06. Oversight

1060 Words
Satu hal yang membuat Zen bersyukur menempati dunia peralihan--yang berada di antara dimensi pertama dan ketiga--adalah perpaduan teknologi manusia dan kekuatan magis makhluk eternal yang memfasilitasi kehidupannya. Dunia Medieter disokong dengan sumber-sumber kehidupan dari dimensi pertama, sementara penerapannya meniru prinsip-prinsip manusia yang lebih unggul soal pemikiran, penalaran, dan logika. Di antara yang paling terkenal adalah paradise stone dan anti-matter.        Paradise stone adalah batu suci dari surga yang terus memancarkan radiasi, yang kemudian diubah menjadi banyak energi lain dengan berpedoman pada dasar-dasar pengetahuan manusia pada teori fisika klasik.        Anti-matter adalah sebuah materi yang tersusun dari antimateri dan memiliki energi yang berlawanan dengan dengan materi kebalikannya. Menurut sejarahnya, dunia Medieter terbentuk dari anti-matter dunia manusia. Demikian pula dengan partikel yang menyusun komponen tubuh para Luxa. Hal ini menjadi alasan mengapa para Luxa tidak terikat pada aturan ruang, pada dasarnya mereka memang anti-materi yang tak berwujud.      Anti-matter memiliki kapasistas energi yang maha kuat. Karena tidak berwujud materi, sifatnya tahan terhadap serapan materi gelap yang sangat diwanti-wanti manusia, contoh yang paling terkenal adalah black hole alias lubang hitam yang bisa menelan galaksi. Segelintir ilmuwan modern di dunia manusia sudah melakukan penelitian terhadap keberadan anti-matter, beberapa bahkan sudah mencoba untuk menciptakannya. Namun kabarnya penelitian tersebut masih terbatas dan terkendala. Wajar saja, anti-matter berpusat di dunia Medieter di luar dimensi mereka, dan sampai sekarang, belum ada "manusia hidup" yang bisa menembus portal menuju dimensi peralihan tersebut.        Salah satu piranti yang menggunakan teknologi berbasis kekuatan magis tersebut adalah alat kebanggan Zen sebagai seorang Seeker, soul scanner alias alat pemindai arwah.        Soul scanner memiliki detektor gelombang eletromagnetik yang dipancarkan arwah. Detektor tersebut memiliki spesifitas yang tinggi dan mampu mendeteksi hingga ribuan jenis jenis gelombang. Soul scanner juga memuat detail profil arwah yang membantu Seeker mengenali dan merasakan keberadaan target.      "Duh! Kenapa tidak menyala, sih!"      Zen mengetuk-ngetuk soul scanner miliknya yang terhubung dengan terminal listrik di sebuah warung makan. Pemindai tersebut adalah keluaran terbaru yang memiliki sambungan khusus dan sudah dibuat kompatibel dengan arus listrik dunia manusia. Zen mendesis sebentar, selama simulasi dulu alat tersebut berfungsi dengan baik. Soul scanner tahan terhadap berbagai jenis tekanan dan benturan. Kasus ini baru pertama kali terjadi, dan sialnya tepat pada misi pertamanya.       "Permisi, Kak. Ini pesanannya." Zen mengalihkan perhatian begitu seorang pramusaji menghidangkan untuknya semangkuk coto. Aromanya benar-benar menggugah selera, membuat Zen terlupa dengan masalah alat pemindainya. Zen meraih botol kecil berisi cairan berwana hitam pekat bertuliskan kecap manis dari kedelai hitam pilihan. Dilanjutkan dengan toples kecil berisi serbuk ajaib yang namanya micin, tak lupa potongan jeruk nipis.      Zen mencampurkan semua bahan tersebut di atas mangkuknya, sebagaimana yang dilakukan para manusia sebelum makan. Awalnya Zen merasa lucu, rasanya seperti meracik herbarium. Namun dampaknya ternyata luar biasa, cita rasa makannya semakin terasa. Setelah ia telusuri, bumbu-bumbu tersebut mengandung monosodium glutame, istilah bekennya penguat rasa. Zen pernah membungkus sedikit lalu membawanya pulang ke dunia Medieter untuk dicampur dengan cream soup, makan sehari-harinya di sana.       Benar-benar mantap jiwa! Zen bersorak dalam hati, seperti nama pada baliho yang terpasang di depan warung, Coto Makassar Mantap Jiwa.       Satu lagi yang membedakan Luxa dengan manusia adalah bahan pangan di dunia Medieter itu-itu saja. Menu utamanya adalah cream soup--dan Zen sudah mencicipi hidangan tersebut setiap hari sepajang hidupnya. Sementara makanan di dunia manusia memiliki berbagai jenis dan tekstur. Manusia yang kreatif juga memberi nama-nama unik pada menu makanannya. Contohnya saja warung sebelah, Mie Setan dengan berbagai level kepedasan mulai dari tuyul, kuntilanak, sampai genderuwo. Padahal yang makan di sana manusia semua. Di sebelahnya lagi ada Nasi Goreng Gila, entah pemilikinya yang gila, atau menu di sana khusus manusia yang tidak waras. Tapi yang paling membuat Zen bingung adalah penjual sate yang bersebrangan dengan kedai coto tempatnya sekarang, Sate Madura Khas Makassar. Ambigu sekali.        Zen baru saja meneguk es tehnya saat ponselnya berdering. Partikel yang dipancarkan paradise stone mampu menembus dimensi, sehingga sinyalnya masih berlaku di dunia manusia.        "Hito? Ada apa?" sapa Zen, berharap aroma cotonya yang masih tersisa tidak sampai pada rekannya yang menelpon di seberang sana.        "Akhirnya terhubung!" Hito terdengar menghembuskan napas. "Zen! Kemana saja kamu?!"        "Hah?" Zen baru ingin menjelaskan keadaannya ketika tiba-tiba udara di sekitarnya bergetar, membentuk pusaran lalu memuntahkan sosok yang baru saja bertegur sapa dengannya via telpon.        "Gila! Kau bisa melakukan space contamination!" Zen lekas mengedarkan pandangannya ke segenap penjuru setelah menghadiakan rekannya yang bernama Hito itu sebuah jitakan manis.        "Di sini tidak ada siapa-siapa, aku sudah memastikan begitu mendapat posisimu tadi. Tidak ada CCTV dan pemilik warung sedang ke kamar mandi."       Zen mengerutkan wajah. "Penerawanganmu itu terlalu jauh."        "Sudahlah, tidak ada waktu! Kita harus bergegas sebelum ada orang yang melihat!"        "Ke mana?"        "Ke markas."        "Dengan teleportasi?!"         "Naik Ojol!" Hito mendengus. "Lalu kira-kira kita pulang dengan cara apa?! Daerah ini bukan lalu lintas Hippogriff!"       "Sebentar."       "Apa lagi?!"       "Aku belum bayar!"        "Tinggalkan saja uangmu di sini! Keburu ada manusia yang datang!"        Zen sejujurnya ingin membungkuk berterima kasih pada sang pemilik warung atas kenimatan cotonya yang tak tertandingi, namun ia malas berdebat dengan Hito yang paling cerewet se-Mediterania. Ia mengeluarkan beberapa lembar mata uang manusia yang sengaja dilebihkan. Sayang sekali ia tidak membawa koleksi batu bacannya, padahal manusia sedang menggemari batu permata tersebut.        "Apa yang kamu ambil itu?" tanya Hito melihat Zen memasukkan sesuatu ke dalam saku jubahnya.         "Buras. Rasanya enak. Ambil ini. Kuberi satu untukmu."        Hito mengamati makanan berbentuk persegi yang dibalut daun tersebut. "Kamu mencuri?!"        "Enak saja!" Zen mencebik. "Tuh, baca! Makan coto gratis dua buras!"        "Oke. Terima kasih."         Zen hanya mengangkat bahu. "Ini murah. kamu bisa dapat seratus ikat dengan satu batu bacan."         "Manusia memang baik hati." Hito memasukkan burasnya ke dalam saku lalu meraih tangan Zen, bersiap melakukan teleportasi. "Ngomong-ngomong kamu dalam masalah besar sekarang."         "Aku? Kenapa?"          "Kamu membuat seorang arwah diambil iblis."          "Jangan bercanda!"           "Ada ribuan berkas yang harus kuperiksa dan aku tidak akan repot-repot ke sini hanya untuk menghiburmu dengan cadaan."          "Kapan deadline-nya?"           "Kemarin malam."           "kemarin malam?!" Zen ternganga, "Tapi soul scanner-ku rusak, aku tidak mendapat peringatan batas waktu!" Zen membela diri.          "Katakan itu di depan hakim."          "Hakim?! Tunggu! Kenapa hakim?!"         Protes yang disuarakan Zen teredam gejolak udara yang terbentuk. Lalu hanya dalam hitungan nano detik, tubuhnya ikut melebur bersama dengan pusaran yang menghilang di ruang kosong. ****** To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD