* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setiap manusia punya kepala sendiri-sendiri. Artinya, setiap orang punya pemikirannya sendiri-sendiri, gak bisa disamakan. Itu juga alasan kenapa dari lima pemuda yang kini jadi teman baik—atau bahkan teman terbaik untuk satu sama lain—bisa menyatu padahal jelas-jelas punya karakter yang berbeda. Itu juga alasan kenapa ada manusia yang ugal-ugalan bisa jatuh cinta sama cewek polos dan baik-baik, atau cowok yang terlihat polos malah jatuh cinta sama cwook ugal-ugalan. Hal-hal yag sifatnya kontras memang selalu berhasil memperindah sesuatu—walau tak semuanya.
Apa yang kita sedang bicarakan sebenarnya?
Tentu saja gak lain dan gak bukan adalah tentang anak Lima Hari.
Hari itu, hari dimana Satria bertemu dengan perempuan yang namanya melekat di kepala dia—Kaila Ayunda—mengobrol berdua, bertukar nama, dan bertanya tentang apa yang masing-masing lakukan disana saat itu, Satria jadi banyak tahu. Satria jadi banyak mengira bahwa pertemuannya kala itu bukan hanya sebuah kebetulan. Ini takdir. Katakan saja Satria itu terlalu geer di awal, terlalu banyak menduga, terlalu cepat mengambil kesimpulan, biar saja, dia gak peduli.
“Kamu...” Satria memainkan lidahnya di dalam mulut, berusaha agar suaranya tak terdegar bergetar karena canggung. “Kuliah atau masih sekolah, kalau boleh tahu?”
Ya, salah satu dari banyak hal yang membuat Satria makin terpikat dari seorang Kaila Ayunda adalah selain karena cantiknya, senyumnya yang hangat, tawanya yang merdu sata beberapa kali Satria melemparkan candaan garing, lembutnya cara bicara Kaila, adalah karena Kaila mudah membuatnya nyaman. Di detik awal mereka berbincang—saat Kaila membangunkan Satria—gadis cantik itu menggunakan saya-kamu ketika mengobrol, membuat Satria jadi sedkit tak nyaman bicara teralu formal. Tapi ketika mereka mulai berkenalan, Kaila sudah merubah panggilannya menjadi aku-kamu, hal sesederhana ini membuat Satria senang. Bagaimana gadis itu tidak menggunakan lo-gue padahal mereka masih orang asing saat itu membuatnya yakin dia ingin tahu lebih banyak tentang Kaila.
“Aku kuliah. Kamu masih sekolah emang?”
Satria menggeleng. “Kuliah juga. Di Universitas Indonesia. Teknik Sipil.” jelasnya lengkap, membuat cowok itu tiba-tiba meringis karena baru sadar, ngapain juga dia ngasih info banyak-banyak padahal gak ditanya.
“Really?”
“Apanya?”
“UI juga?”
Satria langsung memajukan tubuhnya, mulai antusias kalau saja tebakannya benar bahwa... “Wait, jangan bilang...”
“Yes, i am,” Kaila terkekeh. “Aku UI juga.”
“Thank God,” gumam Satria pelan sekali, hampir gak bisa didengar. “Fakultas mana?”
“FMIPA, Biologi.”
“Oh, no wonder kamu sekarang cari majalah begituan.”
Kaila mengangguk masih dengan senyum tipis. “Yap, this is why.”
Ini yang dimaksud Satria kalau pertemuannya dengan Kaila bukan hanya sebuah kebetulan. Ini benar-benar ditakdirkan Tuhan agar Satria dan Kaila bisa bertemu, berkenalan, dan kalau bisa... lebih dari itu.
Kenapa dari sekian banyak tempat, Satria tiba-tiba ingin ke Perpustakaan Kota sementara Kaila Ayunda juga kesana padahal kalau ngomongin buku fakultas, harusnya lebih lengkap di Perpustakaan UI, kan? Kenapa Satria mengambil majalah tumbuhan padahal dia bisa saja mengambil kroan yang notabenenya punya ukuran lebih besar dan bisa dipakai untuk menutupi kepalanya jika memang dia niat tidur disini? Kenapa? Jelas karena Tuhan sengaja membuat Kaila menghampirinya untuk meminjam buku dan mereka jadi mengenal seperti sekarang. Benar, kan?
Tapi bodohnya Satria yang gak pernah mendekati perempuan setelah sekian lama menjomblo, dia melupakan hal penting : bertukar kontak. Setelah dua puluh menit berbincang dengan Kaila, dia malah membiarkan gadis itu pamit pulang lebih dulu begitu saja. Satria mengangguk, mempersilakan. Baru sampai rumahlah dia sadar bahwa dia melupakan hal tersebut.
Merutuki diri sendiri? Jelas.
Apa lagi, setelah hari itu, Satria sengaja ke Perpustakaan Kota dengan maksud siapa tahu bertemu dengan Kaila lagi. Tapi nihil, dia pulang tanpa hasil. Mungkin ini yang dimaksud Wildan dan Dafi dulu—kalau cowok itu menolak jatuh cinta karena takut bodoh. Satria juga berpikir begitu. Bukan dia menolak jatuh cinta, tapi karena dia sudah bodoh saat ini. Cowok itu baru sadar ketika suatu sore ketika Lima Hari sedang berada di salah satu kafe untuk mengisi malam minggu, Satria bercerita tentang ini.
“Cantik gak?”
Seperti biasa, pertanyaan seperti ini adalah tanggapan dari Jefran Lee Samuel.
Satria memutar bola matanya. “Kalaupun cantik dan masuk tipe lo, gue gak bakal mau bagi-bagi namanya.”
Brian dan yang lainnya ikut ngakak. “Buset, belum apa-apa udah posesif aja, Pak.”
“Terus sekarang yang lo ributin apa? Mau bikin pesta dimana dan gimana buat ngerayain akhirnya hati lo berfungsi juga?”
“Bukan,” Satria menggeleng lelah. “Lagian lebay amat mau bikin pesta cuman karena gue lagi suka sama cewek.”
“Tapi ini beneran fiks suka, Sat? Tumben banget, anjir, lo baru ketemu sekali udah suka. Kecuali ini Jefran, gue gak kaget. Masalahnya ini elo. Satria yang udah seratus tahun ngejomblo gak pernah deketin cewek.”
“Wil, jangan lebay.”
Wildan nyengir. “Ya kan kali aja bukan suka, cuman kagum aja atau gimana gitu. Lagian lo yakin dia single emang?”
Damn, Satria baru ingat bahwa dia belum memastikan tentang yang satu itu.
“Jangan dibikin potek dulu, anjir, si Satria,” Jefran berujar lagi. “Gini, dah, kalau kata gue, lo chat aja—eh lo belum ada kontaknya, ya? Ya udah DM aja, kata lo udah dapet namanya, kan? Cari, deh, akunnya. DM.”
“Ngomong apa?”
Dafi ketawa. “Anjir, Bang. Ya kali yang begini aja masih tanya.”
“Ye, emang lo tahu?”
“Tahu, lah,” Dafi mendengkus. “Gue juga kagak selugu itu, kali. Buat ngechat cewek aja masa gak tahu.”
Lalu Satria menuruti saran dari Jefran. Dari pada diam-diam saja atau ikut ghibah dengan anak Lima Hari, Satria memilih membuka akun instagramnya lalu mencari akun Kaila-nya. Banyak pilihan sekali memang, akun bernama Kaila Ayunda tidak hanya satu atau dua, tapi cowok yang biasanya gak punya stok sabar banyak itu kali ini bisa dengan telaten meng-scroll satu-persatu mencari akunnya.
Sampai kemudian senyumnya berkembang ketika dia menemukan akun i********: dengan username sedikit susah—yang jadi alasan kenapa akunnya sulit dicari.
@klayoonda
Ketukan ruang yang dipakai Lima Hari saat ini untuk menunggu dipanggil dan mulai bisa mengisi panggung kini terdengar. Jefran, Brian, Dafi, dan Wildan menoleh kompak di ambang pintu, sementara Satria masih menunduk dengan tangan tremor—gak, ini lebay—lalu mengetikkan sesuatu disana usai mengucap basmallah.
Satria Ardana:
Hi, Kaila Ayunda?
Remember the one who chit-chatted you at Perpustakaan Kota a week ago?
I’m him.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Brian’s Point of view
Gue bangga, deh, sama Satria yang tiba-tiba mau cerita soal cewek ke gue sama yang lain. I mean, Satria ini adalah yang paling gak terbuka sama anak Lima Hari. Selama ini, apa yang anak Lima Hari tahu tentang Satria adalah apa yang diketahui oleh orang lain di luar sana. Iya, gak ada rahasia yang dia bagi ke anak Lima Hari saking tertutupnya dia.
Tapi sore ini, dia tiba-tiba bilang kalau minggu lalu abis ketemu sama cewek. Dia gak cerita lengkapnya, sih, bahkan cuman cerita di bagian itu aja tanpa ada sesuatu lebih detail yang dia kasih tahu. Cuman sebagai pengamat yang baik, gue bisa ngelihat gimana Satria membicarakan si perempuan-perpustakaan-kota ini dengan mata berbinar, walaupun dia banyak nunduk dan gue tebak itu adalah salah satu cara biar dia gak ketahuan kalau lagi salah tingkah sendiri.
Lagi asik dengerin Jefran yang berulang-kali meledek Satria, tiba-tiba pintu ruang tunggu diketuk, gue dan Dafi, Wildan, serta Jefran langsung menoleh serempak ke arah sumber suara.
“Lima Hari? Udah bisa ngisi sekarang, ya.” ujar seorang cewek di ambang pintu dengan tatapan mengarah ke arah kami—gak satu persatu, tapi keseluruhan.
Kalau yang lain hanya mengangguk lalu berdiri dan mulai berpencar mengambil alat musik masing-masing, maka lain lagi sama gue yang tercengang karena cewek yang manggil kita itu adalah...
Nindya Putrianne.
Iya, Nindya yang itu. Yang satu kelas sama gue di kelas Sumberdaya Air-nya Bu Nilam.
“Loh?” gue jadi membeo begitu, yang mana itu menarik perhatian semua orang disana padahal suara gue gak kenceng-kenceng amat, bahkan Satria yang dari tadi sibuk sama hapenya ikut menoleh ke gue.
Nindya juga. Dia langsung melihat gue, kemudian matanya melebar—ah, gue yakin dia sekarang langsung kaget juga ngelihat gue.
“Loh?” dia ikut membeo. Tapi kemudian dia mengangkat tangan, menyapa. “Hai.”
Udah, begitu doang, kemudian Nindya langsung pergi dari sana sementara gue panik mau nyusulin. Ini anak kenapa bisa-bisanya cuman say hi terus minggat coba? Gak mau gitu ngobrol sama gue dulu?
“Heh, heh, mau kemane lo?” Wildan menahan tangan gue yang hendak keluar dari ruangan.
Gue menoleh, lalu menepis tangan Wildan. “Gak mau kemana-mana, anjir.”
“Oalah, kirain mau nyusulin,” Wildan nyengir. “Siapa, Bri? Lo kenal?”
Baru gue mau angkat suara, Jefran lebih dulu mengejutkan kami dengan berseru semangat. “Loh, anjing anjing anjing, gue baru inget dia, kan, cewek yang lo—“ Jefran menunjuk hidung gue. “Itu gebetan lo kan Nyet?!”
Gue melotot. “Gebetan apa, anjing. Kagak ada yang begituan.”
Sepertinya, satu-persatu anak Lima Hari langsung sadar dengan siapa yang baru saja mereka temui barusan—kecuali Wildan karena kejadian di kantin kapan lalu, cowok itu gak berada di sana.
“Loh, iya ya?” Satria ikut menyahut, matanya melebar juga, baru menyadari juga. “Itu yang cewek didatengin Jefran kapan dulu itu, kan?”
Dafi disana malah cuman bagian ketawa padahal gak ada yang lucu. Wildan malah mengerjap bingung, dia emang gak paham sama apa yang kami sedang bicarakan.
“Ini ngomongin apa, sih?” tanya Wildan pada Dafi yang sedang membungkuk mengambil stik drumnya. “Bang Bri punya gebetan?”
Terus samar-samar gue mendengar Dafi dengan sabar menjelaskan pada Wildan siapa cewek yang tadi masuk ruangan kami dan apa hubungannya dengan gue. Gue hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu keluar dari ruangan lebih dulu.
“Udeeeeh, manggung dulu baru ngerumpi.” ujar gue membuat yang lain langsung mengikuti gue untuk keluar ruangan.
Yang terjadi setelah Lima Hari ngisi panggung sore ini adalah anak-anak—seperti biasanya—langsung istirahat di ruang tunggu lagi sebelum kami memutuskan untuk pulang. Melihat yang lain lagi leyeh-leyeh di atas sofa, diem-diem gue keluar ruangan lagi.
Gak usah tanya apa iat gue pergi dari sana karena jawabannya udah jelas. Gue mau nyari Nindya.
Hell, terakhir kali ketemu dia itu udah dua minggu yang lalu dan karena minggu lalu SA lagi kosong, gue gak ada kesempatan ketemu lagi sama dia. Maka dari itu, karena gue pikir ini juga tanda dari suratan takdir—jiakh—kalau gue dikasih kesempatan ketemu Nindya lagi, kali ini gue gak mau sia-siain.
Dan seolah tebakan gue bener soal suratan takdir tadi, gue yang kebingungan nyari dimana Nindya sekarang malah dimudahkan dengan cewek itu yang muncul dari salah satu ruangan lainnya.
“Hai.” gue langsung berdiri di hadapannya, menghadang jalannya.
“Hai, Bri? Brian kan ya nama lo?” dia menjawab sapaan gue sambil mengerutkan dahi. “Kenapa disini?”
“Gue manggung, as you see.”
“Bukan, maksud gue kenapa lo di depan pintu ruangan gue?”
“Hm?” gue lalu melebarkan mata. “Wait, ini ruangan lo sendiri? Lo... siapa?”
Dia makin bingung sama pertanyaan absurd gue. “Maksudnya gue siapa, tuh, gimana?”
“Maksud gue.. lo kok bisa disini juga? Elo... pegawai disini atau...”
“Gue yang punya kafe ini.”
“HAH?” gue sampai menyeru agak keras, membuat Nindya langsung melotot. “Sori, sori. Gue kaget. Gila, you so cool, girl.”
“Thank you. Jadi apa yang bawa lo ke depan ruangan gue?”
“Ah...” gue menggaruk tengkuk. “Gue cuman mau ngobrol aja, sih. Hehe.”
“Sounds weird and unbeliavable.”
“I know,” gue meringis. Gila ini cewek kenapa gak bisa berramah-tamah sedikit aja, coba? “Tapi i would love to have a minute to chit-chat with you. Lagi gak sibuk, kan? Boleh masuk?”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jefran Lee Samuel’s Point of View
Pulang dari Nianne Caffee yang mana kata anak-anak Lima Hari ternyata adalah kafe gebetannya si Brian, gue sama yang lain sepakat untuk gak kemana-mana lagi alias langsung balik. Di hari-hari menjelang weekend seperti sekarang, anak Lima Hari emang lebih sering menghabiskan hari dengan mengambil job di kafe, lalu setelahnya langsung pulang mengingat kita emang udah sering ngumpul di hari aktif alias Senin sampai Jumat. Maka dari itu, di weekend begini, anak-anak akan mendedikasikan waktunya untuk quality time di rumah dengan keluarga. Tapi hal itu hanya berlaku untuk empat orang : Dafi, Brian, Wildan, dan Satria, tapi gue jelas enggak.
Naasnya, hal itu juga berlaku buat malam ini.
Gue langsung membawa Rubicon gue ke atah kelab malam yang udah gue kunjungi selama tiga tahun terakhir setelah mengantar Dafi yang tadi berangkatnya emang nebeng gue. Di sepanjang berjalanan ke Lite Nite, gak ada yang gue pikirin selain lagi-lagi gue diserang kecemburuan. Gue benci hidup begini-begini mulu—keluar masuk kelab dan menghabiskan malam dengan alkohol untuk mengusir rasa sepi yang merayap sementara temen-temen gue lagi dilingkupi perasaan hangat karena bisa quality time sama orang tuanya.
Mengingat kali ini gue open table dan juga gak bawa temen, alhasil usai gue memasuki tempat dengan warna kerlap-kerlip dengan musik memekakkan telinga tersebut, gue langsung mengambil duduk di bar yang mana beberapa ada yang kosong.
“Jep.” sapa Rico—bartender yang udah jadi kayak sohib kedua gue setelah anak Lima Hari.
Gue mengangguk sambil menjulurkan kepalan tangan untuk fist bump. “Oit. What’s up, Bruh?”
“Kayak begini-begini aje. Ini pesen apa?”
“Kayak biasanya,” jawab gue singkat lalu muali memutar kursi, membuat gue jadi memunggungi bartender dan mulai mengedarkan pandangan.
Seperti biasanya, yang namanya kelab malam juga begini-begini aja. Musik keras, bau alkohol dimana-mana, cewek seksi dimana-mana, cowok yang tangannya berkeliaran kemana-mana, gak ada yang spesial dari malam ini selain ketika kepala gue noleh ke samping dan baru sadar kalau tepat di kursi sebelah, ada cewek yang gak asing.
Mata gue melebar seiring saraf di kepala gue mulai berfungsi. “Gea?”
Cewek dengan sloki di tangan itu menoleh, matanya menyipit. “Manggil gue?”
D-damn, this hot girl dont recognize me. Ada rasa kecewa, sih, dikit.
“Gea Abrillea, right?”
Dia mengangguk dengan kepala masih menoleh ke arah gue, tapi badannya lurus menghadap meja bartender, slokinya sudah ia taruh di sana, sementara gue agak salah fokus sama roknya yang terangkat naik—mengekspos lebih banyak bagian kaki dan pahanya.
Ah, gue baru sadar kaalau cewek ini punya kaki yang bagus. Jenjang, putih bersih, dan indah. Apa gue pernah cerita kalau satu hal yang palig penting setiap kali gue ngeliat cewek unutk pertama kalinya? Itu kaki mereka.
“Iya gue Gea. But who are you?”
‘Ah, gini rasanya kecewa karena dilupain,” gue beraja sok sedih dengan nada alay, tapi gue akhiri dengan kekehan lalu mengenalkan diri, lagi. “Jefran. Kita sempet ngobrol di balko n apartemen pas lo ada party thing di—“
“Ooh, Jefran. Oke, oke, gue inget,” Gea mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sori, gue emang lupaan.”
“Guess you too overthink.”
Dia cuman ketawa.
Gue bingung cari topik lagi—gak sebingung itu, sih. Jangan lupa sama riwayat buaya darat yang gue punya. Cari bahan obrolan sama cewek, mah, gampang.
“Lo sendirian?’
“Iya.”
“Ooh, need time to have a good me time or cari pelampiasan?”
“Both. But i prefer the second one.”
“Lagi sedih?”
“Damn,” Gea tertawa. “Apa setelah ini lo bakal awarin gue buat ke hotel and we’ll have a wild night together dan besoknya lo dapet Lamborghini or something from your friends?”
Dari kalimat panjangnya itu, gue harus ngebug dulu buat mikir maksud ini cewek. Sampai kemudian gue langsung menelengkan kepala karena paham sama maksud Gea.
Anjir, dia ngira gue lagi main Truth or Dare? Buat ngajakin dia tidur malem ini? Sialan, apa muka gue kelihatan kayak gigolo?
“Woh, woh, woh,” gue langsung masang muka tersinggung. “That ‘spend tonight with a wild night together’ is such a great idea but Girl, i’m already 22, okay? Truth or Dare game is so childish, i will never ever do that again.”
Gea menaikkan alisnya tinggi, tanda kalau dia gak percaya sama ama yang gue omongin.
“Well, lo bisa liat di sekiling sini. Apa kita lagi diamatin oleh seseorang? Because i came here by myself, i’m alone.”
Gea bener-bener mengedarkan pandangannya—walaupun cuman sekilas—untuk membuktikan omongan gue.
“Percaya?”
Dia gak jawab, tapi gue tahu dia udah tahu jawabannya, apa gue lagi jujur atau enggak saat ini.
“So what’s bring you here?” tanyanya kemudian.
“Bring me where? Ke Lite Nite? Atau duduk disini? Atau for talking—“
“For ngajakin gue ngobrol padahal kita orang asing.”
“Ng...” gue pura-pura mikir. “I dont really now but you’re too damn gorgeous so i can’t help myself but trying to be closer with you.”
Asooooooy, gila nih gue blak-blakan banget gak, sih? Bodo, lah, udah terlanjur juga. Gue cuman harap-harap cemas kalau cewek ini langsung ngeluarin kalimat pedasnya lagi, atau kalau bisa lebih paah. Anjir, jangan sampe, lah.
“Ah, this how a real player plays, huh?”
“Wah, ffitnah, nih.” jawab gue sambil tertawa, gue anggep aja yang tadi itu oujian.
“But being a player isnt that bad, tho,” lanjutnya. “I’m the couch, for yout info. Wanna continue the game?”
Nah, told ya that Gea Abrillea ini emang menarik, kan? Ini salah satu buktinya.
Tapi kali ini gue yang menggeleng. Karena dari awal ketemu, gue bukan berniat buat jadiin dia salah satu cewek yang gue bawa ke kasur terus gue tinggal. Gue suka cara bicaranya, pola pikirnya, segala gerak-geriknya, dewasanya, semuanya. Jadi, not this fast, Girl. Kali ini gue mau tahu lebih dari sekedar ‘memusakn satu sama lain’. So...
“Lagi gak minat main game, sih. How about being a good listener, close friend, or partner, whatever you named it first?”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *