bc

Silakan Bercinta, Dilarang Jatuh Cinta

book_age18+
68
FOLLOW
1K
READ
family
HE
age gap
fated
arranged marriage
arrogant
bxg
city
office/work place
lawyer
like
intro-logo
Blurb

Gagal menjadi dokter spesialis jantung ternyata membuat jantung Salsa sendiri yang nyaris copot.

Ia terpaksa menukarkan kebebasannya dengan sebuah janji konyol kepada sang kakek lewat pernikahan yang jauh dari kata romantis.

Kini hari-harinya dikuasai oleh Elang yaitu pengacara kaku dengan kepribadian sedingin es yang menganggap perasaan adalah pelanggaran hukum.

Bagi Elang pernikahan ini tak lebih dari sekadar kontrak formal untuk mengusir mantan kekasih bulenya yang terobsesi mengejarnya.

Mereka sepakat dilarang jatuh cinta namun Elang Pratama tidak keberatan jika harus berbagi ranjang untuk memuaskan gairah.

Salsa yang semula ingin membedah hati beku Elang justru terjebak dalam permainan panas yang suaminya tawarkan.

Di tengah kepungan rahasia dan tekanan dunia medis Salsa harus memilih antara mempertahankan harga diri atau menyerah pada sentuhan Elang yang memabukkan.

Apakah Salsa sanggup membuat sang pengacara kaku itu terkena serangan asmara atau justru ia sendiri yang akan hancur dalam hubungan yang hanya mementingkan kepuasan fisik semata?

chap-preview
Free preview
Kontrak Pernikahan
"Kek, ayolah! Ini namanya diskriminasi terhadap kaum yang gagal ujian! Kenapa pinaltinya harus sehoror ini sih?" Salsa mondar-mandir di depan meja kerja kakeknya, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menangis sesenggukan selama dua jam karena gagal masuk spesialis jantung. Rambutnya yang semula disanggul rapi sekarang sudah mirip sarang burung akibat ia tarik-tarik sendiri. "Kamu sudah tanda tangan di atas meterai sepuluh ribu setahun lalu, Salsa. Jangan jadi dokter yang amnesia," balas Kakek tanpa mengalihkan pandangan dari buku tebalnya. "Ya kan waktu itu Salsa optimis bakal lulus!" Salsa menghentakkan kaki. "Dan kenapa harus pria itu? Namanya saja sudah Elang, pasti hobinya memantau kesalahan orang dari ketinggian. Mana usianya tiga puluh tiga tahun lagi!" Kakek menurunkan korannya sebentar. "Memangnya kenapa dengan usia tiga puluh tiga?" "Kek, kenapa Salsa harus menikahi gen milenial sih?“ Salsa mengusap wajahnya frustrasi. "Salsa ini Gen-Z, Kek! Jiwa Salsa ini butuh healing, butuh konser, butuh suami yang minimal tahu bedanya POV sama OOTD. Bukan bapak-bapak pengacara kaku yang mungkin masih pakai sss buat update status!" "Elang itu tampan, mapan, dan sangat disiplin. Dia bisa mengarahkan hidupmu yang berantakan. Jangan buat alasan aneh deh, Salsa.” "Berantakan? Wah, ini pencemaran nama baik!" Salsa menunjuk dirinya sendiri. "Salsa cuma sedikit ekspresif, bukan berantakan. Lagipula, tiga puluh tiga tahun itu sudah masuk fase purbakala untuk urusan selera. Bayangin kalau nanti dia minta Salsa masakin bubur tiap pagi karena giginya sudah mulai sensitif?" "Salsabila," suara Kakek memberat, tanda peringatan. “Kamu kira dia udah tua kayak kakek!” "Oke, oke! Salsa diam!" Salsa langsung menutup mulutnya rapat-rapat, namun sedetik kemudian ia berbisik lagi. "Tapi kalau dia beneran wangi minyak kayu putih, Salsa minta cerai ya, Kek?" Salsa kembali mengempaskan bokongnya ke kursi dengan wajah cemberut. Hidupnya sudah jatuh tertimpa tangga, eh, tangganya ternyata punya pengacara dingin yang siap mengurungnya dalam pasal-pasal pernikahan. *** "Salsa, berhenti mondar-mandir atau Kakek ikat kamu di kaki meja," tegur Kakek yang sudah duduk rapi di ruang tamu dengan batik terbaiknya. Salsa mendengus sambil merapikan pashmina berwarna nude miliknya. "Kek, Salsa cuma lagi pemanasan mental. Siapa tahu pamannya bawa rombongan pengacara juga, kan? Biar Salsa nggak kena skakmat pas mereka mulai bahas pasal-pasal mahar." "Jaga sikapmu. Elang itu yatim piatu, dia hanya datang bersama pamannya. Hormati mereka." Mendengar kata yatim piatu, nyali Salsa sedikit menciut. Oke, mungkin dia tidak boleh terlalu galak di awal. Tapi tetap saja, membayangkan menikahi pria milenial yang terpaut sepuluh tahun darinya tetap terasa seperti bencana alam. Salsa terus memperbaiki letak pashminanya di depan cermin besar ruang tamu sambil sesekali menggerutu pelan. "Salsa, berhenti memasang wajah seperti mau mengajak tawuran begitu," tegur Kakek yang sudah duduk tenang di kursi kebesarannya. "Iya, Kek." Salsa mendengkus. "Gue, kan, gugup banget sial! Nggak ngira kalau bakalan bener dijodohin gini," gumam Salsa, sambil menghela napas panjang. Suara mesin mobil yang halus terdengar berhenti di pelataran rumah. Tidak lama kemudian, dua orang pria melangkah masuk setelah disambut oleh asisten rumah tangga. Pria pertama terlihat jauh lebih senior dengan senyum yang tampak kebapakan, sementara pria di belakangnya sukses membuat napas Salsa terhenti di tenggorokan. Salsa mematung di tempatnya berdiri dengan mata yang nyaris keluar dari kelopak. Ia mengumpat habis-habisan di dalam hati karena visual pria di depannya ini benar-benar di luar nalar. Wajah tegas itu, garis rahang yang tajam, hingga tinggi badannya yang menjulang benar-benar mengingatkannya pada Kim Mingyu, idol favorit yang posternya tertempel rapi di dinding kamarnya. Ini beneran Mingyu versi kearifan lokal? Kok speknya melampaui batas kewajaran sih? batin Salsa yang mendadak merasa salah tingkah. Namun, kekaguman itu langsung sirna saat melihat tatapan mata pria itu yang sedingin es di kutub utara. Tidak ada senyum, tidak ada binar ramah, hanya ada keangkuhan yang nyata. "Selamat malam, Pak Sanusi. Saya Wijaya, paman dari Elang," ujar pria senior itu dengan sangat ramah. Kakek bangkit berdiri dan menyalami mereka dengan hangat. "Selamat malam. Silakan duduk. Ini cucu saya yang saya ceritakan, Salsabila Aghniya." Salsa maju dengan langkah kaku, mencoba sekuat tenaga agar tidak terlihat seperti penggemar yang sedang bertemu idolanya. Saat ia berdiri tepat di hadapan Elang, aroma parfum kayu yang mewah dan maskulin menyergap indra penciumannya, membuat konsentrasi Salsa makin berantakan. "Salsa," ucapnya singkat sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman secara formal. "Elang Pratama," balas pria itu dengan suara berat yang terdengar sangat tidak bersahabat. Ia menjabat tangan Salsa dengan sangat formal, hanya sepersekian detik sebelum melepaskannya seolah-olah tangan Salsa adalah benda yang kotor. Salsa berdeham, mencoba menetralkan rasa gugup sekaligus jengkel yang bercampur aduk. "Halo, Om Elang. Eh, maksud saya Pak Elang. Silakan duduk, nanti pegel, Om, eh, pak." Paman Wijaya tertawa kecil mendengar celetukan itu, namun wajah Elang tetap datar tanpa ekspresi sedikit pun. Ia langsung duduk di sofa dengan posisi tubuh yang sangat tegak dan kaku, seolah sedang berada di ruang sidang. Salsa mendengus pelan sambil duduk di samping kakeknya. Cakep sih cakep, tapi kalau sifatnya kayak robot begini, Mingyu juga bakalan nangis lihatnya! ** Kakek dan Paman Wijaya mulai terlibat obrolan serius mengenai silsilah keluarga, sementara Salsa hanya bisa memainkan ujung hijabnya dengan gelisah. Suasana ruang tamu yang megah itu mendadak terasa makin menyesakkan bagi Salsa, apalagi ia bisa merasakan tatapan tajam Elang yang sesekali tertuju padanya dengan sorot menilai yang sangat menyebalkan. "Salsa, Elang, sepertinya kalian perlu bicara berdua di ruang tengah agar bisa lebih saling mengenal," usul Kakek dengan nada yang tidak bisa dibantah. Salsa berdiri dengan berat hati, lalu berjalan mendahului Elang menuju ruang tengah yang sedikit lebih tertutup. Begitu mereka hanya berdua, Salsa baru saja ingin membuka mulut untuk memprotes perjodohan ini, namun Elang sudah lebih dulu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jasnya. "Saya tidak suka membuang waktu untuk obrolan basa-basi yang tidak produktif," ujar Elang sambil meletakkan amplop itu di atas meja kopi dengan suara berdebum pelan. Salsa mengerutkan kening, menatap amplop itu dan wajah Elang bergantian. "Apa ini? Surat penangkapan?" tanya Salsa dengan nada mengejek. Elang tidak terpancing. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Salsa dengan tatapan yang sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Salsa merinding. "Itu adalah perjanjian pranikah yang saya susun. Ada satu poin penting di halaman terakhir yang harus kamu setujui jika ingin pernikahan ini tetap berjalan tanpa drama." Salsa meraih amplop itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu dengan cepat membaca baris demi baris hingga matanya terhenti pada sebuah poin yang dicetak tebal. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca kalimat yang tertulis di sana. "Bapak bercanda, kan? Bapak pikir Salsa ini apa sampai harus ada aturan gila seperti ini?" seru Salsa dengan suara meninggi, menatap Elang yang justru tetap tenang tanpa dosa. Elang hanya memperbaiki letak jam tangannya, lalu menatap Salsa tepat di mata. "Saya tidak pernah bercanda dengan dokumen hukum.“ “Astaga, gila gila.” Salsa mengumpat sambil menatap kertas sialan di tangannya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

Kali kedua

read
219.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook