Setelah makan malam yang penuh dengan aksi tutup mulut, Salsa segera melesat ke kamar dengan alasan ingin istirahat total.
Ia kini sudah berbaring di atas ranjang, namun matanya sama sekali tidak bisa terpejam.
Gila. Perasaan apa ini, dan Salsa sama sekali tidak bisa berhenti menggerakkan kakinya.
Ada hawa basah, geli, yang tak bisa dia ucapkan. Tentu saja, ini fase yang paling Salsa tutupi, meski adalah hal normal pada siklus wanita dewasa.
Sebagai dokter, Salsa benar-benar mengutuk siklus biologisnya sendiri.
Ia tahu benar bahwa saat ini tubuhnya sedang mengalami lonjakan hormon yang membuatnya menjadi sangat sensitif.
Suhu pendingin ruangan sudah ia turunkan hingga angka terendah, namun keringat tipis masih saja muncul di pelipisnya.
Suara pintu kamar mandi terbuka membuat jantung Salsa berdegup dua kali lebih cepat.
Elang keluar dengan kaus oblong putih tipis dan celana kain panjang.
Rambutnya yang sedikit basah membuat kesan kaku dari sang pengacara sedikit luntur, digantikan dengan aura maskulin yang sangat berbahaya bagi pertahanan diri Salsa saat ini.
Elang berjalan menuju sisi ranjangnya tanpa suara.
Saat pria itu merebahkan tubuhnya, kasur yang mereka bagi sedikit amblas, menciptakan kemiringan kecil yang seolah-olah menarik tubuh Salsa untuk bergeser mendekat ke arah suaminya.
"Belum tidur?" suara Elang terdengar berat dan dalam, menggema di dalam kamar yang sunyi itu.
"Belum bisa," jawab Salsa singkat, ia berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Salsa memunggungi Elang, memeluk gulingnya dengan sangat erat seolah benda itu adalah benteng pertahanan terakhirnya.
Namun, indra penciumannya yang sedang berada di puncak ketajaman justru mengkhianatinya.
Bau sabun mandi Elang dan dingin mulai memenuhi rongga napasnya, memicu reaksi di otaknya yang terus-menerus memberikan sinyal bahaya.
Salsa memejamkan mata rapat-rapat.
"Ayo tidur, Salsa. Jangan mempermalukan diri sendiri," bisiknya di dalam hati.
Namun, rasa panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi.
Ia merasa sangat haus, bukan haus akan air, melainkan sebuah dorongan instingtif yang membuatnya ingin berbalik dan meringkuk di d**a bidang pria di belakangnya.
Ia teringat kembali bagaimana rasanya dekapan Elang saat ia ketakutan di gudang tadi sore.
Kehangatan itu, kekuatan lengan itu, semuanya kini terbayang sangat jelas.
"Hei, kamu gelisah sekali. Apa obatnya membuatmu merasa tidak nyaman?" tanya Elang lagi.
Salsa bisa merasakan Elang sedikit bergeser, mungkin untuk melihat kondisinya.
Jarak di antara mereka kini semakin menipis.
Salsa bisa merasakan hawa panas dari tubuh Elang yang terpancar di belakang punggungnya.
Sebagai dokter, ia tahu ini adalah fase paling rentan dalam siklusnya, dan berada satu ranjang dengan pria seperti Elang adalah definisi dari bencana yang direncanakan.
"Jangan mendekat," ucap Salsa spontan dengan nada yang sedikit tercekik.
Elang terdiam sejenak, gerakan tubuhnya terhenti.
"Saya bahkan tidak menyentuhmu."
"Pokoknya jangan mendekat. Saya lagi tidak stabil," lanjut Salsa sambil semakin menenggelamkan wajahnya ke bantal.
Elang mendengkus pelan, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada istrinya, namun ia memilih untuk kembali diam.
Sementara itu, Salsa harus berjuang mati-matian menahan napasnya, mencoba melawan insting yang terus berteriak di kepalanya.
Elang menghela napas panjang saat melihat Salsa yang terus bergerak gelisah di balik selimut.
Ia mengira kondisi istrinya itu masih sisa dari trauma di gudang tadi siang.
Tanpa mengubah posisinya yang masih bersandar di kepala ranjang, Elang berkata dengan nada yang sangat datar namun tegas.
"Hei, tidurlah. Kamu harus istirahat total malam ini," ucap Elang tanpa menoleh.
"Saya tidak mau kamu jatuh sakit besok pagi. Kalau kamu sakit, urusannya akan semakin repot dan jadwal saya bisa berantakan lagi."
Salsa menggigit bibir bawahnya,Ia masih menyembunyikan perasaan gelisah yang berkecamuk di dalam dadanya, sebuah gejolak hormon yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman berada dekat dengan pria itu.
"Iya, ini juga mau tidur," sahut Salsa pendek.
Ia menarik selimut lebih tinggi dan memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha mengusir bayangan bahu lebar Elang dari benaknya.
Pelan-pelan, karena kelelahan fisik dan pengaruh sisa obat penenang, Salsa akhirnya ia pun tertidur.
Namun sialnya, saat tidur, Salsa malah mendapatkan bahaya yang sama.
Elang memojokkan Salsa ke dinding, lalu menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Salsa, mengunci wanita itu sepenuhnya.
Salsa bisa merasakan panas yang luar biasa memancar dari tubuh Elang.
Saat Elang menunduk dan mulai menciumi lehernya dengan sangat intens, Salsa merasa seluruh saraf di tubuhnya meledak.
Ia meremas kemeja Elang, menarik pria itu lebih dekat, membiarkan dirinya tenggelam dalam gairah yang selama ini ia tekan habis-habisan di dunia nyata.
"Elang..." rintih Salsa.
Napas Salsa menjadi berat dan patah-patah.
Tubuhnya melengkung kecil di bawah selimut, jemari kakinya menekuk, dan ia terus bergumam tidak jelas dengan wajah yang memerah sempurna.
Tiba-tiba, Salsa tersentak bangun.
Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seolah ingin keluar.
Ia terbangun dengan napas yang memburu dan tubuh yang terasa sangat lemas sekaligus basah oleh keringat.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Elang sedang memperhatikannya dengan tatapan aneh.
Tangan Elang masih menggantung di udara, seolah pria itu baru saja berniat membangunkan Salsa dari rintihannya.
"Kamu bermimpi apa?" tanya Elang dengan suara berat yang terdengar sangat intim di tengah kegelapan malam. "Kamu menyebut nama saya berkali-kali dengan suara seperti itu."
Salsa membeku. Ia ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup ke dalam sprei saat itu juga.
Salsa segera menyibak selimut dan melompat turun dari ranjang tanpa berani melirik Elang sedikit pun.
Ia berlari kecil menuju kamar mandi dan langsung mengunci pintunya rapat-rapat.
Di depan cermin, Salsa membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin, berusaha mematikan rasa panas yang menjalar di pipinya.
"Gila, Salsa! Kamu benar-benar sudah gila!" maki Salsa pada bayangannya sendiri di cermin.
Jantungnya masih berdegup kencang, dan bayangan mimpi tadi masih terekam sangat jelas, membuatnya ingin menjerit karena malu.
Setelah merasa sedikit tenang, Salsa keluar dari kamar mandi dengan langkah ragu.
Ia berharap Elang sudah tidur, namun dugaannya salah besar. Elang masih terjaga, duduk bersila di atas ranjang dengan ekspresi yang sangat serius.
"Duduk," perintah Elang singkat.
Salsa menurut, ia duduk di pinggir ranjang dengan jarak sejauh mungkin dari pria itu. Jemarinya meremas ujung kausnya, tidak berani mendongak.
Elang menatapnya dengan wajah datar yang sulit dibaca.
"Saya tahu kamu memiliki trauma. Kakek sudah memberi sedikit penjelasan melalui telepon tadi sore. Itu juga yang bikin kamu gagal tes spesialis kan?"
Salsa yang masih merasa gugup hanya mengangguk pelan. "Iya, itu alasannya," jawab Salsa lirih.
"Tapi, saya heran," lanjut Elang, suaranya sedikit merendah namun tetap terdengar sangat jelas di kamar yang sunyi itu. "Kenapa tadi kamu merintih dan—"
Salsa langsung melotot lebar, kepalanya menggeleng dengan sangat kuat hingga rambutnya berantakan.
Ia tidak mau membiarkan Elang menyelesaikan kalimat itu.
"Maaf! Nggak ada maksud apa-apa! Itu cuma mimpi! Benar-benar cuma mimpi!" seru Salsa dengan nada panik yang sangat kentara.
"Mungkin itu efek samping obat penenang yang tadi! Iya, pasti karena obat itu!"
Elang sedikit memiringkan kepalanya, menatap Salsa dengan pandangan yang membuat Salsa merasa seperti sedang disidang di pengadilan.
Ia tahu Salsa sedang berbohong secara defensif, namun ia juga sadar betapa kacaunya kondisi mental istrinya saat ini.
"Obat penenang tidak biasanya menciptakan delusi seperti itu, Dokter Salsa," sahut Elang dingin.
"Tapi baiklah, kalau menurutmu itu hanya mimpi, saya tidak akan bertanya lebih jauh."
Elang kembali merebahkan tubuhnya, namun kali ini ia memposisikan diri menghadap ke arah Salsa, membuat wanita itu semakin tidak bisa bernapas dengan benar.
Salsa merasa seluruh pori-porinya seolah terbuka saat menyadari tatapan Elang belum juga beralih.
Pria itu masih menumpu kepala dengan satu tangan, memperhatikan setiap gerak-gerik Salsa yang tampak seperti cacing kepanasan di atas kasur.
"Kenapa kamu melihat saya terus?" tanya Salsa dengan suara yang diusahakan terdengar berani, meski hatinya berantakan.
Elang tidak berkedip, sorot matanya yang tajam seolah sedang membedah isi pikiran Salsa.
"Apa melihat istri sendiri itu dilarang?"
Salsa tertegun, lidahnya mendadak kelu.
Namun sebelum ia sempat membalas, Elang melanjutkan kalimatnya dengan nada yang jauh lebih dingin dan penuh peringatan.
"Yang dilarang di rumah ini itu jatuh cinta, Dokter Salsa. Kamu ingat perjanjian kita, kan?"
Salsa terdiam, ia segera meneguk ludah dengan susah payah.
Kata-kata Elang barusan terasa seperti siraman air es yang mencoba memadamkan api gairah sisa mimpinya tadi.
Ia memilih untuk berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang tinggi dan mewah, berusaha mengatur detak jantungnya yang masih tidak keruan.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Elang tidak lagi bersuara, namun Salsa bisa merasakan kehadiran pria itu dengan sangat kuat di sampingnya.
Ruangan ini terasa terlalu sempit untuk mereka berdua.
Dalam puncak masa ovulasinya, akal sehat Salsa benar-benar sedang diuji habis-habisan oleh insting biologis yang terus berteriak di dalam kepalanya.
Setelah beberapa menit bergulat dengan pikirannya sendiri, Salsa akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
Ia masih menatap langit-langit, tidak berani menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
"Kalau jatuh cinta itu dilarang," Salsa menjeda kalimatnya, suaranya sedikit bergetar, "tapi kalau nafsu, dilarang juga tidak?"
Suasana kamar seketika terasa membeku.
Elang yang tadinya sudah hampir memejamkan mata, kini kembali membuka matanya lebar-lebar.
Ia sedikit mengubah posisi tidurnya, memberikan perhatian penuh pada pertanyaan tidak terduga yang baru saja dilontarkan oleh dokter di sampingnya itu.
"Apa maksud pertanyaan kamu?" tanya Elang dengan suara bariton yang terdengar lebih berat dan dalam dari sebelumnya.