Elang menyodorkan sebuah pulpen perak ke atas meja, tepat di samping tumpukan kertas yang baru saja dikeluarkan dari amplop.
"Baca. Saya tidak mau ada drama di kemudian hari dengan alasan kamu tidak tahu apa yang kamu sepakati," ujar Elang dingin tanpa sedikit pun menatap wajah Salsa.
Salsa mendengus, lalu mulai menyisir baris demi baris dengan mata melotot.
"Pihak kedua dilarang menyentuh, mengubah, atau memindahkan satu pun barang di dalam rumah pihak pertama tanpa persetujuan tertulis? Bapak serius? Kalau saya mau geser kursi buat salat saja harus kirim proposal dulu?"
"Saya punya OCD. Semua barang di rumah saya punya koordinatnya masing-masing. Satu milimeter saja bergeser, itu akan mengganggu fungsi otak saya untuk bekerja," jawab Elang pendek tanpa beban.
Salsa melongo. "OCD? Itu mah alasan Bapak saja biar bisa menjajah saya, kan?"
"Terserah apa anggapanmu. Lanjut baca halaman berikutnya," perintah Elang datar.
Salsa membalik lembaran itu dengan kasar.
"Jam malam maksimal pukul sembilan malam dan wajib melampirkan laporan tertulis jika terlambat? Pak, saya ini dokter! Kalau ada pasien gawat darurat pas saya mau pulang, apa saya harus lapor kalau suami saya titisan penguasa kegelapan?"
"Tugas kamu adalah mengatur jadwal agar itu tidak terjadi."
"Sinting," gumam Salsa pelan, lalu kembali membaca.
"Pemisahan finansial total? Bapak tenang saja, gaji dokter umum saya masih cukup buat beli kuota sama jajan seblak. Saya nggak akan minta uang Bapak buat beli album Mingyu!"
Namun, saat sampai di bagian akhir, Salsa mendadak terdiam.
Ia membacanya dua kali untuk memastikan matanya tidak salah lihat.
"Pihak kedua dilarang keras jatuh cinta kepada pihak pertama?" Salsa menatap Elang dengan tawa mengejek.
"Bapak beneran nulis ini? Bapak pikir saya bakal naksir sama pria milenial kaku yang hobinya bikin pasal-pasal begini?"
"Banyak yang awalnya bicara sesumbar seperti kamu," sahut Elang tanpa ekspresi. "Baca bagian dendanya."
"Denda penalti setara seluruh utang budi Kakek?" Salsa nyaris berteriak.
Utang budi kakeknya jelas tidak sedikit mengingat Elang yang membantu menyelamatkan perusahaan Kakek dari ambang kebangkrutan.
"Bapak mau memeras saya lewat jalur perasaan? PD banget! Dengar ya, Pak Elang, mau muka Bapak mirip Mingyu pun, kalau sifatnya mirip robot begini, saya nggak bakal sudi baper!"
"Bagus kalau begitu. Silakan tanda tangan."
Salsa meraih pulpen itu dengan emosi meluap-luap.
"Oke! Saya tanda tangan! Tapi kalau nanti Bapak yang naksir saya, dendanya apa? Bapak mau kasih saya saham atau gimana?"
Elang menatap Salsa datar, seolah pertanyaan itu hanya angin lalu yang tidak penting.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Cepat tanda tangan, saya harus segera kembali bekerja."
“Pak. Bapak serius kita hanya nikah selama dua tahun??” tanya Salsa menatap Elang sepersekian detik, sebelum pipinya malah merona karna tatapan dingin pria itu.
“Ya, dua tahun, itu cukup untuk bersama sampai kita menyatakan bahwa sudah tidak sepemikiran untuk menjadi pasangan.”
“Oke! Deal!!”
***
Hari pernikahan yang seharusnya jadi momen paling romantis dalam hidup, justru terasa seperti simulasi sidang skripsi bagi Salsa.
Di dalam ruang rias, ia hanya bisa pasrah saat perias wajah sibuk menepuk-nepuk spons ke pipinya.
"Salsa! Demi apa lo beneran nikah hari ini?"
Pintu ruang rias terbuka lebar, menampakkan tiga sahabat sejawatnya dari rumah sakit yang langsung menyerbu masuk.
Salsa hanya bisa melotot lewat pantulan cermin karena kepalanya sedang dipegangi oleh penata hijab.
"Suara lo kecilin dikit, bisa nggak? Ini gedung pertemuan, bukan kantin rumah sakit!" semprot Salsa ketus.
"Habisnya lo ajaib banget! Kemarin nangis-nangis gara-gara gagal ujian spesialis, sekarang tiba-tiba sebar undangan. Lo nggak sedang menutupi skandal, kan?" tanya Dinda sambil menyipitkan mata penuh curiga.
"Lo nggak hamil duluan, kan, Sa?"
"Sembarangan! Mulut lo minta dikuncrit ya?" Salsa hampir saja berdiri kalau saja pundaknya tidak ditekan oleh si perias.
"Gue ini dokter, Din. Gue tahu cara pakai pengaman, eh maksud gue, gue nggak bakal melakukan hal bodoh kayak gitu!"
"Alah, alasan. Bilang aja lo nggak kuat menjomblo lagi, kan?" timpal Rio sambil tertawa.
"Tapi serius, Sa, calon lo itu pengacara yang mukanya mirip Mingyu Seventeen itu kan? Kok dia mau sih sama dokter umum yang kalau tidur mangap kayak lo?"
"Heh! Gue cantik ya, sori aja! Dia itu yang beruntung dapet gue yang masih muda dan segar, bukan gue yang naksir duluan!!"
"Eh, jangan melotot terus, Sa! Itu eyeliner lo belum kering, nanti bedaknya retak lho. Nanti suami lo malah ngibrit liat muka lo," ledek Dinda yang sukses membuat Salsa langsung diam mematung.
Salsa menghela napas panjang, mencoba merilekskan otot wajahnya.
"Gue cuma stres. Gue takut pas dia bilang saya terima nikahnya, dia malah lanjutin pakai pasal-pasal hukum pidana."
"Ya bagus dong, kalau lo macam-macam langsung disidang di tempat!" Rio tertawa makin kencang.
"Tapi sumpah ya, Sa. Kalau nanti di pelaminan dia beneran ganteng, gue bakal jadi orang pertama yang bilang kalau lo sebenernya dapet durian runtuh."
"Durian runtuh apanya? Yang ada gue ketiban kulkas dua pintu!" gumam Salsa pelan.
**
Di luar sana, suasana mendadak hening saat penghulu mulai menjabat tangan Elang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Salsabila Aghniya binti Ahmad Sanusi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Suara Elang terdengar sangat tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun. Tidak ada nada romantis, suaranya persis seperti sedang membacakan tuntutan di hadapan hakim ketua.
"Sah nggak sih," batinnya pasrah.
Begitu kata sah bergema di seluruh ruangan, Salsa ditarik keluar untuk menemani suaminya di meja akad.
"Sah lagi," decak Salsa ingin menangis.
Saat duduk di samping Elang, Salsa melirik pria itu dengan mata melotot. Gila, ganteng banget, batinnya. Tapi kemudian Salsa mengumpat atas pikirannya itu.
Elang tetap duduk tegak, rahangnya kaku, dan tatapannya lurus ke depan, sama sekali tidak melirik Salsa yang sudah jadi istri sahnya.
"Silakan mempelai pria mencium kening istrinya," instruksi penghulu dengan nada ramah.
Salsa membeku. Ia menahan napas saat Elang perlahan mendekatkan wajah.
Namun, bukannya momen romantis yang didapat, Elang justru berbisik sangat pelan di telinga Salsa sebelum bibirnya menyentuh keningnya.
"Ingat pasal satu. Jangan sampai bedakmu menempel di jas saya," bisik Elang nyaris tak terdengar oleh orang lain.
Salsa langsung membelalakkan mata. Bukannya terharu, ia malah merasa ingin menendang tulang kering pria ini di depan para saksi.
Saat Elang menjauhkan wajahnya setelah kecupan singkat yang sedingin es itu, Salsa menarik napas dalam-dalam.
Salsa yang tadinya tegang kini malah mendengus geli. Ia menatap Elang yang sedang merapikan lengan jasnya yang sama sekali tidak berkerut, efek OCD-nya mulai kumat di depan umum.
"Ya Allah, gue kudu sabar ngadepin nih orang sampai dua tahun?" ucap Salsa sambil merutuki nasibnya yang malang.
**
Tiba saatnya sesi pemotretan, setelah Salsa lelah menyalami satu persatu tamu undangan. Belum lagi teman-teman rekan kerjanya yang sangat heboh. Dia ingin menghilang, langsung pulang ke kamarnya dan rebahan.
"Pak Elang, senyum dikit kenapa? Itu tamu pada ngira Bapak lagi nikahin tahanan politik, bukan dokter cantik," sindir Salsa sambil tersenyum manis yang dipaksakan di depan kamera fotografer.
Elang hanya meliriknya tajam. "Senyum tidak ada dalam draf perjanjian. Fokus saja pada kamera agar prosesi ini cepat selesai. Saya sudah mulai gerah."
Salsa hampir saja tertawa sarkas. Baru satu jam sah menjadi istri, ia sudah merasa ingin mengajukan banding ke Mahkamah Agung.
"Apes banget gue." Salsa menghela napas panjang.