Elang baru saja menjejakkan kaki di lobi kantor saat atmosfer kaku yang biasa ia ciptakan mendadak terasa kacau. Ia berjalan cepat menuju lift, namun Beni, asistennya, sudah menyambut dengan wajah pucat di depan pintu ruangan. "Pak Elang, Nona Celine ada di dalam," lapor Beni cepat sebelum Elang sempat membuka pintu. Elang berhenti. Rahangnya mengeras. "Saya sudah bilang jangan izinkan siapa pun masuk tanpa janji temu, Beni. Kamu mau dipecat?" "Bukan begitu Pak," Beni membela diri dengan gugup. "Tadi ada klien yang datang bawa banyak makanan untuk staf sebagai ucapan terima kasih. Suasananya sedang ramai di depan. Nona Celine datang dan hampir membuat keributan besar. Saya tidak enak dengan klien itu, jadi terpaksa membiarkannya masuk supaya tidak jadi tontonan." Elang tidak menja

