Pemandangan Pagi Salsa 🔥

1594 Words
Suara berat Elang memecah keheningan, membuat Salsa tersentak kaget sampai kepalanya hampir membentur sandaran kasur. Elang bahkan tidak menoleh, matanya masih terpaku pada tablet, tapi ia tahu sedang diperhatikan. "E-eh? Enggak! Siapa yang liatin situ? Ge-er banget!" sahut Salsa cepat, suaranya naik satu oktav karena panik. "Napas kamu berisik. Dan detak jantungmu terdengar sampai sini. Itu mengganggu konsentrasi saya membaca,"ujar Elang datar, lalu ia meletakkan tabletnya dan melepas kacamatanya perlahan. Salsa meneguk ludah. Duh, masa iya detak jantung gue kedengeran? "Ya... ya maaf! Saya cuma lagi mikir, situ beneran normal kan?" Pertanyaan konyol itu meluncur begitu saja dari mulut Salsa. Elang langsung menoleh, menatap Salsa dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, tajam, tapi ada kilatan aneh di sana. "Kamu meragukan saya?" tanya Elang dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Salsa meremang. Salsa langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Matanya melotot lebar, menyesali pertanyaan yang baru saja melompat keluar tanpa filter dari bibirnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah-olah gerakan itu bisa menarik kembali kata-katanya tadi. Elang menghela napas panjang, sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan. Ia memutar tubuhnya, duduk menghadap Salsa sepenuhnya. "Kamu mikir apa?" tanya Elang dengan nada rendah yang berwibawa. "Saya gay?" Salsa menggeleng lagi dengan lebih kencang, kali ini matanya hampir keluar dari kelopak. Lidahnya tiba-tiba kelu, tak bisa bersuara. Elang menatapnya intens, matanya menyisir wajah Salsa yang merah padam sebelum akhirnya ia sedikit condong ke arahnya. "Dengar baik-baik, dokter," ucap Elang. "Saya ini normal. Seratus persen laki-laki." Salsa meneguk ludah sampai terdengar bunyi glek yang memalukan. "Alasan saya tidak menyentuh kamu, atau bahkan tidak melirik kamu setelah kamu keluar dari kamar mandi tadi, bukan karena saya tidak punya ketertarikan secara biologis," lanjut Elang tetap dengan wajah sedingin es. "Tapi karena saya menghormati draf yang sudah kita sepakati. Dan saya sangat disiplin dengan aturan." Elang kembali menarik tubuhnya, lalu menarik selimutnya dengan gerakan yang sangat rapi. "Jangan biarkan imajinasi liar kamu merusak jam tidur saya lagi. Sekarang tidur." Salsa menurunkan tangannya perlahan, masih merasa syok dengan kejujuran Elang yang telak. "Y-ya... oke. Saya cuma nanya, jangan baper dong," gumamnya pelan sambil menarik selimut sampai ke bawah hidung. "Satu lagi," suara Elang terdengar tepat sebelum ia mematikan lampu nakas. "Jangan sampai besok pagi saya menemukan kamu tidur menempel di lengan saya hanya karena alasan tidak sadar. Itu melanggar batas wilayah." Salsa mendengus di balik selimutnya. Gila, ini orang beneran robot atau manusia sih? Masa ada godaan dokter cantik begini dia malah bahas disiplin aturan? ** Elang sudah terbangun, sistem tubuhnya yang teratur membuatnya tak butuh alarm. Saat ia baru saja hendak duduk, ia menyadari posisi Salsa yang sangat tidak masuk akal. Karena terlalu terobsesi menjaga jarak dan takut melewati batas wilayah, Salsa tidur di ujung ranjang yang paling tepi. Bahkan setengah tubuhnya sudah menggantung di udara, hanya tinggal satu gerakan kecil sebelum ia mencium lantai dengan tidak estetik. "Wanita ini, ya Tuhan," gumam Elang, sedikit frustasi. Benar saja, dalam tidurnya, Salsa berputar sedikit. Refleks Elang bekerja sangat cepat. Ia melompat dari posisinya dan menyambar tubuh Salsa sebelum wanita itu jatuh berdebum. Ia menangkap pinggang dan bahu Salsa, menariknya kembali ke tengah kasur dengan gerakan sigap. Salsa hanya bergumam tidak jelas, lalu melanjutkan tidurnya dengan lebih tenang begitu kepalanya menyentuh bantal empuk di tengah ranjang. Elang tetap mematung di sisi tempat tidur. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi bersentuhan langsung dengan kulit lengan dan pinggang Salsa. Ada sesuatu yang aneh. Selama satu tahun terakhir, gangguan OCD-nya akibat trauma masa lalu membuatnya selalu merasa risih bahkan jijik jika bersentuhan dengan orang lain tanpa pelindung, melebihi sekedar jabat tangan normal. Namun kali ini, ia tidak merasakan desakan untuk segera mencuci tangannya dengan cairan disinfektan. Ia tidak merasa kotor. Elang memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya. "Kenapa saya tidak merasa risih?" bisiknya pelan pada diri sendiri. Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar hebat. Elang mengambilnya dan melihat sebuah nomor asing, tapi dia tahu siapa itu. "Celine, kenapa dia masih saja meneror." Wanita bule yang muncul kemarin sore. Elang menatap layar itu dengan tatapan muak. Salah satu alasan terbesarnya menerima perjodohan konyol dengan Salsa adalah untuk menghentikan obsesi Celine yang tidak masuk akal. Ia butuh tameng status pernikahan agar wanita itu berhenti mengejarnya sampai ke Indonesia. Ternyata, status pernikahan pun tidak cukup membuat Celine menyerah. Elang menolak panggilan itu tanpa ekspresi, lalu menoleh sekilas ke arah Salsa yang masih tidur mendengkur halus. Ia harus memastikan dokter ceroboh ini tidak terlibat lebih jauh dalam urusan masa lalunya yang berantakan. ** Salsa tersentak bangun karena suara dengkurannya sendiri yang terdengar sedikit terlalu kencang di telinganya. Ia mengerjap-ngerjap, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. Rambutnya sudah tidak karuan, mencuat ke sana kemari seperti sarang burung, dan piyamanya sedikit tersingkap di bagian bahu. Tanpa sadar, Salsa melakukan rutinitas wajibnya setiap pagi. Ia memejamkan mata kembali sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke atas, melakukan peregangan maksimal hingga otot-ototnya terasa tertarik nyaman. "Hoaaaammm... ah, nikmatnya," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur. Namun, saat tangannya bergerak menyapu bantal di sebelahnya yang terasa dingin dan kosong, memorinya mendadak berputar cepat. Mata Salsa membulat sempurna. Ia langsung terduduk tegak, menyadari bahwa langit-langit kamar ini terlalu tinggi dan terlalu mewah untuk ukuran apartemennya. "Akkkk!!!!" Salsa berteriak refleks, namun sedetik kemudian ia langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Matanya bergerak liar ke sekeliling kamar, jantungnya berdegup kencang karena malu. Ia menoleh ke sisi kanan tempat tidur, mencari keberadaan pria titisan kutub utara itu. Hanya ada bantal yang tertata sangat rapi, bahkan sprei di sisi Elang tampak sehalus sedia kala seolah tidak pernah ditiduri manusia. Tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya di sana. Salsa mengembuskan napas panjang, bahunya merosot lega. "Aman... aman..." Ia kemudian memukul-mukul pelan mulutnya sendiri dengan gemas. "Ceroboh banget sih, Salsa! Kalau dia masih di sini terus denger lo ngorok kayak knalpot, gimana??" *** Salsa segera menyambar handuk dan lari ke kamar mandi. Setelah mandi kilat dan mengganti piyamanya dengan pakaian santai. "Cari udara segar dulu deh, biar otak nggak makin geser mikirin si kulkas," gumamnya sambil menggeser pintu kaca dengan perlahan. Begitu sampai di balkon, semilir angin pagi menyapa wajahnya. Rumah Elang ini benar-benar gila. Dari atas sini, Salsa bisa melihat halaman belakang yang luas dengan taman minimalis. Namun, perhatian Salsa mendadak teralihkan oleh sebuah pergerakan di lintasan lari kecil yang mengelilingi taman bawah. Ia terpaku, kedua tangannya yang tadi hendak memegang pagar balkon mendadak kaku di udara. Di bawah sana, Elang sedang jogging pagi. Salsa mengerjap berkali-kali. Pemandangan di hadapannya ini benar-benar merusak konsentrasi. Elang tidak lagi memakai kemeja kaku atau setelan jas. Pria itu hanya mengenakan kaos dry-fit hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya dan celana lari pendek di atas lutut. Rambutnya yang biasanya klimis kini basah oleh keringat dan bergerak mengikuti irama langkah kakinya yang stabil. "Wow, amazing." Refleks Salsa menutup mulut. Ia memperhatikan bagaimana otot-otot lengan Elang bergerak setiap kali pria itu menyeka keringat di dahinya. Salsa menelan ludah. Ia teringat kembali kata-kata Elang semalam, bahwa Elang tidak menyentuh Salsa demi aturan yang harus dipatuhi. "Otak sialan!! I hate my mind!!" umpatnya. ** Salsa segera turun ke lantai bawah dengan perut yang sudah mulai berdemo minta diisi. Sebagai dokter, dia sangat disiplin soal asupan nutrisi, telat makan sedikit saja bisa merusak fokusnya selama sisa hari. Namun, begitu sampai di dapur, Salsa hanya bisa berdiri mematung di depan kitchen island yang luas. Dapur itu sangat bersih—terlalu bersih untuk ukuran tempat mengolah makanan. Ia membuka lemari kabinet satu per satu, namun yang ia temukan hanyalah deretan piring keramik mahal yang disusun sangat rapi. "Astaga, ini rumah atau museum sih? Masa nggak ada sereal, roti, atau minimal oatmilk gitu?" keluh Salsa sambil memegang perutnya yang keroncongan. "Apa dia sarapan pake menghirup uap disinfektan doang?" Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Salsa menoleh ke arah pintu penghubung taman belakang, bermaksud menanyakan di mana letak bahan makanan. "Anu, Pak ... eh situ, saya mau tan—" Kalimat Salsa terputus di tenggorokan. Matanya membulat sempurna, nyaris copot dari kelopaknya. Elang muncul dengan kondisi yang jauh lebih berbahaya daripada tadi di balkon. Kaos dry-fit hitamnya sudah dilepas dan disampirkan di bahu, memamerkan tubuh bagian atasnya yang telanjang. Salsa bisa melihat dengan jelas bulir-bulir keringat yang mengalir di atas otot d**a dan perut Elang yang terpahat sempurna. "A-apa-apaan nih!" Salsa refleks memekik, lalu dengan gerakan secepat kilat ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. "Heh! Situ nggak punya sopan santun ya?! Kenapa masuk dapur nggak pakai baju?!" Elang menghentikan langkahnya, menatap Salsa yang bertingkah seperti orang bodoh di tengah dapur. Ia tetap tenang, bahkan tidak merasa perlu menutupi tubuhnya. "Ini rumah saya. Saya baru saja selesai lari dan merasa gerah," sahut Elang datar, suaranya terdengar lebih berat karena sisa napas setelah olahraga. "Dan kenapa kamu menutup mata? Kamu itu dokter, bukan? Bukannya kamu sudah biasa melihat anatomi tubuh manusia?" "Ya itu kan pasien! Kondisinya beda!" seru Salsa masih dengan mata tertutup rapat, meski di balik jemarinya ia sedikit mengintip, oke, hanya sedikit, untuk memastikan di mana posisi pria itu. "Lagian pasien saya nggak ada yang bentukannya... ah, pokoknya pakai baju situ sekarang!" Elang berjalan melewati Salsa menuju lemari es. "Buka matamu. Saya tidak akan melakukan apa pun," titah Elang. "Dan jangan berteriak lagi. Kamu membuat kepala saya pening." Salsa perlahan membuka satu matanya, memastikan Elang sudah berada di jarak yang aman. "Saya lapar! Kenapa dapur ini kosong melompong? Situ nggak makan?" Elang mengeluarkan sebotol air mineral, meminumnya hingga setengah, lalu melirik Salsa. "Saya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Bahan makanan ada di kulkas khusus di balik pintu pantri itu. Dan pastikan kamu tidak membuat dapur saya berantakan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD