10. Bad Memories

985 Words
Dyza memang seorang penggemar ilmu eksaksta, pengetahuan bersifat konkret yang diperoleh berdasarkan pada percobaan dan dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Namun, ia tidak menampik masalah intuisi dan firasat. Hal yang pernah dibuktikannya sendiri.      Dyza meremas ujung jas laboratoriumnya. Sekarang ujian praktikum sedang berlangsung, tetapi ia harus berada di ruang perawatan poliklinik karena tangannya terkena pinggiran microwave saat mengaktifkan lempeng silica gel. Luka bakarnya tergolong ringan, namun sedikit terlambat ditangani karena Dyza ngotot menyelesaikan ujiannya.      Dyza bukan tipe perempuan yang berlebihan dalam dalam masalah penampilan. Segores bekas luka bakar di punggung tangannya tidak akan membuatnya histeris sampai mati-matian mencari produk perawatan bekas luka terbaik. Gel luka bakar yang diberikan perawat tadi baginya sudah cukup. Sisanya biarkan proses regenarasi alami kulit yang bekerja.      Deg!       Dyza memegangi dadanya yang sesak. Air matanya mengalir tiba-tiba. Ada gejolak perasaan yang mendorongnya untuk menangis. Perasaan yang sama seperti yang ia rasakan pada malam sebelum perjalanannya ke luar kota bersama mama dan papa. Sehari sebelum kecelakaan terjadi.      "Mama ... papa ....." lirih Dyza disela tangisnya.       Hari itu Dyza bersama kedua orang tuanya menuju kota seberang untuk urusan binis sang papa sekaligus liburan. Dyza sempat melupakan perasaan tidak enak dalam hatinya saat bermain air di pantai bersama mama dan papanya. Namun kebahagiaan itu rupanya berakhir dalam waktu singkat. Di perjalanan pulang, tanah longsor membuat underpass yang mereka lewati ambruk. Dyza tidak menyangka liburan manis yang baru saja ia nikmati menjadi liburan terakhir mereka.      Dyza mengusap air mata di pipinya. Perasaan mengganjal dihatinya sejak kemarin membuatnya tidak tenang. Dua hari yang lalu ia tersiram air panas dan menghancur gelas di dapur. Kemarin ia menjatuhkan bingkai foto dan m*****i foto Azka dengan darah dari tangannya yang tergores kaca. Di laboratorium saat tersengat piringan besi microwave tadi, ia pun tidak sengaja menyenggol kotak alatnya sendiri hingga beberapa tabung reaksi dan pipet kaca pecah.      Untuk mewanti-wanti firasat buruk tersebut, Dyza sudah menghubungi kakeknya di rumah. Kakek Andrew terdengar baik-baik saja. Bahkan kakeknya itu bercerita dengan antusias bahwa ada dua orang temannya yang berkunjung ke rumah. Tentu hanya halusinasi belaka. Dyza memang jarang mengundang orang ke rumahnya. Sejauh ini hanya Azka yang sering berkunjung. Bahkan Erika hanya pernah datang sekali.      "Azka ...." Dyza bergumam, teringat pada Azka.      Dyza mungkin membenci mantan pacarnya itu sekarang. Tapi ia tetap mengkhawatirkannya sebagai sesama manusia.      Dyza membuka profil Azka di ponselnya. Pesan terakhir yang dikirim Azka sekitar empat bulan lalu, sebelum laki-laki itu benar-benar menghilang dari hidupnya.      Mungkin terlihat kejam, tapi Dyza punya alasan kuat untuk mengabaikan Azka saat itu.      Sama seperti dirinya, Azka hidup sendiri. Kedua orang tuanya bercerai, ibunya sekarang menetap di luar negeri, sedang ayahnya menikah lagi dengan ibunya Ryo.      Dyza tidak tahu banyak soal keluarga Azka. Untuk masalah itu Azka sedikit tertutup dan Dyza cukup tahu diri untuk tidak mempertanyakannya.      Menjelang masa ujian praktikum di semeter kemarin, komunikasi Dyza dan Azka memang kurang baik. Azka hanya mengabari sesekali, itupun lebih sering menanyakan kabar Dyza saja atau sekedar mengingatkannya untuk makan. Azka tidak memberi jawaban untuk keadaannya.      Dyza yang berpikir Azka ingin memberinya waktu untuk belajar tenang-tenang saja. Sampai kemudian Ryo datang dan memberi kabar bahwa Azka sudah bertunangan. Dyza yang sibukkan dengan persiapan ujiannya menjadi benar-benar kacau.      Beberapa hari berselang, perempuan yang mengaku tunangan Azka menemui Dyza dan memintanya untuk tidak mengganggu hubungannya dengan Azka. Sungguh, Dyza merasa hidupnya bagaikan tokoh antagonis dalam tayangan klise tidak bermutu di telivisi.      Dyza tentu bersikap defensif, hubungannya dengan Akza sudah berjalan lama. Siapa yang merebut siapa dari siapa, coba?      Sayang, saat perempuan tersebut membawa-bawa statusnya dan memberikan bukti, Dyza tidak bisa membantah lagi. Keadaan memaksanya untuk mengalah.      Yang lebih menyakitkan bagi Dyza adalah Azka yang tiba-tiba kembali padanya dengan tenang, tanpa rasa bersalah sama sekali. Dyza mungkin akan sakit hati bila Azka berkata jujur, tapi melihatnya baik-baik saja seolah tanpa masalah, Dyza merasa dipermainkan.       Tak tahan dengan drama yang menyakiti dirinya sendiri, Dyza pun memutuskan untuk mengakhiri hubungannya mereka. Azka masih terus menghubunginya, bahkan berkunjung ke rumahnya untuk memberi penjelasan, tapi Dyza sudah terlanjur sakit hati. Sampai sebelun kemudian Azka benar-benar berhenti mengusiknya. Entah karena lelah atau sudah bahagia dengan tunangannya. Dyza tidak ingin tahu.   "Bagaimana, Sweetheart? Masih sakit?"      "Nggak apa-apa kok, Rama."      "Dasar pinggaran meja terkutuk! Bisa-bisanya dia melukaimu!"      "Aku yang kurang hati-hati."      "Tetap saja pinggiran mejanya yang salah!"      Dyza berbalik mendengar kegaduhan di bilik sebelah. Dua orang seniornya sedang bercengkrama di sana. Mereka tampak harmonis.      "Bisa jalan? Sini, kubantu!"       "Rama, ini cuma luka kecil."      "Jangan bandel, Chelly. Sini, pegang tanganku. Kamu akan kesulitan naik tangga dengan keadaan begini. Huh, kenapa juga kampus kita tidak ada lift-nya?! Nanti kuminta Rean untuk mengajukan proposal pada si Godzilla jomblo gila kerja itu!"      Diam-diam Dyza tersenyum mendengarnya. Bahagia sekali mereka.      "Dyza!"      Dyza menoleh cepat begitu mendengar seseorang menyerukan namanya. Tak lain Erika, satu-satunya teman dekat yang ia miliki di kampus.      "Ujian sudah selesai?" tanya Dyza setelah memalingkan wajah sejenak untuk menghapus jejak air matanya.      Erika mengangguk lalu ikut duduk dan mengatur napasnya yang tersengal. Diliriknya Dyza yang beberapa kali menyeka hidung, gadis itu jelas sudah menangis.      "Ngomong-ngomong, selamat, ya!" Erika menyunggingkan senyum lebar, berusaha mencairkan suasana.   "Untuk?"      "Nilai ujianmu paling tinggi se-angkatan."      "Oh, itu. Kupikir apa."      Erika bersedekap. "Huh! Orang jenius memang beda. Tangan terkena besi panas pun tetap bisa berpikir." "Kan, bukan tangan yang berpikir." Dyza tersenyum kecil. "Jadi itu yang membuatmu heboh?" Erika menjawab dengan anggukan kecil, bibirnya masih dibuat manyun. Dyza hanya tertawa kecil lalu bangkit. "Ayo, barang-barangku masih di laboratorium." "Oke,." Erika menatap punggung Dyza yang selalu terlihat tegar lalu berjalan mengiringinya keluar dari poliklinik menuju gedung laboratorium. Tanpa mereka sadari, Ryo mengamati dari jauh dengan tatapan tertuju pada Dyza.  “Bagaimana?” tanya Ryo seseorang di balik telpon seluler yang menempel di telinganya "Sudah tidak ada harapan." Seringai yang terkembang di wajah Ryo kontras dengan konotasi negatif yang baru di dengarnya. Ia menutup pembicaraan telpon tersebut dengan seulas senyum licik. “Selamat tinggal, Azka.”   ***** To be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD