Mbak Bule itu Siapa?

1269 Words
"Kek, kami berangkat sekarang. Mohon doanya," ucap Elang singkat. Kakek menggenggam tangan Elang sedikit lebih lama, lalu berbisik dengan nada serius. "Dia memang keras kepala, tapi dia satu-satunya yang Kakek punya. Tolong, sabar-sabar jadi pelindungnya ya, Nak." Elang hanya mengangguk sekali, sebuah isyarat yang cukup untuk menenangkan Kakek Sanusi. Salsa yang melihat itu dari pintu mobil merasa dadanya mendadak sesak. Meskipun selama ini dia sudah terbiasa hidup mandiri di apartemennya selama menjadi dokter, melihat kakeknya kini benar-benar tinggal sendiri membuatnya ingin menangis lagi. "Kek..." gumam Salsa sambil memeluk kakeknya sekali lagi. "Sudah, jangan cengeng. Kamu bukan lagi anak koas yang takut jaga malam. Sana masuk," tegur Kakek halus sambil melepaskan pelukan Salsa. Salsa akhirnya duduk di kursi penumpang dengan wajah sembap. Elang masuk ke balik kemudi, menutup pintu tanpa suara yang keras. Di dalam kabin, hanya ada aroma parfum maskulin yang tajam dan steril. "Pakai sabuk pengamanmu," ujar Elang tanpa menoleh. "Bentar! Lagi sedih, jangan dipaksa-paksa!" sahut Salsa sewot sambil mengusap hidungnya yang memerah. "Saya tidak melarang kamu sedih, lanjutkan nanti, sekarang pakai saja sabuknya," balas Elang datar sambil mulai menjalankan mobil dengan sangat halus. Salsa mendengus, menarik sabuk pengamannya dengan sentakan kasar. "Nggak ada empati banget sih. Orang lagi berduka ini!" "Jangan panggil saya Bapak. Terdengar terlalu jauh," sahut Elang tetap fokus pada jalanan di depannya. Salsa menoleh dengan mata merah. "Terus apa? Mas? Abang? Saya bisa alergi kalau panggil gitu ke orang macam situ." "Terserah. Asal jangan Bapak," jawab Elang pendek. "Oke, 'situ' saja kalau gitu. Lagian situ juga kaku banget kayak kanebo kering," gerutu Salsa sambil menyandarkan kepala ke jendela. Elang melirik sekilas lewat spion tengah. "Jangan sandarkan kepala ke kaca. Itu meninggalkan bekas. Gunakan bantal leher kalau mau tidur." Salsa melongo. "Ya ampun.... baru jalan lima menit saja sudah banyak aturan! Situ beneran kulkas dua pintu ya!" Elang tidak membalas lagi. Ia terus menyetir dengan kecepatan yang sangat stabil, membiarkan keheningan menyergap kabin sementara Salsa hanya bisa meratapi nasibnya di balik bantal leher. *** Keduanya sampai di komplek tempat tinggal Elang. Saat itu Salsa sudah menduga rumah Elang pasti mewah, tapi waktu dia turun dari mobil, dia tak mengira rumahnya akan sangat semewah itu. Belum sempat Salsa mengagumi kemewahan gerbang otomatisnya, seorang wanita cantik dengan fitur wajah blasteran tiba-tiba muncul dari balik pilar dan langsung menghalangi jalan Elang yang baru saja turun dari mobil. "Elang! Kamu jahat banget, ya! Bisa-bisanya kamu nikah tapi aku nggak dikabari sama sekali?" seru wanita itu. Salsa yang baru saja turun dari pintu sebelah langsung melongo. Ia masih memegang bantal lehernya, menatap adegan di depannya seperti sedang menonton drakor secara live. "Wow, apa, nih," gumam Salsa. Elang tidak terkejut, bahkan tidak berkedip. Ia hanya menatap dingin tangan wanita itu yang masih menempel di lengannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Elang merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah sapu tangan putih yang terlipat sempurna, lalu mengelap bagian lengan kemejanya yang baru saja disentuh wanita itu dengan gerakan yang sangat detail. "Minggir. Kamu menghalangi jalan masuk," ujar Elang datar, suaranya sedingin es. "Elang! Come on! I'm from Australia and came here for you, you know?" Elang tetap tidak peduli, dia berbalik hanya untuk mematap Salsa, istrinya. "Ayo, masuk." Salsa melotot. "Heh, ini gimana? Siapa sih, bule nya, kamu diemin aja Pak?? Eh, situ gimana sih!" celetuknya. Ia berjalan mendekat, menatap wanita bule itu dengan tatapan polos sekaligus prihatin. "Mbak... Mbak pacarnya, ya?" tanya Salsa tanpa dosa. "Masuk!" titah Elang pada Salsa. Salsa justru makin mendekat ke arah si wanita asing itu, suaranya berubah jadi setengah berbisik. "Sabar ya, Mbak. Saya juga baru tahu kalau dia itu titisan kulkas. Kalau Mbak mau nangis, mending di tempat lain deh, soalnya kalau air matanya netes ke lantai dia, nanti Mbak bisa didenda satu juta per tetes." Elang berbalik, menatap Salsa dengan sorot mata mengintimidasi. "Masuk sekarang. Atau saya kunci kamu di luar bersama dia." Salsa langsung nyengir kuda, melambaikan tangan singkat pada wanita itu, lalu berlari kecil menyusul Elang ke dalam rumah. "Elang!!" Wanita itu memekik, dia tampak frustrasi. "Heh, kasian tau. Tapi, dia siapa kamu sih??" tanya Salsa pada sang suami. "Bukan urusan kamu," jawab Elang, lagi-lagi singkat. "Ya ampun, dia nangis tuh. Minimal kamu ajak ngomong dulu. Jelasin apa kek, kasian amat." Langkah Elang mendadak terhenti. Ia berbalik dengan cepat, membuat Salsa hampir menabrak dadanya. Elang menunduk, menatap Salsa sangat dekat—jarak yang belum pernah mereka lalui sebelumnya. Salsa berdebar kencang, matanya melotot dan ia mendadak membeku. "Seharusnya seorang dokter itu cerdas, kan?" suara Elang terdengar berat. "Kenapa ada wanita asing yang muncul, kamu malah minta suamimu menemui wanita itu?" Salsa diam, ia meneguk ludah susah payah karena tatapan itu terlalu intens dan mengunci pergerakannya. "T-Tapi, kan?? Dia itu—" "Mantan saya, puas." Elang lalu berbalik dan melangkah masuk lebih dalam, meninggalkan Salsa yang masih melongo tak percaya di tempatnya berdiri. "What?? M-Mantann???" ** Salsa masih berdiri mematung di lorong, matanya mengerjap berkali-kali menatap punggung Elang yang makin menjauh. Jawaban singkat itu barusan terasa seperti hantaman palu di kepalanya. "Mantan? Cowok sekaku kanebo kering itu punya mantan?" gumam Salsa tak percaya. Salsa menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mencerna logika yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Ia menarik napas panjang, lalu berjalan cepat menyusul Elang yang sedang meletakkan kunci mobilnya di sebuah wadah khusus yang posisinya sangat simetris di atas meja konsol. "Heh, bentar! Berarti situ pernah pacaran?" tanya Salsa, suaranya naik satu oktav karena penasaran. "Maksud saya, gimana caranya orang kayak situ pacaran? Apa situ bikin jadwal kencan pakai proposal juga? Terus kalau mau gandengan tangan harus pakai sarung tangan steril?" Elang tidak menyahut. Ia mulai membuka kancing manset kemejanya dengan gerakan yang sangat rapi. "Terus ya," Salsa terus mengekor di belakang Elang, "Kok bisa si Mbak Bule tadi sampai nangis-nangis begitu? Dia kecintaan banget sama situ atau gimana? Padahal situ tadi ngelap tangan seolah dia itu virus rabies. Gila ya, Mbaknya punya kesabaran setebal apa sampai bisa betah?" Elang menghentikan gerakannya, lalu melirik Salsa melalui sudut matanya yang tajam. "Berhenti menganalisis hal yang tidak ada kaitannya dengan draf perjanjian kita." "Ya ada hubungannya lah! Kalau nanti dia tiba-tiba datang lagi terus jambak saya karena dikira saya pelakor gimana? Saya ini dokter, tangan saya buat nyembuhin orang, bukan buat baku hantam sama mantan situ!" cerocos Salsa sambil berkacak pinggang. Elang berbalik sepenuhnya, membuat Salsa refleks mundur selangkah. "Dia masa lalu. Dan alasan kenapa dia menangis, itu bukan bagian dari tanggung jawab saya lagi. Paham?" Salsa mendengus, bibirnya mengerucut. "Dih, dingin banget. Benar-benar nggak punya hati nurani. Saya jadi kasihan sama Mbak itu, pasti selama pacaran dia kayak pacaran sama patung Liberty ya? Cantik tapi nggak bisa gerak dan dingin." Mendengar itu, Elang mendadak berhenti. Ia menyugar rambutnya ke belakang dengan satu tangan, gerakan yang entah kenapa terlihat sangat menggoda bagi Salsa. Ia berbalik, menatap Salsa dengan intensitas yang lebih tajam dari sebelumnya. Salsa kembali melotot, nyalinya yang tadi menggebu mendadak menciut melihat perubahan aura suaminya. "Kenapa mata kamu bundar begitu kalau melihat saya?" tanya Elang dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Tadi kamu bilang apa? Kasihan sama dia karena pacaran sama saya?" Elang melangkah satu kaki lebih dekat, membuat Salsa terhimpit antara meja konsol dan tubuh tegap pria itu. "Kamu kira dia kecintaan sama saya apa alasannya? Itu karena saya menarik di mata dia, paham," ucap Elang tanpa ragu sedikit pun. "Dan apa kamu mau saya tunjukin apa yang bikin dia kecintaan dari saya?" Salsa langsung meneguk ludah sampai tersedak. Ia terbatuk kecil, wajahnya memanas seketika. Ia benar-benar tak mengira pria yang biasanya hanya bicara satu-dua kata ini bisa mengeluarkan kalimat sepanjang dan seberani itu. "S-situ ... situ ngomong apa sih? Pede banget!" sahut Salsa terbata-bata, berusaha mencari oksigen di tengah tatapan Elang yang mengunci pergerakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD