"Kamu memang keluarga Mas, keluarga kecil kita" dan cincin yang barusan gue tunjuk, udah melingkar cantik dijari manis gue sekarang.
"Jangan pernah dilepas tanpa seizin Mas, ini cincin nikah kita" lanjut Pak Azzam sembari menunjukkan tangannya yang sekarang juga udah melingkar cincin yang hampir mirip dengan punya gue sekarang.
"Pak, inikan mahal, buang-buang uang, sayang" jawab gue sedikit keberatan.
"Yang punya uang siapa? Maskan, yang makein siapa? Maskan, yang sayang juga siapa? Maskan, kamu cukup pake dan jangan pernah dilepas tanpa seizin Mas, sekarang karena kamu milik saya jadi harus nurut, sama dosen aja patuh, kalau sama suami ya apa lagi" Ya Allah, panjang bener ya Pak, saya cuma bilang satu kalimat tapi jawabannya ratusan paragraf, ini ni ciri-ciri dosen yang berkompeten, pinter ngomong.
"Kalau mau mikirin Mas jangan disini, di rumah aja, mau makan dulu?"
"Hah? Saya kehabisan kata" dan Pak Azzam udah tersenyum kecil sama ucapan gue barusan, senyumin aja terus Pak sampai semua orang tahu kalau kita berdua udah jadi pusat perhatian kaya sekarang.
.
.
.
"Assalamualaikum" ucap Pak Azzam begitu masuk ke rumah dan gue yang ngikutin dari belakang.
"Wa'alaikumsalam, kalian udah pulang? Gimana Zam, dapat izin pindahannya?" tanya Umi yang di tatap antusias sama Ara disampingnya.
"Alhamdulillah Mi, besok kita bisa pindahan" jawab Pak Azzam, tapi bentar, kita? Bukannya yang pindahan cuma gue? Memang Pak Azzam mau pindah kemana?
"Yaudah kalau gitu, besok Umi sama Ara juga bantuin kalian beberes buat pindahan ya? Kalian udah makan?" Ya Allah, ini sebenernya gimana sih?
"Nanti Mas jelasin di kamar" bisik Pak Azzam natap gue sekilas.
"Udah Umi, kalau gitu Azzam sama Aya keatas dulu ya Mi" Umi mengiyakan dan gue lagi-lagi cuma bisa mengikuti langkah Pak Azzam naik ke atas, masuk ke kamar, gue nyeleweng masuk ke kamar Ara maksudnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Pak Azzam waktu gue beralih masuk ke kamar Ara.
"Masuk ke kamar, kan mau beberes, bentar lagi mau magrib" jawab gue seadanya.
"Kamar kamu bukan disini tapi di kamar Mas, kamar kita" jantung gue mulai gak karuan pas Pak Azzam ngomong kaya gitu, kemarin boleh aja guenya tidur sama Ara, sekarang kenapa malah dilarang?
"Pak, saya_
"Sampai kapan kamu mau manggil Mas Pak? Ayo masuk" gak nunggu jawaban gue, Pak Azzam udah narik lengan gue untuk ikut masuk ke kamarnya.
"Tunggu apa lagi? Mau tunggu Mas yang ngegendong kamu masuk? Yaudah sini"
"Saya bisa masuk sendiri Pak" dan tiba-tiba Pak Azzam ngecup kening gue, cuma kecupan singkat tapi sukses besar ngebuat hati gue berdesir gak karuan.
"Itu hukuman kamu, terusin aja manggil Mas Pak" ucap Pak Azzam yang ngebuat gue cuma diam ditempat.
"Eheummm, Mas, Mbak, masih sore, tolong sikapnya, disebelah kamar kalian masih ada anak gadis yang belum tahu apa-apa" astagfirullah adeknya liat,
"Maaf" dan Ara tersenyum dan masuk ke kamarnya, "masih mau nerima hukuman disini?"
"Gak, makasih" dan akhirnya gue ikut masuk ke kamar Pak Azzam. Mas Azzam.
"Maksud Umi tadi itu apa? Kenapa Umi sama Ara mau ngebantu kita pindahan? Bukannya yang pindahan cuma Aya ya?" tanya gue sedikit kebingungan.
"Kita yang akan pindah, pindah kerumah kita" mau marah gak bisa, mau protes gak mungkin, tar balik bawa-bawa status dosen sama suami lagi, gak sanggup sama hukumannya.
"Kenapa? Keberatan?" tanya Pak Azzam malah kesannya ngeledek gue,
"Enggak" jawab gue kesal, dasar ya bener-bener.
"Kamu bisa beberes duluan, dilemari ada beberapa perlengkapan kamu yang disiapin Umi, semoga kamu suka" ucap Pak Azzam dan mulai ngebaringin tubuhnya diranjang.
"Aya mau beberes, kalau keluar dulu bisa gak?" pertanyaan gue yang ngebuat Pak Azzam natap gue dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa? Kenapa Mas harus keluar? Ay, slMas suami kamu sekarang, apa mau mandi barengan?" Allah kenapa Mas Azzam mendadak jadi m***m kaya gini? Ternyata laki-laki dimana aja itu sama, m***m.
"Jangan becanda, gak lucu"
"Mas gak lagi becanda, kamu milik Mas, dan Mas mau kamu seutuhnya menjadi milik Mas" Pak Azzam narik handuk yang ada dipundak gue sekarang dan berlalu masuk ke kamar mandi. Selesai beberes, untuk pertama kalinya gue shalat di imami sama Pak Azzam, selesai shalat Pak Azzam menjulurkan tangannya yang gue raih sama gue kecup singkat. "Maaf" entah kenapa itu kata meluncur gitu aja dari mulut gue.
"Maaf untuk apa?" tanya Pak Azzam ikut memperhatikan.
"Maaf kalau Aya belum bisa jadi istri yang baik, maaf kalau setiap kelakuan atau kata-kata Aya selalu aja nyakitin hati, maaf kalau Aya belum bisa ngasih haknya Bapak, maaf kalau Aya belum bisa jadi istri yang sesuai dengan harapan Bapak, sepadan sama Bapak" Gue sadar, gue ini masih terlalu kekanak-kanakan untuk menanggung tanggung jawab seorang istri, gue berubah juga masih terhitung hari, gue hanyalah seorang gadis yang masih dalam proses memperbaiki diri, gue yang belum sepadan jika disandingkan dengan seorang laki-laki seperti Pak Azzam, Gue bahkan baru mutusin pacar gue dua hari sebelum Pak Azzam menikahi gue, Pak Azzam juga termasuk saksi bagaimana beratnya gue untuk melepaskan Kak Ardit waktu itu, gue gak bisa bohong, gue gak akan bisa ngelupain seseorang dalam waktu sesingkat itu dan gue berharap Pak Azzam mau ngerti posisi gue sekarang
"Mas juga belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu, sikap dan kata-kata Mas juga tidak akan selalu menyenangkan hati kamu, entah itu, sekarang, nanti dan untuk masa yang akan datang, Mas juga belum memberikan haknya kamu, dan sepadan atau enggak kita berdua bukan kita yang menilai, bukan orang-orang terdekat kita, tapi Allah"
"Karena kamu adalah siapa jodohmu, Mas percaya jodoh itu adalah cerminan diri, jodoh gak akan tertukar, bukankah janji Allah itu pasti? Lalu apa yang harus Mas risaukan?" Pak Azzam tersenyum dan minta gue untuk duduk mendekat kesisinya, gue yang memang rada gak yakin akhirnya juga memberanikan diri mendekat ke sisi Pak Azzam, Pak Azzam tersenyum lalu natap gue cukup lama sebelum berakhir dengan mengecup kening gue.
"Ini hukuman kamu"