen tidak bisa berbicara banyak soal itu. Protokol tugasnya sebatas mencari dan mengantar arwah. Adapun bila para arwah tidak bisa menyelesaikan urusannya sebelum batas waktu tersebut, maka dengan sangat disayangkan mereka akan menjadi arwah penasaran yang terkatung-katung di antara langit dan bumi. Sebab alam langit tidak memberikan izin untuk masuk, sementara alam kubur tidak bisa menerima mereka kembali. Kemungkinan lebih buruk lagi, arwah penasaran tersebut bisa menjadi pengikut iblis, musuh nyata yang selalu tidak disadari manusia. Zen menghela napas berat lalu menyandarkan kepala di punggung kursi. Ada ratusan bahkan ribuan arwah tersesat di luar sana, tetapi tidak ada satu pun yang terhubung ke soul scanner miliknya. Soul scanner adalah alat pemindai roh yang sangat membantu para Seeker dalam melacak arwah. Walau Zen memiliki kemampuan sensorik, dalam radius tertentu—terutama bila sang arwah berada di dunia manusia—kemampuan tersebut akan menurun. Soul scanner juga telah terbuhung ke Medieterium untuk koordinasi protokol. Saat Zen bangkit dan berniat mencari kegiatan di luar ruangan, getar di saku jubahnya membuat ia berhenti sejenak. "Awas saja kalau peringatan penggunaan kuota lagi!" rutuknya. Zen menatap antarmuka ponselnya dengan kedua alis saling bertaut. Tidak ada notifikasi apapun di sana. Siapa sangka, getaran tersebut berasal dari soul scanner milikiknya. Zennius Arsenio SSAR Squadron  Status : Seeker I You have a mission Zen hampir berteriak histeris mendapat pemberitahuan tersebut. Diperhatikannya tiap detail protokol di sana dengan seksama. "Protokol dipahami!" Zen berujar mantap. Destinasi yang akan ditujunya setelah ini adalah sebuah kampus di dunia manusia. ***** To be Continued  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD