Jefran : I Kissed Her

3406 Words
Jefran Lee Samuel’s Point of View * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Gue menatapnya berani. Masih dengan tatapan membara karena, ya, sial, dia emang secantik itu jadi cewek. “I dont really now but you’re too damn gorgeous so i can’t help myself but trying to be closer with you.” Asooooooy, gila nih gue blak-blakan banget gak, sih? Bodo, lah, udah terlanjur juga. Gue cuman harap-harap cemas kalau cewek ini langsung ngeluarin kalimat pedasnya lagi, atau kalau bisa lebih parah. Anjir, jangan sampe, lah. “Ah, this how a real player plays, huh?” “Wah, fitnah, nih.” jawab gue sambil tertawa, gue anggep aja yang tadi itu pujian. “But being a player isnt that bad, tho,” lanjutnya. “I’m the couch, for your info. Wanna continue the game?” Nah, told ya that Gea Abrillea ini emang menarik, kan? Ini salah satu buktinya. Tapi kali ini gue yang menggeleng. Karena dari awal ketemu, gue bukan berniat buat jadiin dia salah satu cewek yang gue bawa ke kasur terus gue tinggal. Gue suka cara bicaranya, pola pikirnya, segala gerak-geriknya, dewasanya, semuanya. Jadi, not this fast, Girl. Kali ini gue mau tahu lebih dari sekedar ‘memuaskan satu sama lain’. So... “Lagi gak minat main game, sih. How about being a good listener, close friend, or partner, whatever you named it first?” Gue bisa mendapati ekspresi sedikit terkejut atas jawaban yang gue kasih terhadap pertanyaannya. Tapi dia cepet-cepet ngerubah ekspresi lalu mengalihkan wajah. Jemari lentiknya mengambil gelas minuman di hadapan, lalu meneguknya cepat. “Girl, i’m waiting for your answer, still.” “I’m not in the mood to make a friend,” jawabnya tanpa membalas tatapan gue. “Lagian muka lo bukan kayak muka mau ngajak bertemen.” Gue ketawa mendengar itu. “Emang muka gue muka kayak gimana?” Dia mengedikkan bahu, sok gak tau. Padahal gue tahu dia tahu apa jawaban atas pertanyaan gue barusan. Lagian dari cara gue ngobrol dan mengangkat topik sejak awal gue sama dia ketemu, itu udah mengandung semacam flirting. Gue tahu dia gak sepolos itu buat gak ngerti apa tujuan gue dari awal. “Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan, loh,” ujar gue bercanda, dengan alis naik turun. “Masa belum kenal aja udah mau suudzon, sih?” “Not in the mood to do a joke juga, by the way.” Sialan ini cewek. Paling bisa bikin gue mikir buat jawab. Gue jadi menghela nafas, mengalihkan wajah ke arah lain karena gue tahu ini gak bakal mudah. Tatapan gue lari ke arah sekeliling, mencoba mencari topik yang setidaknya bikin Gea tertarik ngomong sama gue. Tapi apa? Segala macam jenis rayuan udah gue kasih, biasanya cewek di luar sana udah bakal klepek-klepek, kenapa yang ini gak mempan coba, hah? Tapi belum juga dapet ide brilian, dia malah udah berdiri. Gue gak tahu dia mau pindah tempat doang apa beneran mau balik, tapi yang pasti gue segera ikut berdiri dan memanggil namanya, mencegah gadis itu jalan lebih jauh lagi.   “Wait, wait. Gea, lo mau kemana?” tanya gue sambil mencekal tangannya. Dia natap gue pake tatapan aneh, sebelum kemudian dia ngelirik ke arah tangan gue yang bertengger di lengan kurusnya. Sadar kalau gue terlalu lancang buat menyentuh, gue langsung melepaskan pegangan, lalu nyengir merasa bersalah. “Sori, sori,” ujar gue cepat. “Lo mau kemana?” “Is that you one of business?” Astaga.... “I know it’s not. Tapi gue, kan, cuman nanya?” Gue tahu jenis apa cewek di hadapan gue sekarang. Dia batu, keras kepala banget. Gue bisa ngebayangin kalau dia bakal jadi dominan, entah di suatu hubungan, kumpulan orang, atau bahkan di atas ranjang. Gue suka cewek yang punya pendirian dan tegas begini. Tapi please, lah, masa dia gak mau mempermudah maksud gue buat deketin dia? Jadi salah satu cari terakhir yang gue tahu bakal mempan buat ngeluluhin cewek kayak Gea ini tinggal satu, yakni dengan jadi lebih keras kepala dari dia. Gue harus mempertahankan kemauan gue, gak peduli kalau dia makin sumpek sama gue. Soalnya kalau gue malah lembek, ya, gak bakal dapet-dapet nih cewek. Dia melengos mendengar pertanyaan retoris gue. Kemudian meninggalkan gue begitu aja tanpa berpamitan barang satu kalimat pun. Jangankan pamitan, deh. Dia aja gak ngerepon omongan gue anjir. Gue langsung berjalan cepat melewati kerumunan orang di dalam bar, bahkan mengabaikan beberapa sapaan dari para cewek yang jadi sewaan di tempat penuh dosa dan desah ini. Fokus gue cuman satu : ngikutin Gea. Suara berisik dan kencang dari dalam bar karena musik yang diputar itu perlahan menjauh dan semakin pelan seiring kaki gue keluar dari bar. Gue gak tahu Gea beneran gak sadar atau pura-pura gak sadar kalau ada yang ngikutin dia. Tapi dia beneran gak noleh ke belakang sama sekali. Tapi gue menemukan jawaban dari pertanyaan itu kala dia kelihatan kaget pas dia buka pintu mobil yang dia bawa—lamborghini merah menyala—terus gue asal masuk ke dalam. “Heh!” Dia menyentak, tapi gue sama sekali gak kaget. Udah ketebak, sih, bakal gimana respon dia. Emang apa respon yang kalau misal lo buka pintu mobil dan mau masuk tapi tiba-tiba ada orang masuk ke dalam begitu aja? Kaget, ngamuk, itu udah pasti. “Jefran!” “I like the way you screaming my name.” “Jesus,” dia mendesis. “Keluar gak lo? Ngapain, sih?!” Gue menaruh telunjuk di depan bibir gue. Menyuruhnya untuk berhenti teriak. “Masuk,” titah gue seolah gue yang punya mobil. “I’ll drive you home.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jujur, gue emang dari orok terlahir buat gak terlalu mikir panjang atas keputusan yang bakal gue ambil di dalam hidup ini. Mulai dari hal sederhana kayak mau makan mie instan lagi padahal kemarin udah, sampai hal besar kayak gue mau kuliah dimana. Beneran. Gak ada yang salah kalau bokap ngamuk ke gue karena gue terlalu menyepelekan masa depan. Contohnya, ya, dua hal tadi. Padahal udah tahu mie instan itu gak sehat dan gak boleh dikonsumsi terlalu sering, tapi gue tetep ngeyel. Soalnya udah keburu laper juga. Lalu hal keduanya, udah tahu kalau jurusan kuliah gak bisa asal pilih, harus sesuai bakat dan minat. Tapi gue malah cap cip cup sebelum menuliskan dimana dan apa jurusan yang bakal gue ambil. Padahal itu, kan, buat masa depan sendiri. Atas dua paragraf yang tertulis, intinya gue emang gak pernah pikir panjang dulu kalau mau ngapa-ngapain. Dan hal itu berlaku juga buat malem ini. Bisa-bisanya gue langsung masuk ke mobil Gea dan nawarin dia buat nyetirin pulang sementara gue aja kesini bawa mobil sendiri, coi. Tapi ya, udah. ekali lagi, gue bukan tipe orang yang bakal overthinking apa lagi cuman perkara Rubicon gue itu. Mobil gue bisa diambil besok, kan? Atau bisa juga nyuruh temen buat nganterin mobil ke apartemen gue. Itu gampang. Kesempatan buat nganterin cewek ketus ini pulang jelas emang lebih langka dari pada merk mobil gue. Gea gak mengangguk, juga gak menggeleng. Tapi dia melengos dan kala gue kira dia bakal pergi buat cari taksi atau apa, ternyata langkah kakinya cuman memutari lamborghini merah ini sebelum dia ke pintu samping. Dia mengetuk kaca agak gak sabaran. “Bukain!” Sambil menekan rasa gembira yang membuncah dalam d**a, gue langsung menekan tombol untuk membuka kunci mobil samping. Melihat Gea akhirnya duduk di jok mobil sebelah walaupun harus menutup pintu dengan setengah membanting, gue tentu gak bisa menaahan seringai. “Thanks for let me—“ “Lo siapa?” “Hah?” Gue gak jadi ngelanjutin kalimat gue karena dia memotongnya dengan pernyataan dua kata yang maknanya banyak itu. “Maksudnya?” lanjut gue. “Lo stalker? Atau apa?” Gue mencoba mengolah maksudnya. Kemudian saat udah paham, gue gak sungkan buat ngakak. “Hei, gue pertama kali ketemu lo aja pas di balkon waktu itu.” “Terus?” “Apanya?” “Sekarang ngapain di dalem mobil gue?” “I told you i’m gonna drive you home.” “Biar apa?” Gue menelengkan kepala, masih gak berminat buat menghidupkan mesin mobil dan pergi dari tempat parkir tersebut. “Biar kita bisa kenal lebih deket?” Dia menghela nafas kasar, terlihat jengah dengan kalimat gue.  Karena dia gak kelihatan hendak menyela lagi, gue baru ngehidupin mobil dan mulai melaju. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Atmosfer di dalam mobil ini bukan canggung, tepatnya adalah sengit. Gea, sih, yang sengit. Soalnya dari tadi gue udah mencoba ngajak ngobrol dan mencairkan suasana. Sayangnya dia kelihatan sok tuli dengan gak menanggapi kalimat gue lebih bayak. Buat ukuran cewek jutek yang pernah gue kenal selama gue hidup di dunia, Gea emang yang paling beda. Kalau inget percakapan pas di balkon, gue bisa menyimpulkan Gea yang asli bukan Gea yang kayakgini. Ketus dan susah beradaptasi. Gue yakin bukan kayak gini karaketr Gea yang sebenarnya. Dan gue lagi berusaha menemukan sifatnya yang asli di tengah kedekatan kami—padahal belum deket sama sekali. Cih. “Depan belok kiri.” Gue mengangguk mengiyakan. Berasa adi sopir grab dia tapi gue gak masalah. Yang penting gue tahu dimana dia tinggal dan gue udah merencanakan banyak hal setelah gue tahu alamatnya nanti. Apa lagi, sih, kalau bukan PDKT? Setelah gue menuruti perintahnya bahwa di depan gue harus belok ke kiri, gue langsung familiar sama daerah sini. Kalau tebakan gue gak salah, maka... “Lo tinggal di daerah sini? Apa masih jauh?” “Di depan berhenti.” “What?!” Gue kaget. Asli. “Lo tinggal disini?” Dia gak jawab, tapi gue tahu jawabannya iya. Man, please. Ternyata dia tinggal di apartemen yang sama kayak gue? Really? Dari sekian banyam rumah dan apartemen, bisa-bisanya?! Ah, f**k. Gila. Tuhan pasti sayang banget, sih, sama gue, nih. “Lantai berapa?” Gue gak bisa menahan buat gak berekspresi kayak orang t***l yang senyum-senyum sendiri. Ayolah, siapa sih yang gak seneng kalau ternyata calon gebetan lo, tuh, tinggal di tower apartemen yang sama? “Rahasia.” Gue berdecak. “Serius. Jangan-jangan lo sama kayak gue lagi? Lantai enam belas?” Dia mengedikkan bahu. Tepat setelah gue memarkirkan mobil, dia segera turun dan gue lagi-lagi harus cepat menyusul. “Gea.” Dia gak berhenti, tapi at least gue tahu dia memperlambat langkahnya, membiarkan gue menyamakan hentak kakinya yang kini memasuki lobi. “Jadi waktu lo party di apartemen sebelah, lo emang udah tinggal di tower ini?” Baiknya, kali ini dia mau menjawab. Mungkin karena udah gak sama jalan kali, ya? Karena kini kami berdua udah diam dengan berdiri tegak karena kita ada di dalam lift. “Belum. Gue baru pindah beberapa hari yang lalu.” “Ah, i see.” jawab gue manggut-manggut. Oke, kalau gitu gue gak perlu kaget. Karena kalau emang ternyata dia udah lama tinggal di tower yang sama kayak gue, gak mungkin gue gak bakal ketemu dia selama ini, kan? Gue adalah penghuni lama. Gue gak cuman sewa, tapi gue beli apartemen. Gue bukan orang yang suka ngetem di rumah it means gue sering keluar. Jadi kalau Gea adalah penghuni lama, harusnya gue sama dia pernah papasan, at least satu kali. Sebagai cowok yang doyan ngeliatin cewek cakep, gak mungkin gue melewatkan Gea kalau emang kita pernah papasan sebelumnya. Well, kayaknya Minggu ini gue harus mau bangun pagi buat ke gereja untuk berterimakasih sama Tuhan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Ketika mengamati jari telunjuknya yang menekan angka empat belas, gue menyeringai senang. Oke, cuman beda dua lantai. Yah, walaupun misalnya mau beda sepuluh lantai juga gak apa-apa asal ada lift. Karena kalau gak ada lift dan harus lewat tangga, itu yang bakal bikin gue keberatan buat bolak-balik mampir ke apartemennya besok-besok. Hehe. Lift berdenting, tak lama pintu terbuka dan dia langsung melirik ke arah gue dengan tatapan juteknya itu. “Jangan ngikutin gue,” ujarnya. Tapi apakah gue mau menurutinya begitu aja? Tentu enggak. Gue cuman mengedikkan bahu memandangnya remeh, seolah gak terpengaruh dengan kalimat pedasnya, lalu menyamakan langkah dengannya. Dia mendengus kesal. Gue tahan ketawa. Haduh, ini cewek kenapa, sih, lagian ketus banget jadi orang? Gue apa ada salah, ya, dulu ke dia? Mungkin di kehidupannya selanjutnya gue pernah bully dia kali, ya? Menepiskan pikiran aneh gue, gue tersentak kala tiba-tiba dia kembali bersuara. “Jefran, sumpah mau lo apa, sih?” Gue noleh lalu ngadep depan lagi, jalan sok santai. “Gue cuman pengen bertamu ke tetangga baru. Salah gitu?” “Salah. Lo ganggu ketenangan gue.” “Astaga, gue cuman mau berteman. Kenapa, sih, lo ketus banget sama gue? Sebelumnya gue ada salah emang sama lo? Misalnya pernah gak sengaja nyerempet atau apa gitu?” “Gue emang begini.” “Masa?” “Hm.” “Tapi waktu di balkon, lo sempet kalem, tuh, ke gue pas ngasih saran.” “Itu lain cerita. Mood gue waktu itu lagi bagus.” Gue langsung ber-oh ria. Kini bisa memahami kenapa dia begini ke gue. Ternyata bukan karena gue pernah ada salah, tapi karena suasana hati. Cih, dasar cewek. Apa-apa dibikin gede aja. “Jadi sekarang mood lo lagi jelek?” “Lo tahu jawabannya.” Iya, gue tahu jawabannya. Itu iya. Moodnya lagi jelek. “Karena?” Pertanyaan gue langsung mengundang sorot mata tajam dari dia. Membuat gue segera mengganti topik biar dia gak ngamuk duluan kayak macan tutul. “Oke, skip to the next question,” ujar gue cepat. “Lo lagi terima tamu, gak?’ “Gak.” “Please?” gue memohon, lalu cari alasan lain. “Gue laper. Numpang makan, ya?” “Lo bisa grab food.” “Males makan sendirian,” gue ngeles lagi. “Dan karena mood lo lagi jelek, it’s better if you have someone to talk to. And here i am. Lo bisa punya temen cerita nanti.” “Gak minat.” “Ayolah, Ge,” gue hampir ngerengek mendengarnya terus keras kepala. “Gue gak bakal berantakin apart lo, gak bakal nebeng makan juga biar lo gak repot. Gue cuman mau nemenin lo, oke? Gak baik sendirian pas mood jelek. Takutnya lo bunuh diri malahan nanti.” Terdengar helaan nafas kasar sekali lagi. Tapi kemudian.... “Oke, fine. Lo boleh mampir tapi cuman setengah jam. Gue mau cepet tidur.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Gue bilang juga apa. Kelihatannya doang Gea ini jutek dan keras. Padahal aslinya juga baik. Setelah membuka pintu dan mempersilahkan gue duduk di ruang tamu—yang mana gak gue turutin dan gue memilih lancang dengan langsung mengikutinya ke dapur—dia membuatkan teh hangat buat gue, juga buat dia, alias buat kita berdua. “Nih,” katanya menyodorkan teh hijau itu. Wangi isi dari gelas tersebut benar-benar membuat nyaman. “Abis ini pulang.” “Astaga, minum juga belum udah diusir aja.” Dia gak mendengarkan kalimat gue. Tapi gue cukup bersyukur karena dia gak meninggalkan tamunya ini duduk di kursi bar seorang diri melainkan dia mengambil duduk di samping gue. Jaketnya sudah ia lepas da ia lempar ke sofa di ruang tengah tadi, menyisakan Gea dengan kaos crop yang gak terlalu ketat tapi tetap mampu membentuk bagian depannya yang melengkung indah—oke Jefran stop. Lo ngamatin dia terlalu jauh. Gue berdeham, bermaksud menghilangkan pikiran m***m gue, sekaligus meminta atensi dari gadis cantik di samping gue. “Lo gak pengen cerita apa-apa? Kata orang, cerita ke stranger lebih baik dari pada ke orang yang lo punya di dunia.” “Bukan hal besar.” “Seharusnya gak jadi masalah kalau lo cerita gue, kan?” Dia mengetukkan telunjuknya yang terpasang kuku panjang dan nails berwarna matcha di atas gelas teh miliknya. Matanya tetap menghadap ke depan, entah melamun atau beneran ngelihatin kompor yang apinya gak nyala itu. Tapi gue jelas dengan senantiasa menelengkan kepala untuk menghadap dan mengamati dia penuh. Gea cantik. Cantik banget. Mukanya gak ngebosenin banget walaupun dilihat berjam-jam. Dia punya bentuk wajah yang gak ngebosenin. Bener-bener kayak wajah cewek yang selama ini gue bayangin tiap kali gue pengen punya pacar yang versi serius. Beneran. Gak bohong gue. Dia menarik nafas dalam, sebelum menghembuskannya perlahan membuat pundaknya terlihat lebih rileks seketika. Gue kira dia mau cerita, tapi yang keluar dari bibirnya cuman, “Gue udah oke sekarang. Gak perlu ada yang diceritain.” Mendengar itu, gue beneran memutar kursi, menghadapkan tubuh ke arahnya sampai lutut gue menyentuh pahanya. Karena pergerakan gue itulah dia jadi noleh. Gue mengamati matanya. Dari situ, gue bisa melihat kalau dia gak benar-benar ‘udah oke’ kayak yang dia bilang tadi. Dia belum oke. Gue gak tahu apa masalahnya apa lagi siapa penyebabnya. Tapi melihatnya matanya yang terlihat lelah dan somehow gue tahu dia menahan kesedihan, itu cukup menganggu gue. Gue gak suka ngelihat mata itu kayak gini. Gue lebih suka dia bersikap ketus kayak tadi. “You’re lying,” ucap gue dengan yakin. “You’re not even fine.” Dia gak menjawab. Dia diem aja. “And somehow it destroys me. I hate seeing you like this.” “...Kenapa?” “Gue gak tahu,” jawab gue sambil mendekatkan diri. “Gue gak tahu kenapa, Gea.” Seiring jawaban terakhir gue keluar, detik itu pulalah gue tiba-tiba bangkit dari duduk dan menunduk untuk merangkum wajahnya dengan kedua tangan. Gue sempat menatap matanya, meminta izin, dan gue bersyukur kala dia menjawab itu dengan matanya yang sengaja terpejam. Izin telah gue kantongi, maka gue segera memiringkan wajah dan menciumnya. Dengan gue yang jangkung ini posisinya berdiri, jadi mengharuskan gue untuk menunduk lebih jauh agar dapat merasai bibirnya. Tapi apa gue keberatan? Enggak. Gue mendongakkan kepalanya lagi seiring ciuman kita terasa makin menuntut. Dia membalas ciuman gue sama lembutnya. Kita sama-sama gak terburu-buru. Kita menikmati ini, kita sama-sama menyukai ini.  Gue harap Gea gak akan menyesal setelah ini, gak akan ada tamparan yang hadir di pipi gue usai ciuman ini, apa lagi pengusiran dan meminta gue untuk gak mendekat ke dia layaknya orang gila. Karena gue bener-bener mau Gea. Gue mau cewek ini. “Don’t be sad, Gea,” bisik gue di depan bibirnya setelah ciuman terlepas. Tapi detik berikutnya gue meninggalkan kecupan satu lagi disana, singkat dan lembut, sebelum mengulangi kalimat yang sama. “Please, please don’t be sad.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD