Perempuan Lima Hari (2)

1857 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Wildan Gusti Ramadhan’s POV Mengenai Kanya, gue sama sekali gak cerita tentang dia sama siapa-siapa. Juga ke Lima Hari apa lagi ke Tiara. Karena selain gue takutnya geer duluan karena hari itu Kanya mau bareng sama gue ke acara fakultas, gue juga gak mau terlalu buru-buru cerita kesana-kemari apa lagi belum memastikan kalau apa yang gue rasain ke Kanya ini adalah bentuk rasa suka. Bisa aja cuman sekedar rasa nyaman karena dia temen ngobrol yang asik, kan? Hari ini adalah hari yang gue maksud. Acara fakultas yang disebut DTS 21 alias Disnat Teknik Sipil 2021. Sesuai dengan jadwal dan gladi bersih yang seminggu ini dilaksanakan, Lima Hari bakal tampil pukul delapan malam. Sedangkan acaranya dimulai pukul setengah tujuh. Gue belum tahu kontak nomor atau ID Line-nya Kanya, by the way. Tapi berkat kecerdasan gue, gue stalking aja i********: Tiara dan akhirnya kami kemarin malam sempat bertukar pesan di DM mengenai rencana yang kami buat malam ini. Omong-omong, Tiara kayaknya udah tahu kalau gue sama Kanya mau keluar hari ini. Ini berawal dari ponakan gue yang tiba-tiba telepon dua hari lalu. “Kak, Kak Wil lagi deketin Kak Kanya, ya?!” semprotnya ketika gue bahkan belum mengucap salam usai mengangkat telepon. “Kok kata Kak Kanya mau ke fakultas kakak besok lusa?!” “Gak deketin, astaga. Btw, Kanya cerita apa?” “Bukan cerita apa-apa. Dia awalnya ngechat, ngajakin aku nonton Lima Hari, katanya lusa manggung di DST—apaan, deh, aku lupa nama event-nya. Terus aku bilang, aku gak bisa soalnya, kan, Papa sama Mama mau ngajakin ke Jogja.” “Lah? Emang iya kamu mau ke Jogja?” Tiara di seberang sana terdengar terkikik. “Enggak. Aku sengaja nolak soalnya aku punya feeling kalau yang ngajakin Kak Kanya ke DST—“ “DTS, Tir.” gue meralat. “Iya, yang ngajakin Kak Kanya pasti Kak Wil. Eh, ternyata bener. Abis aku nolak, Kak Kanya bilang dia lagi cari temen buat nonton, terus aku tanya, emang Kakak tahu kalau ada DTS dari siapa? Dia bilang, dia dikasih tahu Kak Wil kalau Lima Hari jadi bintang tamunya. Ya udah aku bilang aja kalau dia kesananya sama Kak Wil aja, lagian kalian juga udah saling kenal.” “Terus?” “Udah gitu doang. Tapi Kak, Kak Wil emang lagi deketin Kanya, ya?” Gue berdeham. “Enggak.” “Ih, boong. Aku tuh udah feeling tahu, kak, abis yang aku dari kantin, itu Kak Wil ngeliatin Kak Kanya-nya agak gimana gitu.” “Gitu gimana?” “Kayak ada lope-lope di matamu.” Gue tersedak. “Serius, terus Kak Kanya juga kayak excited pas abis Kak Wil masuk ambil rapot, dia cerita kalau dia seneng banget bisa ketemu sama member Lima Hari, mana aku diomelin karena gak bilang kalau keyboard player-nya kakak aku sendiri pula.” Gue ketawa. Agak bisa kebayang aja gimana Kanya cerita soal Lima Hari dengan raut gembira dan menggebu-gebu. Gadis itu bener-bener lucu, gak bohong gue. “Aku setuju banget kalau Kak Wil sama Kak Kanya pacaran!” Gue tersedak lagi. Anjir, belum apa-apa udah pacaran aa yang dibahas. “Soalnya, kan, Kak Wil gak pernah kelihatan deket sama cewek. Jadi kayaknya peluang buat nyakitin Kak Kanya cuman dikit.” “Dih, kamu kok belain temen kamu dari mana kakak kamu sendiri?” “Soalnya Kak Kanya baik! Kak Wil, kan, pelit.” “Enak aja pelit. Mana ada.” “Pokoknya gitu, ya. Inget pesen aku. Kalau beneran Kak Wil suka sama Kak Kanya, jangan sampai disakitin! Kak Kanya, tuh, ibu peri aku!” Gue cuman berdeham doang. “Tapi, Tir...” “Apa?” “Dia jomblo emang?” “CIEEEE! Tuh, kan, naksir!” Percakapan dengan Tiara hari itu membuat gue berhasil mengorek banyak informasi tentang Kanya. Setidaknya setelah gue tahu beberapa hal yang dia suka dan dia gak suka, gue tahu apa yang tepat buat gue bahas selama nanti nonton DTS bareng. “You did a good job!” ujar Kanya sambil mengangkat dua jempolnya setelah gue dan Lima Hari turun panggung. Kalau yang lain lagsung masuk ruangan buat istirahat, gue langsung pamitan balik ke tribun untuk nyusulin Kanya. Oh, dan tentu saja Lima Hari udah ribut sejak gue bilang gue bawa temen—dan ternyata mereka found out kalau temen yang gue bawa adalah cewek. Mereka udah penasaran setengah mati dan gue bilang akan ngenalin ke mereka kalau DTS udah selesai aja. Karena, ya, not gonna lie gue maunya nonton DTS berdua aja, jangan digangguin dulu. Gue tersenyum malu atas pujiannya. “Really?” “Iya! Lima Hari gak pernah ngecewain, sih.” “Thanks. Sori, ya, tadi nontonnya sendirian. Gak diganggu orang, kan?” Dia ketawa. Asli, renyah banget suaranya. “Kenapa say sorry, sih? Kalau aku gak sendirian it means Kakak harus nemenin aku duduk disini nonton Lima Hari, lah. Keyboard playernya gak join di panggung.” Gue nyengir. “Dan enggak, i was fine here alone.” “Syukurlah. Oh ya, lo gak papa pulang malem?” Walaupun gue menikmati malam ini dengannya, tetep aja gue gak boleh bodo amat sama jadwal pulangnya. Mana tadi gue gak sempet ketemu ortu dia pas jemput Kanya di rumahnya. “Udah pamitan, kok. Lagian DTS selesai gak sampai jam sebelas, kan?” “Iya, kayaknya jam sepuluh udah selesai.” “Nah, berarti it’s no problem.” Gue mengalihkan pandangan ke arah panggung, yang mana setelah ini rundown-nya cuman kegiatan promosi satu-persatu UKM. Gue menoleh ke sebelah, mendapati Kanya gak terlalu minat untuk ini. Iyalah, dia kan ke DTS cuman buat nonton Lima Hari. “Mau disini aja? Promosi UKM would be boring i swear.” “Hm, guess, so.” dia meringis gak enak saat mengatakannya, gue ketawa kecil. “Mau keliling bazar aja? Lo belum makan malem, kan?” “Boleh. Tapi Kakak gak papa gak nontonin—“ “Gak papa, lah. Yuk, berdiri sekarang.” Dia mengangguk. “Eh, abis dari bazar mau ke back stage? Lima Hari mau kenalan sama lo.” Matanya berbinar. “Masa?” “Iya. Keberatan, gak?’ “Clearly no!” Gue tersenyum. Astaga, kenapa sih ngeliatin dia dengan raut binarnya bikin jantung gue degup cepet? “Satu lagi.” “Ya?” Ngomong gak, ya. Ngomong gak, ya. Tapi... “I’m glad having you here tonight.” Dia senyum, manis banget, cantik banget. “Same here, Kak Wildan.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Dafi Renaldi’s POV Jujur, gue orangnya agak magersuruh buka hape. Kalau orang lain demen banget sama benda yang satu itu, maka gue beda lagi. Selain main hape lama bisa bikin mata panas, gue gak menemukan sesuatu di dalam sana yang membuat gue tertarik. Bahkan game online yang digandrungi Bang Jefran sekalipun. Dan tentang hal ini, anak Lima Hari jelas tahu kalau gue bahkan bisa seharian penuh gak ngecek hape. Makanya, kalau ada sesuatu yang urgent, mending langsung telepon aja, karena denting bunyi ponsel gak bakal bikin gue tergerak membukanya. Seperti apa yang terjadi siang ini. Di pukul dua siang setelah gue bangun tidur, tiba-tiba ponsel gue berdering—iya, ini dering telepon, bukan chat masuk. Gue otomatis langsung angkat. Dengan mata terpejam kemudian tangan tergerak meraba-raba ponsel, gue akhirnya mengangkat telepon tanpa mengamati nama si penelepon.“Halo?” “Gila, gue chat spamming bahkan gak dibales sampai lima jam.” Gue langsung mengernyit bingung. Masalahnya, satu, gue gak tahu ini suara siapa. Kedua, setelah gue liat nomor penelepon, gue mendapati disana hanya ada deretan nomor yang gak gue kenal. Ketiga, foto profilnya kosong. Keempat, kenapa pula si penelepon ini kayak kenal banget sama dia sampai gak ucap salam pembukaan? “Ini siapa?” “Metta.” “Metta?” Gue mengernyit makin dalam. “Salah sambung, Mbak.” “Lo lupa sama gue?” “Siapa, ya?’ “Metta Renjana. Yang ngasih lo hadiah pas Valentine.” Gue terbengong- bengong kemudian mengumpat saat ingat siapa itu Metta Renjana. Tanpa kode apapun, akhirnya gue memutuskan sambungan telepon. Ngeri banget asli, berasa diteror sama psikopat kalau gini, mah. Seteah itu, jemari gue bergerak mencari kontak nomor salah satu temen gue. “Oit?” jawab orang di seberang sana. “Bang Jef, lu emang bener-bener, ya! Kok bisa ngasih nomer gue ke sembarang orang!” “Hah?” “Metta!” “Ooh,” Bang Jefran menguap disana. “Udah ngechat lo dia?” “Boro-boro ngechat doang. Telpon segala!” “Udah, deh, Daf. Lo tuh jangan ngomel mulu napa. Begitu-begitu, kan, dia tulus.” “Tulus gangguin gue maksud lu?” Bang Jefran berdecak. “Asli, nih dnegerin saran dari gue. Metta, tuh, walau kelihatannya kayak preman tanah abang, begitu-begitu dia orangnya baek. Lagian masa gue mau ngasih sohib gue cewek gak bener sih, hah?” “Bukan masalah siapa yang lo kasih ke gue, Bang. Masalahnya gue gak ada waktu buat ngurusin beginian.” Tapi perdebatan antara gue dan dia siang ini gak bermanfaat sama sekali sekalipun gue udah memutuskan untuk gak menuruti nasihatnya. Karena tepat keesokan harinya, tiba-tiba Bu Titin, dosen mata kuliah Teknologi Beton memanggil gue ke ruangannya. “Dafi, kamu yang daftar pertukaran mahasiswa satu minggu di Jember, kan?” “Iya, Bu.” “Udah dikasih info sama Pak Ahmad?’ “Soal apa, ya?” “Kamu terpilih menjadi salah satunya.” Jelas gue seneng, karena selain buat nambah pengalaman, gue emang demen kalau disuruh pertukaran pelajar begini. Jadi gue dapet ilmu gak cuman dari kampus ini doang tapi juga dari kampus lain. Bu Titin memberi gue beberapa lembar surat putih undangan dengan stempel tanda tangan dekan lalu berujar. “Ini tolong kasihin ke beberapa mahasiswa lain yang terpilih juga. Suruh mereka kasih tanda tangan.” “Siap.” Lalu usai gue keluar dari pintu ruang dosen, gue melihat-lihat surat di tangan gue, hingga satu nama membuat mata gue hampir keluar dari tempatnya. Metta Renjana terpilih jadi salah satunya juga. Itu artinya gue bakalan satu minggu penuh ketemu dia dan kemana-mana bareng dia. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD