Salsa menghempaskan koper besarnya di atas lantai kamar dengan kasar.
Sambil berlutut, ia mulai memindahkan tumpukan bajunya ke dalam lemari besar yang isinya sudah terbagi dua dengan sangat simetris.
Tentu saja, bagian Elang sudah tertata rapi sesuai kategori warna, sementara bagian Salsa masih kosong melompong.
"Sumpah ya, dapet suami kok titisan kutub utara," gerutu Salsa sambil melempar salah satu hoodie kesayangannya ke rak. "Dokter Salsa... nasib lo malang bener."
Ia berhenti sejenak, tangannya yang sedang memegang gantungan baju mendadak kaku. Bayangan kejadian di lorong tadi berputar kembali di otaknya.
Bagaimana Elang menyugar rambut, menatapnya intens, dan bertanya apa Salsa mau ditunjukkan apa yang membuat mantannya begitu tergila-gila.
"Nggak, nggak, nggak! Jangan terpesona, Salsa! Itu cuma trik psikologis biar lo tunduk!"
Ia kembali sibuk menata baju, tapi pikirannya malah makin melantur. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tubuhnya mendadak merinding.
"Bentar ... ini kan malam pertama?" bisik Salsa pada diri sendiri. Matanya melirik ke arah tempat tidur mewah di tengah ruangan.
"Hah? Masa iya gue tidur satu kasur sama kulkas itu? Kalau gue nggak sengaja meluk pas tidur terus dia lapor polisi gimana?"
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Suara knop pintu itu terdengar seperti bunyi lonceng kematian bagi jantung Salsa.
Salsa menoleh pelan, dan detik itu juga ia merasa paru-parunya berhenti berfungsi.
Elang keluar dengan rambut yang masih basah berantakan, dan sangat menggoda iman Salsa yang setipis tisu dibelah sepuluh.
Elang tidak bicara. Ia hanya berjalan menuju meja rias, mengambil handuk kecil, lalu mengeringkan rambutnya sambil sesekali melirik Salsa yang masih berjongkok di depan lemari dengan mulut sedikit terbuka.
"Belum selesai?" tanya Elang datar.
Salsa tersentak, langsung memalingkan wajah dan pura-pura sibuk merapikan tumpukan kaos kakinya.
"B-bentar lagi! Lagian situ mandinya lama banget, kayak lagi autopsi diri sendiri!"
Elang berhenti mengeringkan rambut, lalu berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
"Cepat selesaikan. Saya tidak suka ada aktivitas di kamar ini setelah lewat pukul sepuluh tiga puluh."
Salsa menelan ludah. Ia melirik posisi Elang yang sudah berdiri di sisi tempat tidur. "Terus ... situ beneran mau tidur sekarang? Di situ? Bareng saya?"
Elang menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambut.
Ia melirik koper Salsa yang masih terbuka setengah jalan, lalu menatap Salsa yang masih mengenakan kebaya ketat lengkap dengan jilbab yang sudah mulai miring sana-sini.
"Jangan banyak tanya," potong Elang dingin, memutus rentetan spekulasi di otak Salsa.
"Cepat ganti baju kamu dengan yang lebih nyaman."
Salsa mengerjap, masih agak linglung dengan perubahan suasana.
"Hah? Iya, ini juga mau—"
"Kamu mau tidur pakai baju itu?"
Elang menaikkan sebelah alisnya, menatap kebaya payet Salsa yang terlihat sangat ribet dimatanya.
"Yakin? Saya tidak mau mendengar keluhan punggung sakit atau suara gesekan payet di atas sprei saya sepanjang malam."
Wajah Salsa memanas.
"Iya! Sabar dong, ini juga lagi ambil baju!" semprot Salsa kesal. Ia menyambar setelan piyama tidurnya dan berlari kecil menuju kamar mandi sambil menghentakkan kaki.
"Dasar kulkas! Robot! Spesialis pengatur hidup orang!" umpat Salsa pelan sambil membanting pintu kamar mandi sedikit lebih keras.
Salsa bersandar di pintu. Ia memegang dadanya yang masih berdegup tidak keruan.
"Awas aja kalau dia macam-macam. Gue piting pake jurus dokter bedah baru tahu rasa," gumamnya sambil mulai melepas jarum-jarum di jilbabnya dengan tangan gemetar.
**
Salsa keluar dari kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Ini adalah pertama kalinya ia tampil tanpa hijab di depan laki-laki yang bukan mahramnya—ralat, sekarang pria di depannya ini adalah suaminya.
Rambut hitam panjangnya yang biasanya tersembunyi kini tergerai jatuh di bahu, sedikit lembap dan berantakan.
Elang yang sedang menyandar di kepala ranjang sambil mengecek ponselnya, refleks mendongak.
Detik itu juga, gerakan jempolnya di layar terhenti. Matanya tertuju pada Salsa—lebih tepatnya pada leher jenjang dan rambut terurai itu.
Elang terkesiap kecil, ada jeda dua detik di mana ia kehilangan fokusnya. Namun, dengan cepat ia berdehem keras dan mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel.
Salsa berjalan menuju meja rias, mengambil hair dryer milik Elang yang tertata rapi di laci. "Boleh pinjem kan?"
Elang melirik sekilas. "Bersihkan setelah pakai."
"Apa???" Salsa mengembuskan napas kesal. "Nggak jadi!"
Salsa memilih mengeringkan dengan handuk, tanpa hair dryer karna miliknya ketinggalan di apartemen nya.
Saya tidur di sofa itu saja," cetus Salsa sambil melangkah mendekat ke arah furnitur tersebut. Ia mengernyitkan dahi saat melihat bentuknya dari dekat.
"Tapi ... ini sofa kenapa bentuknya aneh begini sih? Kenapa melengkung kayak pisang? Apa nggak bikin tulang belakang saya geser kalau tidur di sini?"
"Itu hadiah," ucap Elang.
"Hadiah?" gumam Salsa.
"Seleranya aneh banget. Ini mah lebih mirip alat peraga di museum seni daripada tempat duduk," cibir Salsa sambil mencoba mendudukkan dirinya di bagian yang paling melengkung, tapi malah merasa posisinya jadi sangat janggal.
Elang berdehem pendek, ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan kalimatnya lagi.
"Kata yang memberi, itu namanya tantra chair. Fungsinya untuk memudahkan pasangan saat ... bercinta. Makanya bentuknya melengkung."
Salsa membeku. Tangannya yang tadi sedang menepuk-nepuk bantalan sofa langsung terhenti di udara.
Ia merasa seolah ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.
"Apa?! Ber-bercinta?" Salsa berseru kaget sampai suaranya pecah. Ia langsung melompat berdiri dari sofa itu seolah-olah permukaannya baru saja berubah menjadi bara api.
Wajah Salsa yang tadinya putih bersih kini berubah merah padam sampai ke telinga. Ia menatap sofa pisang itu dengan tatapan horor, lalu beralih menatap Elang yang masih duduk tenang di ranjang tanpa ekspresi berdosa sedikit pun.
"Terus kenapa situ taruh di sini?! Kenapa nggak dibuang aja atau ditaruh di gudang?!" seru Salsa panik, tangannya bergerak heboh ke sana kemari.
"Barangnya mahal. Membuang barang berkualitas adalah pemborosan," jawab Elang logis.
"Dan secara estetika, warnanya masuk dengan konsep kamar ini. Jadi, kamu masih yakin mau tidur di sana semalaman?"
Salsa menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya mendadak liar membayangkan fungsi sofa itu.
"Nggak! Nggak mau! Najis!" Salsa buru-buru menjauh dari sofa itu dan berdiri kaku di tengah ruangan, memeluk handuknya erat-erat. "Sialan ... kenapa kado orang kaya aneh-aneh banget sih!"
Elang hanya menunjuk sisi ranjang yang kosong dengan dagunya.
"Pilihanmu hanya kasur ini atau lantai. Dan saya tidak mau ada orang pingsan karena hipotermia di rumah saya."
Salsa melirik kasur luas itu, lalu melirik sofa m***m di sudut ruangan. Dengan gerakan sangat pelan dan penuh kewaspadaan, ia akhirnya melangkah menuju tempat tidur.
"Oke, saya tidur di sini. Tapi situ jangan dekat-dekat! Satu senti pun lewat garis tengah, saya tuntut pakai pasal malpraktik!" ancam Salsa sambil naik ke atas kasur dengan kaku.
Salsa berbaring dengan posisi miring membelakangi Elang, tubuhnya meringkuk kaku di tepi kasur.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, tapi telinganya justru bekerja dua kali lebih tajam. Ia bisa mendengar suara gesekan halus ujung jari Elang di atas layar tablet.
Penasaran, Salsa membalikkan badannya sedikit, mengintip dari balik bantal. Di sana, Elang duduk bersandar dengan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya.
Cahaya dari tablet memantul di wajahnya, membuat fitur wajahnya yang tegas terlihat makin tajam dan ... yah, diakui atau tidak, sangat tampan.
Duh, jantung! Bisa nggak sih kompromi dikit? Jangan dugun-dugun terus! batin Salsa merana.
Salsa mulai gelisah. Ia membetulkan posisi selimutnya berkali-kali sampai menimbulkan suara berisik.
Padahal di dalam draf perjanjian jelas tertulis, pernikahan mereka hanya dua tahun, dan tak boleh jatuh cinta.
Tapi secara logika medis dan biologis, mereka ini laki-laki dan perempuan normal yang tidur dalam satu ruang lingkup oksigen yang sama.
Salsa melirik Elang lagi. Pria itu benar-benar tidak bergeming.
Fokusnya pada berkas di tablet seolah-olah Salsa hanyalah guling tambahan di sampingnya.
Bentar ... kok dia lempeng banget? Salsa mulai bertanya-tanya. Gue ini dokter, gue cantik, rambut gue baru habis keramas, wangi ... tapi dia bahkan nggak ngelirik sama sekali setelah deheman di awal tadi.
Pikiran liar Salsa mulai berkelana ke arah yang sangat tidak masuk akal. Matanya menyipit penuh curiga.
Jangan-jangan ... rumor itu benar? Cowok yang terlalu sempurna, terlalu rapi, terlalu dingin sama cewek, biasanya... Salsa menutup mulutnya dengan tangan, matanya melotot.
Hah?! Apa Elang nggak suka perempuan?! Apa dia nikahin gue cuma buat nutupin jati dirinya?!
"Kenapa kamu melihat saya seperti itu?"