05. Neurosis

984 Words
Tidak ada yang lebih diharapkan Dyza dibanding satu saja hari libur, selain memiliki kemampuan membelah diri seperti amoeba, atau seperti cacing Planaria yang memiliki daya regenerasi tinggi. Jangan salah, meski sangat bangga akan kedudukannya sebagai makhluk hidup dengan tingkat takson tertinggi, tak jarang Dyza mengharapkan kemampuan organisme tingkat rendah dari kawanan protozoa dan cacing-cacingan tersebut--Dyza tidak ingat isitilahnya apa.     Mungkin keinginannya terdengar serakah. Tapi bagaimana tidak? Ia baru tiba di rumah pukul sebelas malam karena berburu tanda tangan asisten untuk jurnal lengkap sebagai syarat final praktikum, sementara ada tugas presentasi di jam pertama kuliahnya besok pagi. Belum lagi setumpuk materi ujian yang harus dibaca kembali.     Kalau sudah begini, kedua sisi otak Dyza akan berkolaborasi menghadirkan imajinasi liar bergenre fiksi ilmiah. Semisal digigit nyamuk mutan hasil penelitian rahasia yang berhasil kabur dari tempat karantina, terinfeksi virus yang menyerang DNA lalu memiliki kemampuan mitosis super dan ia pun bisa melakukan pembelahan diri.      Atau skenario lain di mana dalam cerita tersebut Dyza yang sedang mencampur berbagai senyawa kimia di laboratorium tidak sengaja menghirup uapnya yang bersifat mutagen. Lalu dengan peluang kebolehjadian satu banding satu juta, kromosomnya mengalami mutasi, tubuhnya memiliki kemampuan memperbaharui sel dengan cepat dan memungkinkannya membuat klon dari sampel ujung kuku.     Ah, betapa serunya berimajinasi.    "Astaga! Sudah jam begini!"      Menyadari hampir setengah jam larut dalam khayalan dan membuat waktunya terbuang percuma, Dyza bangkit dari posisi berbaring. Ia meregangkan tubuhnya yang luar biasa pegal dan meringsut dengan malas ke meja belajar. Sendi-sendinya seperti kehilangan peran sebagai penghubung antar-tulang dan membuatnya tidak bisa berjalan dengan benar. Dyza bahkan mulai mengkhawatirkan fungsi tulang belakangnya untuk menegakkan tubuh. Tuhan, kalau terus seperti ini bisa-bisa ia berganti filum menjadi invertebrata dan disetarakan dengan ubur-ubur dan cumi-cumi!      Saat waktu mulai bergulir dari pertengahan malam ke pergantian hari, Dyza bergegas menyalakan laptop, melawan rasa kantuk dan gaya gravitasi kamarnya yang mendadak lebih kuat hingga massa tulang tengkoraknya terasa sangat berat. Dyza sudah beberapa kali dibuat tersengguk ke depan. Ia merasa perlu menggunakan Cervical Collar untuk menyanggah lehernya yang mulai dirambati pegal karena terus mengulang gerak depressor tersebut bisa terus tegak berdiri.      "Materi besok itu gangguan pada sistem saraf ... pusat."      Dyza yang bergumam sambil menyingkap buku farmakologinya tergemap sebentar. Hatinya bergetar menyadari materi presentasi besok adalah kelainan pada sistem saraf pusat, termasuk penyakit demensia yang diderita kakeknya.     Kakek Andrew mengidap penyakit Alzheimer, golongan demensia yang tidak bisa disembuhkan. Demensia termasuk dalam kategori penyakit degenatif yang terjadi karena penurunan fungsi organ-organ tubuh akibat usia. Alzheimer sendiri bersifat idiopatik, penyebab jelasnya belum diketahui.      Dyza menopang dagunya dengan sebelah tangan. Semangat belajarnya makin berkurang. Bukan karena harus kembali mengulang kembali regulasi neurotransmitter di otak untuk penjelasan materinya, ia hanya merasa takut. Takut mengetahui kenyataan tentang kondisi kakeknya. Takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Bahkan kata "kronik" yang terpampang di halaman pertama jurnal yang baru diunduhnya sudah membuat matanya memanas. Sungguh, Dyza tidak siap dan tidak akan pernah siap kehilangan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.      "Dyza! Makan dulu, Nak!"      Suara kakek Andrew diiringi ketukan lembut di pintu membuat Dyza terkesiap. Makan? Tapi ia baru saja makan setelah tiba di rumah. Tentu, kakeknya itu pasti terlupa lagi.      "Masih belajar? Cucu kakek memang pintar." Kakek Andrew masuk ke dalam kamar sambil tersenyum.       Dyza buru-buru mengerjapkan mata. Dipandanginya sang kakek yang berjalan pelan ke arahnya sambil membawa nampan berisi bubur dan air minum.      "Sini, Kek. Biar Dyza bantu." Dyza berdiri, meletakkan nampan di meja kemudian menarik satu kursi untuk kakek Andrew.      "Banyak tugas, ya?" Kakek Andrew mengelus kepala Dyza dan melihat ke layar laptop.      Dyza bersegera menekan tombol minimize window hingga slide presentasinya berganti menjadi halaman pertama jurnal ilmiah. Dyza tidak ingin kakek Andrew melihat apa yang sedang ia pelajari, walau kemungkinan kakeknya itu mengerti sangat kecil.     "Nggak kok, Kek. Dyza Cuma belajar-belajar saja."      "Cucu kakek rajin sekali." Kakek Andrew menepuk-nepuk punggung Dyza, "Kakek buatkan bubur kesukaanmu. Makan dulu, ya? Mamamu dulu sakit maag karena sering menunda makan."      Dyza hanya bisa mengangguk dan mengulas senyum, walau hatinya teramat perih. Salah satu faktor yang membuat kakeknya menjadi sedemikian terguncang adalah kecelakaan yang menimpa mama dan papanya beberapa tahun lalu. Kakek Andrew mungkin tampak tegar, namun setelah mendapat diagnosa Alzheimer oleh dokter dan ia terus beranggapan anakperempuan semata wayangnya--ibu Dyza--meninggal karena penyakit lambung, Dyza tahu, selama ini kakeknya itu memendam luka yang dalam.      "Enak?" tanya kakek Andrew begitu Dyza memulai suapan perdananya dengan susah payah.      Bukan karena tidak enak, bubur yang masih hangat dengan aroma sedap itu pasti sangat menggugah selera bagi penikmat bubur. Sayangnya Dyza tidak suka bubur. Yang suka bubur itu ibunya. Dulu ibunya memang menderita gastritis sehingga diharuskan makan bubur setiap hari--yang entah karena memang karena suka atau sudah menjadi kebiasaan, akhirnya menjadi makanan favoritnya. Tapi bagi Dyza, tekstur bubur yang lunak membuatnya merasa kehilangan fungsi gigi geraham untuk menggilas makanan.      "Enak!" seru Dyza dan membesarkan hati untuk menghabiskan semangkuk bubur di hadapannya demi sang kakek.      "Ini siapa?"      Dyza yang sedang meneguk air banyak-banyak untuk menghilangkan jejak bubur menggelikan di kerongkongannya mengikuti telunjuk sang kakek yang berakhir pada potret dua orang manula pada jurnal di laptopnya.      "Oh, ini hanya gambar, Kek! Dyza sedang belajar penyesuaian dosis obat untuk pasien lanjut usia, supaya Dyza bisa merawat kakek dengan benar," jawab Dyza berusaha terdengar bangga.      Kakek Andrew tertawa. "Dyza tenang saja. Kakek akan terus menjaga kesehatan agar tidak sakit dan tidak merepotkan cucuk kakek ini," katanya mengelus kepala Dyza lagi.      Dyza tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk kakeknya. Satu kalimat tulus dari kakek Andrew itu berhasil membayar semua kerepotan yang dirasakannya selama ini.      "Foto ini membuat kakek jadi ingat nenekmu."      "Oh, ya?" Dyza menatap kakeknya yang tampak antusias.      Kakek Andrew pun mulai bercerita kisah masa mudanya dengan alur campuran yang dipenuhi beragam konflik dengan plot twist. Dyza menyandarkan kepala dengan manja pada bahu kakeknya dan mendengarkan dengan sabar.      Satu hal yang pasti, ia harus mengebut untuk mengerjakan slide presentasinya besok pagi. ***** To be Continiued    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD