Brian : Unjuk Taring

3306 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Padahal cuman tinggal dua menit lagi sebelum Lima Hari akan turun dari panggung. Padahal cuman tinggal separuh lagi gue sama yang lain bakalan nyelesaiin manggung ini. Tapi rasanya gue udah gak bsia tenang. Gelisah karena gue menemukan Nindya yang beberapa kali melihat jam. Entah karena apa, tapi melihat gelagatnya saat ini yang berbincang dengan teman-temannya serta menunjukkan jam di lengan tangannya, gue yang sok tahu ini menyimpulkan bahwa dia harus cepet balik—entah balik kemana, yang pasti meninggalkan kafe. Hal itu yang bikin gue menggerutu. Kenapa dua menit berasa dua hari? Seolah lagu yang lagi dinyanyikan sama Jefran di bagian ini diputar ulang dan itu bikin kami gak selesai-selesai. Gue gak tahu harus apa kalau emang Nindya bakal balik sebelum gue turun dari panggung. Kalau beneran bakal kayak gitu, artinya gue gak ada kesempatan buat ngobrol sama dia malem ini, kan? Padahal sayang banget. Di setiap pertemuan dengannya, bagi gue adalah anugerah berupa kesempatan untuk mendekat ke gadis itu, mencuri hatinya sebagai tujuan. Gak mungkin, kan, gue turun panggung duluan cuman buat ngejar cewek itu yang mau balik sementara gue aja punya tanggung jawab untuk memenuhi keinginan dan permintaan bar ini buat menyanyi? Gak profesional banget itu namanya. Dan yang berbau-bau profesional begitulah yang sama sekali bukan gue. Don’t tell me I’m delusional To me, my appearance is the right answer So cool, aren’t I? Don’t look at me with those startled eyes I’m no longer the same person you knew Hey, how you doing, baby? Tepuk tangan riuh langsung menggema di seluruh penjuru ruangan bar yang gak kecil ini setelah gue menyanyikan bait terakhir lagu berjudul So Cool yang juga jadi penutup Lima Hari malam ini, di tempat ini. Satria memberi pidato penutupan yang bagusnya gak panjang-panjang banget. Gue berterimakasih karena bapak si emosian ini kali ini beneran peka sama keadaan gue. Belum lagi karena biasanya tiap manggung ada aja yang teriak “lagi! lagi! lagi!” karena gak mau performnya Lima Hari diakhiri, biasanya kami sepakat untuk memberi satu lagu lagi sebelum bonus, di luar kontrak. Tapi kali ini Satria bahkan meminta maaf, menjelaskan bahwa Lima Hari sedang tidak bisa memberi apa yang para pengunjung mau karena kami harus ke tempat lain untuk mengisi acara, katanya. Gue yakin banget, nih, pasti Jefran, Dafi, sama Wildan udah terbengong dan ngakak sendiri sama kebohongan Satria. Ini bahkan udah jam malem Lima Hari, kita gak pernah jadi guest star di jam segini. Jadi mana mungkin abis ini kami pergi mengisi acara ke tempat yang lain? Tapi sekali lagi, gue bilang juga apa, malem ini Satria kayaknya lagi peka banget sama situasi yang gue hadapi; bahwa gue pengen cepet-cepet turun panggung. Dan betul saja. Tepat kala kali sudah menuruni panggung diiringi pekikan, pujian, sekaligus permohonan para penonton, gue melihat cewek itu memasukkan hape dan dompet ke dalam tas kecilnya, lalu mencium pipi kanan dan kiri dua temannya, sebelum betulan berdiri dari tempatnya. Gue panik duluan. “Woi, itu cewek lo mau balik. Cepet kejer,” Satria menggertak gue yang malah terdiam di posisi berdiri. Gue menoleh ke arah dia, lalu menoleh lagi dengan cepat ke arah Nindya. Gue nyengir sambil menepuk pundaknya dua kali, “Makasih, ya, by the way. Lo baik banget sumpah malem ini.” ucap gue sebelum menuruti Satria. Tujuan gue cuman satu. Ngejar Nindya sebelum dia bener-bener meninggalkan bar tanpa sempat berbincang sama gue. Itu haram hukumnya. Entah sejak kapan, tapi gue udah menetapkan kalau ada kesempatan ketemu, gue harus selalu ngajak ngobrol dia. Dilama-lamain kalau bisa. Ingetin gue buat minta nomornya abis ini. Seiring langkah kaki gue mejauh dari Satria, sempet-sempetnya gue denger si anak ayam alias Jefran ngomongin gue. “Oalah, anjir. Pantesan dari tadi dia kelihatan gak enjoy banget. Kirain kebelet ke toilet, ternyata kebelet nemuin ceweknya.” Gue cuman bisa senyum-senyum sendiri. Dari tadi temen-temen gue pada nyebut Nindya sebagai cewek gue. Dan gue bukannya ngelurusin, tapi malah diem aja. Bukan disengaja, sih, tapi beneran nyaman banget dengernya. Kebayang, gak, kalau gue suatu hari nanti punya hak buat nyebut seorang Nindya Putrianne yang sarkastik dan savage itu sebagai ‘cewek gue’ atau dia dikenal orang sebagai ‘pacarnya Brian si bassist Lima Hari?’ It sounds really-really good. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Dibanding halu doang bisanya, gue menampar diri sendiri untuk menyadarkan kalau gue gak boleh lupa cewek yang berusaha gue taklukin ini bukan sembarang cewek. Lihat aja efeknya. Walau kelihatannya gue jalan penuh percaya diri karena gue emang cakep, jujur aja gue juga deg-degan, coi. Gue bahkan sempet diem dulu di belakang dia buat meyakinkan diri sebelum akhirnya sapaan ringan keluar dari bibir. “Hai.” Cewek itu menoleh, lalu sedikit melebarkan kata. “Loh, Brian? Kok disini?” “Udah selesai menggung. Lo mau kemana?” “Gue?” Nindya menuding dirinya sendiri. “Mau pergi.” “Iya, tahu, mau pergi. Maksud gue perginya kemana, Nindya?” Sialan. Enak banget rasanya nyebut nama dia secara langsung begini. “Oh, ke kafe.” “Kafe lo sendiri? Yang kita sempet ketemu itu?” Dia mengangguk, kemudian menunduk untuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Karena melihat dia lagi berkutat di salah satu aplikasi ojek online, gue dengan cepat menginterupsi kegiatannya. “Bareng gue aja.” “Eh? Oh, gak usah. Gue bisa sendiri.” “Searah, kok, sama arah gue pulang. Sama gue aja. Lagian udah malem begini.” Tentang satu arah yang gue maksud, gue gak bohong. Kalau dari arah tempat bar kami menginjak tanahnya sekarang saat ini, arah ke kafe milik Nindya emang sama kayak arah rumah gue. Tapi masalah sebenarnya adalah, gue kan belum jadwal pulang. Walaupun udah selesai manggung, biasanya anak Lima Hari menyempatkan untuk berbincang dengan yang punya kafe atau managernya, kemudian duduk di tempat pengunjung dan ngopi bentar, sekalian main, baru pulang. Tapi, okelah. It’s okay-in aja. “Emang lo udah mau pulang?” Gue mengangguk meyakinkannya, padahal gue sendiri gak yakin anak Lima Hari bakal keberatan apa kagak kalau gue pulang duluan cuman karena mau nganter dia balik. “Beneran?” Nindya memicing ke arah gue gak percaya. “Lo aja baru selesai manggung.” “Beneran, Nin, gue emang mau balik.” Lagian apa, sih, yang enggak buat lo, hm? Hehe. Lanjut  gue dalam hati. Tentu aja gue memutuskan untuk gak mengutarakannya secara langsung. Yang ada dia mungkin langsung melengos sambil memutar bola mata. Ketebak bangt responnya. “... gak ngerepotin?” Mendengar pertanyaannya yang ini, gue jadi menatapnya sambil tersenyum geli. Bisa gak enak juga, nih, anak. “Sama sekali enggak.” “Oke. gue nebeng, ya?” Gue tersenyum puas atas jawaban finalnya. “Alright. Tapi bisa ikut gue ke dalem dulu? Gue mau ambil tas sama bass gue.” “Hah? Lo naik motor sama bawa bass?” “Oh, enggak dong. Gue bawa mobil.” Dia ber-oh ria, lalu gak menolak kala gue memintanya untuk kembali masuk ke dalam. Gue menyeringai senang. Kapan lagi bisa nganterin cewek ini lagi begini? Emang bejo banget gue kayak bintang tujuh. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sedangkan kembali masuk ke dalam yang gue maksud adalah membawa Nindya ke ruang tunggu anak Lima Hari. Iya emang, pinter banget gue kalau disuruh modus. Nyatanya saat ini selain punya niat nganter cewek cantik ini pulang, gue juga pengen memperkenalkan secara resmi Nindya ke anak Lima Hari. Bodo amat walaupun sebenernya Nindya juga bukan siapa-siapa gue.  “Hah, gak mau!” Nindya langsung menolak mentah-mentah kala kami udah berdiri di depan ruang tunggu yang pintunya tertutup itu. Walaupun di luar pengunjung bar masih sangat ramai, tapi berisiknya hampir sepadan sama suara berisik dari anak Lima Hari di dalam ruangan. Gila emang. Apa lagi suaranya Jefran yang ngakak bener-bener gak pernah kekontrol. Dari ujung ke ujung kayaknya bisa denger semua. “Gak papa, anjir. Kenapa, sih?” “Ya ngapain? Lo kalau mau ambil tas, ya, langsung aja ambil. Gue tunggu disini.” Gak punya alasan untuk menjadi tameng biar opini gue yang jadi pemenang, gue menghela nafas, membiarkan dia masih bartu dan keras kepala, yang mana itu bikin gue makin gemes setengah mati. Lagian dia, kan, juga kenal sama anak Lima Hari, kenapa pula disuruh masuk ruangan aja gak mau? Heran. Kemudian gue memutar kenop pintu, suara ramai dari arah dalam langsung hening, tawa Jefran berangsur kalem, sebelum kemudian anak ayam itu membuka komentar. “Lah, kok udah balik? Kirain mojok dulu.” “Cewek lo udah balik?” Wildan nanya juga. Dafi kemudian ikut-ikutan. “Gak lo anter baliknya, Bang? Wah, parah lo.” Gue menoleh ke belakang, menemukan Nindya malah sembunyi di balik dinding. Bukan sembunyi juga, sih. Dia cuman beneran gak mau disuruh masuk. Tapi dari arahnya, dia melihat blouse yang dipakai gadis tersebut masih terlihat sedikit—kalau aja orang-orang mau dengan lamat mengamati, pasti anak Lima hari tahu kalau yang mereka bicarakan lagi ada disini dan bisa denger. Gue sendiri gak berusaha merombak kalimat ‘cewek gue; yang sedari terdengar. Bodo amat, deh, mau Nindya abis ini protes ke gue atau apa. Yang penting gue seneng dengernya, kan? “Ada dia.” “Dimana? Di depan? Ajak kesini, lah, cewek lo. Masa gak dikenalin sama kite?” “Iya, nanti,” jawab gue kalem sembari menutup resleting tas lalu membungkuk untuk meraihnya. “Gue cabut sekarang gak papa, ya?” “Tanya pak Bos,” ujar Jefran kemudian menghisap rokoknya yang terapit di jemari tangan kanannya. Pandangan gue berpindah ke arah Satria yang lagi fokus baca sesuatu di tabnya. Kayaknya ini anak lagi ngerjain tugas. Dimanapun asal ada kesempatan dan waktu, Satria selalu ngerjain tugas kampusnya. Padahal deadline juga masih lama. Emang susah punya watak terlalu perfeksionis begini. Apa-apa langsung harus terjalin dan dikerjakan secara sempurna. Dan semakin cepet, semakin baik. Beda kan sama lo-lo pada yang malah suka ngerjain tugas rumah mepet deadline? Mana nyontek dan nekat copy paste doang pula. “Boleh, ya, Sat? Udah gak ada jadwal apa-apa lagi juga, kan?” tanya gue memastikan. Kini tas ransel hitam milik gue udah tersampir rapi di belakang punggung. Gue cuman perlu menunggu Satria memberikan jawaban berupa perizinan sebelum akhirnya gue akan keluar dari ruangan ini. “Iye, iye.” “Oke,” gue nyengir. “Gue cabut. Bye.” “Ati-ati, Bang!” Gue mengacungkan jempol. Kemudian suara Jefran terdengar pula, kali ini agak berteriak. “Salam, dong, sama cewek lo! Cakep gitu.” Gue baru mau balik badan buat melotot atau bahkan nendang tulang keringnya. Tapi ternyata Satria udah ngelakuin itu lebih dulu. Jefran mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya. Sementara gue tersenyum  kemudian berseru ke Satria. “Makasih udah diwakilin, Pak. Dan Jep, gak ada. Yang ini punya gue. Gak dibagi-bagi.” “Sadiiiis, brother! Belum apa-apa udah hak milik aja.” Gue cuman tertawa. Bukannya gue gak tahu kalau seruan-seruan yang keluar dari bibir gue juga empat temen gue yang lain pasti berhasil masuk ke kuping Nindya. Gue jelas tahu itu. Orang anaknya aja ada di deket pintu, kok. Udah pasti gak bakal gak denger. Sayangnya satu, gue lupa kalau artinya Nindya bakal memasang wajah asam dan menyorot gue meminta penjelasan. Dan itu terbukti. Karena baru gue menutup pintu ruangan Lima Hari dari luar, Nindya uah menatap gue  dengan ekspresi jengah. Oh, God. Ini cewek emang harus diajarin buat berramah-tamah sama cowok ganteng.. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * * * * *  “What the hell is wrong with that ‘punya gue’?” Tuh, kan. Belum apa-apa udah digas aja gue. Tapi alih-alih panik, karena gue juga udah nebak dia bakal nanya dan protes, jadi gue masang muka gak bersalah aja, sok santai dan gak panik. Gue mngedikkan bahu. “Bercanda.” Nindya kemudian mendengus. “Ayo pulang. Jadi pulang, gak?” Cewek itu menatap gue aneh. “Pulang kemana? Gue bukan mau pulang. Gue mau ke kafe.” “Iya, sama aja. Intinya, kan, sama aja. Kita gak disini.” “Terserah.” Gue tersenyum lebar kemudian mengikutinya dari belakang kala dia berjalan lebih dulu di depan gue. Lalu entah karena cewek itu gak fokus jalan, dia malah belok ke arah kiri, bikin gue langsung tertawa sebelum kedua tangan gue menuntut pundaknya dari arah belakang untuk membelokkan badan dia ke arah kanan. “Salah jalan. Lo mau kemana emang kok ke kiri?” ledek gue. “Eh,” kemudian dia tiba-tiba berhenti pas langkah kami berdua udah hampir sampai. “Gue lupa sesuatu.” Gue mengernyit. “Apa?” “Eung.... a-anu...” “Hah? Apa, sih? Ngomong aja, kenapa? Ada yang ketinggalan? Atau gak jadi mau ke kafe tapi ke tujuan lain?” Cewek itu menganggyk dan gue makin keheranan. “Terus?” “Bentar, sebelum lo tanya-tanya lebih jauh, gue mau tanya sesuatu.” Gue mengangguk, menatapnya tanpa berkedip, memintanya melanjutkan kalimat. “Lo free gak?” Hah? “Hah?” Jujur, gue beneran gak expect karena cewek ini tiba-tiba tanya begitu. Gue jadi berasa kayak mau diajak kencan, deh. “Lo free gak malem ini?” “Kalau iya kenapa? Kalau enggak kenapa?” “Jawab yang bener dulu.” “Gue...” “Elo?” gue gemes menuntut jawaban lengkap dari dia. “Gue minta tolong.” “Iya... apa?” gue masih mencoba sabar. “Gue mau ketemu orang abis ini di kafe gue.” “Oke, terus?” Dia malah mengigiti bibir bawahnya, terlihat ragu, sebelum kemudian dia menatap gue dengan tatapan memohong. “Bisa minta tolong akting biar kita kayak orang pacaran?” What? What the hell? Gue mengulang kalimat yang baru saja dia katakan itu untuk berulang kali di isi kepala gue. Apa nih maksudnya? Dia minta gue buat ngaku jadi pacar dia? Begitu? Gue sih gak masalah. Tapi, kan, gue pengen tahu alasannya. “Tapi kalau misal lo gak bisa atau gak mau, gue bisa ngerti. Gak papa, gue bisa—“ “Emang gue udah ada ngasih jawaban ke elo?” ujar gue sambil terkekeh geli. “Belum, kan? Dan jawaban gue adalah, oke. Gue ngeokein permintaan lo.” “Beneran?” “Iya, lah. Kenapa emang?” “Siapa tahu... lo kebreratan?” “Kenapa harus keberatan?” Gue nanya sambil ngangkat alis, biar kelihatan ganteng gitu. “Karena lo... punya pacar? Atau gebetan?” Gue gak bisa nahan diri buat ngacak rambut dia. Gemes. Gue gemes banget. Kalau aja cewek ini udah resmi jadi cewek gue, pasti udah gue ciumin dari tadi. Salah siapa gemes banget? “Apa gue kelihatan kayak cowok yang udah ada pawang?” Dia diem doang, gak jawab. Jadi gue ngelanjutin. “Kalau gue ada pawang, gue gak bakal cari perhatian mulu ke elo dari kemarin. Iya, gak?” Gue menyeringai puas kala mendapati dia langsung tertegun. Gak papa, Nin, kaget aja sekarang. Setidaknya lo harus tahu dan paham kalau mulai dari sekarang, gue bakal nunjukin taring gue. So, Nindya Putrianne, welcome to my world. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * I really wanna stop, but I just got the taste for it I feel like I could fly with the boy on the moon So, honey, hold my hand, you like making me wait for it I feel like I could die walking up to the room, oh yeah Late night, watching television But how'd we get in this position? It's way too soon, I know this isn't love But I need to tell you something I really, really, really, really, really, really like you And I want you, do you want me, do you want me, too? Oh, did I say too much? I'm so in my head When we're out of touch I really, really, really, really, really, really like you And I want you, do you want me, do you want me, too? It's like everything you say is a sweet revelation All I wanna do is get into your head Yeah, we could stay alone, you and me in this temptation Sipping on your lips, hanging on by thread, baby Who gave you eyes like that? Said you could keep them I don't know how to act Or if I should be leaving I'm running out of time Going out of my mind I need to tell you something Yeah, I need to tell you something, yeah! I really, really, really, really, really, really like you And I want you, do you want me, do you want me, too?   * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD