09. Recession

1748 Words
Zen berdiri di depan sebuah kompleks pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung. Ada berbagai jenis keluhan dalam hatinya yang tidak diutarakan. Bukan soal persidangan kemarin. Konferensi tersebut bisa dikatakan berakhir baik dengan beberapa syarat dan ketentuan. Tentu saja. Bila tidak, Zen tidak akan menyaksikan kerumunan orang di sini.      "Awas! Air panas! Air panas!"       Zen baru memutar kepala pada sumber kegaduhan di belakangnya saat sibuah sikutan membuat tubuhnya terdorong ke samping.      Dasar manusia! umpat Zen menggosok pelipisnya yang terbentur tiang listrik. Hal inilah yang membuatnya tidak menyukai kerumunan bila tidak berwujud roh. Manusia selalu egois dan ingin menang sendiri. Padahal, apa susahnya mengantri dan berjalan teratur? Itu tidak akan mengurangi umur!       Terlebih, berada di antara orang banyak membuat kemampuan sensoriknya terasa kacau. Setiap sel--struktur terkecil makhluk hidup--memancarkan energi dengan arah gayanya masing-masing, menyatu membentuk medan listrik yang dikenal dengan istilah aura. Sementara roh tanpa wujud hanya memancarkan gelombang linier yang mudah teridentifikasi.      Teknisnya, roh, arwah, atapun yang disebut manusia sebagai hantu merupakan gelombang elektromagnetik--merambat tanpa medium--yang berenergi rendah. Frekuensinya berada di antara gelombang mikro dan gelombang infrared dengan "panjang gelombang" yang lebih tinggi dibanding "panjang gelombang" visible light atau cahaya tampak yang bisa dilihat manusia.      Oleh sebab itu, mereka tak kasat mata dan tidak bisa didengar maupun disentuh oleh indra manusia biasa. Teknologi dimensi ketiga untuk mendeteksi gelombang tersebut pun belum ditemukan. Tak heran sebagian dari manusia masih menganggapnya mitos. Padahal justru kepekaan indra mereka yang terbatas.      Kemampuan sensorik Zen hampir serupa dengan sistem Radio Detection and Ranging atau radar. Bila sistem radar menggunakan gelombang mikro untuk mendeteksi keberadaan suatu materi, maka Zen menggunakan bakat alaminya--anugerah langsung dari Yang Maha Kuasa--untuk menangkap keberadaan gelombang yang dipancarkan arwah.      Sayangnya di dunia mortal, interferensi dari aura makhluk hidup terutama manusia sering kali membelokkan pancaran energi dari sensornya. Maka dari itu, bagaimanapun juga seorang Seeker membutuhkan soul-scanner dengan detektor dari paradise stone yang stabil.       "Zen!"      Zen di pintu masuk sebuah kafe menoleh ke pojok kiri ruangan. Dua orang berparas identik yang habis ber-selfie ria kompak melambaikan tangan padanya. Mereka adalah teman lamanya, Rava Madagara dan Reva Madagara. Dua saudara kembar yang bertugas sebagai translator sekaligus informan ganda untuk dunia peralihan dan dunia manusia.      Rava dan Reva memiliki kemampuan telepati yang luar biasa. Mereka memiliki indra yang saling terhubung. Segala apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh Rava, akan dilihat, didengar, dan dirasakan pula oleh Reva. Kemampuan ini berlaku untuk seluruh Luxa yang memiliki saudara kembar identik dengan presentasi 25% dari total keseluruhan populasi.      Zen mengambil tempat berhadapan dengan Rava dan Reva yang antusias dengan kedatangannya. Zen menatap keduanya bergantian. Interferensi pada kemampuan sensoriknya membuat Zen kesulitan mengindetifikasi mereka. Padahal di dunia Medieter, dari jarak sekian meter saja perbedaan gelombang energi mereka sudah terasa.      "Kalian yang mana Rava yang mana Reva?"      Rava dan Reva melirik satu sama lain lalu tersenyum jahil.      "Bila aku berbohong, maka aku adalah bukan Rava."      Rava menoleh pada Reva yang langsung mengerti isyaratnya.      "Bila aku jujur, maka aku adalah dia bila berbohong."      Zen memijat pelipisnya, sudah cukup resah karena terganggu dengan kerumunan orang, ia harus dibuat lebih pusing lagi oleh dua saudara kembar ini.      Sementara Rava dan Reva yang melihat reaksi Zen tergelak bersama-sama. Kapan lagi bisa mengusili Seeker seperti Zen yang selalu kebal tipuan mereka dengan sensornya.      "Maafkan kami Zen, kapan lagi coba, bisa menjahilimu." Rava merangkul Reva. "Ini Reva."      Reva mengangguk lalu menunjuk Rava. "Dan ini Rava."      "Bisa tidak kalian memperkenalkan diri sendiri, saja?" Zen mendengus.      Rava berdalih, "Pada dasarnya bicara pada Reva adalah bicara denganku juga. We are connected."      "Benar, lebih cepat dari koneksi internet di NASA!" dukung Reva.      "NASA?" "National Aeronationics and Space Administration. Lembaga penelitian ruang angkasa milik Amerika Serikat." Mata Reva berbinar, "Percayalah, rasa keingintahuan manusia itu sangat besar sampai mengurusi hal-hal di luar bumi ini."      Rava tersenyum miring. Berbeda dengan Reva yang tugasnya meliput dunia ketiga dan begitu mengidolakan manusia, Rava yang lebih fokus pada informasi seputar dunia Medieter lebih memandang manusia dari sisi buruknya. Baginya, manusia adalah ciptaan paling sempurna sekaligus yang paling tidak tahu diri dan kurang bersyukur.      "Itu namanya kepo!" Rava bersedekap. "Kamu tahu, Zen? Salah satu tujuan lembaga kontroversial itu adalah memperluaskan dan mempertahankan aktivitas manusia di seluruh tata surya. Seluruh tata surya, men! Benar-benar serakah! Bisa-bisa besok satu galaksi yang ingin mereka kuasai."      "Jangan berprasangka buruk pada manusia! Itu bagian dari ilmu pengetahuan! Tuhan akan menaikkan derajat orang-orang yang berilmu!" Reva memasang wajah tak terima dan berdiri dari duduknya.      Rava ikut berdiri menantang Reva, "Tapi coba bayangkan bila manusia benar berhasil membangun peradaban di planet lain! Teleportasi ke sana kejauhan! Pegal, tahu! Itu juga bagus kalau kita tidak tertabrak asteroid!"      Zen yang sedari tadi menjadi penonton untuk perang saudara tersebut akhirnya mengambil alih situasi begitu pengunjung kafe yang lain mulai menengok ke arah mereka.      "Kalian berdua, sudah! Orang-orang melihat!" Zen menarik keduanya untuk duduk kembali. "Aku tak paham banyak soal antariksa. Tapi bukankah manusia tidak bisa menembus ruang? Bagaimana mereka sampai ke luar angkasa?"      "Mereka punya pesawat canggih, Zen! Sangat cepat walau tidak secepat laju Burak." jawab Reva semangat.      "Tapi tiketnya kemahalan!" sergah Rava lagi. "Mending wisata ke Raja Ampat!"      Zen berpikir sebentar. "Itu mudah. Gunakan saja wujud roh kalian lalu menumpang di pesawat itu."      Rava dan Reva bertukar pandang, "Benar juga! Kamu jenius, Zen!"      Zen tersenyum bangga lalu  menyeruput minuman yang terhidang di meja. Air mukanya mendadak kecut. "Minuman apa ini?!"      "Itu namanya matcha."      Zen mengecap beberapa kali dengan kening berkerut. "Rasanya seperti pengharum ruangan di kantorku."     "Memang kamu pernah meminum pengharum ruangan di kantormu, Zen?"       Rava dan Reva kembali menertawakan Zen.      Zen baru akan membela diri saat telinganya yang peka menangkap gelombang suara berenergi negatif dari arah seberangnya.      "Orang-orang aneh!"      Lekas Zen menoleh, mendapat seorang lelaki berwajah tirus dengan garis mata tajam. Sebelah alisnya terangkat begitu melihat Zen, lalu dengan seringai tipis ia kembali bercandai ria dengan seorang perempuan dalam rengkuhannya.      Zen meneruskan minumannya lalu mengambil sepotong kue coklat, berusaha mengalihkan perhatian. Ekor matanya mengikuti lelaki tadi yang kini berdiri dan mengantar sang perempuan menuju pintu keluar.      "Wah, cewek baru lagi, Ryo?"      "Haha ... pemanasan, Bro! Dia lumayan menarik, tapi membosankan."      "Bagaimana dengan tunanganmu?"       "Persetan dengan perempuan matre itu. Dia sudah tidak berguna sekarang."      Zen mengepalkan tangan mendengar bagaimana lelaki tersebut berkelakar, seolah yang adalah hal yang biasa. Jadi namanya Ryo. Manusia terkutuk!      "Manusia seperti mereka yang bikin malaikat pencatat amal buruk banyak kerjaan." Rava berujar begitu menyadari Zen memperhatikan dua lelaki yang duduk di meja sebelah. "Mungkin catatan keburukan mereka sudah sampai jilid 10."      "Tapi mau bagaimana lagi? Manusia bertanggungjawab atas dirinya masing-masing. Catatan amal mereka itu urusan malaikat. Protokol umum kita sebagai Luxa adalah tidak mencampuri kehidupan manusia." Reva menyalakan ponselnya, "Ngomong-ngomong profil perempuan yang kamu minta sudah kami rekap. Dia cukup cantik sebagai manusia. Dia juga sudah putus dari pacar terakhirnya 6 bulan yang lalu."      Zen hanya mengangguk-angguk. "Ah, ini benar dia!" serunya begitu melihat foto perempuan bernama Dheryza Akselia-yang penah menabraknya tempo hari.      Ternyata dia manis juga kalau senyum begini. Zen membatin.      "Tidak banyak yang informasi tentangnya. Dia tidak begitu mempromosikan diri di i********: dan media sosial lain." Rava mendesah. "Tapi sepertinya dia bukan anak indigo.      "Indi ... apa?"      "Indigo, kemampuan berinteraksi dengan roh." Rava mencebik malas, "Sejauh ini makluk selain manusia yang sering diajaknya bicara hanya seekor kucing bernama Coco yang dipeliharanya.      "Instastory dan status w******p-nya rata-rata tentang tugas dan pembelajaran!" Berbanding terbalik dengan Rava, Reva justru menatap kagum pada profil Dyza. "Dia juara umum semasa sekolah. Kamu harus tahu, Zen.  IPK-nya selama enam semester berturut-turut 4,0! Luar biasa, 'kan?"      Zen mengangguk lagi. "Tapi i********: dan w******p itu apa lagi?"      "Ya ampun, Zen! Itu media sosial terpopuler! Kamu bisa berbagi foto dan video tentang aktivitasmu di i********:. Sangat cocok sebagai media untuk berpamer ria." Rava meneguk minumannya sebentar. "Tapi pamer itu dosa dan dicatat di buku amalan buruk."      Reva mengamini, "Kalau w******p itu aplikasi pesan dengan paket internet, mirip seperti Med-chat yang kita gunakan setiap hari.      Oke. Zen mulai pusing dengan banyak istilah baru yang didengarnya. Ia lalu memfokuskan perhatian pada informasi tentang perempuan yang menabraknya di hari itu sampai seruan dari Rava menjeda.      "Gawat, Zen!" ujar Rava yang baru kembali sehabis menerima telpon.      Zen mengangkat kepala, "Ada apa?"      "Aku baru saja mendapat kabar kalau gadis itu memblokir email kementerian!"      Reva yang sedang menyuap cheese cake-nya tersedak. "Gila! Berani sekali dia!"      "Dia menolak datang? Tapi ini panggilan resmi!" Zen menyibak rambutnya ke atas, mulai dilanda panik.      "Itu dia masalahnya!" Rava duduk di sebelah Zen. "Kementerian bukan tidak mungkin akan melakukan paksaan. Sidang penting ini tidak mungkin ditunda."      "Maksudmu?"      Reva menghadap Zen. "Rohya bisa ditarik paksa dalam keadaan tidak siap."      Zen bangkit. "Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus memperingatinya!"      "Kamu mau kemana?" Reva dan Rava kompak menahan Zen.      "Menemui manusia itu."      "Tunggu!"      "Kenapa?"      "Bayar semua ini dulu."      Zen menerima kertas bill yang disodorkan Reva, ada sangat banyak menu di sana, yang bahkan sudah dipesan kembar bersaudara tersebut sebelum kedatangannya. "Kenapa aku?"      Reva dan Rava kompak menatap Zen dengan kitty-eyes. "Ayolah Zen, yang seperti ini tidak ada apa-apanya untuk seorang Seeker yang punya banyak permata sepertimu. Kamu tahu, kami cuma bisa makan makanan enak seperti ini sekali-kali karena harus bayar kosan di dunia manusia."      "Kosan?"      "Semacam tempat tinggal berbayar. Kami tidak bisa terus-terusan berwujud roh saat bertugas, kami juga tidak bisa bolak balik ke dunia Medieter. Kami juga butuh tempat tinggal di sini." Rava berujar seperti orang putus pengharapan.      "Skefo, ibu kos kami galak," tambah Reva.      "Bilang saja kalian memang betah disini!" Zen merungus sementara Rava dan Reva hanya menyengir tanpa dosa. "Baiklah. Tapi bantu aku mencari tempat yang aman untuk bertemu dengan perempuan itu."      "Serahkan tugas itu pada detektif Reva dan Rava!" seru Reva dan Rava menirukan gaya khas Upin dan Ipin.   Zen menggeleng sebagai respon lalu membawa kertas bill di tangannya menuju kasir. Dalam hal ini Reva dan Rava memang lebih berpengalaman. Zen bisa mempercayakan urusannya pada mereka berdua. Lagipula, Reva dan Rava benar,  reward antara Seeker dengan informan itu jauh berbeda.      "Totalnya tiga ratus ribu rupiah."      Zen mengeluarkan dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang. Memang nominal yang dimaksud bukan jumlah yang besar, namun Zen tetap menyayangkan sesuatu dalam hati. Makanan di sana tidak sesuai dengan seleranya. Terlalu manis. Zen tidak suka sesuatu yang terlalu manis, sebab sesuatu yang terlalu manis akan membuat pahit makin terasa.      Zen mengambil struk dan uang kembalian dengan menghela napas.      Padahal aku bisa dapat 30 mangkuk coto dengan uang segitu, gratis ketupat dua lagi! ***** To be Continued  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD