07. Occurrence

1799 Words
"Saudara Zennius Arsenio, Anda mendapat undangan menghadiri persidangan atas kasus kelalaian mempertahankan arwah."    Zen tidak pernah mendapat undangan sebelumnya. Ini kali pertama. Sayangnya, undangan perdana tersebut justru mengantarkannya ke tempat paling menakutkan kedua setelah neraka, Pengadilan Tinggi Dunia Medieter. Zen masih ingat jelas betapa tidak bersahabatnya Luxa yang bertugas mengantarkan undangan padanya tadi, yang menekankan namanya berikut kelalaian yang tidak disengaja dilakukakannya, seperti ia seorang pendosa yang layak menjadi bahan bakar neraka saja.    Oke, Zen mengakui kesalahannya itu bukan hal yang sepele. Seorang arwah ditangkap iblis--yang untungnya segera diketahui oleh malaikat yang kebetulan melintas. Seorang arwah lainnya lagi menghilang dan belum ditemukan sampai sekarang. Tapi atas nama Tuhan, Zen bersumpah tidak memiliki sedikit pun niat untuk membiarkan hal tersebut terjadi.    Soul scanner--nya tiba-tiba mengalami crash-manusia bilang "ngadat". Zen tidak dapat menerima emergency call yang dibuat sang arwah sewaktu mendapat serangan dari iblis di pertengahan malam kemarin. Dan tentang arwah yang hilang menjelang subuh tadi, Zen yang baru mendapat misi pertama saat horolognya menunjukkan hari ke-37 tidak menyangka akan mendapat tugas kedua dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh.    Dua keadaan tersebut tidak pernah Zen jumpai selama ia menjadi pelajar di jurusan Pendidikan Kematian maupun dalam masa trainee-nya untuk menjadi seorang Seeker. Guyonan manusia bahwasanya teori, ujian, dan penerapan itu jauh berbeda ternyata benar adanya, dan berlaku di dunia Luxa juga. Zen jadi curiga ketua bidang kurikulum dunia Medieter ada hubungannya dengan Bapak Nadiem Makarim yang terhormat.    Zen menyingkap kembali undangan yang membuat dirinya berakhir di ruang tunggu pengadilan tersebut. Satu-satunya hal baik yang ia jumpai di sederetan kalimat yang menyesalkan tindak lalainya tersebut adalah kata "sayang" yang disematkan dengan konfiks "di" dan "kan" pada frase "sangat disayangkan".    Menyedihkan memang, misi pertama yang sangat dinantikannya malah menjadi petaka. Sekarang yang menjadi tumpuan harapan Zen hanyalah soul scanner-nya yang telah dibawa penyidik untuk dianalisis.    Buras adalah penganan manusia yang yang dibuat dari beras dan santan, dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.    Zen yang sedang berharap-harap cemas dibuat kaget dengan suara monoton dari asisten virtual ponsel Hito.    "Ah, dicampur santan, ya! Pantas bisa enak begini!" Hito berseru sembari menguyah burasnya dengan khidmat, seolah makanan tersebut lebih layak mendapat atensi dibanding Zen dan segenap masalahnya.    Zen maklum, Hito adalah staff kementerian Perhubungan di bagian administrasi yang jarang ke dunia manusia. Mainnya kurang jauh. Buras itu sendiri adalah milik Zen yang dihibahkan lagi sebab milik Hito terpental saat berteleportasi karena ia gagal membuat lingkaran dimensi sebagai medan energi pelindung. Ya, lagi pula Zen sudah kehilangan selera.      "Aku akan menukar semua koleksi batu permataku untuk ini!" Hito berujar yakin. "Tapi kamu tahu, Zen? Makanan ini cepat basi. Apalagi karena perbedaan arus waktu di sini."     Zen hanya bergumam tidak jelas, malas menanggapi.    "Tapi jangan khawatir, aku sudah pesan magic warmer."    "Magic warmer apa?" Zen pada akhirnya kepo juga.    "Alat untuk memanaskan makanan supaya awet." Hito menunjukan sebuah gambar di ponselnya.    "Oh, yang seperti ini." Zen manggut-manggut, ternyata peralatan manusia. Zen pikir alat dari dimensi pertama.    "Kamu tahu?"    "Ya. Ini ada yang satu paket dengan pemasak nasi. Aku tahu karena sering makan di warung dan mendengar pembicaraan juru masak."    "Pemasak nasi? Bagaimana maksudnya itu?"    Zen menghela napas. "Kalau kamu masukkan beras dan air di dalamnya, nanti akan jadi nasi."    "Keren! Benar-benar ajaib seperti namanya!" Hito makin antusias. "Jadi kalau kumasukkan beras dan santan, akan jadi buras?"     "Mungkin." Zen mengangkat bahu lalu kembali merenung sampai ponsel di sakunya berdering. Dari sahabatnya, Kyra.      Zen bersegera menjawab panggilan tersebut, berpura-pura mengabaikan tatapan petugas di ambang pintu yang melotot tajam ke arahnya.    "Zen!" seruan dari Kyra di seberang terdengar khawatir.    "Ya, halo Kyra," balas Zen berusaha terdengar santai.       "Aku turut prihatin. Ini misi pertama yang sangat kamu tunggu-tunggu."     Zen tersenyum kecil. Kyra memiliki bakat Clairvoyance. Intuisi serta empatinya sangat tinggi. Tanpa perlu berpanjang lebar, Kyra paham permasalahan yang menderanya.        "Kamu tidak sengaja, Zen. Itu pasti termaafkan."    Dan tahu betul bagaimana cara menenangkannya. Ya, pengakuan. Zen memang sangat membutuhkan itu.  "Bagaimana bila aku ... dihukum?" Zen memelankan suara.     "Selalu ada hal yang harus diperbaiki dari setiap kesalahan, Zen. Kamu tidak akan dihukum, tetapi diberi kesempatan memperbaiki kesalahan itu."     "Kesempatan?" ulang Zen ragu.       "Ya. Seperti hakikat hidup kita sebagai seorang Luxa."        Seulas senyum terlukis di wajah Zen. Perasaannya jadi sedikit membaik.        "Jangan takut, Zen. Ketakukan hanya milik mereka yang berbuat salah tanpa niat ingin memperbaiki." Helaan napas Kyra terdengar lembut, "Maaf tidak bisa hadir di sana, aku sedang ada tugas. Tuhan menyertaimu, Zen."        "Tuhan menyertaimu, Kyra. Terima kasih. Jangan salah mencatat nama orang, ya."        Tawa kecil Kyra menjadi penutup perbincangan via telpon tersebut.    "Siapa, Zen?" Hito muncul dari pusaran angin. Laki-laki bermata sipit itu baru saja berteleportasi ke ruangannya untuk mengambil air minum karena tersedak buras.     "Kyra." Zen menjawab cuek. Ia tahu betul Hito akan memberontak setelah ini.        "Kyra?! That beautifull one, Kyra Edelline?!"    Oke. Saatnya bagi Zen untuk menyumbat telinga. Sejak Hito tahu Kyra adalah teman satu asramanya dulu, laki-laki itu sering kali meminta untuk dikenalkan pada gadis serupa bidadari surga tersebut.     "Sumpah! Jahat kamu, Zen! Kamu tahu aku ini penggemar nomor satunya Kyra!" Hito menunjuk-nunjuk Zen dengan kesal lalu duduk di sebelahnya sambil bersedekap. "Gagal ketemu jodoh, deh!"    "Itu berarti Kyra bukan jodohmu!"         "Kenapa?!"          Zen mendengus. "Sebab jodoh pasti bertemu."     Hito hanya mendecih sebagai balasan. Pembicaraan keduanya kemudian terjeda saat seorang petugas menghampiri mereka dan memberi isyarat pada Zen untuk masuk.         "Ini sidang tertutup. Hanya yang bersangkutan yang boleh masuk."        Zen bisa melihat guratan kecewa bercampur khawatir di wajah Hito begitu petugas menghadang jalannya. Sohibnya itu masih peduli juga.        "Jangan khawatir. Aku bisa mengatasi ini." Zen menepuk pundak Hito, berusaha tidak terlihat gentar, walau jantungya terasa dipelintir dari dalam.    Derap kaki Zen terdengar jelas tiap kali kakinya menapak, hingga kemudian terhenti di depan sebuah ruangan. Bunyi berderit pintu yang terbuka makin menyusutkan nyalinya. Atmosfer mencekam langsung menyambut sejak kali pertama ia memulai langkahnya di ruang minim warna tersebut. Zen merasa umurnya akan berkurang bertahun-tahun setelah persidangan ini.        "Tenang, Zen. Kamu tidak akan dihukum. Kamu hanya diberi kesempatan memperbaiki kesalahan!" Zen mengulang kata-kata Kyra dalam hati untuk membangun kembali keberaniannya yang luluh lantah.        Zen mengedarkan padang kesekeliling. Sentuhan arsitektur semi-gothic dan material berwarna gelap tampak mendominasi ruang tersebut, mempertegas kesan intimidasi yang makin menjatuhkan mental. Tiang-tiang penyangga yang menjulang tinggi berakhir membentuk serangkaian kontruksi vault rumit di langit-langit. Dinding dari susunan marmer hitam ditata rapi dan simetris, seolah dan mungkin memang sudah diperhitungkan sedemikian rupa.    Tata ruang tersebut cukup sederhana, di bagian tengah ada satu podium tempat hakim tinggi. Di bagian belakangnya ada tribun khusus untuk para dewan hakim, sementara platform bertingkat untuk saksi dan para hadirin disusun bertingkat membentuk setengah lingkaran di kedua sisi. Jangan lupakan kursi untuk terdakwah yang berada tepat menghadap mimbar.    Zen meneguk ludah begitu matanya menangkap sosok bercahaya putih yang duduk berjejer di platform sebelah kanan. Mereka adalah Enn angel, malaikat mulia yang setingkat di bawah malaikat agung. Oleh sebab itu, meski telah menyelaraskan sosoknya dengan lingkungan dunia Medieter, cahaya mereka yang bersinar terang masih bisa terdeteksi oleh sensor milik Zen. Enn angel memiliki mata yang mampu melihat kebenaran, lie detector paling hebat yang pernah tercipta. Mereka yang hadir kali ini adalah golongan malaikat pengawas.    Napas Zen tertahan begitu tak sengaja bertemu mata dengan salah satu Enn angel di sana. Netra yang teduh namun menatap tajam itu terasa menembus segenap lapisan bola matanya, merasuk ke dalam pikiran lalu menjurus sampai ke hati. Mendadak kaki Zen gemetar. Beruntung kursi pesakian untuknya telah di depan mata sehingga ia tidak harus merangkak untuk sampai ke sana. Padahal mereka malaikat, namun Zen sudah dibuat sedemikian takut untuk sekedar mengangkat kepala. Bahkan dakwaan yang dibacakan dewan hakim tidak begitu berarti lagi.        "Saudara Zennius Arsenio yang terdakwah, silahkan memberi keterangan."    Zen baru saja merumuskan kata pertama yang akan membuka pembelaanya ketika sensasi dingin menjalar di pergelangan tangannya. Dua orang malaikat pengawas tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. Tangannya yang halus dan kekar berada tepat di atas urat nadinya.    "Dengan perintah Tuhan, bila kami menemukan kebohongan dalam kata-katamu, urat nadi ini akan Kami putuskan sampai ke akarnya."    Kedua lensa hazel milik Zen membulat menyadari pergelangan tangannya memucat, mempertegas urat nadinya yang kian muncul ke permukaan. Perasaan gamang dan gugup membuatnya makin sulit berkonsentrasi. Salah kata sedikit saja, hidupnya bisa berakhir.      "Kami bukan malaikat pencabut nyawa."           Satu kalimat dari malaikat pengawas tersebut membuat Zen membuka mata.    "Bila kau jujur, kami lepaskan." Ada jeda singkat sebelum malaikat itu melanjutkan. "Bila kau berbohong, maka itu berarti sudah takdirmu untuk mati dengan jalan seperti ini."        Mati? Tunggu! Bukankah itu wewenang malaikat pencabut nyawa?    Seperti bisa membaca pikiran Zen, malaikat pengawas itu kembali berujar, "Kami tidak memiliki kekuasaan untuk memisahkan roh dengan jasadnya. Kami hanya memutus urat nadi ini, selebihnya pelahap maut yang akan membereskan."    Uh-oke. Zen tidak ingin berkomentar lagi. Dengan terpatah ia pun menjelaskan kronologi aktivitasnya kemarin hari di dunia manusia.    "Dia berkata jujur." Malaikat pengawas langsung memberi keterangan seusai Zen mengakhiri penjelasannya yang tak karuan.    Seorang dewan hakim berdiri, memberi pembelaan. "Soul scanner yang dimaksud benar rusak. Hasil analisisnya menunjukkan kemungkinan adanya kontak dengan medium berenergi besar."    Hakim tinggi menjatuhkan tatapan mengintimidasi pada Zen. "Medium berenergi besar? Apakah piranti tersebut pernah berada di tangan iblis?" tanyanya dengan penuh penekanan.    Zen menggeleng cepat. Malaikat dan iblis memang memiliki energi besar yang arah gayanya bertolak belakang, tapi Zen bersumpah tidak pernah berhubungan dengan iblis sama sekali    "Tidak! Demi Tuhan tidak pernah! Saya tidak pernah, dan tidak akan pernah bekerja sama dengan iblis!" tegasnya yang dibenarkan malaikat pengawas. Ada senyum tipis yang terlukis di wajah sang malaikat tersebut, sayang terlalu tipis sampai hampir tidak kentara. Cengkramannya pada tangan Zen pun mengendur.       "Lalu bagaimana kau menjelaskan energi masif yang berhasil merusak soul scanner buatan malaikat itu?" Seorang dewan hakim yang tampak tidak memihak Zen mengajukan pertanyaan baru.    Zen menelan ludah dengan kecut. Energi masif? Tapi apa? Zen berusaha memutar otak mencari jawaban. Ah, jangan-jangan ...!        "Aku ingat! Aku sempat bertabrakan dengan manusia!" seru Zen yang berhasil menyita seluruh perhatian. Hakim tinggi pun langsung berdiri dari duduknya.      "Manusia?"      "Ya. Dia mungkin manusia dengan kemampuan khusus. Dia bisa melihat, bahkan menyentuhku dalam wujud roh."      Zen lalu mengulang kembali kejadian saat gadis bernama Dheryza Akselia itu menabrak punggungnya lalu membantunya berdiri dan menyerahkan soul scanner-nya yang terjatuh.       Malaikat pengawas mengambil tempat di depan Zen, menatap matanya dalam-dalam hingga melihat kilas balik seluruh kejadian yang dialami Zen kemarin dalam sekejap mata.       "Jujur." Malaikat pengawas menghadap pada hakim. "Dia tidak berbohong."      Seluruh dewan hakim di tribun ikut berdiri. Riuh rendah mulai terdengar di antara mereka yang sama-sama tercengang. Zen--yang masih mengatur napasnya karena telah berkontak mata dengan malaikat pengawas--baru saja menorehkan sejarah baru pada perjalanan Dunia Medieter sejak beribu abad yang lalu, di mana ia menjadi Luxa pertama dalam wujud roh yang berhasil berinteraksi dengan seorang anak manusia.      Hakim tinggi berbalik pada jajaran dewan yang menunggu keputusannya.      "Cari tahu tentang anak manusia itu dan bawa dia ke pengadilan ini." ***** To be Continued  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD